Lifestyle



Meskipun perang dan ketegangan di Suriah mereda, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus tetap menyiapkan rencana cadangan bagi sekitar 1.500 WNI jika konflik memburuk.

Pejabat Konsuler, Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Damaskus Miranda Mukhlis memastikan sekitar 1.500 warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Suriah dalam kondisi aman menyusul serangan pasukan koalisi AS, Inggris dan Prancis terhadap Suriah pada Sabtu dini hari.

KBRI pun terus berupaya untuk memastikan mereka dalam kondisi aman.

"KBRI tetap beroperasi normal, aktivitas masyarakat di Damaskus juga biasa saja, mereka kembali bekerja dan beraktivitas sepereti biasa," ujar Miranda kepada BBC Indonesia.

"Keadaan kota Damaskus-nya sih sebetulnya tertangani ya, tapi memang fungsi kami adalah perlindungan, jadi itu yang kami utamakan, kenapa kami masih berada juga di Damaskus," imbuhnya kemudian.

Meski suasana relatif masih kondusif, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan pemerintah sudah menyiapkan rencana cadangan (contingency plan) jika situasi kembali memanas.

"Kalau terkait warga negara sudah sejak seminggu terakhir kita sudah melakukan antisipasi terkait perkembangan di Suriah, bahkan KBRI sudah menyusun contingency plan dalam rangka memberikan perlindungan kepada sekitar 2.000-an WNI kita yang masih ada di Suriah," kata dia

Meski enggan membeberkan rencana cadangan yang disiapkan pemerintah, Iqbal menegaskan pemerintah sudah melakukan komunikasi dengan WNI yang berada di Damaskus dan sekitarnya.

"Terutama di wilayah-wilayah yang diperkirakan menjadi target serangan Amerika dan sekutunya," tegas Iqbal.

"So far kita sudah establish komunikasi terus. Kita sudah hidupkan KBRI hotline in case warga kita perlu bantuan, kita juga sudah siapkan dukungan teknis dan logistik evakuasi jika diperlukan nantinya," imbuhnya kemudian.

Seperti diketahui, AS, bersama Inggris dan Prancis, akhirnya benar-benar melancarkan serangan terhadap Suriah, pada Sabtu dinihari WIB (14/04).

Sejumlah ledakan menghantam ibu kota Damaskus dan dua lokasi lain di dekat kota Homs, menurut Departemen Pertahanan Amerika Serikat.

President Donald Trump mengumumkan serangan itu merupakan tanggapan atas dugaan serangan kimia.

Rusia mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran atas hukum internasional, dan mempringatkan bahwa AS, Inggris dan Prancis tak akan dibiarkan.

Kebanyakan TKI ilegal

Berdasarkan data terakhir dari Kementarian Dalam Negeri Suriah, 1.574 WNI memiliki izin tinggal di Suriah. Namun angka di lapangan bisa jadi lebih dari itu.

Menurut Iqbal, hal ini karena banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) Indonesia yang diberangkatkan tak sesuai prosedur, sehingga data mereka tak tercatat.

"Kebanyakan dari angka tersebut, sebetulnya masuk diberangkatkan sebagai TKI ke Suriah secara illegal dari Indonesia," kata dia.

Sebagian besar WNI tinggal di wilayah Damaskus dan sekitarnya.

Para TKI illegal ini, datang ke Suriah setelah ada moratorium pengiriman tenaga kerja sektor informal dari Indonesia ke Timur Tengah, termasuk Suriah, sejak 2015 lalu.

Pejabat Konsuler, Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Damaskus Miranda Mukhlis mengatakan pemberhentian pengiriman TKI di Timur Tengah harus cepat dilakukan, apalagi kondisi di Suriah yang masih memanas.

Lantaran dikirim tidak sesuai prosedur, KBRI pun tak memiliki data resmi terkait keberadaan mereka di Suriah. Mereka juga tidak melaporkan diri ke Suriah.

"Kita hanya bisa menunggu telepon, misalnya kalau terjadi serangan seperti kemarin," ujar dia.

"Karena keberadaan TKI dan TKW ini masuk [secara illegal] data tidak resmi, ya kami kesulitan sekali. Minimal untuk jumlahnya saja, kami tidak memiliki figur yang pasti," tambah Miranda.

Dia memperkirakan jumlah keseluruhan WNI di Suriah mencapai lebih dari 2.000 orang.

40 WNI akan dipulangkan
Lebih lanjut, Iqbal menuturkan hingga kini pemerintah Indonesia belum ada rencana untuk mengevakuasi para WNI yang bermukim di Suriah, namun pemerintah terus mewaspadai perkembangan konflik yang sudah berlangsung selama lebih tujuh tahun itu.

Saat ini, pemerintah memprioritaskan untuk memulangkan 40 WNI yang kini berada di penampungan KBRI Damaskus.

"Sebagian dari mereka karena merasa tidak aman, sebagian lainnya karena mereka ada permasalahan ketenagakerjaan dengan majikannya sehingga meminta bantuan KBRI," jelas Iqbal.

