Lifestyle



Sudah menjadi praktik umum pihak penyiar pertandingan sepak bola menyoroti wanita-wanita cantik yang bersinar di antara ribuan pria dalam stadion sepak bola. Sama halnya di Piala Dunia 2018 Rusia ini, para juru kamera seakan berlomba-lomba menemukan mutiara di tengah lautan maskulinitas yang menguar di dalam stadion.

Terbukti selama hampir sebulan Piala Dunia bergulir, foto-foto fans cantik terus tersebar di jagat dunia maya. Tetapi sepertinya kebahagiaan para pria harus berakhir lebih cepat, FIFA berencana melarang aktivitas tersebut.

Tak akan ada lagi wajah wanita cantik yang memenuhi tiga perempat layar televisi. FIFA memang kejam pada pria-pria yang bosan melihat sesama jenisnya.

Berbicara sebelum laga semifinal Inggris vs Kroasia beberapa waktu lalu, kepala keanekaragaman FIFA Federico Addiechi menyebut sikap itu tak bisa diterima.

Addiechi menegaskan bahwa dia akan berusaha menerapkan aturan baru yang melarang pihak penyiar melakukan hal tersebut. Baginya aksi tersebut salah dan tidak menghargai derajat wanita.

"FIFA akan mengambil langkah melawan perbuatan yang salah. Kami sudah melakukan pembatasan pada penyiar individu, kami juga sudah melakukannya pada layanan siaran kami sendiri," kata Addiechi dikutip dari news.


Lebih lanjut, meski kebijakan ini mungkin tak bisa terwujud di Piala Dunia kali ini, Addiechi menjamin peraturan ini tak bisa ditahan terus-menerus. Baginya suatu saat nanti peraturan ini pasti akan diterapkan, entah berapa tahun lagi.

"Ini jelas merupakan satu hal yang akan kami perbuat di masa depan, ini evolusi yang wajar," tutupnya.

Sebelum Piala Dunia 2018 dimulai di Rusia, salah satu isu yang ditakuti akan berkembang pesat adalah homofobia dan tindakan rasial, tetapi sepertinya aksi seksisme terbukti jadi masalah yang paling krusial. (Bola.net)

Banyak orang melakukan diet dan berhasil menurunkan berat badan sesuai targetnya. Namun, setelah mencapai target tersebut, tak sedikit yang berat badannya kembali ke asal. Mengapa bisa demikian? Head of Health Committee Nutrifood, Mochamad Aldis Ruslialdi, SKM, CNWC menjelaskan fenomena yang dinamakan "yoyo diet" tersebut. Dia mengatakan, fenomena itu terjadi setelah seseorang melakukan diet secara ekstrem dengan menghilangkan secara drastis asupan makronutrien tertentu. Misalnya lemak atau karbohidrat.

"Setelah dietnya selesai atau setelah turun berat badan tertentu dia balik ke pola hidup lama." "Alhasil karena tubuhnya mengalami perubahan, jadinya malah ketika pola hidupnya balik berat badannya bertambah daripada awalnya." Demikian penjelasan Aldis saat berbincang dengan Kompas Lifesty

Demikian penjelasan Aldis saat berbincang dengan Kompas Lifestyle, Kamis (12/7/2018). Padahal, kata Aldis, tubuh membutuhkan gizi seimbang, namun dengan porsi yang tak berlebihan. Dengan dihilangkannya satu makronutrien tertentu, metabolisme tubuh akan berubah. Apalagi, jika sebelumnya orang tersebut biasa mengonsumsi makronutrien yang dihilangkan, akan timbul faktor psikologis setelahnya. "Karena cenderung enggak biasa tanpa nasi, misalnya, jadi cranky dan perlu pelampiasan setelah achieve turun berat badan tertentu." "Dia ingin self reward, akhirnya berat badan justru kembali ke yang lebih parah," ucap dia. Menurut Aldis, tak masalah jika kita ingin mengikuti tren diet yang sedang ramai dibincangkan.

Namun, ia mengingatkan, ada pola makan sehat yang mampu membantu kita menurunkn berat badan tanpa harus memangkas asupan makann terlalu ekstrem. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan: 1. Mengimbangi suatu pola diet dengan olahraga untuk menjaga metabolisme tubuh tetap tinggi. "Kalau enggak olahraga, tubuh cenderung gampang buat menumpuk lemak," ujar Aldis. 2. Jangan sampai mengeliminasi salah satu jenis makanan atau makronutrien tertentu. 3. Jika ingin mengikuti tren diet tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Apalagi, jika kita memiliki masalah kesehatan tertentu. 4. Pilih pola diet paling aman, yaitu dengan cara tetap makan normal, namun dengan mengurangi sedikit demi sedikit porsi makan secara perlahan. (KOMPAS.com)

Popstar Shawn Mendes memastikan kalau dirinya baik-baik saja setelah tersungkur di atas panggung di saat sedang melangsungkan konser di Quebec, Kanada, akhir pekan lalu.

Sang hitmaker ‘There’s Nothing Holdin’ Me Back’ ini sedang membawakan lagu ‘Mercy’ di acara “Quebec City Summer Festival”, Minggu, 8 Juli, saat memutuskan untuk melompat ke atas platform yang lebih rendah yang terletak tepat di hadapan panggung utama.

Menilik video insiden yang kemudian beredar, Shawn kembali berdiri dan melanjutkan menyanyikan lagu tanpa kehilangan satu beat pun. Klip yang diposting fan di Twitter memperlihatkan kronologi terjadinya insiden:

Klip ini rupanya diketahui oleh Shawn. Dan ketimbang marah-marah, ia malah memilih untuk merepost video, menertawakannnya dan menekankan jika ia baik-baik saja, meski mengakui jika insidennya agak “gila”. (Creative Disc)

 

Jelang final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7), skuat Kroasia lebih berpengalaman menjadi juara dibandingkan dengan Prancis.

Total ada 131 gelar juara yang dikumpulkan 23 pemain Kroasia sepanjang karier mereka di level klub. Sementara Prancis yang memiliki banyak bintang hanya mempunyai 111 gelar juara. Gelar juara ini dihitung sejak para pemain meniti karier profesional di lever senior.

Striker Mario Mandzukic merupakan pemain Kroasia yang paling banyak mendapatkan gelar juara. Total striker 32 tahun itu memiliki 21 gelar juara. Selain di Juventus, Mandzukic meraih gelar-gelar itu saat bersama Atletico Madrid, Bayern Munchen, dan di Dinamo Zagreb.


Pemain kedua Kroasia yang sering mengangkat trofi adalah Luka Modric dengan 20 gelar juara. Kapten Kroasia tersebut banyak mendapatkan trofi saat bersama Real Madrid.

Skuat Kroasia lebih mendominasi perolehan gelar juara karena diisi banyak pemain senior. Di Piala Dunia 2018, Vatreni berada di urutan ke-18 sebagai tim dengan rataan usia tertua, 27,9 tahun, sementara rataan usia skuat Prancis hanya 26 tahun.

Di skuat Les Bleus, gelandang Blaise Matuidi berada di urutan teratas dengan perolehan 18 gelar juara, yang sebagian besarnya (14 trofi) didapat saat masih berseragam Paris Saint-Germain.

Di bawah Matuidi ada Raphael Varane yang mendapatkan 15 trofi bersama Real Madrid. Kendati demikian, dari 23 pemain Prancis hanya Nabil Fekir yang belum merasakan gelar juara bersama klub, sedangkan di timnas Kroasia ada tiga pemain: kiper Lovre Kalinic, Duje Caleta-Car, dan Josip Pivaric.

Pengalaman pemain-pemain Kroasia menjadi juara di level klub bisa menjadi modal bagi pelatih Zlatko Dalic menghadapi laga final nanti. Bagi Prancis, hal tersebut tentu patut diperhitungkan agar kesempatan menjadi juara Piala Dunia untuk kali kedua tidak hilang.

Setidaknya hal itu telah terbukti saat mengalahkan Inggris 2-1 di babak semifinal. Mental juara pemain-pemain Kroasia tetap konsisten hingga akhir laga dan lolos ke final Piala Dunia untuk kali pertama. (CNN Indonesia)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM