Lifestyle

Zodiak yang selama ini kita ketahui memiliki gambar yang melambangkan simbol dari nama-nama zodiak tersebut. Misalnya Libra disimbolkan dengan gambar timbangan, Cancer dengan kepiting atau Aries bergambar kambing.

Semua lambang tersebut disesuaikan dengan karakter dari zodiak tersebut. Namun, apa jadinya jika lambang dari zodiak berbentuk emoji? Pasti sangat lucu, bukan?

Seperti dilansir dari situs Popsugar.com, Kamis (12/1/2017) seorang pemandu tarot, Nupur Bhardwaj menciptakan sebuah gambar emoji yang berjudul "Zodiac Signs as Emoji" yang benar-benar mewakili karakter dari masing-masing zodiak.

Setiap wajah emoji dipilih berdasarkan ciri-ciri yang berkaitan dengan setiap simbol zodiak. Misalnya, wajah emoji smiley dengan pipi merah, menandakan Pisces yang penuh kasih sayang. Sementara emoji wajah sedih dan seperti menderita menandakan sifat Cancer yang emosional.

Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah bentuk emoji ini sudah sesuai dengan zodiak Anda? (liputan6.com)

Banyak alasan bagi Anda untuk berkata "tidak" atau menunda suatu pekerjaan untuk dilakukan keesokan harinya. Namun, pernahkah Anda merasa penasaran bagaimana jadinya jika Anda mengatakan "ya" untuk semua hal, selama satu bulan?

Dilansir dari purewow.com, Rabu (11/1/2017), berikut ini adalah beberapa hal yang akan terjadi jika Anda menjadi "yes person" dalam waktu satu bulan.

1. Awalnya, mungkin Anda akan merasa berat
Jelas bahwa menjadi "yes person" mengharuskan Anda mengorbankan beberapa hal yang dicintai untuk hal-hal yang lebih penting. Seringkali, bahkan Anda akan menjadi sulit menemukan waktu luang untuk hal-hal favorit.

2. Anda mungkin merasa sebal
Anda juga akan terjebak dalam pekerjaan yang tidak dikuasai. Menjadi "yes person" berarti mengharuskan Anda untuk melakukan berbagai hal, suka atau tidak suka, bisa atau tidak bisa.

3. Anda akan keluar dari zona nyaman
Semakin lama melakukan hal-hal yang tidak Anda sukai, akan membuat diri sendiri menyadari keluar dari zona nyaman tidak seburuk yang dibayangkan. Anda jadi bisa mengerjakan berbagai hal.

4. Anda membuat beberapa pertemanan baru
Terjebak dalam rutinitas membuat beberapa orang sulit membuat pertemanan, sehingga menjadi "yes person" juga dapat membantu Anda membuat pertemanan baru dengan orang lain.

5. Anda akan menemukan sesuatu yang lain dari diri sendiri
Dalam pertemanan yang baru, Anda juga secara otomatis akan mengenal dan mengerjakan hal-hal baru. Siapa yang tahu jika Anda ternyata bisa melakukan sesuatu hal yang tak Anda ketahui sebelumnya, jika tidak dicoba?

6. Anda tahu kapan harus berkata "ya" dan "tidak"
Anda mungkin tidak menyadari seberapa sering mengatakan "tidak" untuk hal-hal yang sebenarnya membahagiakan, karena selalu berkata "ya" pada hal-hal lain.

7. Anda lebih menghargai waktu
Dengan mengetahui hal-hal apa saja yang harus dijawab "ya" dan "tidak", Anda akan lebih bisa menghargai waktu diri sendiri. Menyisihkan waktu melakukan hal-hal yang benar-benar penting dan disukai. (liputan6.com)

Kokologi atau Ngetest bersama Delta FM kali ini adalah tentang berikut ini :

Ibarat Benua, Anda Termasuk Benua Apa?

 

Silahkan Anda coba langsung saja kokologi di bawah ini :

Nama anak menjadi sebuah ujian bagi orangtua di fase akhir kehamilan. Sering kali mereka kesulitan mencari nama-nama unik yang berbeda dari orang kebanyakan. Bahkan banyak kata-kata yang berasal dari bahasa asing menjadi pilihan pertama orangtua untuk diberikan oleh anaknya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Inilah alasan mengapa orangtua enggan memberi nama populer bagi anak.

Kebiasaan orang Indonesia yang memiliki nama yang berasal dari keluarga sudah mendarah daging sejak zaman dahulu. Bahkan pada daerah tertentu, penambahan kata suku dibelakang nama, atau nama ayah di belakang nama menjadi praktik yang lazim digunakan untuk memberi nama anak yang baru lahir. Nama anak juga dihasilkan dari musyawarah keluarga, yang akhirnya memberikan sebuah nama dengan makna doa yang sangat besar.

Profesor Jane Pilcher, sosiologis dari Universitas Leicester menyatakan, nama merupakan hal utama dari identitas manusia dan berhubungan dengan berbagai identitas resmi yang penting di mata negara. Nama juga menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya karena menentukan apa jenis kelamin, kebudayaan yang kita terima, dan lain sebagainya. seperti yang disarikan dari bbc.com, Sealsa (10/1/2017).

 
 

 

Ternyata, sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat oleh Universitas Negeri San Diego pada tahun 2010 menyatakan bahwa nama populer sudah mulai menghilan pada tahun 1950. Hal ini terus berlanjut hingga saat ini, karena para orangtua memilih untuk memberikan nama yang unik bagi anaknya.

Perubahan kebiasaan memberikan nama anak juga terjadi di belahan dunia lain, Jepang misalnya. Hasil penelitian terbaru mengungkapkan, banyak nama unik yang diberikan pada anak pada tahun 2004 hingga 2013. Para orangtua di Jepang menggabungkan berbagai karakter kanji yang tidak umum pengucapannya, namun tetap menggunakan nama belakang di bagian belakang nama anak.

Alasan sebenarnya adalah

Jadi sebenarnya apa alasan yang menyebabkan orangtua enggan memberikan nama populer? Jawabannya adalah pergeseran kebudayaan dari hidup berkelompok, menjadi lebih individualis. Pergeseran ini terjadi di semua aspek kehidupan, mulai dari kehidupan bermasyarakat, penggunaan media sosial, hingga merembet ke permasalahan nama anak.

Orangtua berharap anaknya mampu untuk berdiri dan tampil beda diantara orang lain melalui nama yang mereka berikan. Hal ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan, bahkan kepercayaan gender melalui nama juga mulai menghilang. Banyaknya nama anak laki-laki yang digunakan untuk perempuan dan kebalikannya menjadi bukti, nama anak diberikan karena keunikannya.

Sedangkan di Indonesia, banyak nama-nama unik yang bermunculan hingga saat ini karena pengaruh kebudayaan asing yang kuat dalam kebudayaannya. Mulai dari kebudayaan India, Arab, Amerika, hingga pengaruh kebudayaan daerah yang tersebar kuat di Indonesia. Tentunya hal ini menjadi kemudahan bagi orang Indonesia untuk memilih nama populer dari berbagai kebudayaan untuk anak.

Beberapa kejadian serius di Indonesia juga menjadi pemicu orangtua enggan memberikan nama umum pada anaknya. Salah satu contohnya adalah kejadian Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI, yang memaksa rakyat Minangkabau menanggalkan nama adat dan menggunakan nama populer sehingga mereka tidak dicap sebagai pengkhianat negara.

Tentunya, nama anak mempengaruhi kehidupan hingga akhir hayat serta mempengaruhi persepsi orang lain yang memandang kita. Disarankan untuk memberikan nama anak bukan hanya faktor keunikannya saja, namun melalui makna, dan bagaimana masyarakat nantinya menerima nama baru ini sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. (liputan6.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net