Lifestyle



BERLIN - Menteri Kehakiman Jerman, Heiko Maas, Selasa (1/11/2016), mengusulkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan menyatakan pembatalan perkawinan anak.

 

 

Kecuali untuk kasus-kasus tertentu di mana pasangan berusia sekurang-kurangnya 16 tahun, seperti dilaporkan oleh Voice of America.

Di tengah meningkatnya arus masuk migran ke Jerman baru-baru ini, pihak berwenang mendapati peningkatan jumlah anak-anak yang menyatakan diri telah menikah.

Pada tahun 2015, Jerman menerima satu juta pengungsi, sebagian besar dari Timur Tengah.

Semenara Deutche Welle melaporkan, polisi federal Jerman mengatakan, jumlah pengungsi anak-anak yang hilang meningkat dua kali lipat sejak awal tahun ini. Sebagian besar mereka berusia antara 14-17 tahun. 

Tentang perkawinan anak-anak di Jerman, jumlahnya masih belum diketahui tetapi pihak berwenang memperkirakan ada lebih dari 1.000 kasus.

Maas mengusulkan RUU yang akan membatalkan semua perkawinan anak-anak, terutama yang dilakukan oleh mereka yang berusia kurang dari 16 tahun.

Kepada wartawan, Maas mengatakan bahwa perkawinan di luar negeri yang melibatkan anak-anak berusia 16-17 tahun juga akan dibatalkan.

Namun, ketentuan itu  mengecualikan untuk yang “ada alasan khusus” seperti sudah ada anak yang dilahirkan dari pasangan itu atau perempuan yang dinikahi sudah hamil.

Maas tidak mengatakan apakah hal ini akan menimbulkan dampak pada UU Jerman yang memperbolehkan seseorang yang berusia 16 tahun menikah dengan izin orang tua. (kompas.com)

WASHINGTON - Sekitar 300 juta anak di dunia terpapar polusi yang dapat menyebabkan gagguan fisik serius, termasuk terhambatnya pertumbuhan otak anak.

 

Hal itu disampaikan PBB berdasarkan hasil sebuah studi, yang dirilis pada Senin (31/10/2016).

Satu di antara tujuh anak di seluruh dunia menghirup udara tujuh kali lebih kotor dari standar kualitas udara yang ditentukan secara internasional oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut studi yang dilakukan lembaga Dana Anak PBB (UNICEF), udara yang tercemar polusi merupakan faktor utama dalam kematian anak.

UNICEF mempublikasi penelitian tersebut seminggu sebelum pertemuan tahunan tentang perubahan iklim PBB, yang rencananya akan digelar di Maroko, pada 7-18 November ini.

Lembaga, yang mempromosikan hak-hak dan kehidupan anak yang lebih baik, mendesak para pemimpin dunia untuk mengambil langkah darurat mengurangi polusi udara di negara mereka.

“Polusi judara adalah faktor penyumbang utama bagi kematian sekitar 600.000 anak balita per tahun di seluruh dunia. Polusi mengancam kehidupan dan masa depan jutaan anak setiap hari,” kata Anthony Lake, Direktur Eksekutif UNICEF.

"Polutan tidak hanya membahayakan paru-paru anak. Polutan sebenarnya dapat menerobos sekat darah-otak dan secara permanen merusak otak untuk berkembang, “ kata Lake.

Kondisi itu, kata Lake, akan berarti juga akan merusak masa depan ratusan juta anak di dunia. “Tak ada masyarakat yang mampu mengabaikan polusi udara," Lake menambahkan.

UNICEF menunjuk citra satelit yang mengonfirmasi bahwa sekitar dua juta anak di dunia hidup di wilayah di mana polusi udara luar ruang berada di bawah standar internasional yang ditentukan WHO.

Udara itu tercemar oleh emisi gas buang kendaraan, bahan bakar fosil, debu, asap pembakaran sampah, dan polutan udara lainnya.

Asia Selatan memiliki jumlah terbesar anak-anak yang tinggal di daerah dengan udara tercemar berat, yakni sekitar 620 juta, lalu diikuti di Afrika ada 520 juta, dan Asia Timur serta Pasifik 450 juta anak.

UNICEF menyerukan langkah-langkah yang lebih tegas dalam mengurangi polusi, meningkatkan akses anak-anak terhadap perawatan kesehatan, dan melakukan pemantauan dan upaya mengurangi resiko anak-anak terpapar udara tercemar itu. (kompas.com)

Kokologi atau Ngetest kali ini adalah :

Kesamaan Sifat Anda dan Anak Anda?

Langsung saja Anda coba kokologi dibawah ini.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) mendata, masih ada sebanyak 4,1 juta anak usia sekolah di Indonesia, namun tidak mengenyam bangku sekolah.

 

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas telah mengirimkan data sebanyak 2,9 juta di antara anak tidak sekolah itu ke seluruh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Pemerintah ingin supaya mereka juga mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Dengan data yang dikirimkan itu, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota diharapkan memverifikasi data itu," ujar Dirjen PAUD dan Binmas Kemendikbud Harris Iskandar melalui siaran pers, Kamis (20/10/2016).

Jika sudah diverifikasi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tinggal menggaet satuan pendidikan atau pegiat pendidikan untuk memotivasi mereka agar kembali sekolah.

 

 

Harris memastikan, jika sudah diverifikasi dan masuk ke sekolah, anak-anak tersebut mendapatkan bantuan operasional pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar.

"Atau paling tidak, si anak tidak sekolah mengikuti program kesetaraan, serta mengikuti kursus dan pelatihan keterampilan tertentu," ujar Harris.

"Maka itu, untuk membantu mempercepat KIP hingga ke rumah tangga sasaran, kami mohon Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota bekerja sama dengan pihak-pihak untuk proaktif atau jemput bola," lanjut dia.

 

 

Harris memastikan, Kemendikbud akan mendorong terus agar 1,9 juta anak sekolah sisanya diverifikasi dan dapat masuk ke dalam data penerima bantuan operasional sekolah. (kompas.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM