Lifestyle

Reuni merupakan ajang untuk melepas rasa rindu dan menyambung silaturahmi dengan teman-teman semasa sekolah. Namun, di saat bersamaan, orang kerap merasa cemas ketika akan menghadiri acara temu kangen ini.

“Saat waktu acara reuni semakin dekat, kecemasan akan pandangan orang lain terhadap dirinya mulai muncul. Apakah teman-temannya akan melihat kesuksesan dia sekarang atau tetap mengingat kejadian memalukan yang pernah dialaminya saat sekolah dulu,” ujar penulis buku dan artikel, Debby Mayne, dalam artikelnya di thespruce.com, Kamis (1/12/2016).

Agar rasa cemas tersebut berkurang, imbuh dia, ingat saja bahwa beberapa tahun telah terlewati sejak masa sekolah berlangsung. Teman-teman pun seharusnya sudah menjadi orang dewasa yang tak lagi mengingat hal-hal buruk di masa muda.

“Jika mereka tak bisa melakukannya, maka itu masalah mereka, bukan Anda. Apapun yang terjadi, datanglah ke reuni dengan rasa percaya diri dan bersenang-senang di sana,” ucap Mayne.

Supaya reuni benar-benar menjadi acara yang menyenangkan, beberapa hal pun bisa dilakukan. Mulai dari melakukan persiapan sebelum acara hingga menampilkan sikap ramah saat event berlangsung.

Sebelum acara

Beberapa hari menjelang acara reuni, tak ada salahnya membuka kembali buku tahunan. Penulis dan pemilik situs web BRETTnews, Brett Leveridge, mengatakan bahwa hal ini penting dilakukan untuk mengingat lagi wajah dan nama kawan-kawan lama.

Selain itu, menjalin koneksi dengan teman sekolah di media sosial juga sebaiknya dilakukan sebelum hari H. Dari situ, bisa diketahui informasi mendasar yang perlu diketahui dari mereka, seperti pekerjaan dan keluarga.

“Pengetahuan tentang kehidupan teman lama dapat membuat percakapan menjadi lebih mengalir saat bertemu. Pertanyaan basa-basi yang terkadang membuat canggung pun dapat dihindari,” kata Leveridge, dalam artikelnya di guideposts.org pada Senin (8/8/2016).

Saran lain yang diberikan Leveridge saat akan menghadiri reuni adalah mengajak teman terdekat untuk datang bersama. Pergi bersama sahabat mampu mengurangi rasa gugup yang kerap muncul ketika ingin menyapa kawan lama.

Satu lagi, gunakan pakaian yang pantas. Tak perlu baju mahal atau bermerek, pastikan saja pakaian itu bersih dan tidak ada robekan. Sebaiknya hindari pula baju yang terlalu terbuka atau kurang sopan.

Saat acara

Ketika acara yang telah dinanti-nanti akhirnya tiba, jangan biarkan rasa cemas menjadi penghalang untuk menikmati reuni dan bergaul dengan teman lama. Datanglah dengan wajah penuh senyum.

“Tak ada yang dapat menutupi kegelisahan sebaik wajah ramah,” ujar Mayne, di sumber sama.

Dia melanjutkan, sikap ramah juga bisa ditunjukkan dengan menghampiri dan membuka percakapan dengan kawan yang sedang terlihat sendiri. Jangan batasi pergaulan hanya dengan teman-teman terdekat saja.

Ketika perbincangan sudah terjalin, sebisa mungkin hindari topik-topik yang dapat membuat teman tersinggung. Mayne mengatakan, jangan bertanya atau beri komentar mengenai berat badan, kerutan di kulit, uban, atau hal-hal lain yang berkaitan dengan penuaan.

Jauhi pula pembicaraan mengenai kejadian memalukan yang pernah dialami teman di masa lalu. Apalagi bila dia datang bersama pasangan atau orang lain yang tidak berasal dari sekolah tersebut.

“Tampilkan etika mulai dari saat datang hingga pergi meninggalkan acara,” ucap Mayne.

Hal lain yang tak boleh ketinggalan dilakukan adalah berfoto bersama. Selain untuk mengabadikan momen yang bisa dikenang pada hari tua, kegiatan ini juga mampu mencairkan suasana dan menambah kebersamaan. (kompas.com)

Kebahagiaan di tempat kerja tak melulu soal jumlah penghasilan dan bonus. Sebab, lingkungan kerja yang membuat Anda bahagia dan berkembang juga menjadi faktor yang membangun loyalitas serta dedikasi karyawan.

Namun, Anda tidak selalu mendapatkan apa yang Anda inginkan, bukan? Sebab, tak menutup kemungkinan Anda terjebak dalam sebuah lingkungan kerja yang tidak membuat diri Anda menjadi lebih baik, secara personal ataupun profesional.

Timothy Butler, Director of Career Development Programs at Harvard Business School dan penulis buku bertajuk Getting Unstuck:How Dead Ends Become New Paths, percaya bahwa ada makna lebih luas dari pernyataan “Saya tidak lagi bahagia di tempat bekerja,”.

Butler yang fokus mempelajari struktur karakter dan pribadi sekaligus kepuasaan kerja mengatakan, untuk memahami rasa tidak bahagia Anda, maka Anda harus berupaya mengenali ketidanyamanan tersebut.

Dia menambahkan ketika kondisi Anda sedang tidak bahagia terhadap pekerjaan, maka sebaiknya jangan tergesa-gesa dan berusaha menyelesaikan masalah.

Amati rasa tidak bahagia Anda dan jangan mencoba mencari jalan keluar terburu-buru. Sebaliknya, mulai rencanakan langkah Anda selanjutnya.

“Rasa tidak bahagia hadir menjadi sebuah ‘peringatan’ dan pengingat,” ujar Butler.

“Ada bagian diri Anda yang mungkin tidak Anda dengar sehingga membutuhkan perhatian lebih,” imbuhnya.

Cita-cita tertunda, kata Butler, sering memicu banyak karyawan mendadak merasakan tidak bahagia dalam bekerja.

Butler menganjurkan untuk kontemplasi diri dan dengarkan sanubari lebih  fokus. Sebab, ada-ada hal dalam diri yang bisa jadi tanpa Anda sadari telah dengan sengaja Anda lupakan dan tidak ingin Anda eksplorasi lebih jauh.

Namun, jika rasa tidak bahagia itu masih terus mendera setelah Anda melakukan ragam upaya untuk mengubahnya, maka bisa jadi ini sinyal bahwa Anda lebih dibutuhkan dan dihargai di tempat lain. (kompas.com)

Tingkat kecerdasan (IQ) seseorang memang dipengaruhi oleh faktor genetik. Khusus dalam peran ayah, ternyata interaksi dengan bayi sejak awal kehidupan ikut memengaruhi kecerdasan.

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari Imperial College London, diketahui bahwa para ayah yang ikut mengurus anak dan punya interaksi positif dengan bayinya akan meningkatkan perkembangan kecerdasan buah hatinya.

Interaksi positif yang dimaksudkan adalah seberapa berkualitas interaksi antara ayah dan anak. Misalnya saja memberi perhatian penuh saat bermain dengan bayinya, membacakan buku, atau mengajak bernyanyi.

"Pesan dari hasil studi ini jelas, ayah yang memiliki bayi harus aktif berinteraksi. Bahkan meski masih bayi, bermain akan berpengaruh positif bagi kecerdasannya," kata Paul Ramchandani, ketua peneliti.

Hasil penelitian itu dilakukan dengan mengamati interaksi 128 ayah dengan bayinya yang berusia 3 bulan. Kemudian bayi-bayi itu dites tingkat kecerdasannya saat mereka sudah masuk usia balita. Bayi yang punya interaksi positif dengan ayahnya, memiliki skor IQ lebih tinggi.

Walau penelitian itu bersifat observasi dan tidak diketahui apakah ada kaitan langsung antara tingkat IQ dan interaksi positif bersama ayah, tetapi hasilnya jelas berbeda dibanding dengan bayi yang ayahnya kurang terlibat dalam pola asuh anak.

Ini bukan penelitian pertama dalam topik yang sama. Studi tahun 2002 juga menunjukkan hasil yang mirip. Anak-anak yang ayahnya terlibat dalam tumbuh kembang anak ternyata memiliki prestasi akademik lebih baik. Mereka juga lebih menikmati sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler.

Secara umum, keterlibatan ayah dalam pola asuh bayi juga berpengaruh pada kepuasan hidup anak. Menurut sebuah studi tahun 2012, anak perempuan yang dekat dengan ayahnya memiliki tingkat kepercayaan diri dan kepuasan hidup lebih baik. (kompas.com)

Tak masalah bila Anda sesekali mengeluh sakit di media sosial. Namun, bila dilakukan terus-menerus, bisa jadi Anda mengidap gangguan. Psikolog Universitas Tarumanegara, Untung Subroto Dharmawan, mengatakan gangguan dengan tipikal seperti itu disebut factitious disorder (gangguan buatan) by internet.

“Mereka adalah orang-orang yang suka mengeluh sakit di media sosial untuk mendapatkan perhatian orang lain,” kata Untung kepada Kompas Lifestyle di SCBD, Jakarta, Senin (15/5/2017).

Sejarah gangguan buatan ini dulu sering dialami oleh pasien di rumah sakit. Mereka berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian medis. Namun, factitious disorder saat ini merambah ke media sosial. Pengguna sering mengeluh sakit di media sosial untuk mendapatkan perhatian.

“Kenapa bisa begitu, bisa jadi dulunya dia ditelantarkan oleh orangtua atau guru,” kata dia.

Untung mengatakan gangguan semacam itu bukan tanpa masalah. Mereka tidak akan bisa menghadapi realitas dan cenderung mengurung diri. “Bisa jadi tidak berinteraksi dengan orang di dunia nyata,” kata dia. (kompas.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net