Travel

Perjalanan ke luar negeri memang membutuhkan perencanaan yang matang dan persiapan yang baik. Untuk itu Anda sebagai traveler harus mampu waspada dalam menghadapi berbagai situasi di negara orang. Bila Anda tiba-tiba mengalami kehilangan paspor dalam perjalanan atau dicopet pihak tidak bertanggung jawab, jangan panik dulu. Lakukan hal-hal ini agar perjalanan Anda kembali lancar.

Miliki salinan dokumen berharga
Sebelum berangkat, usahakan Anda sudah memiliki salinan dokumen yang akan dibawa ke luar negeri. Hal ini mencakup fotokopi paspor, visa, bukti pemesanan hotel, tiket pesawat, dan asuransi. Letakkan salinan ini pada beberapa tas yang berbeda sehingga dokumen tetap ada salinannya, meski tas hilang atau tertinggal di bandara. Memiliki salinan dokumen akan membantu Anda mengurus paspor sementara nantinya.

Kunjungi sentra pelayanan polisi terdekat dari lokasi 
Bila paspor hilang di keramaian tempat wisata, usahakan Anda melapor pada polisi setempat mengenai kehilangan tersebut. Meskipun nantinya polisi ini tidak membantu pencarian, Anda dapat meminta surat keterangan kehilangan barang untuk dijadikan alat bukti bahwa paspor Anda telah hilang. Pada laporan itu akan dijelaskan tempat kejadian, waktu dan barang apa saja yang hilang.

Segera hubungi Kedutaan Besar di negara tujuan Anda
Paspor adalah dokumen negara yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang. Untuk itu, Anda harus melapor kepada negara melalui Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderan RI untuk mendapatkan Surat Perjalanan Republik Indonesia. Surat ini berbentuk seperti paspor yang memiliki halaman yang lebih tipis dan hanya bisa dipergunakan selama 2 tahun atau sampai diterbitkannya paspor baru di Indonesia.

Melapor pada petugas Imigrasi di Bandara kepulangan
Setelah mendapatkan SPRI, jangan lupa melapor pada petugas imigrasi di bandara sebelum kepulangan ke tanah air. Lampirkan surat kehilangan dari polisi, SPRI yang sudah didapatkan dari KBRI untuk pengganti paspor, serta fotokopi visa dari paspor lama. Dengan melaporkan hal ini kepada pihak Imigrasi, maka Anda tidak dianggap sebagai pendatang illegal di negara mereka. (liputan6.com)

Belasan ibu-ibu mengerumuni Bara Pattiradjawane. Mereka mencoba mencicipi makanan Indonesia, dari emping, balado hingga randang.

"Orang Jerman/Eropa memiliki mentalitas berpetualang, baik travel atau kuliner, " kata Bara dalam salah satu sesi FBF 2016 di Gourmet Gallery, Frankfurt, Jerman, Kamis (20/10/2016).

Ia mencontohkan makanan petai yang dalam bahasa Inggris disebut kacang bau. Tapi masyarakat tetap berani mencoba dan menyukainya. Namun demikian, perlu siasat agar makanan itu diterima masyarakat.

"Jangan terlalu pedas," kata Bara.

Sebab orang Eropa tidak familiar dengan rasa pedas yang berlebihan. Selain itu, hidangan harus dihadirkan dalam menu fresh dan bukan makanan hasil direbus ulang. Tips lain yaitu memberikan contoh cara memasak yang simpel.

"Jangan membawa umpamanya ulekan," tutur Bara.

Karena orang Eropa tidak terlalu suka dengan memasak yang ribet dan merepotkan. Kecuali untuk konsep wisata.

"Tapi kalau untuk sehari-hari, pakai saja alat yang simpel," ucap Bara.

Selain memboyong Bara, stand Indonesia juga memberikan menu Soto bagi pengunjung stand. Dalam hitungan menit, soto langsung ludes.

"Ini harus dipertahanin. Apa yang telah dilakukan Mendikbud, Komisi Buku Nasional harus dipertahanin," pinta pria kelahiran Jakarta, 9 Juli1964 itu. (detik.com)

Wi-Fi gratis di ruang publik pasti menggoda untuk digunakan. Mayoritas wisatawan dunia menggunakan fasilitas Wi-Fi gratis yang tersedia di hotel, bandara, hingga restoran dan tempat wisata.

Beberapa kota besar seperti Seoul, New York, Helsinki, Makau, Paris, Taipei, Hongkong, dan Perth punya banyak Wi-Fi gratis yang tersebar di berbagai sudut. Namun, tak banyak wisatawan yang tahu bahwa mengakses Wi-Fi gratis bisa berisiko tinggi.

Hal ini diungkapkan oleh situs perjalanan Skyscanner Australia. Dalam artikelnya yang dikutip KompasTravel, Anda harus berhati-hati karena kebanyakan koneksi publik ini tidak aman, terutama terkait passworddan informasi saat log in.

Saat mengakses Wi-Fi gratis, Anda wajib mewaspadai hacker yang akan mencuri informasi dan data diri. Wi-Fi gratis cukup mudah diretas menggunakan perangkat lunak Sniffer. Perangkat ini punya kemampuan untuk memindai dan memindahkan data dari gadget Anda ke gadget lainnya.

Dengan kata lain, hacker alias orang lain bisa log in dengan data diri Anda, dan menggunakan data Anda untuk mengakses laman lainnya.

Bahkan, bukan hal yang mustahil hacker bisa melihat login history pada perangkat yang Anda gunakan. Ini memudahkan mereka untuk mengakses situs dengan data diri Anda, kemudian meretasnya. Hal ini tentu berbahaya, bagaimana jika hacker tersebut mengakses situs pembelian barang dan menggunakan data kartu kredit Anda? 

Lalu, bagaimana cara mengakses Wi-Fi gratis yang aman?

Matikan fitur file sharing pada gadget Anda. Sebisa mungkin jangan ketik nama atau username serta password dan berbagai informasi sensitif lainnya. Jangan gunakan kartu kredit sebagai alat transaksi secara online.

Jika Anda sudah telanjur membuka aplikasi atau situs tertentu menggunakan password, ada baiknya langsung mengubah passwordtersebut. Sedikit banyak, hal ini akan membantu Anda agar terjauh dari para hacker. (kompas.com)

Michael Champbell (69) dan Debbie Champbell (58) adalah pasangan asal Seattle, AS, yang traveling ke berbagai negara selama tiga tahun belakangan. Alih-alih hotel, pasangan ini memilih Airbnb sebagai tempat menginap.

Airbnb merupakan situs yang memajang opsi penginapan mulai dari rumah pribadi, apartemen, hingga kastil yang bisa disewa. Sampai saat ini, Michael dan Debbie telah mengunjungi 49 negara dan menginap di 109 tempat Airbnb yang berbeda.

Mereka menginap di berbagai lokasi unik. Mulai dari rumah pedesaan di pinggiran Irlandia, sampai rumah tropis nan cantik di Meksiko dan Kuba. Michael dan Debbie pun menuliskan perjalanan mereka dalam situs Senior Nomad.

Mengutip situs Lonely Planet, pasangan ini menuliskan pengalaman di blog karena ingin pembaca bisa menikmati kisah perjalanan mereka. Michael dan Debbie sangat senang bisa menginspirasi banyak orang, terutama para pensiunan untuk traveling dan menjalani hidup dengan senang.

Tak berselang lama sejak keduanya pensiun, Michael dan Debbie langsung mengemas barang dan menyimpannya di rumah sewaan mereka di Seattle. Setelah itu, mereka langsung berwisata ke Belanda dan mulai menginap di Airbnb.

Perjalanan pasangan ini belum berakhir. Rencananya, Michael dan Debbie akan meluncurkan buku panduan Airbnb berjudul "Your Keys, Our Home". Ini karena lewat Airbnb, kita bisa menyewa properti atau rumah orang lain dan menginap layaknya rumah sendiri. (kompas.com)

Page 5 of 7

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net