Lifestyle



Di balik tubuhnya yang kekar, aktor Dwayne ' The Rock' Johnson ternyata harus bergelut dengan masalah kesehatan mental. Beberapa waktu lalu, Aktor dengan bobot tubuh 117 kilogram ini sampai mengucurkan air mata ketika menceritakan tentang perjuangannya melawan depresi. Pada akhirnya The Rock memang memenangkan pertempuran tersebut. Ia memilih menyibukkan pikirannya dengan berolahraga untuk mengusir depresinya. "Tendangan adalah semacam reaksi spontan diri saya atas kesedihan. Saya suka melakukan banyak hal. Ini memang terdengar membosankan dan klise. Tapi, itu cara ampuh untuk diri saya sendiri, saya harus pergi ke gym," paparnya dalam sesi wawancara. Menurutnya, berkeringat dan menyalurkan energi dengan olahraga membuatnya tak lagi memikirkan hal-hal yang menyedihkan dalam hidupnya.

Pria 46 tahun ini juga mengaku membiarkan dirinya sedikit larut dalam kesedihannya. Bahkan, ia mendengarkan lagu-lagu sedih dan membiarkan perasaanya berlalu. Bagaimanapun juga, ia percaya jika menangis juga baik untuk kesehatan mental.

Lewat akun twitternya, aktor kelahiran Amerika ini juga mengakui dirinya terkadang menikmati kesedihan yang dialaminya dengan diringi oleh musik melankolis. Melawan depresi merupakan pekerjaan yang berat. Penelitian membuktikan, olahraga memang cara ampuh untuk melawan depresi. Dilansir dari laman Men's Health, riset 2014 terhadap 11.000 orang membuktikan mereka yang aktif berolahraga mengalami penurunan gejala depresi secara bermakna. (KOMPAS.com)

Kita sudah cukup tahu kaitan penggunaan media sosial dan masalah kesehatan mental, misalnya kecemasan dan depresi. Namun, sebuah studi oleh para peneliti dari Texas State University mendalami hal itu lebih jauh. Mereka kemudian menemukan bahwa beberapa perilaku bermediamediasosial ternyata sangat terkait dengan depresi. Para peneliti menganalisa perilaku online 500 siswa yang secara rutin menggunakan media sosial Facebook, Twitter, Instagram, dan Snapchat. Mereka juga meminta partisipan mengisi kuis tentang apakah mereka memiliki gejala depresi berat, serta apa yang menurut mereka menarik dari media sosial.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa gejala depresi ditunjukkan oleh mereka yang memiliki kebiasaan bermedsos seperti berikut: 1. Menggunakan media sosial untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain yang mereka anggap lebih baik dari mereka. Para peneliti menilai, kebiasaan ini muncul karena kegagalan mereka untuk menyadari bahwa seseorang sering menunjukkan kesempurnaan dirinya, bukan citra realitasnya saat bermedsos. 2. Mereka secara rutin menggunakan media sosial karena kecanduan. Hal ini dinilai dari jawaban "ya" dari pertanyaan kuis: "apakah kamu pernah gagal saat berusaha memotong waktu mengakses media sosial?" dan pertanyaan "apakah kecanduan media sosial tersebut membawa dampak buruk terhadap kerjaan atau sekolahmu?" 3. Merasa terganggu jika mereka di-tag pada sebuah foto yang menunjukkan tampilan mereka kurang menarik. 4. Jarang mengunggah video atau foto diri bersama dengan orang-orang lain. Para peneliti percaya, alasan mereka jarang mengunggah video atau foto diri mereka bersama yang lain adalah karena depresi seringkali mengisolasi seseorang dari kehidupan sosial.

 

Studi tersebut belum dipublikasikan secara formal saat Cosmopolitan mengutipnya, namun telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan Association for Psychological Science di San Francisco. Penelitian tersebut memberikan indikasi pola perilaku yang mengakibatkan depresi. Meski begitu, temuan ini belum menjelaskan apakah kebiasaan di medsos memicu langsung serangan penyakit mental. Anthony Robinson, peneliti sekaligus siswa Psikologi di Texas State University, menjelaskan manfaat dari penemuan ini. "Ketika orang mengetahui perilaku tersebut, mereka akan lebih peduli. Apakah mereka atau seseorang yang mereka kenal mengalami gejala depresi demikian," ujar Robinson. (KOMPAS.com)

 

Selain tanda-tanda seperti terus menerus menangis atau merasa ingin bunuh diri, sebetulnya ada sejumlah gejala fisik yang menunjukkan bahwa seseorang mengalami depresi. Berikut beberapa tanda mendasar pada seseorang yang mengalami depresi.

1. Terlambat atau tidak menstruasi

Terlambat menstruasi bisa memicu banyak reaksi pada tubuh dan berpengaruh besar terhadap siklus menstruasi perempuan. Kondisi terlalu stres bisa membuat periode menstruasi tidak teratur, apakah lebih pendek atau pun lebih panjang.

ika berada dalam kondisi stres kronis, bisa juga menstruasi berhenti sama sekali. Sebab, otak pada dasarnya mengetahui jika kita tidak dalam kondisi fisik dan mental yang siap untuk melalui masa kehamilan.

2. Rambut rontok

Pertumbuhan rambut bisa jadi sangat berkaitan dengan mood, kepercayaan diri dan perasaan. Saat kondisi tersebut sedang rendah dan tidak baik, maka situasi tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan rambut sehingga tak bisa tumbuh normal. Tipe rontok paling normal yang terjadi karena stres adalah telogen effluvium, di mana kerontokan tersebut tidak permanen, dan rambut bisa tumbuh kembali. Meski begitu, ini tetap harus dikonsultasikan ke dokter.

3. Masalah pencernaan

Mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa masalah pencernaan menjadi salah satu tanda penyakit mental. Terkadang berkaitan dengan hilangnya nafsu makan yang berujung pada perut mual, diare dan sembelit.

4. Sakit kepala

Hampir semua orang mengalami sakit kepala. Tapi, sakit kepala yang rutin dan berlebihan bisa menjadi gejala serius. Depresi terbukti bisa memperparah penyakit fisik, tak peduli apapun penyebabnya. Sehingga, jika Kamu memiliki masalah sakit kepala yang sangat sering ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter bisa membantumu mengecek penyebab sakit kepalamu dan mengantisipasi jika ada gejala penyakit serius.

5. Naik berat badan

Sejumlah studi telah menemukan bahwa depresi bisa berdampak pada bertambahnya berat badan. Mungkin saja ini menjadi alasan jika berat badanmu tiba-tiba bertambah. Salah satu studi yang dipublikasikan pada The American Journal of Public Health di 2010 menemukan fakta, orang-orang yang merasa sedih dan kesepian bertambah berat badan lebih cepat daripada mereka yang mengalami gejala depresi ringan.

Dr Belinda Needham, asisten profesor dan penulis studi tersebut menjelaskan penyebabnya. Mereka yang depresi cenderung makan lebih banyak makanan yang mengandung lemak, kalori tinggi, dan mengurangi aktivitas fisik. Apa pun alasannya, jika mengalami gejala ini ada baiknya jika Kamu mulai memeriksakan diri dan menjaga kesehatan mental sebelum berdampak lebih jauh. (kompas.com)

Faktanya, ada banyak hal sederhana yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan mood. Anda mungkin merasa telah melakukan segala cara, namun tidak juga berhasil.

Dilansir dari yourtango.com, Senin (17/4/2017), berikut ini adalah beberapa rahasia untuk meningkatkan mood, walaupun Anda sedang merasa depresi. Penasaran?

1. Luangkan waktu lebih banyak dengan teman dan kerabat
Berbicara dengan orang lain tentang perasaan yang Anda alami dapat membantu untuk melihat perspektif baru, memperoleh saran, dan dukungan. Jangan takut untuk mencari bantuan.

Jika Anda merasa tidak nyaman berbicara langsung, hubungi mereka melalui telepon. Walaupun tidak membicarakan perasaan,