Lifestyle



Setiap orang sebenarnya memiliki masalah dengan kesehatan mentalnya, namun tidak semua orang menyadarinya. Sama seperti penyakit fisik, gangguan kesehatan mental tidak memiliki saklar "mematikan" dan "hidupkan", yang berarti kebanyakan orang akan masalah mereka ke mana pun setiap hari, termasuk ke tempat kerja.

Dibandingkan satu dekade lalu, saat ini sudah banyak perusahaan yang menyadari pentingnya kesehatan mental bagi karyawannya.

Menurut Michelle Riba, profesor psikiatri dari Universitas Michigan Amerika Serikat, ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk meningkatkan status kesehatan mental di tempat kerja.

1. Pencegahan

Setiap individu seharusnya belajar cara merawat diri mereka sendiri. Dimulai dari aktif secara fisik, makan dengan baik dan tidur cukup. Kesehatan fisik bisa meningkatkan kesehatan mental Anda.

"Partisipasi dalam olahraga bisa bersifat meditatif (terutama jika dilakukan di alam). Berpartisipasi dalam olahraga yang dilakukan bersama-sama memupuk rasa positif kebersamaan. Selain itu, bila seseorang berusaha sehat secara fisik, biasanya tidak ingin menggunakan zat atau makan yang memiliki kandungan buruk," kata Riba.

Efek lanjutan lain adalah pada orang terdekat. Saat anak-anak melihat ayah atau ibu mereka suka beraktivitas fisik, mereka juga akan termotivasi untuk banyak bergerak. Olahraga bisa menjadi aktivitas keluarga—dan sangat penting.

2. Mengurangi stres di tempat kerja

Stres bisa menyebabkan masalah pada kesehatan mental jika Anda memiliki pekerjaan yang sangat berat. Saling peduli pada rekan kerja bisa mencegah menurunnya status kesehatan mental, misalnya dengan membuat kelompok untuk berjalan-jalan saat makan siang atau kegiatan lain yang bersifat rekreatif untuk sejenak lepas dari urusan kantor. Memilih menu camilan yang lebih sehat juga bisa memperbaiki mood.

3. Kapan stres tidak bisa ditangani sendiri

Menurut Riba, jika seseorang mulai merasa tertekan, hal pertama yang harus dilakukan adalah berbicara dengan seseorang yang paham, bisa ke psikater atau psikolog. Anda juga bisa mencari program bantuan karyawan yang mungkin tersedia di kantor.

Orang harus secara teratur mengevaluasi diri mereka sendiri dan mengenali cara mengatasinya. "Minta orang lain di rumah atau di luar rumah untuk membantu Anda. Terkadang hal-hal yang tampak kecil sangat penting. Misalnya, makan bersama sambil ngobrol santai, meluangkan waktu untuk berdiskusi tanpa ada gangguan dari TV dan gadget," katanya. (kompas.com)

Kerja keras adalah jalan menuju sukses, tapi bagaimana bila terlalu keras bekerja? Ada baiknya dikurangi karena dampaknya berbahaya bagi jantung.

European Heart Journal mempublikasikan studi yang menyimpulkan karyawan yang bekerja lebih dari 55 jam dalam sepekan cenderung mengalami kenaikan detak jantung yang tidak teratur, dibanding mereka yang bekerja dalam waktu standar yakni 35 sampai 40 jam dalam sepekan.

Para peneliti dari European Society of Cardiology mempelajari hampir 85.000 pria dan perempuan selama 10 tahun. Di awal peelitian, tak satu pun dari mereka memiliki gangguan irama jantung atau yang biasa dikenal sebagai Fibrilasi atrium atau AFib .

Tapi, 10 tahun kemudian, ada 1.061 kasus baru AFib dari para responden itu. Mereka yang bekerja lebih dari 55 jam seminggu memiliki kemungkinan 40 persen lebih besar beresiko mengalami AFib daripada mereka yang bekerja dalam waktu normal.

Hasil itu didapat bahkan setelah peneliti memasukkan faktor risiko AFib seperti usia, jenis kelamin, obesitas, merokok dan konsumsi alkohol.

"Sembilan dari 10 kasus atrial fibrillation terjadi pada orang-orang yang sebelumnya bebas dari penyakit kardiovaskular," tulis penulis penelitian tersebut.

"Ini menunjukkan bahwa peningkatan resiko terjadi pada orang yang jam kerjanya panjang dibandingkan dengan efek dari penyakit kardiovaskular yang ada sebelumnya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme yang terkait.”

Penulis penelitian ini menyebut bahwa mereka hanya mencatat berapa banyak jam kerja dalam sepekan para pria dan wanita di awal penelitian, dibandingkan selama percobaan atau pada akhirnya. Namun, penulis mencatat bahwa pola kerja cenderung konsisten.

Laporan baru tersebut mendukung penelitian sebelumnya yang menghubungkan kerja lembur dengan peningkatan risiko stroke.

AFib sendiri merupakan aritmia jantung yang cukup banyak diderita dan diketahui berkontribusi terhadap stroke, gagal jantung dan demensia terkait stroke.

Sebuah laporan bulan Maret dari Australian National University memperingatkan bahwa titik kritis dimulai ketika seseorang bekerja 39 jam sepekan. Dengan durasi kerja tersebut, kesehatan fisik dan mental seseorang mulai terkikis karena terbatasnya waktu untuk beristirahat dan memiliki pola makanyang baik.

Sering kerja lembur juga diketahui bisa meningkatkan risiko cidera dan kematian, kenaikan berat badan, penggunaan alkohol dan frekuensi merokok yang lebih tinggi.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa perawat yang bekerjama selama enam jam setiap hari lebih jarang sakit dan lebih produktif daripada perawat yang bekerja selama delapan jam.

Lagi pula, produktivitas kerja cenderung akan turun begitu kita bekerja lebih dari 48 jam per pekan. (kompas.com)

Pada saat tahun ajaran baru bulan Juli mendatang, sebagian murid-murid dari SD sampai SMA di Indonesia akan ke sekolah selama lima hari dalam satu minggu dan pulang sore, kebijakan baru yang banyak dipertanyakan terkait anak-anak yang harus kerja untuk membantu orang tua.

Jam sekolah selama 40 jam selama lima hari untuk semua sekolah akan diterapkan secara nasional secara bertahap pada tahun ajaran baru 2017/2018, untuk 'penguatan karakter anak', kata Chatarina Girsang, staff ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Chatarina mengatakan sekolah selama lima hari seminggu tidak akan menambah jam belajar anak.

"(Ini untuk) penguatan karakter anak, jadi bukan menambah jam belajar dan kurikulumnya... bahkan kurikulum akan dimodifikasi... Kegiatan-kegiatan positif akan kita maksimalkan dalam lima hari," kata Chatarina kepada BBC Indonesia.

Saat ini jam sekolah dasar ada yang selesai pukul 12:00 siang ataupun pukul 13:00.

"Jamnya (jam mulai) terserah, yang penting 40 jam satu minggu, per hari delapan jam dengan istirahat setengah jam," tambahnya.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan Kamis (08/06) lalu, bahwa pihaknya sedang menggodok Permendikbud sebagai dasar kebijakan sekolah lima hari dalam satu minggu ini.

Namun banyak pertanyaan yang muncul di seputar penerapan kebijakan ini, terutama terkait anak-anak di pedesaan yang harus membantu orang tua bekerja sejak usia dini.

Di daerah transmigrasi dan banyak daerah pedesaan lain, anak-anak banyak yang membantu orang tua mereka setelah sekolah.

Jam sekolah sekolah dasar di Indonesia pada umumnya selesai pada tengah hari.

"Anak sekecil itu sudah menanggung orang tua"

Banyak netizen, termasuk guru, menyatakan keberatan terkait rencana penerapan sekolah lima hari ini melalui media sosial.

Akun atas nama Djoko Poernomo misalnya, menulis melalui Facebook, "Pak Mentri !!!! muridku 35% anak-anak Transmigrasi, biasanya setelah pulang sekolah membantu pekerjaan orang tua di sawah atau ngarit cari rumput, dan banyak muridku sudah pandai menjual tenaga sebagai penyabit rumput di perkebunan sawit, nah kalau mereka pulang jam 4 sore pasti mereka tidak akan melakukan kegiatan pendidikan karakter yang nyata, saya takut mereka akan rontok dengan sistem pulang sore."

"Salah satu muridku baru kelas 7, anak transmigrasi namun bapaknya sakit sdh nggak (sudah tidak) bisa kerja, jadi dia pulang sekolah sekolah harus berjalan kaki 5 km menuju bekas galian timah, nyari ampas timah, dari sinilah dia membiaya makan keluarganya, dari sekolah sdh (sudah) menggratiskan semua termasuk baju seragam, untuk makan jelas diluar kemampuan sekolah... sedih saya tanya sama dia tiap hari hanya makan 2x cuma lauk tempe tanpa sayur sama sekali... sedih rasanya lihat anak sekecil itu sdh menanggung orangtua dan adik-adiknya," tambahnya.

Pengguna lain atas nama Yosef Agung Prawiro menulis dari sisi kesiapan sekolah, "Fullday Sch (hari penuh sekolah) belum saatnya diberlakukan di seluruh Indonesia (Nasional), hal yang perlu diperhatikan, sarana prasarana tiap sekolah apa mencukupi?"

Chatarina Girsang mengatakan akan ada perkecualian menyangkut sekolah lima hari ini.

"Apabila sekolah belum siap akses transportasi tentu akan kita kecualikan... Kita juga lagi menginventarisir mana daerah kabupaten yang siap... sarana prasarana, fasilitas sekolah dan akses transportasi," kata Chatharina.

"Yang kita utamakan adalah hak anak mendapatkan pendidikan," tambahnya.

Tetap semangat belajar

Seorang guru di Nias Selatan, Indri Rosidah, mengatakan di daerah tempat dia mengajar anak-anak SD biasanya diminta orang tua untuk mengasuh adik, sementara yang sudah di sekolah menengah di minta bekerja di ladang.

Indri bercerita salah seorang muridnya Boisman Gori membawa dan menjaga adiknya sambil sekolah.

"Saat belajar mereka memang tetap semangat, sudah mereka anggap biasa saja (untuk bekerja membantu orang tua)," kata Indri.

Di Desa Ueruru, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, seorang guru lain, Novim Aivianita Hanifi, mengatakan sebagian muridnya juga membantu orang tua mereka.

"Sebagian ada yang membantu orang tua sperti berkebun dan ikut menjala ikan di laut," kata Novim.

Indri dan Novim termasuk di antara sekitar 3.000 guru yang mengikuti Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) yang diselenggarakan Kemendikbud.

'Gangguan pencernaan'

Retno Listyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) , mengatakan tidak menyepakati kebijakan ini karena kondisi masyarakat yang berbeda-beda.

"Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan semua kota besar, tipologi dan kondisi masyarkat berbeda-beda, maka perlu persiapan," kata Retno.

Ia mengatakan survei yang dilakukan FSGI terkait sekolah di Jakarta yang menerapkan kebijakan sekolah lima hari menunjukkan banyaknya anak yang mengalami gangguan pencernaan karena jam makan yang terganggu.

"Dalam tiga tahun penerapan (di DKI Jakarta) sakit pencernaan terjadi, karena mereka terlambat makan. Misalnya masuk jam 0630 di kelas, belum sempat sarapan dan mereka sarapan pada istirahat pertama jam 10:00, pada jam makan siang tak makan karena masih kenyang akhirnya makan siang jam 03:00. Ini sebenarnya pelanggaran hak anak," kata Retno.

Ditambahkannya bahwa anggota FSGI yang tersebar di 29 kabupaten dan banyak murid mereka yang membantu 'orang tuanya berlandang, berkebun, jualan, nelayan... sehingga kalau sekolah sampai sore dampaknya akan ke ekonomi keluarga juga'.

Retno juga mengatakan dengan prasarana terbatas dengan situasi sekolah di Indonesia yang halamannya cuma sedikit, sempit maka akan sulit membuat anak betah dan nyaman di sekolah dan di ruang kelas.

Tetapi staff ahli Mendikbud, Catharina Girsang mengatakan penambahan jam di sekolah ini mencakup kegiatan di luar kelas.

"Bukan berarti di kelas selama delapan jam, bisa juga kegiatan di luar seperti mengamati pasar, diberi tugas apa, jadi pelajaran bukan di kelas semua, ada kegiatan kurikuler dan ekstra kurikulernya," kata Chatarina. (bbcindonesia.com)

Kebahagiaan di tempat kerja tak melulu soal jumlah penghasilan dan bonus. Sebab, lingkungan kerja yang membuat Anda bahagia dan berkembang juga menjadi faktor yang membangun loyalitas serta dedikasi karyawan.

Namun, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang Anda inginkan, bukan? Sebab, tak menutup kemungkinan Anda terjebak dalam sebuah lingkungan kerja yang tidak membuat diri Anda menjadi lebih baik, secara personal ataupun profesional.

Timothy Butler, Director of Career Development Programs at Harvard Business School dan penulis buku bertajuk Getting Unstuck:How Dead Ends Become New Paths, percaya bahwa ada makna lebih luas dari pernyataan “Saya tidak lagi bahagia di tempat bekerja,”.

Butler yang fokus mempelajari struktur karakter dan pribadi sekaligus kepuasaan kerja mengatakan, untuk memahami rasa tidak bahagia Anda, maka Anda harus berupaya mengenali ketidanyamanan tersebut.

Dia menambahkan ketika kondisi Anda sedang tidak bahagia terhadap pekerjaan, maka sebaiknya jangan tergesa-gesa dan berusaha menyelesaikan masalah.

Amati rasa tidak bahagia Anda dan jangan mencoba mencari jalan keluar terburu-buru. Sebaliknya, mulai rencanakan langkah Anda selanjutnya.

“Rasa tidak bahagia hadir menjadi sebuah ‘peringatan’ dan pengingat,” ujar Butler.

“Ada bagian diri Anda yang mungkin tidak Anda dengar sehingga membutuhkan perhatian lebih,” imbuhnya.

Cita-cita tertunda, kata Butler, sering memicu banyak karyawan mendadak merasakan tidak bahagia dalam bekerja.

Butler menganjurkan untuk kontemplasi diri dan dengarkan sanubari lebih  fokus. Sebab, ada-ada hal dalam diri yang bisa jadi tanpa Anda sadari telah dengan sengaja Anda lupakan dan tidak ingin Anda eksplorasi lebih jauh.

Namun, jika rasa tidak bahagia itu masih terus mendera setelah Anda melakukan ragam upaya untuk mengubahnya, maka bisa jadi ini sinyal bahwa Anda lebih dibutuhkan dan dihargai di tempat lain. (kompas.com)

Page 1 of 7

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net