"Kita melihat jika ada eskalasi konflik maka KBRI akan fokus untuk menyelamatkan WNI yang berada di luar sehingga mereka yang di shelter harus dilakukan percepatan untuk pemulangan," kata Iqbal kemudian.

'Tak akan ada eskalasi ketegangan'
Pengamat Timur Tengah dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Smith Al Hadar memandang serangan Sabtu dini hari hanya 'gertakan' bagi pemerintah Suriah yang sudah berulang kali dituduh melakukan serangan dengan senjata kimia.

Namun, dia memproyeksikan tidak akan ada perang besar pasca serangan AS dan sekutunya baru-baru ini. Apalagi, Rusia yang mendukung rezim Bashar al-Assad dinilai tidak akan melakukan serangan balasan, lantaran risikonya terlalu besar.

"Beberapa waktu lalu Donald Trump mengatakan AS segera menarik pasukannya dari Suriah karena ISIS dianggap telah dikalahkan. Nah, ini berarti serangan barusan hanyalah serangan farewell, serangan perpisahan kepada Suriah, AS akan mundur dari Suriah dan melepaskan Suriah ke Rusia," jelas Smith.

"Jadi tidak akan ada eskalasi ketegangan antara Rusia dan negara-negara barat karena semua pihak tidak menghendaki hal ini terjadi," tegasnya kemudian.

Betatapun, dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada hari Minggu (15/04), yang diminta Rusia setelah serangan udara atas Suriah, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan bahwa Amerika Serikat siap dan mampu melakukan serangan lagi jika pemerintah Presiden Assad kembali menggunakan senjata kimia.

Dia yakin bahwa serangan sudah melumpuhkan program senjata kimia Suriah namun siap meneruskan tekanan jika rezim Suriah 'cukup bodoh untuk menguji tekad kami.'

"Jika rezim Suriah menggunakan gas beracun ini lagi, Amerika serikat siap dan mampu," tegasnya (bbcindonesia.com)

DORADA - Sudah 23 berlalu setelah tewasnya Pablo Escobar, gembong kelas kakap narkoba di Kolombia, tapi ia masih mewariskan masalah kepada penduduk hingga saat ini.

Anak-anak di Dorada harus berlarian menghindari segerombolan kuda nil yang berkeliaran di jalan. Hewan-hewan itu dulunya milik sang Raja Kokain.

Ia menyelundupkan beberapa jenis hewan seperti kuda nil, flamingo, gajah dan zebra untuk menjadi pengisi kebun binatang pribadi di tempat tinggalnya yang sangat luas.

Dikutip dari Daily Mail pada Senin (19/9/2016), laporanImenceritakan tentang seorang ibu bernama Rosalba Casallas yang mengatakan pengalaman buruknya. "Mendengar jeritan anak-anak itu adalah hal yang tidak akan pernah saya lupakan," kata dia.

"Saya kira ada orang yang sedang diserang. Mereka sedang bermain-main di jalanan saat menjelang malam ketika kuda nil mencuat keluar dari sungai dekat sana."

Ukuran hewan tersebut sungguh besar, seperti monster. Kuda nil itu bisa dengan gampang menewaskan seorang anak."

"Mereka terlihat jinak ketika sedang berkeliling, tapi semua orang di sini tahu kekuatan hewan-hewan tersebut."

"Mereka sangat agresif dan sangat besar. Tidak ada yang selamat kalau kena seruduk. Tinggal menunggu waktu hingga kemudian Pablo lagi-lagi mencabut nyawa."

Tanah milik Escobar disebut-sebut seluas 20 kilometer persegi, sekitar 9 kali lebih luas daripada Central Park di NewYork. Di sana hidup beberapa jenis hewan yang diselundupkan masuk Kolombia pada 1980-an.

Ia membawa 4 ekor kuda nil dari California, tapi sekarang diduga ada 30 hingga 35 ekor yang meloloskan diri dan masih ada 40 ekor yang masih menetap dalam Haciena Napoles.

Menurut sejumlah laporan, hewan-hewan itu terus berkembang biak karena tidak ada yang mengetahui cara menghentikan pembiakannya.

Walaupun mereka tidak berada di lingkungan alamiahnya, mereka menyesuaikan diri dengan perairan utara Kolombia.

Tidak seperti hewan-hewan selundupan lainnya, kuda nil termasuk yang lebih susah untuk dipindahkan sehingga mereka ditinggalkan di tanah luas bandar narkotika itu hingga akhirnya dibeli oleh sebuah perusahaan swasta yang menjadikannya taman tema.

Taman yang bernama Parque Tematico Hacienda Napoles itu sekarang menjadi tempat pergelaran Jurassic Park.

Di dalamnya ada taman air, atraksi safari berpandu, akuarium, dan replika gua-gua yang sebenarnya ada di salah satu taman nasional negeri itu.

Selain itu, pengunjung bisa melihat-lihat museum Escobar, koleksi mobilnya yang terbakar, dan 'reruntuhan' rumah yang ditinggalkannya. (liputan6.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM