Lifestyle

Nama anak menjadi sebuah ujian bagi orangtua di fase akhir kehamilan. Sering kali mereka kesulitan mencari nama-nama unik yang berbeda dari orang kebanyakan. Bahkan banyak kata-kata yang berasal dari bahasa asing menjadi pilihan pertama orangtua untuk diberikan oleh anaknya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Inilah alasan mengapa orangtua enggan memberi nama populer bagi anak.

Kebiasaan orang Indonesia yang memiliki nama yang berasal dari keluarga sudah mendarah daging sejak zaman dahulu. Bahkan pada daerah tertentu, penambahan kata suku dibelakang nama, atau nama ayah di belakang nama menjadi praktik yang lazim digunakan untuk memberi nama anak yang baru lahir. Nama anak juga dihasilkan dari musyawarah keluarga, yang akhirnya memberikan sebuah nama dengan makna doa yang sangat besar.

Profesor Jane Pilcher, sosiologis dari Universitas Leicester menyatakan, nama merupakan hal utama dari identitas manusia dan berhubungan dengan berbagai identitas resmi yang penting di mata negara. Nama juga menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya karena menentukan apa jenis kelamin, kebudayaan yang kita terima, dan lain sebagainya. seperti yang disarikan dari bbc.com, Sealsa (10/1/2017).

 
 

 

Ternyata, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh Universitas Negeri San Diego pada tahun 2010 menyatakan bahwa nama populer sudah mulai menghilan pada tahun 1950. Hal ini terus berlanjut hingga saat ini, karena para orangtua memilih untuk memberikan nama yang unik bagi anaknya.

Perubahan kebiasaan memberikan nama anak juga terjadi di belahan dunia lain, Jepang misalnya. Hasil penelitian terbaru mengungkapkan, banyak nama unik yang diberikan pada anak pada tahun 2004 hingga 2013. Para orangtua di Jepang menggabungkan berbagai karakter kanji yang tidak umum pengucapannya, namun tetap menggunakan nama belakang di bagian belakang nama anak.

Alasan sebenarnya adalah

Jadi sebenarnya apa alasan yang menyebabkan orangtua enggan memberikan nama populer? Jawabannya adalah pergeseran kebudayaan dari hidup berkelompok, menjadi lebih individualis. Pergeseran ini terjadi di semua aspek kehidupan, mulai dari kehidupan bermasyarakat, penggunaan media sosial, hingga merembet ke permasalahan nama anak.

Orangtua berharap anaknya mampu untuk berdiri dan tampil beda diantara orang lain melalui nama yang mereka berikan. Hal ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan, bahkan kepercayaan gender melalui nama juga mulai menghilang. Banyaknya nama anak laki-laki yang digunakan untuk perempuan dan kebalikannya menjadi bukti, nama anak diberikan karena keunikannya.

Sedangkan di Indonesia, banyak nama-nama unik yang bermunculan hingga saat ini karena pengaruh kebudayaan asing yang kuat dalam kebudayaannya. Mulai dari kebudayaan India, Arab, Amerika, hingga pengaruh kebudayaan daerah yang tersebar kuat di Indonesia. Tentunya hal ini menjadi kemudahan bagi orang Indonesia untuk memilih nama populer dari berbagai kebudayaan untuk anak.

Beberapa kejadian serius di Indonesia juga menjadi pemicu orangtua enggan memberikan nama umum pada anaknya. Salah satu contohnya adalah kejadian Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, yang memaksa rakyat Minangkabau menanggalkan nama adat dan menggunakan nama populer sehingga mereka tidak dicap sebagai pengkhianat negara.

Tentunya, nama anak mempengaruhi kehidupan hingga akhir hayat serta mempengaruhi persepsi orang lain yang memandang kita. Disarankan untuk memberikan nama anak bukan hanya faktor keunikannya saja, namun melalui makna, dan bagaimana masyarakat nantinya menerima nama baru ini sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. (liputan6.com)

Berbagai cara dilakukan untuk mengungkapkan rasa sayang terhadap seseorang, salah satunya adalah dengan memberikan pelukan. Pelukan hangat akan membantu memberikan kenyamanan bagi Anda dan orang tersayang. Selain itu, pelukan dari pasangan atau ucapan sapaan dari seorang teman akan membuat kita merasa dilindungi dan dicintai.

Dilansir dari Huffpost, Kamis (29/12/2016), ada banyak alasan mengapa kita harus rutin memeluk orang-orang tersayang.

1. Membuat Kita Merasa Lebih Baik

Tindakan sederhana seperti pelukan tidak hanya dirasakan oleh tangan. Ketika kita menerima pelukan dari seseorang, oksitosin atau yang dikenal sebagai "hormon berpelukan" pada tubuh akan dilepaskan, sehingga tubuh akan merasa hangat. Menurut DePauw, Psikolog Universitas Hertenstein, Oksitosin adalah neuropeptida yang pada dasarnya mempromosikan perasaan pengabdian, kepercayaan dan ikatan yang menghubungkan kita dengan orang lain.

2. Menurunkan Tekanan Darah

Hormon-hormon yang dilepaskan dalam tubuh setelah berpelukan tidak hanya memberikan rasa senang, tetapi juga dapat membantu kesehatan fisik Anda. Ketika seseorang menyentuh Anda, sensasi pada kulit akan mengaktifkan reseptor tekanan atau yang disebut Corpuscles Pecinan, yang kemudiam mengirimkan sinyal ke saraf vagus atau area otak yang bertanggung jawab untuk menurunkan tekanan darah.

3. Mengurangi Rasa Ketakutan

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal Psychological Science mengungkapkan bahwa, pelukan dan sentuhan secara signifikan akan mengurangi rasa kekhawatiran. Studi ini menemukan bahwa memeluk seseorang atau bahkan itu hanya sebuah objek seperti boneka beruang, akan membantu mengurangi kekhawatiran eksistensial seseorang.

4. Baik untuk Kesehatan Jantung

Sebuah penelitian di University of North Carolina mengungkapkan bahwa merangku seseorang tidak hanya menghangatkan hati tetapi juga sangat bagus bagi kesehatan jantung.

5. Menghilangkan Rasa Kesepian

Memeluk dan sentuhan fisik menjadi semakin penting saat pertambahan usia. Semakin tua umur seseorang, semakin rapuh mereka secara fisik. Sehingga kontak fisik menjadi semakin penting bagi kesehatan. Seseorang yang semakin tua, maka akan sering merasakan kesepian sehingga akan meningkatkan stres. Dengan memeluk seseorang yang disayangi, maka Anda akan merasa dekat dengan orang tersebut dan menurunkan perasaan kesepian.

6. Pereda Stres Alami

Pelukan adalah obat stres alami. Jika tubuh menerima pelukan, maka akan mengurangi jumlah hormon stres kortisol yang diproduksi dalam tubuh. Pelukan juga membuat kiga melepaskan ketegangan dan mengirim pesan menenangkan ke otak.

7. Sangat Baik Untuk Perkembangan Bayi

Ingin melakukan sesuatu yang baik untuk generasi mendatang atau buah hati Anda? Jawabannya adalah memeluk mereka dari mulai mereka masih kecil. Sebuah studi di Emory University menemukan hubungan antara sentuhan dan menghilangkan stres terutama pada tahap awal kehidupan.

Perkembangan seorang bayi termasuk bagaimana mereka mampu mengatasi stres ketika dewasa, tergantung pada kombinasi alami dan cara lingkungan mendidik mereka. Berilah pelukan hangat kepada anak-anak sehingga ketika mereka dewasa mereka akan lebih tenang dalam mengendalikan stres. (liputan6.com)

Berhubungan dengan orang yang salah tampaknya menjadi budaya bagi orang-orang yang baru saja memasuki usia 20-an. Namun, bukankah melelahkan untuk merindukan orang yang sebenarnya tidak tertarik pada Anda secara emosional?

Dilansir dari mydomaine.com, Minggu (25/12/2016), jika Anda mengalami hal ini, mungkin ada dua pertanyaan besar yang juga menghantui Anda. Pertama, mengapa terus menerus tertarik pada seseorang yang nyatanya tidak bisa Anda miliki? Kedua, mengapa begitu sulit untuk berhenti berharap pada orang yang salah?

Menurut Hellen Fisher, antropolog, peneliti, dan penulis Why We Love, jawabannya ada pada respon saraf di otak.
"Ketika seseorang menolak Anda, hal tersebut justru membuat Anda ketagihan. Penolakan ini merangsang bagian otak yang berhubungan dengan motivasi, penghargaan, kecanduan, dan ngidam," papar Hellen.

Untuk mencapai hasil tersebut, Hellen dan beberapa rekannya melakukan penelitian terhadap otak dari 15 pria dan wanita paruh baya yang baru saja mengalami penolakan, namun masih memiliki perasaan cinta yang mendalam. Selama pemindaian MRI, para peserta ditunjukkan foto orang yang menolak mereka, kemudian mereka diminta untuk menyelesaikan soal matematika sederhana, dan terakhir, mereka ditunjukkan foto orang yang akrab dengan diri mereka, namun tanpa perasaan romantis.

Selama latihan pertama, tim melihat aktivitas di daerah otak yang berhubungan dengan motivasi, penghargaan, keinginan, dan kecanduan. Dengan kata lain, situasi ini mirip seperti orang yang kecanduan obat. Perbedaannya, yang membuat orang-orang ini kecanduan bukanlah obat, melainkan emosional atau perasaan cinta.

 

Jadi, mengapa Anda masih saja berharap pada orang yang salah atau tidak bisa Anda miliki?
"Aspek lain harus dilihat dari penilaian orang yang ditolak. Ketika seseorang tidak bersedia berada di dalam sebuah hubungan, orang tersebut akan memiliki nilai tambah. Mengapa? Karena orang yang ditolak akan terus membayangkan berbagai hal yang mungkin terjadi," papar Hellen. (liputan6.com)

Sama halnya dengan Anda, mungkin kebanyakan orang saat ini tidak bisa hidup tanpa ponsel. Dalam satu benda kecil yang bisa Anda bawa kemanapun, ponsel juga membantu Anda dalam banyak hal, seperti alarm untuk mengingatkan jadwal, prakiraan cuaca, dan email-email penting.

Namun, seiring waktu, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang justru mulai kecanduan menggunakan ponsel. Mulai banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan ponsel yang tidak seharusnya di jalan.

Maka dari itu, dilansir dari lifehack.org, Selasa (15/11/2016), berikut ini adalah beberapa alasan terbaik untuk mulai meninggalkan ponsel Anda di rumah.

1. Lebih sedikit gangguan
Jujurlah, semakin sering ponsel bergetar atau berbunyi, semakin susah Anda fokus terhadap pekerjaan. Tidak ada salahnya terhubung dengan semua teman di media sosial, namun jelas ini akan menyita sebagian besar waktu Anda, sehingga lebih baik untuk meninggalkan ponsel di rumah selama tidak diperlukan.

2. Tenang dan damai
Mungkin hal ini terdengar klise, namun Anda akan benar-benar merasakannya ketika tidak harus mengetahui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang di luar sana.

3. Lebih mudah terhubung dengan orang lain
Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak ada media sosial, hubungan nyata antar manusia menjadi renggang. Orang-orang lebih memilih untuk membicarakan segala hal di dunia maya, tidak ada lagi privasi. Namun ingatlah, bahwa memori yang Anda buat dengan banyak orang akan lebih berharga daripada sebuah video di media sosial.

4. Mempertajam indra
Ketika ada makanan lezat dengan bentuk menyenangkan di hadapan Anda sekarang, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Langsung memakannya atau update di media sosial terlebih dahulu?
Update di media sosial tidak akan membuat lidah merasakan lezatnya makanan tersebut, telinga mendengar suara orang-orang di sekitar yang sedang bercanda dan tertawa, atau berbagi makanan dengan orang yang Anda kasihi.

5. Menyenangkan untuk tetap menjadi misteri
Tidak masalah untuk sesekali berbagi momen dengan orang lain, tag keluarga dan menyebutkan Anda ada di mana. Namun, tidak semua orang harus mengetahui apa yang Anda kerjakan setiap saatnya. Ada sebuah perasaan yang menyenangkan ketika tidak semua orang mengetahui apa yang sedang Anda kerjakan, namun Anda dapat mengetahui apa yang orang lain sedang kerjakan.

Intinya, teknologi akan terus berkembang dan berkembang, bukan menutup diri, namun buat diri sendiri lebih cerdas untuk memanfaatkan teknologi tersebut, tanpa meninggalkan kehidupan yang sebenarnya dan orang-orang di sekitar. (liputan6.com)

Page 1 of 4

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net