Lifestyle



Anak laki-laki Afghanistan yang menjadi terkenal di internet karena mengenakan plastik dengan nomor punggung 10 untuk Lionel Messi sudah bertemu dengan pujaannya.

Foto Murtaza Ahmadi di internet yang mengenakan 'kaus bola' kantong plastik bergaris biru-putih dengan nomor 10 dan nama Messi menyebar ke seluruh dunia pada Januari tahun ini.

Anak berusia enam tahun tesebut kemudian mendapat seragam bola yang ditandatangani oleh Messi.

Namun kini keduanya sudah bertemu langsung di Doha, ibu kota Qatar, kata komite penyelenggara Piala Dunia 2022 Qatar.

Barcelona sedang berada di Qatar untuk pertandingan persahabatan melawan Al Ahli, Selasa (13/12) malam waktu setempat, dan Murtaza bakal mendampingi Messi saat memasuki lapangan.

"Gambar yang ingin dilihat dunia," tulis Komite Agung PD 2022 dalam pesan Twitter. "Anak berusia enam tahun yang bermimpi bertemu dengan pujannya, #Messi, akhirnya terwujud."

Murtaza -yang berasal dari kawasan Jaghori di sebelah timur Provinsi Ghazni, Afghanistan- mengungsi ke Pakistan pada Bulan Mei.

Dia bisa diidentifikasi setelah pamannya, Azim Ahmadi -yang tinggal di Australia- menghubungkan BBC dengan saudara prianya, Arif yang merupakan ayah dari pemuja Messi itu. (bbcindonesia.com)

Hidup di zaman digital, membuat anak-anak lebih dini mengenali gadget atau gawai. Di satu sisi, anak-anak pun menjadi lebih akrab dengan teknologi, tetapi di sisi lain, ada dampak negatif apabila anak sudah kecanduan gawai.

Tumbuh kembang yang melambat adalah contoh nyata dampak negatif dari penggunaan gawai oleh anak-anak. Karena itu orangtua memegang peran penting untuk mengatur pengenalan gawai kepada anak-anak.

Psikolog anak-anak dan keluarga Alia Mufida mengatakan, tantangan menghadapi era digital pun bukan hanya milik anak, tetapi juga orangtua. Sebab, orangtua lah yang bertanggung jawab dalam mengenalkan hal-hal yang berbau digital.

“Waktu memperkenalkan gawai kepada anak disarankan tidak terlalu dini. Meskipun para ahli menyarankan waktu yang berbeda-beda, tetapi memang direkomendasikan usia 18 bulan ke bawah tidak diberikan sama sekali,” ucap Fida, di sebuah talkshow pada Sabtu (6/11/2016) di Jakarta.

Fida menjelaskan, anak-anak di bawah usia 18 bulan belum membutuhkan gawai, mereka lebih membutuhkan hal-hal yang mampu merangsang sensori. Sementara gawai hanya dapat merangsang visual dan auditori saja.

“Anak-anak membutuhkan rangsangan fisik, semua inderanya perlu dirangsang, seperti sentuhan, otot-otot mereka juga harus bergerak,” kata alumnus pascasarjana dari Universitas Indonesia ini.

Setelah lewat dari usia 18 bulan, anak sudah boleh diperkenalkan dengan gawai, tetapi dengan pendampingan hingga usia 2 tahun. Selanjutnya, anak bisa menggunakannya sendiri tetapi dengan pengawasan dan durasinya maksimal 1 jam dalam sehari.

Ibrahim Arif, Vice President of Engineering Bukalapak, mengatakan, orangtua dapat melakukan pengawasan terhadap konten yang dilihat anak melalui pengaturan di gawai. Sebelumnya, orangtua dapat mengatur konten terlebih dulu sebelum memberikan gawai kepada anak.

“Bisa dilakukan dengan opsi parental control yang ada di OS (operating system) di Android atau iOS,” kata Ibrahim.

Misalnya untuk memilih app yang bisa dipasang anak, orangtua harus paham usia aman app tersebut dimainkan. Biasanya, ada kode sebelum app diunduh, usia minimum yang aman memainkan app tersebut. Orangtua dapat memanfaatkannya untuk menentukan app apa saja yang bisa dimainkan anaknya. (liputan6.com)

BERLIN - Menteri Kehakiman Jerman, Heiko Maas, Selasa (1/11/2016), mengusulkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan menyatakan pembatalan perkawinan anak.

 

 

Kecuali untuk kasus-kasus tertentu di mana pasangan berusia sekurang-kurangnya 16 tahun, seperti dilaporkan oleh Voice of America.

Di tengah meningkatnya arus masuk migran ke Jerman baru-baru ini, pihak berwenang mendapati peningkatan jumlah anak-anak yang menyatakan diri telah menikah.

Pada tahun 2015, Jerman menerima satu juta pengungsi, sebagian besar dari Timur Tengah.

Semenara Deutche Welle melaporkan, polisi federal Jerman mengatakan, jumlah pengungsi anak-anak yang hilang meningkat dua kali lipat sejak awal tahun ini. Sebagian besar mereka berusia antara 14-17 tahun. 

Tentang perkawinan anak-anak di Jerman, jumlahnya masih belum diketahui tetapi pihak berwenang memperkirakan ada lebih dari 1.000 kasus.

Maas mengusulkan RUU yang akan membatalkan semua perkawinan anak-anak, terutama yang dilakukan oleh mereka yang berusia kurang dari 16 tahun.

Kepada wartawan, Maas mengatakan bahwa perkawinan di luar negeri yang melibatkan anak-anak berusia 16-17 tahun juga akan dibatalkan.

Namun, ketentuan itu  mengecualikan untuk yang “ada alasan khusus” seperti sudah ada anak yang dilahirkan dari pasangan itu atau perempuan yang dinikahi sudah hamil.

Maas tidak mengatakan apakah hal ini akan menimbulkan dampak pada UU Jerman yang memperbolehkan seseorang yang berusia 16 tahun menikah dengan izin orang tua. (kompas.com)

WASHINGTON - Sekitar 300 juta anak di dunia terpapar polusi yang dapat menyebabkan gagguan fisik serius, termasuk terhambatnya pertumbuhan otak anak.

 

Hal itu disampaikan PBB berdasarkan hasil sebuah studi, yang dirilis pada Senin (31/10/2016).

Satu di antara tujuh anak di seluruh dunia menghirup udara tujuh kali lebih kotor dari standar kualitas udara yang ditentukan secara internasional oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut studi yang dilakukan lembaga Dana Anak PBB (UNICEF), udara yang tercemar polusi merupakan faktor utama dalam kematian anak.

UNICEF mempublikasi penelitian tersebut seminggu sebelum pertemuan tahunan tentang perubahan iklim PBB, yang rencananya akan digelar di Maroko, pada 7-18 November ini.

Lembaga, yang mempromosikan hak-hak dan kehidupan anak yang lebih baik, mendesak para pemimpin dunia untuk mengambil langkah darurat mengurangi polusi udara di negara mereka.

“Polusi judara adalah faktor penyumbang utama bagi kematian sekitar 600.000 anak balita per tahun di seluruh dunia. Polusi mengancam kehidupan dan masa depan jutaan anak setiap hari,” kata Anthony Lake, Direktur Eksekutif UNICEF.

"Polutan tidak hanya membahayakan paru-paru anak. Polutan sebenarnya dapat menerobos sekat darah-otak dan secara permanen merusak otak untuk berkembang, “ kata Lake.

Kondisi itu, kata Lake, akan berarti juga akan merusak masa depan ratusan juta anak di dunia. “Tak ada masyarakat yang mampu mengabaikan polusi udara," Lake menambahkan.

UNICEF menunjuk citra satelit yang mengonfirmasi bahwa sekitar dua juta anak di dunia hidup di wilayah di mana polusi udara luar ruang berada di bawah standar internasional yang ditentukan WHO.

Udara itu tercemar oleh emisi gas buang kendaraan, bahan bakar fosil, debu, asap pembakaran sampah, dan polutan udara lainnya.

Asia Selatan memiliki jumlah terbesar anak-anak yang tinggal di daerah dengan udara tercemar berat, yakni sekitar 620 juta, lalu diikuti di Afrika ada 520 juta, dan Asia Timur serta Pasifik 450 juta anak.

UNICEF menyerukan langkah-langkah yang lebih tegas dalam mengurangi polusi, meningkatkan akses anak-anak terhadap perawatan kesehatan, dan melakukan pemantauan dan upaya mengurangi resiko anak-anak terpapar udara tercemar itu. (kompas.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM