Lifestyle



Terbatasnya waktu, rasa lelah, bisa menjadi alasan banyak orang untuk melewatkan sesi pendinginan usai olahraga. Seperti saat melakukan kompetisi lari misalnya, duduk-duduk usai berlari ternyata tak cukup dikatakan sebagai sesi pendinginan. Justru, langsung duduk santai usai olahraga dapat memicu cedera otot di kemudian hari.

Tak memberikan tubuh kesempatan untuk rileksasi setelah olahraga berat bisa memiliki beberapa konsekuensi yang tak menguntungkan. Walau Anda menganggapnya sepele (paling hanya pegal-pegal), hal ini sebenarnya bisa “menyakiti” tubuh dalam jangka panjang. Walau otot diciptakan cukup tangguh (tak ada masalah walaupun selama ini Anda lupa pendinginan) namun, ketangguhan itu bisa berkurang bila Anda sering melewatkan perawatan yang tepat.

Liz Letchford, MS, ATC, spesialis pencegahan cedera mengatakan, langsung duduk-duduk santai setelah melakukan olahraga dapat menyakiti otot. Ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan otot, keram, bahkan kejang.

Apapun olahraga yang Anda lakukan, hindari langsung duduk santai (tanpa peregangan). Walau Anda tak merasakan efeknya sekarang, nantinya otot Anda tidak akan membaik, tak akan tumbuh dengan baik.

Itu sebabnya banyak yang mengalami sakit otot setelah melakukan olahraga rutin selama 1-2 tahun, yang akhirnya membuat Anda harus berhenti olahraga karena cedera otot maupun sendi.

Lauren Clare, pelatih pribadi dan pelatih kesehatan holistik bersertifikat, menegaskan kebenaran ini. "Bila Anda tidak benar-benar melakukan pendinginan setelah berolahraga secara intens, tubuh Anda bisa menegang, yang menyebabkan proses pemulihan pasca latihan melambat. Penumpukan asam laktat di otot bisa membuat Anda merasa sakit dan letih selama beberapa hari berikutnya."

Sesi pendinginan memberi tubuh Anda kesempatan untuk "memanfaatkan” atau “menyiram” sisa laktat. Kita semua perlu melakukan pendinginan selama 5 sampai 10 menit setelah latihan untuk membantu meningkatkan fleksibilitas otot dan jangkauan gerak demi mengurangi risiko pegal yang parah hingga cedera.

Sebagai langkah pertama, lakukan peregangan daerah kaki, bahu, punggung dan lengan dalam posisi masih berdiri, selama 5-7 menit. Cara ini juga akan membantu tubuh menurunkan suhu secara bertahap. Lalu, lakukan peregangan sambil duduk, dan barulah diakhiri dengan duduk-duduk santai. (kompas.com)

Kerja keras adalah jalan menuju sukses, tapi bagaimana bila terlalu keras bekerja? Ada baiknya dikurangi karena dampaknya berbahaya bagi jantung.

European Heart Journal mempublikasikan studi yang menyimpulkan karyawan yang bekerja lebih dari 55 jam dalam sepekan cenderung mengalami kenaikan detak jantung yang tidak teratur, dibanding mereka yang bekerja dalam waktu standar yakni 35 sampai 40 jam dalam sepekan.

Para peneliti dari European Society of Cardiology mempelajari hampir 85.000 pria dan perempuan selama 10 tahun. Di awal peelitian, tak satu pun dari mereka memiliki gangguan irama jantung atau yang biasa dikenal sebagai Fibrilasi atrium atau AFib .

Tapi, 10 tahun kemudian, ada 1.061 kasus baru AFib dari para responden itu. Mereka yang bekerja lebih dari 55 jam seminggu memiliki kemungkinan 40 persen lebih besar beresiko mengalami AFib daripada mereka yang bekerja dalam waktu normal.

Hasil itu didapat bahkan setelah peneliti memasukkan faktor risiko AFib seperti usia, jenis kelamin, obesitas, merokok dan konsumsi alkohol.

"Sembilan dari 10 kasus atrial fibrillation terjadi pada orang-orang yang sebelumnya bebas dari penyakit kardiovaskular," tulis penulis penelitian tersebut.

"Ini menunjukkan bahwa peningkatan resiko terjadi pada orang yang jam kerjanya panjang dibandingkan dengan efek dari penyakit kardiovaskular yang ada sebelumnya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme yang terkait.”

Penulis penelitian ini menyebut bahwa mereka hanya mencatat berapa banyak jam kerja dalam sepekan para pria dan wanita di awal penelitian, dibandingkan selama percobaan atau pada akhirnya. Namun, penulis mencatat bahwa pola kerja cenderung konsisten.

Laporan baru tersebut mendukung penelitian sebelumnya yang menghubungkan kerja lembur dengan peningkatan risiko stroke.

AFib sendiri merupakan aritmia jantung yang cukup banyak diderita dan diketahui berkontribusi terhadap stroke, gagal jantung dan demensia terkait stroke.

Sebuah laporan bulan Maret dari Australian National University memperingatkan bahwa titik kritis dimulai ketika seseorang bekerja 39 jam sepekan. Dengan durasi kerja tersebut, kesehatan fisik dan mental seseorang mulai terkikis karena terbatasnya waktu untuk beristirahat dan memiliki pola makanyang baik.

Sering kerja lembur juga diketahui bisa meningkatkan risiko cidera dan kematian, kenaikan berat badan, penggunaan alkohol dan frekuensi merokok yang lebih tinggi.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa perawat yang bekerjama selama enam jam setiap hari lebih jarang sakit dan lebih produktif daripada perawat yang bekerja selama delapan jam.

Lagi pula, produktivitas kerja cenderung akan turun begitu kita bekerja lebih dari 48 jam per pekan. (kompas.com)

Tahukah Anda, kekuatan pikiran positif bisa memberikan energi positif dalam diri kita. Sayangnya, kita sering sulit mengendalikan pikiran-pikiran negatif. Bila berlebihan, kebiasaan "negative thinking" ini sebenarnya merugikan.

Bukan hanya membuat rasa percaya diri berkurang, pikiran negatif juga membuat hidup tidak bahagia, selalu penuh curiga, kecemasan, dan ternyata juga membuat penampilan terlihat lebih tua.

Sudah waktunya kita memegang kendali pada apa yang kita pikirkan. Mulailah menyingkirkan 7 pikiran negatif ini dari hidup kita.

1. Stres

Setiap orang pasti pernah stres, tapi jika hidup kita sudah dikuasai stres, bisa menyebabkan penuaan dini akibat kematian sel secara prematur. Bagaimana terjadinya? Masa hidup sel dikendalikan oleh struktur sel yang disebut telomer, yang melindungi DNA dan membantu membelah sel.

Setiap kali sel membelah, telomer akan menjadi lebih pendek, yang akhirnya menjadi terlalu pendek dan akhirnya mati. Dalam analisis studi yang melibatkan 7.000 orang, peneliti menemukan telomer cepat menjadi pendek pada mereka mengalami depresi dibanding mereka yang lebih bahagia.

2. Permusuhan

Memaafkan orang yang kita anggap mengganggu hidup kita memang tidak mudah. Dorongan untuk membalas perbuatan mereka pasti besar dan kita pun akan merasa puas.  Menjauhi sikap bermusuhan dan maafkan ternyata bukan hanya membuat hati lebih damai, namun juga membuat kita awet muda.

3. Sinisme

Membiarkan sikap sinisme tumbuh dalam diri merupakan bibit dari permusuhan. Sering ragu dan mencurigai motif seseorang, bersikap skeptis terhadap gagasan baru, merupakan penghambat kita untuk maju. Selain itu, menurut sebuah studi, pria yang sini sjuga beresiko serangan jantung dan stroke lebih tinggi, terutama jika sikap sinisme itu dikombinasi dengan sikap permusuhan.

Mereka yang memiliki permusuhan serta sinisme beresiko depresi dan memiliki penyakit kardiovaskular, sistem metabolisme dan meninggal di usia muda.

4. Pesimis

Mengharapkan hal-hal buruk terjadi berdampak negatif untuk kesehatan Anda. Dalam penelitian tahun 2014, peneliti mengukur hubungan pesimis dan ukuran telomer pada 490 pria. Hasilnya, semakin pria pesimis, maka semakin pendek pula ukuran telomer dalam selnya. Makin pendek telomer, makin besar pula risikonya menderita penyakit jantung.

5. Sulit "move on"

Bila Anda mencoba mengikat pikiran dari pengalaman yang menyakitkan, itu adalah refleksi dan tak bermasalah. Namun, bila Anda terus-menerus mengulang dan situasi itu terjadi hingga belasan tahun, dampaknya adalah kecemasan.

Pikiran pada peristiwa menyedihkan dan sulit memaafkan akan meningkatkan hormon stres dan denyut jantung meningkat.

6. Menekan pikiran

Di lain pihak, mencoba mengubur sebuah pikiran juga tidak dianjurkan. Refleksikan apa yang sudah dialami, peristiwa baik dan buruk sehingga hati lebih tenang. Ini akan membantu kita berdamai dengan diri sendiri.

