Lifestyle



Orang yang paling bahagia ternyata bukanlah orang yang tak pernah menunjukkan rasa marahnya, ungkap sebuah temuan baru. Itu karena kebahagiaan lebih dari sekadar merasa senang sepanjang waktu, kata penulis studi. Kebahagiaan juga tentang merasakan emosi lain, seperti kecewa atau marah, yang sama-sama berharga bagi kesehatan mental.

Tak bisa dipungkiri, dalam beberapa budaya, ada banyak tekanan untuk merasa baik sepanjang waktu. Tetapi bagi beberapa orang, terus memendam perasaan yang tidak menyenangkan, dapat menjadi “bom waktu” dan menciptakan perasaan kurang bahagia dalam jangka panjang. Walau ada juga, beberapa orang yang memang tak bisa marah.

Untuk mempelajari dampak berbagai emosi terhadap keseluruhan kebahagiaan, peneliti Maya Tamir PhD dan rekan-rekannya di Hebrew University of Jerusalem, melakukan wawancara dengan 2.324 mahasiswa di delapan negara, termasuk Amerika Serikat.

Para peserta disurvei tentang perasaan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, serta perasaan apa yang paling ingin mereka tunjukkan. Peserta juga menjawab pertanyaan tentang gejala depresi dan kepuasan hidup.

Tak heran, temuan yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology tersebut mendapati, sebagian besar peserta berharap untuk bisa menunjukkan emosi yang lebih menyenangkan dalam hidup mereka.

Tetapi terlepas dari jenis emosi yang paling ingin ditunjukkan dan terlepas dari negara atau budaya, peserta yang menunjukkan emosi paling sesuai dengan kondisi emosi yang mereka alami, melaporkan kepuasan hidup lebih besar dan lebih sedikit gejala depresi.

Walau begitu, penelitian ini menekankan bahwa bukan berarti Anda bebas menjadi orang yang pemarah bagi orang lain, seperti mengutarakan kata-kata buruk yang menyakiti hati orang lain.

Semisal, saat Anda merasa kesal, Anda boleh berbicara dengan nada kesal, namun jika ternyata kekesalan itu sudah berlalu, tidak perlu dibuat-buat. Sebab untuk bisa menjadi kunci kebahagiaan, tujuan dari kemarahan adalah untuk “mengingatkan”, bukannya memuaskan emosi, kata Tamir.

"Apa yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah bahwa orang yang lebih bahagia adalah mereka yang menjalani emosi secara alami dan positif. Saat marah disalurkan dengan baik, maka pemulihannya akan menjadi lebih cepat, tak ada dendam, tak ada penyesalan, dan itu menyehatkan mental, yang akhirnya membuat hidup lebih bahagia secara keseluruhan," kata Tamir.

Selanjutnya, penelitian masa depan diperlukan untuk melihat apakah jenis emosi tidak menyenangkan lainnya, seperti rasa bersalah, ketakutan, kesedihan, atau rasa malu, juga merupakan bagian penting dari pengalaman hidup, kata Tamir. (kompas.com)

Uang memang tak bisa membeli cinta—tapi bisa membelikan Anda waktu untuk menikmati hidup. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa orang-orang yang membayar pekerja untuk melakukan pekerjaan yang mengganggu dan menghabiskan begitu banyak waktu cenderung lebih bahagia.

"Uang bisa membeli kebahagiaan jika Anda ‘menghabiskannya’ dengan benar," kata profesor psikologi Universitas British Columbia, Elizabeth Dunn, salah satu peneliti dalam studi ini.

Dalam penelitian tersebut, lebih dari 6.000 orang di empat negara diberi tambahan uang 40 US dollar per pekan selama dua minggu. Pada pekan pertama, para peserta diminta untuk membeli barang-barang material.

Pekan kedua, mereka diminta untuk menghemat waktu dengan dengan membayar seseorang untuk melakukan tugas harian yang mereka anggap membosankan. Pada akhirnya, orang mengatakan bahwa mereka mendapatkan lebih banyak kebahagiaan dengan menghemat waktu berharga daripada membeli lebih banyak barang, tidak peduli betapa bagusnya barang itu.

Peneliti, Ashley Whillans, dari Harvard Business School, mengatakan membayar seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang membosankan dan tidak disukai adalah cara tepat mencapai kebahagiaan. Ketika melakukan itu, mereka mengalami rasa kepuasan yang lebih besar dan lebih bahagia saat hari itu.

Whillans menambahkan, tapi saat membeli benda material berupa barang ternyata efek kebahagiaan tidak sebesar jika kita membayar orang. Bagaimana pun, saat kita merasa waktu sudah tersita banyak oleh pekerjaan, menggaji asisten rumah tangga adalah pilihan yang bijak agar kita tidak stres oleh urusan domestik.

Kita bisa memanfaatkan waktu yang semula dipakai untuk mengerjakan tugas rumah dengan menemani anak bermain, melakukan hobi, atau sekedar bersantai menonton serial favorit di TV.

"Anda selalu bisa mendapatkan uang. Tapi, Anda tidak bisa membeli kembali waktu, "tulis peneliti.

Penelitian sebelumnya juga mengungkap bahwa menggunakan uang untuk membantu orang lain atau merasakan pengalaman yang menyenangkan seperti pergi ke spa atau travelling uga membuat hati lebih bahagia dibanding membeli barang-barang. (kompas.com)

Banyak dari kita berusaha mencari kebahagiaan dalam hidup namun belum juga menemukannya. Salah satu sebabnya, kita seringkali membatasi kebahagiaan itu dengan syarat, misalnya dengan mengatakan, saya bahagia bila saya memiliki anu, atau menikah dengan si anu, dan lain sebagainya.

Namun setelah hal-hal yang kita inginkan itu menjadi milik kita, kebahagiaan itu belum juga datang. Atau bila belum kesampaian, kebahagiaan yang kita dambakan hanya menjadi angan-angan.

Belakangan, ada banyak buku yang menuliskan topik soal kebahagiaan, beberapa di antaranya mendasarkan pencarian kebahagiaan itu lewat konsep Ikigai. Misalnya buku “Ikigai: The Japanese Secret to a Long and Happy Life” oleh Hector Garcia atau “The Little Book of Ikigai” oleh Ken Mogi.

Ikigai yang merupakan konsep dari Jepang, sebenarnya sesuatu yang dimiliki setiap orang. Maknanya kurang lebih adalah “tujuan hidup” atau “alasan kita hidup” atau “sesuatu yang memberi arti pada hidup kita”.

Dalam ulasannya terhadap buku-buku di atas, situs Guardian menyebutkan bahwa Ikigai bisa dicapai dengan menjalani hidup sesuai hakekat dan panggilan masing-masing orang. Pendek kata, lakukan yang kau suka dalam hidupmu. Oleh karenanya pertama-tama yang harus ditemukan adalah apa yang kita sukai dalam hidup.

Menurut konsepnya, Ikigai dibangun dari empat hal, yaitu: passion atau minat, profesi atau keahlian, misi atau tugas, dan vocation atau pekerjaan.
Ke-empatnya bisa ditemukan melalui pertanyaan; Apakah hal yang paling Anda sukai? Apakah keahlian utama Anda? Apakah yang Anda lakukan itu layak mendapat bayaran? Dan Apakah yang Anda lakukan itu memberi manfaat bagi orang lain, masyarakat, dunia?

Sederhananya, kebahagiaan dalam konsep Ikigai tercapai saat seseorang melakukan apa yang dia sukai, dan dia menjadi ahli dalam hal itu, sehingga ia bisa mendapatkan imbalan darinya, dan apa yang dia lakukan itu memberi arti pada kehidupan.

“Ini seperti melakukan yang anda sukai, dengan cara terbaik, dan berguna bagi banyak orang, lalu Anda mendapat imbalan,” begitu dijelaskan. “Melalui jalan tersebut, seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dan usia yang lebih panjang.”

Menurut buku-buku itu, Ikigai membuat Anda mengenali tujuan hidup Anda dan membantu menjalaninya dengan suka cita.

Maka bila Anda sudah menemukan Ikigai Anda, barangkali kebahagiaan tidak lagi ditentukan pada apa yang anda miliki, melainkan diperoleh dengan menjalani panggilan hidup Anda. (kompas.com)

Kebahagiaan di tempat kerja tak melulu soal jumlah penghasilan dan bonus. Sebab, lingkungan kerja yang membuat Anda bahagia dan berkembang juga menjadi faktor yang membangun loyalitas serta dedikasi karyawan.

Namun, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang Anda inginkan, bukan? Sebab, tak menutup kemungkinan Anda terjebak dalam sebuah lingkungan kerja yang tidak membuat diri Anda menjadi lebih baik, secara personal ataupun profesional.

Timothy Butler, Director of Career Development Programs at Harvard Business School dan penulis buku bertajuk Getting Unstuck:How Dead Ends Become New Paths, percaya bahwa ada makna lebih luas dari pernyataan “Saya tidak lagi bahagia di tempat bekerja,”.

Butler yang fokus mempelajari struktur karakter dan pribadi sekaligus kepuasaan kerja mengatakan, untuk memahami rasa tidak bahagia Anda, maka Anda harus berupaya mengenali ketidanyamanan tersebut.

Dia menambahkan ketika kondisi Anda sedang tidak bahagia terhadap pekerjaan, maka sebaiknya jangan tergesa-gesa dan berusaha menyelesaikan masalah.

Amati rasa tidak bahagia Anda dan jangan mencoba mencari jalan keluar terburu-buru. Sebaliknya, mulai rencanakan langkah Anda selanjutnya.

“Rasa tidak bahagia hadir menjadi sebuah ‘peringatan’ dan pengingat,” ujar Butler.

“Ada bagian diri Anda yang mungkin tidak Anda dengar sehingga membutuhkan perhatian lebih,” imbuhnya.

Cita-cita tertunda, kata Butler, sering memicu banyak karyawan mendadak merasakan tidak bahagia dalam bekerja.

Butler menganjurkan untuk kontemplasi diri dan dengarkan sanubari lebih  fokus. Sebab, ada-ada hal dalam diri yang bisa jadi tanpa Anda sadari telah dengan sengaja Anda lupakan dan tidak ingin Anda eksplorasi lebih jauh.

Namun, jika rasa tidak bahagia itu masih terus mendera setelah Anda melakukan ragam upaya untuk mengubahnya, maka bisa jadi ini sinyal bahwa Anda lebih dibutuhkan dan dihargai di tempat lain. (kompas.com)

Page 1 of 3

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM