Lifestyle

Orang tua yang baik pasti menginginkan anak-anak mereka menjadi sukses, jauh dari masalah, berkelakuan baik di sekolah dan melakukan hal yang luar biasa ketika dewasa.

Dan tak ada resep khusus untuk membuat anak-anak menjadi lebih sukses di masa depan. Penelitian secara psikologislah yang menjadi poin penting untuk memprediksi anak kelak menjadi orang sukses.

Melansir dari laman Businessinsider.com, Kamis (23/2/2017) ada 13 hal yang dimiliki orang tua dengan anak-anak yang sukses. Apa saja? Simak berikut ini.

1. Orang tua membiarkan anak-anaknya melakukan pekerjaan di rumah
Menurut mantan dekan di Stanford University dan penulis buku "How to Raise an Adult", Julie Lythcott-Haims jika anak-anak tidak dibiarkan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, itu artinya orang lainlah yang akan melakukan hal tersebut.

Lythcott-Haims pun percaya bila anak-anak yang dibesarkan dari tugas-tugas akan menjadi seseorang yang bisa berkolaborasi dengan baik dengan rekan kerja saat bekerja nanti. Selain itu, lebih berempati karena berjuang secara langsung dan mampu melakukan tugas secara mandiri.

2. Orang tua mengajar anak mereka bersosialisasi
"Studi menunjukkan bahwa membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional adalah salah satu hal yang paling penting dilakukan untuk mempersiapkan masa depan yang sehat." ujar Kristin Schubert, direktur program Robert Wood Johnson Foundation.

Anak-anak yang kompeten secara sosial, dapat bekerja sama dengan orang lain. Misalnya membantu orang lain tanpa disuruh, memahami perasaan orang lain dan menyelesaikan masalah sendiri, jauh lebih mungkin mendapatkan gelar sarjana dan memiliki pekerjaan di usia 25 tahun dan sukses dibanding dengan anak tanpa keterampilan bersosialisasi.

3. Terjalin hubungan yang sehat antara orang tua dan anak

Menurut penelitian University of Illinois, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan konflik tinggi, cenderung lebih buruk dibanding anak-anak yang tumbuh dari orang tua yang bergaul dengan anaknya.

Satu studi menemukan bahwa, setelah perceraian, ketika seorang ayah lebih sering mengunjungi anak-anaknya akan mengurangi konflik keluarga dibanding dengan ayah yang sama sekali tidak pernah mengunjungi anak-anaknya.

4. Orang tua mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi
Sebuah studi di tahun 2014 yang dipimpin oleh psikolog Sandra Tang dari University of Michigan, menemukan bahwa ibu yang menyelesaikan sekolah SMA atau perguruan tinggi lebih mungkin untuk membesarkan anak-anak yang melakukan hal sama terhadap dirinya.

Menarik data dari sekelompok lebih dari 14.000 anak-anak yang masuk TK pada tahun 1998-2007, studi ini menemukan bahwa anak yang lahir dari ibu berusia 18 tahun atau lebih muda, akan kurang mungkin untuk menyelesaikan sekolah tinggi dibanding anak lainnya.

5. Orang tua mengajarkan matematika pada anak sejak dini
Meta-analisis di tahun 2007 dari 35 ribu anak-anak prasekolah di seluruh AS, Kanada dan Inggris, menemukan bahwa mengembangkan keterampilan matematika dari awal akan menjadi keuntungan yang besar untuk anak di masa depan.

"Pentingnya keterampilan matematika sejak sekolah awal dengan pengetahuan tentang angka, urutan nomor dan konsep-konsep matematika dasar akan memprediksi prestasi anak di masa depan." ungkap Greg Duncan, penulis dan peneliti Northwestern University.

6. Mereka memiliki harapan tinggi pada anak 
Menggunakan survei nasional pada 6600 anak di tahun 2001, profesor Neal Halfon dari University of California di Los Angeles, menemukan bahwa harapan orang tua pada anaknya memiliki pengaruh yang besar pada sebuah pencapaian. Orang tua yang memiliki harapan tinggi pada anaknya hingga ke perguruan tinggi di masa depan, dapat mengelola anak mereka ke arah tujuan yang terlepas dari pendapatan dan aset yang dimiliki.

7. Orang tua menjalin hubungan yang erat dengan anak
Sebuah studi di tahun 2014 yang dilakukan pada 243 orang anak, menemukan bahwa anak-anak yang menerima pengasuhan sensitif dari orang tua dalam tiga tahun pertama akan mendapatkan nilai akademik yang lebih baik. Tak hanya itu, anak-anak juga dapat memiliki hubungan yang sehat dan pencapaian akademik yang lebih besar di usia 30-an.

8. Orang tua yang bebas stres

Menurut penelitian terbaru yang dikutip oleh Brigid Schulte di The Washington Post, jumlah waktu yang ibu habiskan dengan anak antara usia 3 - 11 tahun tidak sedikit berpengaruh pada perilaku dan prestasi anak. Secara psikologis, rasa emosional juga dapat menular pada orang lain. Jadi, bila orang tua bahagia, anak-anak pun akan merasakan rasa bahagia yang sama. Sebaliknya, bila orang tua frustasi, tentunya anak-anak pun akan ikut frustasi.

9. Orang tua menghargai anak untuk hindari kegagalan
Selama beberapa dekade, psikolog Carol Dweck dari Stanford University telah menemukan bahwa anak-anak dan orang dewasa berpikir tentang keberhasilan agar sukses. Seperti misalnya anak-anak diberitahu bahwa mereka tak pernah gagal karena memiliki kecerdasan. Sementara ada juga anak-anak yang harus berjuang terus meski gagal dan terus berusaha mencapai sukses.

10. Para ibu bekerja
Menurut penelitian dari Harvard Business School, ada manfaat yang signifikan bagi pertumbuhan anak dengan ibu bekerja. Studi ini juga menemukan anak peremuan dari ibu bekerja lebih cenderung mendapatkan pekerjaan hingga bidang supervisor. Lebih banyak menghasilkan uang 23% dibanding dengan anak-anak lain yang dibesarkan oleh ibu rumah tangga. Selain itu, Anak-anak dari ibu yang bekerja cenderung lebih mandiri melakukan pekerjaan rumah.

11. Orang tua memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi
Di Amerika Serikat, menurut peneliti Sean Reardon dari Stanford University, kesenjangan sosial antara keluarga berpenghasilan rendah lebih tinggi 30-40% dari yang berpenghasilan tinggi. Penulis Dan Pink pun mencatat, semakin tinggi pendapatan orang tua, maka semakin tinggi juga pendidikan untuk anak-anaknya.

12. Orang tua dengan pola asuh otoritatif bukan otoriter
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog University of California Berkeley, Diana Baumride, ditemukan ada tiga jenis gaya pengasuhan yang berpengaruh bagi kesuksesan anak.

Yang pertama permisif; orang tua harus bisa menerima apa pun kondisi anaknya. Kedua otoriter; orang tua membentuk dan mengontrol anak berdasarkan perilaku. Lalu yang terakhir adalah otoritatif; orang tua mencoba untuk mengarahkan anak menjadi lebih rasional.

Dari ketiga pola asuh tersebut, yang paling berpengaruh adalah otoritatif. Anak akan tumbuh dengan menghormati otoritas tanpa terasa terkekang. (liputan6.com)

Mungkin Anda telah sering mendengar bahwa penggunaan gawai pada anak perlu dibatasi. Bahkan seorang Steve Jobs pun membatasi anaknya berkenalan dengan teknologi dan penggunaan gawai.

Namun, banyak orangtua yang membiarkan anaknya bermain gawai hanya untuk mengalihkan perhatian mereka. Padahal sebenarnya itu merupakan cara yang salah.

Jika anak sudah ketagihan bermain gawai, akan sulit bagi orangtua untuk "mengembalikan" mereka. Namun, agar adiksi tidak bertambah parah, orangtua pun perlu melakukan kegiatan menyenangkan bersama anak.

Kegiatan ini juga dapat mengalihkan perhatiannya dari keinginan bermain gawai. Dilansir dari Metro, Kamis (26/1/2017), berikut kegiatan itu.

1. Berdansa

Kegiatan ini sangat menyenangkan bila dilakukan bersama. Bonusnya, Anda juga dapat membakar kalori. Pasang musik bernada up-beat dan mulai untuk menggerakan tubuh Anda dan ajak anak untuk mengikuti.

2. Berenang

Tak dipungkiri, anak-anak suka bermain air. Maka jangan ragu untuk mengajaknya berenang. Atau paling tidak, Anda dapat melakukannya di kamar mandi.

3. Membangun tenda

Kegiatan berkemah sangat disukai anak-anak. Bahkan jika Anda hanya berpura-pura melakukannya di rumah. Dengan selimut atau kain, serta kursi, Anda dapat membuat tenda dan berpura-pura berkemah.

4. Membaca

Membaca buku cerita akan sangat disukainya. Apalagi jika Anda membawakannya dengan ekspresif. Anda juga dapat mengenalkannya huruf dan cara membaca. Atau jika ia sudah bisa membaca, Anda bisa melatihnya membaca tanpa mengeluarkan suara.

5. Bermain permainan

Permainan di gawai memang menyenangkan, tetapi permainan fisik seperti board game, puzzle, dan tebak-tebakan akan lebih baik. Ini akan membuat mereka sibuk untuk beberapa jam.

6. Memasak

Anak-anak sangat suka membuat sesuatu. Mengeksplorasi makanan dengan mengajaknya memasak akan sangat disukai oleh mereka. (liputan6.com)

Banyak orang yang meremehkan kekuatan anak kecil untuk membuat dunianya indah. Terkadang kita juga lupa bagaimana caranya bisa membuat kebahagiaan sederhana layaknya saat kecil dahulu. Padahal banyak orang dewasa yang menganggap kehidupan masa kecilnya lebih menyenangkan dibanding kenyataan yang dihadapinya saat ini. Untuk itu, melakukan 5 hal ini akan membantu Anda lebih bahagia, seperti yang dirils oleh lifehack.org, Kamis (12/1/2017).

Anak-anak senang dengan ulang tahunnya
Mereka sangat senang dengan ulang tahun, bahkan mereka ingin memberitahukannya pada dunia bahwa ia sudah beranjak dewasa. Mereka bisa menciptakan berbagai kebahagiaan dan menyebarkan cinta pada keluarganya di saat yang bahagia ini. Anak-anak juga peduli untuk mengajak orang lain untuk ikut serta berbahagia pada hari ulang tahun mereka. Jadi untuk Anda yang ingin lebih bahagia, buat dan sebarkanlah perasaan bahagia kepada orang-orang di sekeliling Anda layaknya seorang anak kecil.

Anak-anak tidak ingin berbohong
Saat diajari untuk berbicara, mereka akan berusaha jujur untuk mengungkapkannya bahkan dengan kata-kata yang tidak kita duga. Bila mereka ditawari untuk makan, mereka akan jujur bilang lapar dan tidak malu untuk mengungkapkannya. Jadi bila Anda ingin lebih bahagia hari ini, usahakan jujur dengan diri Anda dan sampaikan dengan cara yang baik pada orang lain, sehingga tidak terjadi salah paham.

Anak-anak butuh temannya
Pada kehidupan dewasa, seringkali kita terbiasa hidup sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Namun anak-anak berbeda karena mereka butuh disukai oleh banyak orang. Mereka ingin ikut serta dalam berbagai kelas dan permainan sehingga bisa bersahabat dengan orang banyak. Bila ingin lebih bahagia, Anda bisa melakukan hal yang serupa dengan mulai membuka diri kepada orang-orang yang baru dan nikmati persahabatannya.

Anak-anak memperhatikan orang dewasa
Anak-anak memiliki proses dalam belajar setiap harinya. Tidak hanya di sekolah, mereka juga belajar langsung dari orang-orang terdekatnya dan meniru perilaku kita sehari-hari. Hal ini juga bisa Anda terapkan untuk menjadi lebih bahagia dengan cara mempelajari berbagai nila-nilai dan cara hidup orang tua kita, melestarikan yang baik dan menuruti setiap kata orang tua, karena mereka yang lebih berpengalaman.

 

Anak-anak tidak takut untuk bermimpi
Jujurlah, pada saat anak-anak kita memiliki banyak mimpi. Kita percaya ada keajaiban yang bisa mewujudkan setiap mimpi kita hingga bisa menjadi kenyataan. Namun seiring waktu kita mulai menghapus mimpi-mimpi tersebut dari otak kita karena mulai menyadari kenyataan. Secara tidak sadar, kita juga membunuh kemampuan imajinasi yang luar biasa. Agar lebih bahagia, bangkitkan kembali mimpi dan buatlah keinginan baru untuk dikejar. (liputan6.com)

Nama anak menjadi sebuah ujian bagi orangtua di fase akhir kehamilan. Sering kali mereka kesulitan mencari nama-nama unik yang berbeda dari orang kebanyakan. Bahkan banyak kata-kata yang berasal dari bahasa asing menjadi pilihan pertama orangtua untuk diberikan oleh anaknya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Inilah alasan mengapa orangtua enggan memberi nama populer bagi anak.

Kebiasaan orang Indonesia yang memiliki nama yang berasal dari keluarga sudah mendarah daging sejak zaman dahulu. Bahkan pada daerah tertentu, penambahan kata suku dibelakang nama, atau nama ayah di belakang nama menjadi praktik yang lazim digunakan untuk memberi nama anak yang baru lahir. Nama anak juga dihasilkan dari musyawarah keluarga, yang akhirnya memberikan sebuah nama dengan makna doa yang sangat besar.

Profesor Jane Pilcher, sosiologis dari Universitas Leicester menyatakan, nama merupakan hal utama dari identitas manusia dan berhubungan dengan berbagai identitas resmi yang penting di mata negara. Nama juga menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya karena menentukan apa jenis kelamin, kebudayaan yang kita terima, dan lain sebagainya. seperti yang disarikan dari bbc.com, Sealsa (10/1/2017).

 
 

 

Ternyata, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh Universitas Negeri San Diego pada tahun 2010 menyatakan bahwa nama populer sudah mulai menghilan pada tahun 1950. Hal ini terus berlanjut hingga saat ini, karena para orangtua memilih untuk memberikan nama yang unik bagi anaknya.

Perubahan kebiasaan memberikan nama anak juga terjadi di belahan dunia lain, Jepang misalnya. Hasil penelitian terbaru mengungkapkan, banyak nama unik yang diberikan pada anak pada tahun 2004 hingga 2013. Para orangtua di Jepang menggabungkan berbagai karakter kanji yang tidak umum pengucapannya, namun tetap menggunakan nama belakang di bagian belakang nama anak.

Alasan sebenarnya adalah

Jadi sebenarnya apa alasan yang menyebabkan orangtua enggan memberikan nama populer? Jawabannya adalah pergeseran kebudayaan dari hidup berkelompok, menjadi lebih individualis. Pergeseran ini terjadi di semua aspek kehidupan, mulai dari kehidupan bermasyarakat, penggunaan media sosial, hingga merembet ke permasalahan nama anak.

Orangtua berharap anaknya mampu untuk berdiri dan tampil beda diantara orang lain melalui nama yang mereka berikan. Hal ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan, bahkan kepercayaan gender melalui nama juga mulai menghilang. Banyaknya nama anak laki-laki yang digunakan untuk perempuan dan kebalikannya menjadi bukti, nama anak diberikan karena keunikannya.

Sedangkan di Indonesia, banyak nama-nama unik yang bermunculan hingga saat ini karena pengaruh kebudayaan asing yang kuat dalam kebudayaannya. Mulai dari kebudayaan India, Arab, Amerika, hingga pengaruh kebudayaan daerah yang tersebar kuat di Indonesia. Tentunya hal ini menjadi kemudahan bagi orang Indonesia untuk memilih nama populer dari berbagai kebudayaan untuk anak.

Beberapa kejadian serius di Indonesia juga menjadi pemicu orangtua enggan memberikan nama umum pada anaknya. Salah satu contohnya adalah kejadian Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, yang memaksa rakyat Minangkabau menanggalkan nama adat dan menggunakan nama populer sehingga mereka tidak dicap sebagai pengkhianat negara.

Tentunya, nama anak mempengaruhi kehidupan hingga akhir hayat serta mempengaruhi persepsi orang lain yang memandang kita. Disarankan untuk memberikan nama anak bukan hanya faktor keunikannya saja, namun melalui makna, dan bagaimana masyarakat nantinya menerima nama baru ini sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. (liputan6.com)

Page 1 of 5

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net