7. Dendam

Kunci dari menghindari rasa dendam adalah belajar memaafkan. Evaluasi apakah manfaat yang akan Anda dapat dari memuaskan rasa dendam karena seringkali hanya akan menambah panjang rasa permusuhan. (kompas.com)

Kucing merupakan hewan peliharaan yang menggemaskan. Hewan ini pun sering mendapat perlakuan istimewa dari pemiliknya, mulai dari makanan, sampai berbagi tempat tidur di kamar. 

Meski Anda sangat menyayangi "Si Pus", namun sebaiknya jangan biasakan untuk tidur bersama di kasur. Paling tidak ada 8 alasan mengapa kucing-kucing Anda seharusnya tidur di tempatnya sendiri.

1. Menggangu tidur

Kucing merupakan salah satu binatang yang memiliki wakt tidur cukup lama, 15 jam sehari. Namun, kucing sangat aktif pada dini hari. Bukan tidak mungkin tidur nyenyak Anda terganggu karena ia menggaruk, mendorong atau mengeong-ngeong hanya untuk menarik perhatian Anda.

Gangguan itu tentu memengaruhi siklus tidur. Anda akan mengalami kondisi letih dan lesu keesokan hari. Studi dari Mayo Clinic Sleep Disorders juga menemukan bahwa lebih dari 20 persen pasien yang tidur dengan hewan peliharaan, mengatakan tidur mereka terganggu.

2. Terpapar litter box

Anda perlu tahu, bahwa litter box atau tempat kucing buang air merupakan tempat kotor. Ketika kucing di sana, kaki mereka tentu akan bersentuhan dengan kotoran-kotoran tersebut. Ketika Anda memperbolehkan kucing tidur bersama, maka kotoran itu akan berakhir di kasur Anda.

3. Alergi dan asma

Menurut Asthma and Allergy Foundation of America, sekitar 30 persen orang memiliki reaksi alergi terhadap kucing dan anjing. Reaksi alergi terhadap kucing dua kali lebih besar daripada dengan anjing.

Dokter menyarankan agar tidak memelihara kucing di dalam rumah bila memang memiliki alergi. Namun, bila memang ingin memiliki kucing, upayakan agar pintu kamar selalu tertutup dan menggunakan filter partikel udara efisiensi tinggi untuk menghilangkan pemicu alergi dan asma.

4. Ancaman bagi anak kecil

Kucing suka dengan tempat tidur bayi karena berupa boks tinggi, lembut dan terlindungi. Namun, jangan biarkan kucing tidur dengan anak, terutama bayi. Sebab, anak bisa terjepit oleh tubuh kucing saat sedang tidur.

5. Sulit adaptasi

Kucing merupakan hewan yang memiliki kebiasaan. Ia sukar beradaptasi dengan lingkungan baru. Jadi, bila suatu saat Anda memutuskan kucing Anda tidur lagi tidur di kasur, mereka akan menunjukkan respon marah dan merusak.

6. Infeksi parasit dan infeksi jamur

Bila Anda berbagi tempat tidur dengan kucing, Anda juga berbagi tempat tidur dengan parasit yang kucing simpan. Kutu kucing tidak bisa hidup pada orang, tapi mereka menggigit dan meninggalkan bekas gatal.

Demikian pula, tungau cheyletiella bisa melompat dari kucing ke manusia, menyebabkan gatal pada kulit. Selain itu, parasit Feline termasuk cacing tambang  yang bisa ditularkan melalui paparan kotoran kucing.

7. Infeksi bakteri

Selama tidur 7-8 jam bersama kucing, Anda pun rentan terkena paparan kotoran. Meski kemungkinan terkena penyakit kucing rendah, tapi anak-anak, orang tua, dan mereka yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh beresiko tertular infeksi cat-sracth fever.

Seperti namanya, penyakit cat-scratch, atau bartonellosis, ditularkan melalui goresan atau gigitan kucing yang terinfeksi. Gejalanya pembengkakan kelenjar getah bening, demam, kelelahan, nyeri otot, dan gejala lainnya. Walau tidak memiliki dampak kesehatan jangka panjang, namun bakterinya dapat bertahan dalam tubuh selama beberapa bulan setelah infeksi awal.

8. Infeksi protozoa

Meskipun sangat tidak mungkin terinfeksi dari kontak langsung dengan kucing, Cryptosporidiosis, dan Toksoplasmosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari kucing ke manusia. Adapun Cryptosporidiosis adalah infeksi usus yang disebabkan oleh cryptosporidium, protozoa.

Gejala utama adalah kram perut dan diare. Untuk menjaga agar kucing tetap sehat, jaga agar tetap di dalam rumah dan jadwalkan pemeriksaan rutin dengan dokter hewan Anda. (kompas.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net