Lifestyle

Pernah mengalami ketika seseorang masuk ke kerumunan tiba-tiba suasana jadi tegang. Atau ketika berada dekat seseorang rasanya hawa menjadi panas. Wah, jika Anda mengalami itu mungkin orang yang Anda temui itu memiliki kepribadian negatif. Kehadirannya seakan meracuni, Anda tidak ingin berada lebih lama dekat orang tersebut.

Ingin rasanya cepat–cepat pergi dari tempat orang itu berada agar aura negatifnya tidak terlalu lama mempengaruhi Anda. Apa yang harus dilakukan untuk melindungi diri agar efek negatif orang tersebut tidak menular pada Anda? Dilansir dari oprah.com, Jumat (20/01/2017) ada 3 hal yang bisa Anda Lakukan untuk melindungi dari dari orang- orang yang dengan kepribadian negatif.

Menjadi Mentor untuk Orang Bertipe "The Toxically Infused"

Orang dengan tipe toxically infused membawa pengaruh negatif di lingkungan sekitarnya karena prilakunya yang suka berbicara keras dan kasar di tengah orang yang sedang berkumpul. Bicara dengan memaksa dan disertai dengan komentar yang tidak pantas sering dilakukan oleh orang tipe ini dalam perdebatan. Sayangnya mereka tidak merasa bahwa prilaku seperti ini sangat mengganggu. Menghadapi orang seperti ini Anda perlu menempatkan diri seperti seorang mentor yang tanpa kompromi, tentu saja dengan menunjukkan niat baik. Memberikan wawasan dengan memberikan contoh langsung cara bicara yang baik, dengan nada yang rendah dan teratur, dengan ucapan yang sopan, memberikan ketegasan tanpa merendahkan semoga akan memberikan kesadaran pada orang tersebut.

Menunjukkan Karakter Menghadapi Orang Bertipe "The Toxically Complicit"
Jika di tempat Anda ada orang dengan tipe toxically complicit, Anda harus menunjukan "karakter" yang kuat pada orang tersebut. Orang dengan tipe toxically complicit, sering bergosip dan mencari kesempatan dalam kesempitan untuk kepentingan pribadi. Bahkan sering mengintimidasi orang lain untuk menunjukan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Menghadapi orang seperti ini Anda perlu menguatkan langkah Anda dan menunjukkan karakter yang membuat Anda bersinar. Segala gosip yang dilakukannya akan sirna dengan hal positif yang secara nyata Anda Lakukan. Bahkan Anda malah bisa mengarahkannya untuk bisa menjadi orang yang lebih baik dengan karakter positif yang Anda tunjukkan.

Bertindak Tegas untuk Orang bertipe "The Toxically Insurgent" 
Orang bertipe toxically insurgent sangat butuh untuk menyakiti orang lain. Gemar melakukan bully, merendahkan dan menyabotase pekerjaan orang lain adalah hal yang membuatnya bisa bertahan hidup. Dia tidak bisa bertahan tanpa menyakiti orang lain. Menghadapi orang semacam ini perlu untuk menambah kepintaran Anda agar apa yang Anda Lakukan tidak disabotase. Jangan memberikan ruang sedikit pun untuk orang ini berbuat jahat.

Menganggap orang ini tidak ada bisa saja Anda Lakukan dengan strategi kuat yang memungkinkan langkah Anda tidak diganggu. Jika sudah sangat keterlaluan Anda perlu melakukan tindakan tegas dan menjauh dari orang–orang dengan kepribadian negatif.  (liputan6.com)

Media sosial saat ini cenderung digunakan sebagai ajang pembuktian aktualisasi diri, kalau tidak mau disebut ajang narsistis. Coba perhatikan akun instagram milik Anda, berapa banyak dari sekian foto yang Anda unggah yang merupakan swafoto alias selfie?

Berfoto selfie kemudian diunggah di akun media sosial kerap dianggap sebagai bentuk narsis, namun ternyata menurut para ahli motivasi sebenarnya di balik obsesi berfoto, selfie jauh lebih kompleks daripada soal narsisme semata.

Seperti dilansir dari Harpers Bazaar (Kamis (19/01/2017)), para peneliti dari Brigham Young University melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang memotivasi seseorang dalam melakukan selfie. 46 partisipan telah dimintai pernyataan tentang mengapa mereka melakukan selfie. Respon partisipan tersebut telah dikaji oleh para peneliti yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Visual Communication Quarterly.

Menurut para ahli, terdapat tiga tipe motivasi seseorang melakukan selfie, sebagai berikut:

Tipe Komunikator

Tipe ini membagikan foto selfie miliknya sebagai cara untuk berhubungan dan membuka dialog dengan para follower-nya. "Dua hal tersebutlah yang memotivasi tipe komunikator untuk melakukan selfie," jelas Maureen Elinzano, salah satu peneliti. Elinzano mencontohkan para selebritis yang melakukan selfie memakai kaos bertuliskan "I Voted" pada masa pemilihan umum di Amerika, dengan tujuan memberi respon pada situasi politik di negara tersebut, juga bertujuan mendorong para follower menggunakan hak pilih.

Salah satu contoh selebritis yang termasuk tipe komunikator adalah Leonardo DiCaprio. DiCaprio menggunakan akun Instagramnya sebagai bentuk dedikasi pada lingkungan. DiCaprio seringkali mengunggah foto dirinya di alam disertai pesan-pesan dan ajakan untuk melestarikan alam.

Tipe Autobiografi

Mereka yang termasuk dalam tipe ini menggunakan selfie sebagai alat untuk mendokumentasikan kehidupan mereka serta untuk mencatatkan momen-momen dan memori yang dialaminya. Peneliti menjelaskan tipe autobiografi sebagai orang yang ingin membagikan foto-foto mereka ke ranah publik agar orang lain bisa melihat dirinya dan kehidupannya. Mereka tidak mencari feedback ataupun mengharapkan orang lain mengikuti jejaknya seperti yang diinginkan tipe komunikator.

Sebagai contoh, astronot NASA bernama Scott Kelley yang membagikan banyak foto selfie saat dia berada di luar angkasa. Atau blogger terkenal seperti Chiarra Ferragni yang secara rutin mengunggah foto selfie tentang kegiatannya sehari-hari, busana yang ia pakai, makanan yang ia santap dan momen dalam perjalanan yang ia tempuh.

Tipe self-publicists

"Self-publicist adalah seseorang yang suka mendokumentasikan seluruh kehidpannya," kata Harper Anderson, salah satu peneliti. Motivasi dalam mendokumentasikan lalu menyebarkan foto-fotonya adalah karena ingin merepresentasikan dirinya secara positif. Meskipun pendapat umum menyebutkan bahwa selfie adalah bentuk kepercayaan diri yang tinggi, ternyata tipe self-publicist menduduki tingkat terendah dari ketiga tipe pelaku selfie.

Selebriti yang termasuk dalam tipe self-publicist adalah Taylor Swift, Gigi dan Bella Hadid, dan tentu saja anggota keluarga Kardashian. Para ahli tersebut mengungkapkan alasan mengapa mereka meneliti motivasi seseorang untuk melakukan selfie.

"Karena bertahun-tahun mendatang, sejarah visual masyarakat kita akan berkembang jauh lebih kompleks daripada sekadar selfie" jelas Matt Lewis, salah satu peneliti selfie.

"Mencari tahu mengapa orang-orang berselfie memberi kontribusi dalam perkembangan komunikasi visual secara umum." (liputan6.com)

Orangtua mungkin menderita karena nama anggota baru keluarga mereka - tetapi jarang yang memperkirakan bahwa urusan nama anak bisa berakhir di sebuah pengadilan.

Bagaimanapun, dalam beberapa tahun terakhir, hakim di seluruh dunia harus mengintervensi dan menantang keputusan orangtua: nama Nutella, dilarang di Prancis; Cyanide (sianida) dilarang oleh hukum di Inggris, dan mungkin yang paling aneh seorang anak perempuan yang dinamai 'Talula Does the Hula From Hawaii' (Talula Bermain Hula dari Hawaii) di Selandia Baru, yang statusnya berada dalam pengawasan pengadilan sehingga dia bisa memilih nama yang lebih tradisional.

"Nama merupakan inti dari identitas dan juga terkait dengan identitas legal yang penting, bagaimana kita dikenali oleh negara dan pemerintah," kata Jane Pilcher, seorang sosiolog dari Universitas Leicester.

"Itu juga merupakan bagian dari identitas sosial budaya. Nama menandai siapa kita dari hubungan gender, etnis dan juga lainnya."

Namun jumlah orangtua yang memberikan nama tidak lazim atau unik untuk anaknya semakin meningkat. Sebuah penelitian dilakukan pada 2010 oleh Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, mengkaji 325 juta nama bayi yang lahir antara 1880 dan 2007, dia menemukan bahwa nama-nama umum telah menurun popularitasnya sejak 1950.

Sebagai contoh, ketika lebih dari 30% anak laki-laki diberi nama yang masuk dalam 10 besar terpopuler pada 1950, kurang dari 10% anak laki-laki yang namanya diambil dari 10 daftar terpopuler pada 2007.

Twenge mencatat bahwa orang mulai menggunakan cara baru untuk memberikan nama-nama yang unik, termasuk ejaan yang unik dari nama-nama yang populer. Di Amerika, contohnya adalah ejaan tidak lazim untuk Jaxson menjadi lebih umum, sementara di Inggris pemberian nama depan ganda mulai digemari, seperti Amelia-Rose.

Tren itu tidak hanya terjadi di Amerika Serikat dan Inggris. Sebuah studi di Jepang mengkaji praktik pemberian nama antara 2004 dan 2013 dan menemukan bahwa orangtua di Jepang menciptakan nama bayi yang unik dengan memadukan karakter huruf Cina tradisional dengan cara pengucapan yang tidak lazim.

Lainnya, peneliti menganalisa nama-nama yang diberikan untuk anak-anak di kota Jerman. Mereka menemukan bahwa pada 1894, 32% nama bersifat unik, artinya nama itu tidak diberikan kepada orang lain yang menjadi sampel penelitian. Pada 1994, 77% dari sampel memiliki nama yang unik tidak sama dengan orang lain pada tahun yang sama.

Apa yang menyebabkan pergeseran ini - selain ragam fesyen yang acak? Dan apa dampaknya terhadap generasi mendatang? Para ahli psikologi dan sosiolog yang mempelajari fenomena ini menemukan sejumlah jawaban yang mengejutkan.

Batas pola pikir

Satu jawaban adalah bahwa itu mewakili sebuah peningkatan pergeseran budaya di kalangan individu. "Sejak budaya Amerika telah menjadi lebih individualistik, orangtua menyukai pemberian nama anak-anak yang membantu mereka untuk menonjol - dan artinya nama-nama semakin unik dan nama-nama umum semakin berkurang," jelas Twenge. Penulis Jepang dan Jerman juga memiliki kesimpulan yang serupa: kami semuanya ingin menonjol di tengah kerumunan.

Sejumlah petunjuk lanjutan muncul dari penelitian Michael Varnum, seorang profesor psikologi di Arizona State University, yang berupaya untuk mencari tahu apa yang menyebabkan peningkatan individualisme di suatu daerah tertentu.

Dalam satu studi, dia mengkaji 'kelaziman' dari nama-nama umum di lokasi geografi yang berbeda di Amerika Serikat, dan menemukan bahwa orang mungkin cenderung memberikan nama-nama umum di wilayah yang dihuni oleh orang Eropa, termasuk Mountain West dan Pacific Northwest dan negara bagian seperti Colorado, Nevada, Oregon dan Wyoming.

Mereka juga melihat praktik yang sama terjadi di Kanada. Nama-nama umum lebih sedikit dipakai di wilayah Barat dibandingkan Timur negara itu, yang bermukim lebih dulu. Pola yang serupa juga terjadi di Australia dan Selandia Baru.

"Apa yang kami lihat ini merupakan warisan dari permukiman di perbatasan," kata dia.

"Terjadi sejumlah seleksi-diri yang mempengaruhinya. Jadi orang yang memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat baru, dan sedikit berbahaya, serta tidak dikenal mungkin lebih percaya diri dan sedikit sulit berkompromi. Dan kami melihat jejaknya dalam praktik pemberian nama pada saat ini."

Pihak yang kaya mungkin juga memainkan peran. Dalam studi yang lebih baru, sebagai contohnya, Varnum lebih melihat keterkaitan praktik pemberian nama dengan peningkatan kondisi ekonomi. Peningkatan struktur sosio-ekonomi didahului dengan ekspresi individualisme, termasuk praktik pemberian nama yang lebih banyak.

Varnum merujuk sebuah studi yang menunjukkan orang kaya cenderung lebih fokus pada diri sendiri dan lebih memilih keunikan dibandingkan kepatutan. Dia berpikir bahwa ini mungkin masuk akal dalam evolusi kita. "Ketika Anda memiliki sumber daya dan hanya memiliki sedikit kekhawatiran, Anda bisa bersikap lebih menonjol. Faktanya mungkin menguntungkan untuk menyingkir dari kerumunan," kata dia. "Ada banyak ruang untuk melakukan inovasi misalnya."

Di saat-saat buruk, bagaimanapun, "Jika Anda tidak memiliki banyak sumber daya atau kekayaan, strategi yang lebih baik mungkin menyesuaikan dan melakukan apa yang dilakukan banyak orang."

Studi yang lain mengkaji praktik pemberian nama di Amerika Serikat dari 1948 sampai 2014, dan menemukan lebih banyak bukti yang konsisten dengan teori ini. Emily Bianchi di Emory University menemukan terjadinya peningkatan dalam pemberian nama-nama lazim terkait penurunan angka pengangguran di tingkat nasional ataupun negara bagian.

Mengingat pentingnya nama kita dalam menempa identitas kita, dapatkah pilihan ini mengubah jalan hidup Anda? Sekarang ada sejumlah bukti yang mungkin terjadi.

Sebuah studi mengindikasikan bahwa nama-nama yang lebih mudah untuk diucapkan dinilai lebih positif dan terkait dengan posisi yang lebih tinggi di perusahaan yang bergerak pada bidang hukum.

Nama Anda bahkan dapat berdampak pada harapan kehidupan romantis Anda. Sebagai contoh, studi lain menemukan bahwa orang dengan nama yang kurang lazim mungkin sekali akan diabaikan oleh pengunjung lain dalam situs kencan online.

Terjadi juga peningkatan kecenderungan untuk memilih nama yang mengaburkan batas gender, dan pada 2005 lalu, David Figlio, direktur Institute for Policy Research di Northwestern University menganalisa pasangan saudara perempuan untuk mengungkapkan bagaimana ini dapat mempengaruhi pilihan wilayah studi mereka.

Dia pertama kali menganalisa ribuan nama-nama untuk mengungkapkan kemungkinan fonem dan struktur tertentu yang akan diberikan kepada anak laki-laki dan anak perempuan. Sebagai contoh, ketika nama Ann hampir dipastikan akan diberikan kepada seorang anak perempuan, dengan ejaan Anne, bahkan lebih feminin secara linguistik.

Nama-nama perempuan juga cenderung lebih panjang, dengan Anastasia yang menjadi salah satu nama yang feminin secara linguistik.

"Saya menemukan bahwa nama anak perempuan yang lebih androgini, dia cenderung akan menyelesaikan PR matematika dan sains dibandingkan dengan saudara perempuannya," jelas Figlio. Dampaknya bisa jadi terbawa sampai masa dewasa.

Studi lain menunjukkan bahwa perempuan dengan nama-nama yang lebih maskulin secara lingusitik cenderung memiliki karir yang sukses sebagai pengacara.

Bagi laki-laki mungkin ceritanya akan berbeda. Figlio menemukan contoh, bahwa anak laki-laki usia sekolah menengah dengan nama yang secara tradisional diberikan untuk anak perempuan di kelas, kemungkinan anak itu akan diganggu menjadi lebih tinggi, terutama jika ada anak perempuan di kelas dengan nama yang sama.

"Di dalam budaya penutur bahasa Inggris, nama sangatlah terkait dengan jenis kelamin. Sekitar 97% dari nama kecil jelas mengindikasikan apakah anak itu laki-laki atau perempuan," jelas Pilcher.

"Anak laki-laki yang diberi nama anak perempuan dapat mengalami kerugian akibat namanya, karena untuk menjadi feminin bagi anak laki-laki dipertimbangkan sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi bagi anak perempuan mungkin akan mendapatkan keuntungan dari nama yang maskulin, karena sepanjang sejarah maskulinitas memiliki sifat yang lebih dihargai. "

Sejumlah negara memperhatikan tentang anak-anak yang memiliki nama yang tidak lazim, dan mereka mengaturnya. Sebagai contoh di Islandia, orangtua harus memilih sebuah nama dari daftar yang disetujui oleh pemerintah. Di Jerman, nama-nama harus disetujui dan mengindikasikan gender. "Argumentasinya bahwa jika itu mencemarkan nama baik, memalukan bagi anak dan sistem harus melindungi anak itu dari kemungkinan kekerasan," kata Gilsson.

Tentu saja, seperti yang Figlio tekankan, nama kita hanya mempengaruhi kehidupan kita pada titik tertentu, dan tidak berpengaruh sama sekali bagi banyak orang. "Pandangan saya bahwa kita harus lebih memperhatikan masalah itu. Kita harus memberikan anak-anak kita nama yang kita suka tetapi harus memperhatikan orang-orang di masyarakat yang akan memperlakukan anak kita berbeda karena namanya." (bbcindonesia.com)

Kokologi atau Ngetest bersama Delta FM kali ini adalah tentang berikut ini :

 

Mau Tahu Kenakalan Anda Di Masa Lalu?

 

Silahkan Anda langsung saja coba kokologi di bawah ini :

Page 1 of 73

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net