Lifestyle



Semua orang pasti ingin memiliki berat badan ideal. Berbagai metode diet pun tak segan untuk dicoba demi meraih keinginan tersebut. Sayangnya, tidak semua metode diet dapat berfungsi maksimal bagi tubuh kita. Setiap orang membutuhkan pola makan yang berbeda. Yah, kepribadian ternyata juga menentukan kesesuaian pola makan. Seperti dilansir laman Reader's Diggest, berikut beberapa metode diet berdasarkan kepribadian.

1. Menilai diri sendiri

Aturan utama dalam diet adalah "tidak ada ukuran yang cocok untuk semua". Menurut Susan Albers, seorang psikolog dan penulis tujuh buku tentang pola makan, setiap orang disarankan berada di jalur masing-masing mengenai diet ini. "Kami mencoba membandingkan diri kami dengan orang lain, tetapi kita yang menemukan apa yang berhasil pada diri," kata dia. Dengan demikian, jangan secara otomatis menganggap apa yang berhasil juga akan mendatangkan hasil yang sama dengan diri kita. Kita harus mencari, cara terbaik yang benar-benar sesuai dengan kepribadian, kecintaan, dan gaya hidup.

2. Hidup di masa lalu

Setiap kali mencoba upaya baru, mungkin yang ada di dalam pikiran kita adalah kegagalan diet di masa lalu yang menghantui pikiran. Padahal, tak ada salahnya kita mencoba lagi. "Pikirkan kembali saat ketika kita berhasil dengan makan sehat." "Ada manfaat besar yang dapat ditemukan dalam pengalaman itu," papar Susan Albers. Misalnya, jika kamu memahami fungsi sarapan kaya protein yang dapat mengontrol rasa lapar sampai makan siang, sebaiknya tetap lakukanlah hal itu. Sebaiknya, susunlah strategi bagaimana membawa sarapan sehat kembali ke dalam hidup kita.

3. Cenderung berpikir berlebihan

Tipe kepribadian semacam ini —seseorang yang terlalu analitis, cenderung menetapkan harapan yang tidak realistis. Mirisnya, oganisasi penelitian Australia bernama CSIRO menggambarkan hal ini terjadi pada sebagian besar wanita yang sedang melakukan diet. Menurut US News & World Reports pola diet Weight Watchers -yang digolongkan sebagai diet populer untuk menurunkan berat badan, sangat cocok untuk tipe kepribadian ini. Pola diet ini akan memberi banyak konseling nutrisi, termasuk strategi yang bermanfaat untuk mengatasi tantangan.

4. Pengikut aturan

Apakah kamu tahu persis kapan dan apa yang harus dimakan? "Otak bekerja lebih baik dengan rencana formal yang terstruktur, memiliki panduan harian untuk mengetahui kapan dan apa yang harus dimakan, maka ini dapat memberi manfaat besar." Demikian dikatakan Vicki Shanta Retelny, penulis Total Body Diet for Dummies. Menurut dia, inilah yang disebut cara 'mengatur dan melupakannya'. Banyak diet komersial yang menawarkan jenis makanan terstruktur ini.

5. Suka bergaul

Pola diet apa pun biasanya tak cukup fleksibel untuk tipe kepribadian ekstrovert. Jika dapat berbagi makanan dengan keluarga dan teman adalah hal yang penting, sebaiknya kita mempelajari kiat diet yang memberi pengetahuan untuk memilih yang lebih sehat, terutama saat makan di luar. Jadi, pemilik kepribadian ekstrovert ini masih bisa menikmati makanan di luar sana. "Bergaul dengan bijaksana dan katakan tidak untuk beberapa hal," saran Retelny. Mungkin kita harus mengurangi intensitas sosialisasi, misalnya yang biasanya berkumpul bersama teman empat kali dalam seminggu, kita pangkas menjadi dua kali saja. Selain itu, kita juga bisa menerapkan alternatif cara dengan makan malam saat berada di rumah. Atau, kita bisa memilik konsumsi sayuran saat makan bersama kerabat, dan berkomitmen untuk mengurangi porsi makan.

6. Pelanggar aturan

Menurut Albers, seorang pakar mindful eating, bagi mereka yang tak suka aturan, menerapkan kesadaran saat makan akan memberi banyak manfaat. Kesadaran saat makan —meskipun bukan "diet", membuat tubuh merasa lapar, memperlambat kecepatan makan, dan membuat kita menikmati setiap gigitan. Hal yang hebat tentang pendekatan mindful eating ini adalah, tidak ada makanan "terlarang", termasuk gula, jadi tak akan ada masalah saat kita mengonsumsinya. "Pendekatan ini sangat membebaskan bagi [beberapa] orang," kata Albers.

7. Emosional

Makan berlebihan tidak selalu diakibatkan oleh emosi. Namun, banyak orang menganggap makan berlebihan adalah dampak dari perasaan sedih. Riset dalam jurnal Appetite menunjukkan, cara berpikir ini dapat mempengaruhi perilaku kita. "Ketika kita merasa emosional dan siap untuk menikmati makanan, ada gunanya untuk berhenti sejenak sebelum meraih camilan itu." "Periksa rasa lapar yang kita rasakan, dan ketahui alasan kita untuk makan," kata Albers. Mereka yang makan karena emosional tak dapat melakukan diet super ketat, yang biasanya menerapkan larangan atau pengurangan konsumsi makanan tertentu, dengan baik. Menurut Mayo Clinic, hal tersebut justru hanya meningkatkan keinginan makan. Mereka dengan kepribadian emosional bisa menerapkan pola diet mediterania. Pola diet ini tidak seperti pola diet kebanyakan, melainkan condong pada gaya hidup dan merupakan cara makan tanpa harus mengurangi porsi.

8. Impulsif

Menurut Retelny, mereka yang mengonsumsi cokelat atau es krim tanpa berpikir dua kali, adalah tipe kepribadian yang diuntungkan dari menjaga makanan pemicu di luar rumah. Namun, ini bukan berarti kita tidak bisa menikmatinya. Kuncinya adalah dengan sengaja bekerja pada hal-hal yang memuaskan diri dalam hari-hari kita. "Misalnya, jika kamu berminat untuk es krim, rencanakan untuk memiliki es krim setelah makan malam," ucap Retelny. Fakta bahwa porsi yang dikendalikan dapat membantu kita mengendalikan keinginan. Nah, kita bisa menggunkan pendekatan 80/20 dalam kasus ini untuk mendapatkan manfaat maksimal. Dengan kata lain, 80 persen dari waktu yang kita miliki bisa dimanfaatkan untuk mengonsumsi makanan sehat. Sementara 20 persen sisanya, bisa kita manfaatkan untuk menikmati makanan favorit. Cara ini dapat membantu orang yang impulsif untuk lebih bijaksana pada makanan.

9. Pengambil keputusan

Tidak masalah jenis rencana makan apa yang kita pilih, tentu kita tidak bisa mendapatkan berat badan ideal secara instan. "Keinginan untuk memilih makanan yang sehat dan utuh harus menjadi agenda harian, apakah itu sangat terstruktur atau tidak, kita harus siap berkomitmen untuk gaya hidup sehat," kata Retelny. "Ini adalah perjalanan sehari-hari yang berkesinambungan dari pilihan makan yang sadar," tambah dia. Setiap keputusan makanan hanyalah satu keputusan yang harus diambil dalam sehari penuh dengan keputusan yang tepat. Caranya adalah dengan mengenal diri sendiri, dan pilih rencana yang cocok untuk kita. (kompas.com)

Tahukah Anda kalau cara jalan bisa menunjukkan kepribadian seseorang? Pada umumnya, kesan pertama bisa dinilai dari penampilan, ucapan, dan perilaku Anda terhadap orang lain. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Social Psychological and Personality Science menyatakan bahwa cara berjalan seseorang juga bisa mencerminkan kepribadiannya. Benarkah demikian?

Studi baru ini menemukan bahwa orang dengan tipe kepribadian ekstrovert berjalan lebih cepat daripada orang dengan tipe kepribadian introvert. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Perancis ini, menggunakan data dari lebih dari 15.000 orang dewasa berusia 25 sampai 100 tahun untuk melihat apakah ciri kepribadian terkait dengan gaya berjalan atau tidak.

Kepribadian para peserta penelitian dinilai melalui survei dan dinilai berdasarkan lima ciri kepribadian Big Five, yang mencakup ekstraversi, sifat berhati-hati (conscientiousness), keterbukaan (openness), mudah akur atau sepakat (agreableness), dan neurotisme/ neurotik.

Orang dengan kepribadian ekstrovert cenderung mendapatkan energi, inspirasi, dan motivasi dari interaksi sosial dengan orang lain (eksternal). Kebalikannya, orang dengan kepribadian introvert cenderung lebih fokus dan bisa mendapatkan energi, inspirasi, dan motivasi dari dalam diri sendiri (internal) atau hanya dari orang-orang terdekatnya saja dalam jumlah kecil.

Ternyata, kepribadian ekstrovert lebih sering dikaitkan dengan rata-rata jalan yang lebih cepat, yaitu sekitar 0,06 meter per detik lebih cepat daripada orang dengan kepribadian introvert. (kompas.com)

Bersalaman atau jabat tangan adalah bentuk ekspresi yang lumrah dilakukan, baik di belahan dunia barat maupun timur. Akan tetapi, sebenarnya setiap orang dari setiap budaya memiliki cara salaman yang khas.

Apa yang membedakan cara salaman masing-masing orang? Benarkah gaya salaman seseorang bisa menunjukkan kepribadiannya?

Menurut Jesse Bering, seorang ahli ilmu komunikasi dari University of Otago New Zealand dalam Scientific American, catatan mengenai jabat tangan sudah muncul sekitar abad ke-12 SM. Bukti-bukti sejarah juga telah membuktikan bahwa jabat tangan banyak terjadi di Afrika, Indian, Guatemala, dan Asia Tengah sejak masa lampau.

Dulu, salaman memiliki beberapa arti. Pertama, menunjukkan maksud untuk berdamai. Mengapa begitu? Orang yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan ingin menunjukkan bahwa dia bertangan kosong dan tidak membawa senjata apa pun serta tidak memiliki penyakit menular.

Kemudian, gerakan naik turun diartikan proses pembuangan senjata seperti pisau yang bisa saja disembunyikan di dalam lengan baju orang yang bersalaman.

Selain itu, makna lain dari salaman adalah sebagai simbol kepercayaan tinggi terhadap perjanjian atau janji yang telah dibuat.

Walaupun tidak sama persis, ternyata bentuk salaman juga ada pada hewan seperti simpanse. Namun, ada perbedaan yang cukup kentara antara cara salaman manusia dan simpanse.

Salaman yang dilakukan oleh simpanse dilakukan untuk menunjukkan dominasi atau kekuasaan. Jadi, simpanse yang mengulurkan tangannya duluan berarti ia lebih berkuasa dibandingkan simpanse yang diajak bersalaman.

Menunjukkan kepribadian

Ternyata salaman juga bisa menunjukkan kepribadian atau maksud orang yang melakukannya. Ini dilihat dari cengkeramannya, berapa lamanya, hingga bahasa tubuh ketika sedang berjabat tangan.
Salaman yang kuat dan kencang

Salaman yang dilakukan dengan keras biasanya dilakukan oleh mereka yang punya maksud mendominasi. Lillian Glass, Ph.D., seorang ahli bahasa tubuh dari Amerika Serikat berpendapat bahwa salaman jenis ini layaknya pertempuran untuk menujukkan siapa yang paling berkuasa.

Sebuah penelitian oleh para psikolog dari University of Alabama di AS juga menguak fakta yang serupa. Salaman dengan genggaman tangan yang kuat, kontak mata, dan durasi yang cukup lama menunjukkan sifat ekstrovert dan lebih terbuka terhadap pengalaman baru.

Orang-orang dengan sifat demikian umumnya memang memiliki kecenderungan lebih besar untuk menjadi sosok yang dominan atau berkuasa.

Salaman yang lemas

Masih dalam penelitian dari University of Alabama, orang yang berjabat tangan dengan sangat pelan dan lemas ternyata cenderung menunjukkan kepribadian yang lebih mudah cemas, gugup, atau stres. Kondisi mental ini disebut dengan neurosis.

Akan tetapi, menurut Lillian Glass, salaman yang lemas juga bisa menandakan bahwa Anda tidak terlalu tertarik atau menghargai orang yang bersalaman dengan Anda. Yang ada di pikiran Anda hanyalah untuk cepat-cepat selesai berbasa-basi.

Salaman tanpa tatap mata

Memang ada beberapa orang yang merasa canggung saat bertatapan mata dengan orang lain. Apalagi dengan orang asing. Karena itu, bila Anda sering bersalaman tanpa bertatapan mata dengan orang lain, bisa jadi Anda adalah orang yang memang kurang nyaman berada di situasi-situasi sosial atau bahkan mengidap fobia sosial.

Namun, sekali lagi cara salaman ini juga bisa mengartikan hal yang berbeda. Misalnya Anda sebenarnya malas atau tidak tertarik untuk berjabat tangan dengan orang lain. Jadi belum tentu punya fobia sosial, Anda hanya sedang tidak minat saja untuk beramah-tamah dengan orang yang bersalaman dengan Anda.

Salaman yang kelamaan

Kalau salaman tanpa tatap mata menunjukkan kecanggungan, salaman dengan tatap mata yang terlalu lama bisa menandakan sifat yang agresif. Begitu juga kalau Anda menjabat tangan seseorang terlalu lama.

Menurut para ahli bahasa tubuh, durasi salaman yang tepat tidak lebih dari dua detik. Karena itu, bila Anda tidak ingin terlihat terlalu agresif, tidak perlu salaman terlalu lama. (kompas.com)

Menentukan kepribadian ternyata juga bisa ditebak dari permen kesukaan. Selain bentuk, rasa permen juga dapat menentukan siapa diri Anda yang sebenarnya. Seperti merilis dari aol.com, Jumat (28/4/2017), berikut hubungan antara permen kesukaan dengan kepribadian Anda.

Cokelat hitam
Menurut Tought Catalog, para penggemar cokelat hitam memiliki selera yang bagus. Penggemar cokelat hitam ternyata belum tentu memiliki “sweet tooth” alias gemar mengonsumsi camilan-camilan manis lainnya.

Cokelat putih
Bila Anda penggemar cokelat putih, ternyata ada kepribadian yang bisa langsung dibaca dari permen ini. Menurut AOL, pencinta cokelat putih sangat suka menjadi pusat perhatian dari orang lain.

Lolipop
Permen keras yang memiliki gagang ini juga dapat menggambarkan kepribadian seseorang. Lolipop dipercaya menggambarkan sikap tidak membuat keputusan yang implusif dan suka memikirkan banyak hal.

Gummy Bears
Siapa sangka penggemar permen beruang juga memiliki kepribadian yang bisa langsung ditebak. Permen ini menggambarkan pribadi yang senang dalam sebuah kelompok dan memiliki hati seperti anak kecil. Namun dalam keadaan tertentu mereka memiliki sikap yang egois. (liputan6.com)

Page 1 of 4

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM