Lifestyle



Banyak orang yang mengandalkan alarm dari jam untuk bangun pagi. Tapi, ketika alarm berbunyi, banyak yang tergoda untuk menekan tombol snooze atau tunda, dan kembali tidur selama beberapa menit. Ternyata, kebiasaan ini merugikan kesehatan, karena menyebabkan tubuh dan otak kita menjadi bingung. Pakar dari Sleep Clinic Services, layanan untuk mengatasi masalah tidur dari Australia, mengatakan kebiasaan menekan tombol "snooze" dapat menyebabkan bertambahnya periode inersia. Tidur inersia merupakan perasaan grogi atau pusing yang diderita banyak orang ketika bangun tidur. Kondisi ini biasanya terjadi 15 hingga 30 menit karena pikiran dan tubuh secara bertahap "bangun" dan menjadi lebih waspada. Nah, kebiasaan menunda bangun dan memilih tidur lagi selama beberapa menit setelah alarm berbunyi akan membuat rasa pusing itu bertahan lebih lama, bahkan sampai berjam-jam kemudian.

Efeknya sudah bisa diduga, kita akan menjadi lemas, sulit konsentrasi, bahkan terus mengantuk. Mengelabui Ketika kita menekan tombol snooze dan kembali tidur, hormon akan dilepaskan dan mengelabui tubuh kita dan mengira kita akan kembali tidur nyenyak. Jika kita tiba-tiba bangun setelah 10 menit dari keadaan tidur nyenyak, ini dapat membuat kita bangun dengan kondisi kurang segar karena tidur inersia.

"Kita semua melakukan kesalahan karena menekan ‘snooze’ pada alarm untuk kembali tidur 10 menit saja," kata pakar kesehatan tidur Neil Robinson. Ada beberapa tips untuk mengembalikan kesegaran setelah tidur, salah satunya adalah langsung bangun setelah alarm berbunyi dan menikmati secangkir kopi. Bila sehari-hari kita selalu mengantuk dan lemas, mungkin jam tidur kita memang kurang atau tanpa disadari kita mengorok saat tidur dan mengalami sleep apnea. Cari tahu apa penyebab kita jarang merasa segar setelah bangun pagi. (KOMPAS.com)

Tidur yang cukup adalah kunci bagi kesehatan fisik dan mental yang baik. Lebih jauh lagi, sebuah riset terbaru membuktikan, tidur yang cukup juga penting untuk kehidupan sosial. Sebuah riset yang dilakukan peneliti dari University of California, Berkeley mengungkap kesimpulan itu, seperti dilansir laman the Independent. Disimpulkan, orang yang kurang tidur cenderung merasa kesepian, dan kurang mampu berinteraksi dengan orang lain. Hasil riset yang dipublikasikan dalam the Journal Nature nature ini juga mengungkapkan, mereka yang tak cukup tidur mungkin juga terlihat kurang menarik secara sosial bagi orang lain. Inilah yang semakin memperburuk perasaaan isolasi sosial yang ada.

"Kami manusia adalah makhluk sosial. Namun kurang tidur dapat mengubah kita menjadi makhluk anti sosial," kata Matthew Walker, salah satu periset dalam penelitian ini. Menurut dia, semakin sedikit tidur yang kita dapatkan, semakin sedikit keinginan kita untuk melakukan interaksi sosial. Pada gilirannya, orang lain menganggap kita orang yang tak menarik secara sosial yang semakin memperburuk isolasi sosial. Walker menambahkan, rutinitas ini dapat berkembang menjadi "lingkaran setan" yang dapat menciptakan dan memperburuk perasaan kesepian. Kesepian telah menjadi epidemi yang memberi dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Selain penyalahgunaan alkohol dan narkoba, kesepian telah dikaitkan dengan gangguan makan, depresi, dan kematian dini. "Ini mungkin bukan kebetulan beberapa dekade terakhir terjadi peningkatan dalam kesepian dan penurunan dramatis dalam durasi tidur," kata Eti Ben Simon, selaku pemimpin riset.

