Lifestyle



Para orangtua, coba perhatikan coretan-coretan yang dibuat anak Anda. Ternyata ada alasan ilmiah yang menunjukkan apakah anak Anda berbakat menjadi orang sukses lewat apa yang dia gambarkan.

Menurut study yang dilakukan tahun 2016 lalu, anak usia 7 hingga 9 tahun yang berbakat umumnya menyertakan detail-detail khusus ketika menggambar sosok manusia. Bila anak Anda ternyata menggambarkan detail-detail ini, bisa jadi dia memiliki bakat jenius.

Para peneliti yang menganalisa gambar-gambar yang dibuat oleh 120 anak mengidentifikasi 30 detail kunci yang bisa jadi merupakan tanda bakat lahir yang dimiliki anak. Dari 47 anak berbakat yang dilibatkan dalam study itu, 43 persen ternyata menggambarkan hal-hal khusus pada coretannya.

Hal-hal itu antara lain adalah riasan mata, ingus, kerutan kulit, janggut tipis, kawat gigi, dasi, badge, bulu-bulu di tangan, sarung tangan, cincin, atau dompet berantai. Selain detail itu, peneliti juga mencatat bahwa anak yang berbakat menggunakan pendekatan berbeda saat menggambar orang. Tidak seperti pose yang umum, mereka menggambar dengan pose unik, misalnya orang dengan tangan dimasukkan dalam kantong, atau tangan di belakang.

“Meski begitu, jangan keliru menganggap ini sebagai ukuran kecerdasan. Penelitian ini tidak mengukur IQ, namun melihat tanda-tanda bakat yang dimiliki anak,” ujar Sven Mathijssen, salah satu peneliti yang bekerja di Pusat Penelitian Bakat Universitas Radboud, Belanda. “Apa yang dianggap bakat ini lebih besar dari kecerdasan.”

Menurut Mathijssen, tes IQ atau tingkat kecerdasan umumnya hanya menguji apakah jawaban seseorang salah satau benar. Namun bakat diukur lewat banyak hal, salah satu indikatornya adalah kreativitas.

Penting juga untuk dicatat bahwa tidak semua anak berbakat akan membuat gambar-gambar khusus. Ini hanyalah salah satu indikator bahwa anak memiliki pengamatan secara detail dan lebih kreatif dalam menggambarkannya.

Namun bila Anda mendapati tanda-tanda khusus seperti di atas pada gambaran anak Anda, berbahagialah karena barangkali junior Anda memiliki bakat untuk menjadi orang sukses. (kompas.com)

Era serba teknologi ini kerap membuat anak tak mau lepas dari gadgetnya. Seolah tak mengenal waktu, anak-anak lebih sering tenggelam pada layar smartphone dibanding bermain di luar bersama teman-temannya.

Memang tak semua yang ada di dalam gadget bersifat negatif, ada juga yang justru memberikan pelajaran dan pengetahuan pada anak. Misalnya menghafal lagu-lagu daerah, belajar mengenal bahasa asing dan sebagainya.

Namun, menurut psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi, tetap harus ada pengertian yang ditanamkan pada anak bahwa bermain gadget ada aturan mainnya. Jangan sampai anak seolah asyik sendiri dengan gadgetnya dan kurang melakukan aktivitas sosial.

"Berikan pemahaman kepada anak bahwa bermain gadget ada batasan waktunya," kata pria yang akrab disapa Kak Seto ini.

Kak Seto yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia menuturkan, ketika orang tua memutuskan untuk memberikan gadget pada anak, maka orang tua juga harus memiliki komitmen soal aturan jadwal memainkannya.

Orang tua harus memberi pengertian bahwa ada waktu-waktu tertentu dalam penggunaan gadget. Misal, gadget hanya diberikan selama beberapa menit setelah anak selesai menyelesaikan tugas sekolahnya. Atau berikan anak gadget ketika ia membutuhkan informasi yang ingin diketahuinya melalui internet, tentunya dengan pengawasan dari orang tua.

"Main gadget harus ada aturannya, jangan sampai kebablasan, orang tua harus mengawasinya juga," ujarnya. (kompas.com)

Stres tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Membantu mereka agar memiliki tidur yang cukup merupakan langkah awal mengurangi rasa kecemasannya.

Stres pada anak sering tidak disadari orangtua karena anak tidak bisa menjelaskan kondisinya. Padahal, kondisi ini mempengaruhi aktivitas mereka, baik psikologis maupun fisik. Efek samping stres yang paling sering adalah anak menjadi susah tidur. Anak juga susah tidur nyenyak, mengeluh mimpi buruk, minta ditemani tidur oleh orangtua, atau malah menolak tidur dengan orangtuanya.

Memang tidak semua gangguan kecemasan menyebabkan susah tidur, tapi yang pasti anak dan remaja yang susah tidur memiliki hormon stres (korsitol) lebih tinggi.

Kabar baiknya, kecemasan dan susah tidur bisa diatasi dan dicegah. Peran orangtua sangat penting untuk membantu anak keluar dari kondisi tersebut. Beri tahu anak bahwa Anda, orangtuanya, akan selalu ada saat mereka butuh bantuan atau merasa cemas.

Selain itu, orangtua juga harus peka pada gejala-gejala stres yang dialami buah hatinya. Selain susah tidur, berikut adalah beberapa gejala stres yang sering dialami anak, seperti dikutip dari sleepfoundation.org.

1. Nafsu makan berkurang

2. Mengeluh sakit kepala

3. Mengompol saat tidur

4. Sakit perut

5. Agresivitas atau keras kepala

6. Ketidakmampuan mengendalikan emosi

7. Menolak terlibat dalam kegiatan keluarga atau sekolah

Rutinitas dalam keluarga, seperti makan malam bersama atau bermain dan mengobrol sebelum tidur bisa membantu mengurangi stres anak. Kegiatan santai bersama orangtuanya akan membuat mereka merasa tenang dan rileks. Orangtua juga jangan segan berkonsultasi dengan psikolog jika gejala stres anak tidak berkurang. (kompas.com)

Semua orang tahu, ketika perempuan menjadi seorang ibu, dia mengalami perubahan hormon. Tapi bagaimana dengan ayah? Menjadi ayah masa kini berarti lebih banyak berinteraksi dengan anak dan lebih terlibat mengasuh daripada ayah-ayah sebelumnya.

Karena itu, banyak penelitian dilakukan untuk mengungkap perubahan pria saat menjadi ayah. Inilah perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh dan emosional para pria ketika mereka menjadi ayah:

1. Hormon testosteron Anda akan menurun

Penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan ketika seorang pria menjadi ayah, homon testosteronnya akan menyusut, dan bahkan itu akan terus menurun ketika ia ikut mengasuh anaknya.

Ini masuk akal karena testosteron yang rendah sebenarnya mendukung pola asuh yang baik. Pria dengan hormon testosteron yang tinggi cenderung lebih sulit mengendalikan amarah,  lebih nekat, serta kurang memperlihatkan empati.

Studi tersebut mandapati bahwa pria dengan hormon testosteron yang rendah cenderung lebih bisa merasa simpati dan bersedia merespon tangisan bayi.

2. Lebih sedikit membantu pekerjaan rumah

Meskipun citra ayah yang tak peduli dengan pekerjaan di rumah, memilih santai dengan mengangkat kaki dan tenggelam di balik koran adalah steorotip masa lalu, tapi penelitian mendapati bahwa pria yang baru menjadi ayah kemungkinan lebih sedikit membantu pekerjaan di rumah.

Studi dari Ohio State University menemukan ketika pasangan ayah dan ibu sama-sama bekerja, ayah menjadi kurang terlibat dalam pekerjaan rumah setelah bayi mereka lahir dan menjadi kurang terlibat dalam pengasuhan dibanding sang ibu.

3. Otak diprogram ulang

Setelah bayi Anda lahir, otak Anda akan langsung ‘diprogram ulang’ untuk mendukung peran baru sebagai ayah. Area dalam otak yang terlibat dalam pengasuhan akan berkembang, dan sebagai hasilnya Anda akan menjadi lebih baik saat merespons kebutuhan bayi.

Hipotalamus—area yang bertanggungjawab untuk sensitivitas—meningkat, seperti halnya bagian korteks frontal lateral, yang mebantu Anda merasakan hubungan emosional dengan bayi.

4. Mengalami kehamilan simpatik

Anda mungkin merasa janggal ketika mendengar kehamilan simpatik, kondisi di mana pria juga merasakan ‘hamil’ saat istrinya sedang mengandung. Kenyataannya, 10-15 persen pria mengalamai sindrom Couvade atau nama lain dari kehamilan simpatik. Beberapa dari mereka akan bertambah berat badannya, mengalami insomnia dan bahkan mengalami sembelit serta mual.

5. Mengalami depresi pasca-melahirkan

Depresi pasca-melahirkan bukanlah mitos belaka, dan itu bukan hanya terjadi pada ibu, tapi juga ayah. Pria yang baru menjadi ayah memiliki resiko 1,38 kali depresi daripada rekan mereka yang belum menjadi orangtua.

Tapi masa depresi ayah biasanya mundur, atau terjadi setahun pasca bayi lahir. Pria yang mengalami postpartum depression cenderung tidak ingin memperlihatkan sisi emosional, menolak gejala-gejala depresi dan tidak ingin mendapatkan bantuan.

6. Bermain gulat, dan itu bagus

Ayah lebih cenderung mengajak anak-anaknya "bergulat" dan bergumul dibanding para ibu. Ini adalah bentuk latihan alami bagi anak-anak. Sesi permainan ini disebut “high-intensity interactions,” dimana para ayah sebenarnya membantu anak-anaknya agar lebih berani bereskplorasi dan mandiri serta meningkatkan kemampuan sosial. Jadi jangan takut ketika para ayah dan anaknya seolah meniru pertandingan brazilian jiu jitsu. (kompas.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM