Lifestyle



Stres tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Membantu mereka agar memiliki tidur yang cukup merupakan langkah awal mengurangi rasa kecemasannya.

Stres pada anak sering tidak disadari orangtua karena anak tidak bisa menjelaskan kondisinya. Padahal, kondisi ini mempengaruhi aktivitas mereka, baik psikologis maupun fisik. Efek samping stres yang paling sering adalah anak menjadi susah tidur. Anak juga susah tidur nyenyak, mengeluh mimpi buruk, minta ditemani tidur oleh orangtua, atau malah menolak tidur dengan orangtuanya.

Memang tidak semua gangguan kecemasan menyebabkan susah tidur, tapi yang pasti anak dan remaja yang susah tidur memiliki hormon stres (korsitol) lebih tinggi.

Kabar baiknya, kecemasan dan susah tidur bisa diatasi dan dicegah. Peran orangtua sangat penting untuk membantu anak keluar dari kondisi tersebut. Beri tahu anak bahwa Anda, orangtuanya, akan selalu ada saat mereka butuh bantuan atau merasa cemas.

Selain itu, orangtua juga harus peka pada gejala-gejala stres yang dialami buah hatinya. Selain susah tidur, berikut adalah beberapa gejala stres yang sering dialami anak, seperti dikutip dari sleepfoundation.org.

1. Nafsu makan berkurang

2. Mengeluh sakit kepala

3. Mengompol saat tidur

4. Sakit perut

5. Agresivitas atau keras kepala

6. Ketidakmampuan mengendalikan emosi

7. Menolak terlibat dalam kegiatan keluarga atau sekolah

Rutinitas dalam keluarga, seperti makan malam bersama atau bermain dan mengobrol sebelum tidur bisa membantu mengurangi stres anak. Kegiatan santai bersama orangtuanya akan membuat mereka merasa tenang dan rileks. Orangtua juga jangan segan berkonsultasi dengan psikolog jika gejala stres anak tidak berkurang. (kompas.com)

Semua orang tahu, ketika perempuan menjadi seorang ibu, dia mengalami perubahan hormon. Tapi bagaimana dengan ayah? Menjadi ayah masa kini berarti lebih banyak berinteraksi dengan anak dan lebih terlibat mengasuh daripada ayah-ayah sebelumnya.

Karena itu, banyak penelitian dilakukan untuk mengungkap perubahan pria saat menjadi ayah. Inilah perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh dan emosional para pria ketika mereka menjadi ayah:

1. Hormon testosteron Anda akan menurun

Penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan ketika seorang pria menjadi ayah, homon testosteronnya akan menyusut, dan bahkan itu akan terus menurun ketika ia ikut mengasuh anaknya.

Ini masuk akal karena testosteron yang rendah sebenarnya mendukung pola asuh yang baik. Pria dengan hormon testosteron yang tinggi cenderung lebih sulit mengendalikan amarah,  lebih nekat, serta kurang memperlihatkan empati.

Studi tersebut mandapati bahwa pria dengan hormon testosteron yang rendah cenderung lebih bisa merasa simpati dan bersedia merespon tangisan bayi.

2. Lebih sedikit membantu pekerjaan rumah

Meskipun citra ayah yang tak peduli dengan pekerjaan di rumah, memilih santai dengan mengangkat kaki dan tenggelam di balik koran adalah steorotip masa lalu, tapi penelitian mendapati bahwa pria yang baru menjadi ayah kemungkinan lebih sedikit membantu pekerjaan di rumah.

Studi dari Ohio State University menemukan ketika pasangan ayah dan ibu sama-sama bekerja, ayah menjadi kurang terlibat dalam pekerjaan rumah setelah bayi mereka lahir dan menjadi kurang terlibat dalam pengasuhan dibanding sang ibu.

3. Otak diprogram ulang

Setelah bayi Anda lahir, otak Anda akan langsung ‘diprogram ulang’ untuk mendukung peran baru sebagai ayah. Area dalam otak yang terlibat dalam pengasuhan akan berkembang, dan sebagai hasilnya Anda akan menjadi lebih baik saat merespons kebutuhan bayi.

Hipotalamus—area yang bertanggungjawab untuk sensitivitas—meningkat, seperti halnya bagian korteks frontal lateral, yang mebantu Anda merasakan hubungan emosional dengan bayi.

4. Mengalami kehamilan simpatik

Anda mungkin merasa janggal ketika mendengar kehamilan simpatik, kondisi di mana pria juga merasakan ‘hamil’ saat istrinya sedang mengandung. Kenyataannya, 10-15 persen pria mengalamai sindrom Couvade atau nama lain dari kehamilan simpatik. Beberapa dari mereka akan bertambah berat badannya, mengalami insomnia dan bahkan mengalami sembelit serta mual.

5. Mengalami depresi pasca-melahirkan

Depresi pasca-melahirkan bukanlah mitos belaka, dan itu bukan hanya terjadi pada ibu, tapi juga ayah. Pria yang baru menjadi ayah memiliki resiko 1,38 kali depresi daripada rekan mereka yang belum menjadi orangtua.

Tapi masa depresi ayah biasanya mundur, atau terjadi setahun pasca bayi lahir. Pria yang mengalami postpartum depression cenderung tidak ingin memperlihatkan sisi emosional, menolak gejala-gejala depresi dan tidak ingin mendapatkan bantuan.

6. Bermain gulat, dan itu bagus

Ayah lebih cenderung mengajak anak-anaknya "bergulat" dan bergumul dibanding para ibu. Ini adalah bentuk latihan alami bagi anak-anak. Sesi permainan ini disebut “high-intensity interactions,” dimana para ayah sebenarnya membantu anak-anaknya agar lebih berani bereskplorasi dan mandiri serta meningkatkan kemampuan sosial. Jadi jangan takut ketika para ayah dan anaknya seolah meniru pertandingan brazilian jiu jitsu. (kompas.com)

Pada saat tahun ajaran baru bulan Juli mendatang, sebagian murid-murid dari SD sampai SMA di Indonesia akan ke sekolah selama lima hari dalam satu minggu dan pulang sore, kebijakan baru yang banyak dipertanyakan terkait anak-anak yang harus kerja untuk membantu orang tua.

Jam sekolah selama 40 jam selama lima hari untuk semua sekolah akan diterapkan secara nasional secara bertahap pada tahun ajaran baru 2017/2018, untuk 'penguatan karakter anak', kata Chatarina Girsang, staff ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Chatarina mengatakan sekolah selama lima hari seminggu tidak akan menambah jam belajar anak.

"(Ini untuk) penguatan karakter anak, jadi bukan menambah jam belajar dan kurikulumnya... bahkan kurikulum akan dimodifikasi... Kegiatan-kegiatan positif akan kita maksimalkan dalam lima hari," kata Chatarina kepada BBC Indonesia.

Saat ini jam sekolah dasar ada yang selesai pukul 12:00 siang ataupun pukul 13:00.

"Jamnya (jam mulai) terserah, yang penting 40 jam satu minggu, per hari delapan jam dengan istirahat setengah jam," tambahnya.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan Kamis (08/06) lalu, bahwa pihaknya sedang menggodok Permendikbud sebagai dasar kebijakan sekolah lima hari dalam satu minggu ini.

Namun banyak pertanyaan yang muncul di seputar penerapan kebijakan ini, terutama terkait anak-anak di pedesaan yang harus membantu orang tua bekerja sejak usia dini.

Di daerah transmigrasi dan banyak daerah pedesaan lain, anak-anak banyak yang membantu orang tua mereka setelah sekolah.

Jam sekolah sekolah dasar di Indonesia pada umumnya selesai pada tengah hari.

"Anak sekecil itu sudah menanggung orang tua"

Banyak netizen, termasuk guru, menyatakan keberatan terkait rencana penerapan sekolah lima hari ini melalui media sosial.

Akun atas nama Djoko Poernomo misalnya, menulis melalui Facebook, "Pak Mentri !!!! muridku 35% anak-anak Transmigrasi, biasanya setelah pulang sekolah membantu pekerjaan orang tua di sawah atau ngarit cari rumput, dan banyak muridku sudah pandai menjual tenaga sebagai penyabit rumput di perkebunan sawit, nah kalau mereka pulang jam 4 sore pasti mereka tidak akan melakukan kegiatan pendidikan karakter yang nyata, saya takut mereka akan rontok dengan sistem pulang sore."

"Salah satu muridku baru kelas 7, anak transmigrasi namun bapaknya sakit sdh nggak (sudah tidak) bisa kerja, jadi dia pulang sekolah sekolah harus berjalan kaki 5 km menuju bekas galian timah, nyari ampas timah, dari sinilah dia membiaya makan keluarganya, dari sekolah sdh (sudah) menggratiskan semua termasuk baju seragam, untuk makan jelas diluar kemampuan sekolah... sedih saya tanya sama dia tiap hari hanya makan 2x cuma lauk tempe tanpa sayur sama sekali... sedih rasanya lihat anak sekecil itu sdh menanggung orangtua dan adik-adiknya," tambahnya.

Pengguna lain atas nama Yosef Agung Prawiro menulis dari sisi kesiapan sekolah, "Fullday Sch (hari penuh sekolah) belum saatnya diberlakukan di seluruh Indonesia (Nasional), hal yang perlu diperhatikan, sarana prasarana tiap sekolah apa mencukupi?"

Chatarina Girsang mengatakan akan ada perkecualian menyangkut sekolah lima hari ini.

"Apabila sekolah belum siap akses transportasi tentu akan kita kecualikan... Kita juga lagi menginventarisir mana daerah kabupaten yang siap... sarana prasarana, fasilitas sekolah dan akses transportasi," kata Chatharina.

"Yang kita utamakan adalah hak anak mendapatkan pendidikan," tambahnya.

Tetap semangat belajar

Seorang guru di Nias Selatan, Indri Rosidah, mengatakan di daerah tempat dia mengajar anak-anak SD biasanya diminta orang tua untuk mengasuh adik, sementara yang sudah di sekolah menengah di minta bekerja di ladang.

Indri bercerita salah seorang muridnya Boisman Gori membawa dan menjaga adiknya sambil sekolah.

"Saat belajar mereka memang tetap semangat, sudah mereka anggap biasa saja (untuk bekerja membantu orang tua)," kata Indri.

Di Desa Ueruru, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, seorang guru lain, Novim Aivianita Hanifi, mengatakan sebagian muridnya juga membantu orang tua mereka.

"Sebagian ada yang membantu orang tua sperti berkebun dan ikut menjala ikan di laut," kata Novim.

Indri dan Novim termasuk di antara sekitar 3.000 guru yang mengikuti Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) yang diselenggarakan Kemendikbud.

'Gangguan pencernaan'

Retno Listyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) , mengatakan tidak menyepakati kebijakan ini karena kondisi masyarakat yang berbeda-beda.

"Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan semua kota besar, tipologi dan kondisi masyarkat berbeda-beda, maka perlu persiapan," kata Retno.

Ia mengatakan survei yang dilakukan FSGI terkait sekolah di Jakarta yang menerapkan kebijakan sekolah lima hari menunjukkan banyaknya anak yang mengalami gangguan pencernaan karena jam makan yang terganggu.

"Dalam tiga tahun penerapan (di DKI Jakarta) sakit pencernaan terjadi, karena mereka terlambat makan. Misalnya masuk jam 0630 di kelas, belum sempat sarapan dan mereka sarapan pada istirahat pertama jam 10:00, pada jam makan siang tak makan karena masih kenyang akhirnya makan siang jam 03:00. Ini sebenarnya pelanggaran hak anak," kata Retno.

Ditambahkannya bahwa anggota FSGI yang tersebar di 29 kabupaten dan banyak murid mereka yang membantu 'orang tuanya berlandang, berkebun, jualan, nelayan... sehingga kalau sekolah sampai sore dampaknya akan ke ekonomi keluarga juga'.

Retno juga mengatakan dengan prasarana terbatas dengan situasi sekolah di Indonesia yang halamannya cuma sedikit, sempit maka akan sulit membuat anak betah dan nyaman di sekolah dan di ruang kelas.

Tetapi staff ahli Mendikbud, Catharina Girsang mengatakan penambahan jam di sekolah ini mencakup kegiatan di luar kelas.

"Bukan berarti di kelas selama delapan jam, bisa juga kegiatan di luar seperti mengamati pasar, diberi tugas apa, jadi pelajaran bukan di kelas semua, ada kegiatan kurikuler dan ekstra kurikulernya," kata Chatarina. (bbcindonesia.com)

Belum lama ini kita dihebohkan dengan beredarnya video anak-anak yang melakukan pawai keliling namun menyanyikan lagu bernuansa kekerasan. Tanpa merasa bersalah, anak-anak itu dengan lantang menyanyikan lagu tersebut sambil berpawai.

Itu hanyalah salah satu contoh dari darurat toleransi beragama di Indonesia. Sebelumnya netizen juga terkejut dengan viralnya surat intimidasi yang dilakukan seorang anak SD terhadap temannya dengan mengatakan kafir.

Psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi, mengatakan, perilaku anak-anak tersebut merupakan cerminan dari apa yang diterimanya dari lingkungan terdekatnya, mulai dari keluarga, sekolah, atau lingkungan teman-temannya.

"Sebenarnya mereka belum mengerti dengan apa yang diucapkannya. Tapi, bagaimana dengan 10 atau 20 tahun mendatang ketika anak-anak itu menjadi dewasa," kata pria yang akrab disapa Kak Seto ini ketika berbincang dengan Kompas Lifestyle (6/6/2017).

Ia mengungkapkan, usia anak-anak adalah waktu yang tepat untuk membentuk karakternya. Sampai dengan anak berusia 15 tahun, karakter anak didapat dari proses belajar dan menyerap lingkungannya.

"Bisa menulis, lancar berbicara, atau bernyanyi itu semua didapatkan dari proses belajar. Demikian pula dengan menghujat, melontarkan senyum, atau tahu berterimakasih," ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak ini.

Sayangnya, menurut dia, saat ini kita sebagai orang dewasa lebih sering mempertontonkan kekerasan pada anak, baik secara formal atau nonformal.

"Kita lupa mengajarkan indahnya kebersamaan, kita lupa mengajarkan indahnya perbedaan dan keragaman. Selain itu, anak juga selalu dihadapkan pada gadgetnya dan televisi dan bukan tidak mungkin ia akan mudah meniru suatu perilaku tertentu," ucapnya.

Anak-anak mengenal kebencian dan sikap intoleran dari doktrin yang diterima dari orang dewasa di sekitarnya. Menurut Kak Seto, ini adalah bibit munculnya radikalisme.

Sebagai orangtua, seharusnya kita menjauhkan anak dari jeratan radikalisme, dimulai dengan mengajarkan indahnya keberagaman. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti anak, sesuai dengan tingkat usianya.

"Berikan contoh indahnya bunga-bunga yang ada di taman. Keberagaman bunga yang ada di taman bisa diibaratkan seperti lingkungan sehari-hari, ada orang keturunan Arab, ada China, Jawa, Batak dan lainnya, mana yang paling baik? Semuanya adalah baik. Itu yang harus ditanamkan kepada anak-anak," sarannya.

Jika kita tidak ingin melihat generasi penerus yang intoleran dan penuh kekerasan, ajak mereka berdiskusi dan berikan contoh nyata pentingnya bersikap terbuka terhadap masyarakat Indonesia yang majemuk. (kompas.com)

Page 1 of 7

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net