Menurut Walker, tubuh tak dirancang untuk mendukung kondisi secara biologis untuk mengatasi penyakit, seperti kelaparan. Inilah yang menyebabkan kurang tidur sangat mempengaruhi kondisi kesehatan fisik dan mental. Dalam riset ini, periset juga menemukan efek buruk dari kurang tidur bahkan terjadi hanya satu malam setelah mengalami tidur yang buruk. Sebaliknya, untuk mendapatkan hal positif dari tidur yang berkualitas juga bisa dirasakan hanya satu malam setelah mendapatkan tidur yang berkualitas. "Ini semua menjadi pertanda baik jika kita tidur 7-9 jam setiap malam, tetapi tidak begitu baik jika kita tidur kurang dari waktu tersebut," tambah Walker. (KOMPAS.com)

Olahraga adalah kebutuhan. Jika kita tidak memenuhi kebutuhan ini, tubuh yang akan memintanya sendiri. Tubuh akan memberikan berbagai macam tanda agar kita segera bergerak. Apa saja tanda kurang olahraga yang diberikan tubuh? Ini ulasannya.
1. Selalu lelah

Jika kamu merasa lelah sepanjang waktu, meski sudah makan dan tidur yang cukup, mungkin yang kamu butuhkan adalah olahraga. Merasa selalu lelah kok malah butuh olahraga? Apa tidak salah? Tenang dulu. Sebuah penelitian dari University of Georgia menunjukan bahwa hanya berjalan 20 menit dan latihan aerobik intensitas sedang sebanyak 3 kali seminggu dengan rutin bisa meningkatkan energi hingga 20 persen. Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukan bahwa olahraga yang teratur akan berpengaruh langsung pada sistem saraf pusat untuk memerangi kelelahan bahkan bisa sebanyak 65 persen Olahraga yang teratur meningkatkan fungsi sistem kardiovaskular, yang memungkinkan kita memiliki daya tahan lebih besar sepanjang hari. Ketika kita lebih mudah melakukan aktivitas sehari-hari, kita akan memiliki sisa energi lebih banyak dan tidak mudah merasa lelah. Ternyata, semakin sering berolahraga membuat mitokondria (bagian yang memproduksi energi dalam sel) semakin banyak. Ini artinya, tubuh akan memiliki cadangan energi yang kian banyak juga, sehingga tak cepat lelah.

2. Badan terasa pegal-pegal

Pernahkah kamu merasa saat bangun di pagi hari, tiba-tiba punggung belakang, lutut, atau bahu terasa sakit? Padahal tidak habis melakukan aktivitas yang berat. Nah jika ya, ini juga bisa jadi tanda kurang olahraga. Terkadang rasa pegal-pegal ini membuat orang menunda untuk berolahraga. Padahal sebaliknya, ketika ini terjadi tubuh memberikan sinyal untuk digerakkan. Dengan menggerakan otot-otot, persendian akan rileks dan darah mengalir lebih lancar ke seluruh bagian tubuh, sehingga akan mengurangi rasa sakit. Bahkan orang yang memiliki rasa pegal dan sakit jangka panjang seperti rheumatoid arthritis, bisa meringankan gejala yang dirasakan jika melakukan olahraga teratur.

3. Merasa stres yang bertubi-tubi

Apakah akhir-akhir ini kamu merasa selalu stres? Memikirkan banyak hal, cemas, takut terhadap hal ini atau hal itu? Hati-hati ini juga bisa jadi tanda tubuh sangat butuh olahraga. Dengan berolahraga kita akan merasa lebih tenang dan senang. Olahraga meningkatkan kadar endorfin di dalam tubuh. Endorfin adalah hormon alami yang akan memberikan efek rasa senang dan tenang. Jadi, setelah olahraga suasana hati akan jauh lebih baik karena adanya hormon tersebut.

4. Tak pernah merasa kenyang

Mungkin kamu mengira dengan tidak berolahraga tubuh akan mengirit energi agar tidak mudah lapar? Justru sebaliknya, ketika kamu merasa terus lapar, ini bisa jadi tanda kurang olahraga. Jadi, ketika kurang olahraga tubuh akan merasa lelah. Nah, tubuh yang lelah sebenarnya bisa menghasilkan lebih banyak hormon ghrelin (hormon yang mengatur sensor lapar). Banyaknya hormon ini menyebabkan kita ingin makan lebih banyak sepanjang hari. Olahraga adalah penekan nafsu makan yang baik. Orang yang berolahraga secara teratur akan bisa mengendalikan hormon tersebut lebih baik, sehingga perasaan lapar tetap terjaga.

5. Konstipasi atau sembelit

Kamu sering mengalami sembelit atau konstipasi? Bisa jadi ini tanda kurang berolahraga, bukan hanya kurang makan makanan berserat saja. Olahraga membantu melancarkan gerakan sistem pencernaan. Ketika seseorang kurang olahraga, proses pencernaan tubuhnya juga akan ikut melambat. Apalagi orang yang memiliki banyak lemak viseral (lemak abdominal atau lemak perut) dan mengalami buang air besar yang tidak teratur, risiko terkena kanker kolorektal akan semakin meningkat.

6. Berat badan makin naik

Apakah berat badanmu semakin meningkat di atas timbangan? Atau ketika melihat cermin kamu merasa ada perubahan fisik? Nah, ini juga bisa jadi tanda kurang berolahraga. Bahkan atlet profesional yang berhenti latihan selama 5 minggu saja bisa mengalami peningkatan persen lemak dalam tubuhnya sebanyak 12 persen. Alhasil peningkatan lemak ini juga meningkatkan berat badan dan lingkar pinggang, dilansir dalam Journal of Strength and Conditioning Research tahun 2012. Hal lain juga ditunjukan oleh penelitian dalam PLOS one tahun 2016 yang melibatkan atlet taekwondo. Atlet yang tidak melakukan latihan selama 8 minggu juga mengalami peningkatan lemak tubuh sebanyak 21,3 persen, peningkatan berat badan 2,12 persen, dan bahkan mengalami penurunan massa otot. Nah, apalagi jika sudah lebih dari 8 minggu tidak pernah berolahraga. Dengan perilaku makan yang sama atau bahkan semakin banyak, aktivitas fisik yang semakin berkurang, tidak heran tubuh akan menumpuk kalori dari makanan dan meningkatkan berat badan. Ini wajar, ketika tubuh tidak berusaha membakar kalori yang masuk, alhasil semua menumpuk.

7. Kesulitan tidur

Jika kamu merasa sulit tidur khususnya pada malam hari, ini bisa jadi sebuah tanda perlu berolahraga. Dilansir dalam laman WebMD, sebuah penelitian menunjukan bahwa orang yang melakukan olahraga 30-40 menit 4 kali dalam seminggu mengalami peningkatkan kualitas tidur, rasa kantuk di siang hari berkurang, dan merasa lebih nyaman keesokan harinya saat beraktivitas. Olahraga dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Ini akan memperkuat ritme sirkadian, yakni proses biologis tubuh yang bisa menentukan siklus tidur seseorang. Olahraga membuat orang bisa membawa kantuknya pada malam hari secara penuh, dan kembali segar di keesokan harinya. (KOMPAS.com)

Menurut hasil penelitian Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) dari Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2013, sekitar 12 juta penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun mengalami diabetes tipe 2. Tapi hanya 26 persen saja yang sudah terdiagnosis, sedangkan sisanya tidak menyadari dirinya mengidap diabetes tipe 2. Menurut Federasi Diabetes Internasional pada 2015, jumlah diabetesi di Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun. Namun, hanya separuh dari mereka yang menyadari kondisinya. Angka ini bukanlah angka yang sedikit. Lantas, kenapa banyak orang Indonesia yang mengalami diabetes? Beberapa hal ini mungkin bisa menjadi jawaban penyebab diabetes pada orang Indonesia.


1. Nasi sebagai makanan pokok

Nasi putih adalah makanan pokok orang Indonesia. Namun sayangnya, menurut riset terbaru nasi ternyata berisiko tinggi meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Sebuah penelitian menemukan bahwa kelompok yang mengonsumsi nasi putih lebih dari lima kali dalam sepekan berisiko 17 persen lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan kelompok yang hanya mengonsumsinya sekali sebulan.

Penelitian tersebut turut melaporkan bahwa risiko ini akan meningkat 10 persen pada orang yang setiap hari makan nasi putih dalam porsi besar. Keterkaitan ini ditemukan terutama pada orang-orang di Asia yang mengonsumsi nasi hingga 3-4 porsi sehari. Penelitian ini sebenarnya belum dapat membuktikan hubungan sebab dan akibat, melainkan hanya menunjukkan keterkaitan antara konsumsi nasi putih dengan diabetes. Namun setidaknya, penelitian ini dapat menjadi awalan untuk mulai hidup sehat dengan mengonsumsi bahan makanan yang mengandung biji-bijian utuh atau karbohidrat kompleks dibandingkan karbohidrat simpel.

2. Hobi ngeteh dan ngopi

Bukan teh atau kopi yang menjadi penyebab diabetes, namun gula yang kita masukkan ke dalam teh atau kopi yang meningkatkan risiko diabetes. Apalagi jika kita hobi ngeteh dan ngopi di sepanjang hari. Bukan hanya minuman, pemakaian gula juga sangat biasa pada makanan kita. Lihat saja aneka makanan ringan dan minuman tradisional yang dijajakan di jalanan atau di objek-objek wisata. Banyak sekali yang memakai gula untuk membuat rasanya menjadi nikmat. Perhitungan banyaknya asupan karbohidrat harian menjadi penting karena karbohidrat berlebih mempengaruhi gula darah lebih dari nutrisi lainnya. Sebenarnya, banyak tipe karbohidrat yang terkandung dalam makanan dan minuman. Gula adalah salah satunya. Gula itu sendiri banyak sekali jenisnya. Contoh yang paling sering dikonsumsi adalah gula pasir. Namun sejatinya, faktor penting dari keamanan konsumsi gula adalah seberapa banyak ia diasup. Baik gula pasir, gula batu ataupun jenis gula lainnya, jika dikonsumsi secara berlebihan maka tetap saja berisiko menuntun seseorang menuju kelebihan berat badan atau obesitas.

Pada akhirnya, kondisi tersebut berujung pada meningkatnya peluang terkena diabetes tipe 2. Tidak mengherankan jika konsumsi gula berlebihan bisa menjadi penyebab diabetes.

3. Malas bergerak

Orang Indonesia paling malas berjalan kaki. Setidaknya itulah temuan sejumlah ilmuwan Amerika Serikat yang mengkaji data ponsel dari ratusan ribu orang di seluruh dunia. Para peneliti Universitas Stanford menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang yang menggunakan Argus, aplikasi pemantau aktivitas, pada telepon seluler mereka. Hasilnya, warga Hong Kong menempati urutan teratas dalam daftar penduduk paling rajin berjalan kaki. Rata-rata publik Hong Kong berjalan kaki sebanyak 6.880 langkah setiap hari. Adapun penduduk paling malas berjalan kaki di dunia adalah orang Indonesia yang berada pada posisi terbawah dengan mencatat 3.513 langkah per hari.

Kamu pernah mendengar gaya hidup sedentari? Sedentari merupakan istilah medis yang digunakan untuk menyebut gaya hidup kurang gerak. Walau merasa nyaman melakukan aktivitas sambil duduk, tetapi sebenarnya ada ancaman tersembunyi bagi kesehatan. Bila kamu kebanyakan duduk, maka penggunaan otot-otot besar di tubuh akan menurun. Akibatnya kebutuhan tubuh akan gula dan lemak menurun. Tubuh mengira kamu tidak perlu energi. Hal ini bisa berakibat pada penumpukan lemak, peningkatan kadar gula darah dan kolesterol. Lama kelamaan akan terjadi gangguan toleransi gula darah sehingga memicu penyakit diabetes. Sementara kadar kolesterol tinggi berisiko memicu penyakit jantung dan stroke. Jadi tidak mengherankan jika gaya hidup ini bisa menjadi penyebab diabetes. (KOMPAS.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM