Lifestyle

Memperkenalkan buku pada sejak dini akan membangun kebiasaan baik dalam mengembangkan pengetahuan dan mencari sumber informasi terpercaya.

Melatih anak usia dini membaca buku juga menjadi langkah tepat agar anak siap dalam belajar membaca ketika kelak memasuki sekolah.

Selain itu, kebiasaan membaca buku juga bermanfaat untuk membuat anak kaya kosa kata. Harapannya, anak pun jadi pandai dalam menulis dan membaca menggunakan bahasa yang baik.

Menurut studi University of Sussex membacakan buku juga bermanfaat untuk orangtua. Studi mengungkapkan, orangtua menjadi lebih penuh perhatian dan penyayang.

Studi ini fokus pada sesi membaca yang dihadiri oleh 24 responden ibu dari Inggris yang memiliki anak usia tujuh hingga sembilan tahun.

Peneliti membagi responden menjadi dua kelompok, membaca buku konvensional dan membaca buku elektronik (ebook).

Hal yang diperhatikan oleh peneliti adalah interaksi orangtua dan anak serta kemampuan anak dalam mendokumentasikan material buku yang mereka baca.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa efek membaca buku berfisik dan buku elektronik memberikan manfaat baik yang sama untuk anak-anak.

Namun, studi menemukan, orangtua dan anak yang membaca buku fisik memiliki hubungan lebih hangat dan tidak ragu menunjukkan rasa saling menyayangi, ketimbang pasangan orangtua anak yang membaca buku elektronik.

Nicola Yuill, seorang dosen senior yang terlibat dalam studi tersebut, mengatakan pasangan orangtua anak yang membaca buku fisik terlihat lebih terbuka dalam berkomunikasi dan mengekspresikan rasa kasih sayang.

Hal tersebut tidak terlalu terlihat pada pasangan orangtua anak yang berada dalam kelompok membaca buku elektronik.

Yuill pun menyimpulkan bahwa manfaat membaca buku bersama dengan juga memberikan manfaat positif untuk orangtua. (kompas.com)

Tingkat kecerdasan (IQ) seseorang memang dipengaruhi oleh faktor genetik. Khusus dalam peran ayah, ternyata interaksi dengan bayi sejak awal kehidupan ikut memengaruhi kecerdasan.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari Imperial College London, diketahui bahwa para ayah yang ikut mengurus anak dan punya interaksi positif dengan bayinya akan meningkatkan perkembangan kecerdasan buah hatinya.

Interaksi positif yang dimaksudkan adalah seberapa berkualitas interaksi antara ayah dan anak. Misalnya saja memberi perhatian penuh saat bermain dengan bayinya, membacakan buku, atau mengajak bernyanyi.

"Pesan dari hasil studi ini jelas, ayah yang memiliki bayi harus aktif berinteraksi. Bahkan meski masih bayi, bermain akan berpengaruh positif bagi kecerdasannya," kata Paul Ramchandani, ketua peneliti.

Hasil penelitian itu dilakukan dengan mengamati interaksi 128 ayah dengan bayinya yang berusia 3 bulan. Kemudian bayi-bayi itu dites tingkat kecerdasannya saat mereka sudah masuk usia balita. Bayi yang punya interaksi positif dengan ayahnya, memiliki skor IQ lebih tinggi.

Walau penelitian itu bersifat observasi dan tidak diketahui apakah ada kaitan langsung antara tingkat IQ dan interaksi positif bersama ayah, tetapi hasilnya jelas berbeda dibanding dengan bayi yang ayahnya kurang terlibat dalam pola asuh anak.

Ini bukan penelitian pertama dalam topik yang sama. Studi tahun 2002 juga menunjukkan hasil yang mirip. Anak-anak yang ayahnya terlibat dalam tumbuh kembang anak ternyata memiliki prestasi akademik lebih baik. Mereka juga lebih menikmati sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler.

Secara umum, keterlibatan ayah dalam pola asuh bayi juga berpengaruh pada kepuasan hidup anak. Menurut sebuah studi tahun 2012, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya memiliki tingkat kepercayaan diri dan kepuasan hidup lebih baik. (kompas.com)

Kreativitas merupakan hal penting bagi kehidupan manusia dan harus selalu dikembangkan dengan berbagai cara, khususnya untuk anak-anak. Oleh karena itu sebagai orangtua, Anda harus bijak untuk membiarkan anak bermain untuk memberikan kesempatan mereka mengeksplorasi imajinasi mereka sehingga mampu menjadi pribadi yang kreatif.

Banyak orangtua saat ini hanya mengutamakan pencapaian akademis bagi anak di sekolah. Secara tidak sadar mereka menghambat perkembangan imajinasi dan kreativitas anak-anak terutama saat masuk kedalam dunia pendidikan yang memberikan definisi yang sangat sempit untuk kesuksesan.

Untuk itulah LEGO, sebuah perusahaan mainan yang telah mendunia meluncurkan kampanye LEGO Build Amazing sebagai media untuk kesuksesan anak di dunia. Tentunya kampanye ini, LEGO ingin menunjukkan kepada orangtua bahwa mengasah pikiran kreatif dapat membantu para pembangun masa depan menciptakan karyanya bagi dunia.

Kampanye ini akan diluncurkan di berbagai negara seperti India, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina yang akan berlangsung sepanjang tahun. Untuk melengkapi kampanye ini pula, LEGO megeluarkan paket pemula Build Amazing sebagai langkah besar untuk memperluas kreativitas dan imajinasi anak-anak yang sudah tersedia di berbagai kota besar di Indonesia. (liputan6.com)

Orang tua yang baik pasti menginginkan anak-anak mereka menjadi sukses, jauh dari masalah, berkelakuan baik di sekolah dan melakukan hal yang luar biasa ketika dewasa.

Dan tak ada resep khusus untuk membuat anak-anak menjadi lebih sukses di masa depan. Penelitian secara psikologislah yang menjadi poin penting untuk memprediksi anak kelak menjadi orang sukses.

Melansir dari laman Businessinsider.com, Kamis (23/2/2017) ada 13 hal yang dimiliki orang tua dengan anak-anak yang sukses. Apa saja? Simak berikut ini.

1. Orang tua membiarkan anak-anaknya melakukan pekerjaan di rumah
Menurut mantan dekan di Stanford University dan penulis buku "How to Raise an Adult", Julie Lythcott-Haims jika anak-anak tidak dibiarkan melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, itu artinya orang lainlah yang akan melakukan hal tersebut.

Lythcott-Haims pun percaya bila anak-anak yang dibesarkan dari tugas-tugas akan menjadi seseorang yang bisa berkolaborasi dengan baik dengan rekan kerja saat bekerja nanti. Selain itu, lebih berempati karena berjuang secara langsung dan mampu melakukan tugas secara mandiri.

2. Orang tua mengajar anak mereka bersosialisasi
"Studi menunjukkan bahwa membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional adalah salah satu hal yang paling penting dilakukan untuk mempersiapkan masa depan yang sehat." ujar Kristin Schubert, direktur program Robert Wood Johnson Foundation.

Anak-anak yang kompeten secara sosial, dapat bekerja sama dengan orang lain. Misalnya membantu orang lain tanpa disuruh, memahami perasaan orang lain dan menyelesaikan masalah sendiri, jauh lebih mungkin mendapatkan gelar sarjana dan memiliki pekerjaan di usia 25 tahun dan sukses dibanding dengan anak tanpa keterampilan bersosialisasi.

3. Terjalin hubungan yang sehat antara orang tua dan anak

Menurut penelitian University of Illinois, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan konflik tinggi, cenderung lebih buruk dibanding anak-anak yang tumbuh dari orang tua yang bergaul dengan anaknya.

Satu studi menemukan bahwa, setelah perceraian, ketika seorang ayah lebih sering mengunjungi anak-anaknya akan mengurangi konflik keluarga dibanding dengan ayah yang sama sekali tidak pernah mengunjungi anak-anaknya.

4. Orang tua mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi
Sebuah studi di tahun 2014 yang dipimpin oleh psikolog Sandra Tang dari University of Michigan, menemukan bahwa ibu yang menyelesaikan sekolah SMA atau perguruan tinggi lebih mungkin untuk membesarkan anak-anak yang melakukan hal sama terhadap dirinya.

Menarik data dari sekelompok lebih dari 14.000 anak-anak yang masuk TK pada tahun 1998-2007, studi ini menemukan bahwa anak yang lahir dari ibu berusia 18 tahun atau lebih muda, akan kurang mungkin untuk menyelesaikan sekolah tinggi dibanding anak lainnya.

5. Orang tua mengajarkan matematika pada anak sejak dini
Meta-analisis di tahun 2007 dari 35 ribu anak-anak prasekolah di seluruh AS, Kanada dan Inggris, menemukan bahwa mengembangkan keterampilan matematika dari awal akan menjadi keuntungan yang besar untuk anak di masa depan.

"Pentingnya keterampilan matematika sejak sekolah awal dengan pengetahuan tentang angka, urutan nomor dan konsep-konsep matematika dasar akan memprediksi prestasi anak di masa depan." ungkap Greg Duncan, penulis dan peneliti Northwestern University.

6. Mereka memiliki harapan tinggi pada anak 
Menggunakan survei nasional pada 6600 anak di tahun 2001, profesor Neal Halfon dari University of California di Los Angeles, menemukan bahwa harapan orang tua pada anaknya memiliki pengaruh yang besar pada sebuah pencapaian. Orang tua yang memiliki harapan tinggi pada anaknya hingga ke perguruan tinggi di masa depan, dapat mengelola anak mereka ke arah tujuan yang terlepas dari pendapatan dan aset yang dimiliki.

7. Orang tua menjalin hubungan yang erat dengan anak
Sebuah studi di tahun 2014 yang dilakukan pada 243 orang anak, menemukan bahwa anak-anak yang menerima pengasuhan sensitif dari orang tua dalam tiga tahun pertama akan mendapatkan nilai akademik yang lebih baik. Tak hanya itu, anak-anak juga dapat memiliki hubungan yang sehat dan pencapaian akademik yang lebih besar di usia 30-an.

8. Orang tua yang bebas stres

Menurut penelitian terbaru yang dikutip oleh Brigid Schulte di The Washington Post, jumlah waktu yang ibu habiskan dengan anak antara usia 3 - 11 tahun tidak sedikit berpengaruh pada perilaku dan prestasi anak. Secara psikologis, rasa emosional juga dapat menular pada orang lain. Jadi, bila orang tua bahagia, anak-anak pun akan merasakan rasa bahagia yang sama. Sebaliknya, bila orang tua frustasi, tentunya anak-anak pun akan ikut frustasi.

9. Orang tua menghargai anak untuk hindari kegagalan
Selama beberapa dekade, psikolog Carol Dweck dari Stanford University telah menemukan bahwa anak-anak dan orang dewasa berpikir tentang keberhasilan agar sukses. Seperti misalnya anak-anak diberitahu bahwa mereka tak pernah gagal karena memiliki kecerdasan. Sementara ada juga anak-anak yang harus berjuang terus meski gagal dan terus berusaha mencapai sukses.

10. Para ibu bekerja
Menurut penelitian dari Harvard Business School, ada manfaat yang signifikan bagi pertumbuhan anak dengan ibu bekerja. Studi ini juga menemukan anak peremuan dari ibu bekerja lebih cenderung mendapatkan pekerjaan hingga bidang supervisor. Lebih banyak menghasilkan uang 23% dibanding dengan anak-anak lain yang dibesarkan oleh ibu rumah tangga. Selain itu, Anak-anak dari ibu yang bekerja cenderung lebih mandiri melakukan pekerjaan rumah.

11. Orang tua memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi
Di Amerika Serikat, menurut peneliti Sean Reardon dari Stanford University, kesenjangan sosial antara keluarga berpenghasilan rendah lebih tinggi 30-40% dari yang berpenghasilan tinggi. Penulis Dan Pink pun mencatat, semakin tinggi pendapatan orang tua, maka semakin tinggi juga pendidikan untuk anak-anaknya.

12. Orang tua dengan pola asuh otoritatif bukan otoriter
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog University of California Berkeley, Diana Baumride, ditemukan ada tiga jenis gaya pengasuhan yang berpengaruh bagi kesuksesan anak.

Yang pertama permisif; orang tua harus bisa menerima apa pun kondisi anaknya. Kedua otoriter; orang tua membentuk dan mengontrol anak berdasarkan perilaku. Lalu yang terakhir adalah otoritatif; orang tua mencoba untuk mengarahkan anak menjadi lebih rasional.

Dari ketiga pola asuh tersebut, yang paling berpengaruh adalah otoritatif. Anak akan tumbuh dengan menghormati otoritas tanpa terasa terkekang. (liputan6.com)

Page 1 of 6

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net