Lifestyle



Banyak orang tidak suka membuang waktu dengan rapat yang tidak penting. Tapi, Elon Musk, pendiri dan CEO SpaceX, memiliki strategi agar rapat tetap berjalan, menurut mantan karyawan SpaceX yang ditulis di Quora, situs berbagi pengetahuan.

Mantan karyawannya menceritakan kembali ketika Musk menegur salah satu peserta rapat.

“Salah satu teman dekat saya mulai bekerja di sana (SpaceX) beberapa tahun sebelum saya. Dia bekerja (hingga sekarang) dalam kelompok analisis, sehingga rapat kurang berguna kalau Anda hanya melewati dan bertanya kepada seseorang sebuah pertanyaan. Dia menceritakan kejadiaan saat itu:

“Elon kepada peserta rapat: “Anda tidak mengatakan apapun. Mengapa Anda di sini?”

Mantan karyawan tersebut kemudian menjelaskan rasionalitas Musk membuat pernyataan blak-blakan tersebut.

“Itu mungkin agak kurang sopan (blak-blakan), tapi itu masuk akal,” tulisnya. “Jangan ikut dalam sebuah rapat kecuali ada tujuan tertentu; apakah untuk membuat keputusan atau mendorong agar bekerja lebih keras. Dalam banyak kasus, sebuah email sudah cukup.”

Musk bukan satu-satunya CEO yang melakukan rapat secara efisien. Jeff Bezos, pendiri dan CEO Amazon, menggunakan “two-pizza-rule” untuk mengurangi rapat yang tak efisien.

Idenya sederhana: rapat seharusnya cukup dengan dua pizza untuk dimakan seluruh peserta rapat. Jika tidak, rapat mungkin terlalu besar dan tidak produktif.

Bezos juga mengatakan pada Fortune tahun 2012 bahwa beberapa rapat dengan eksekutif senior dimulai dengan keheningan membaca, di mana para peserta biasanya memegang catatan di tangan, mencatat beberapa hal dan menganalisis masalah sebelum memulai diskusi.

Oleh karena itu, katanya, dia segera membuat perhatian semua orang—karena tidak ada yang suka menghabiskan waktu dalam ruang rapat. (kompas.com)

Gaya hidup yang tidak sehat, misalnya kebanyakan duduk dan kurang bergerak, dapat berakibat fatal. Para pakar bahkan menyebut kebanyakan duduk sama berbahayanya dengan menjadi pecandu rokok bagi kesehatan.

Hitunglah berapa banyak Anda duduk dalam sehari. Biasanya lebih dari 10 jam waktu kita sehari-hari dilakukan untuk duduk. Bekerja, menonton televisi, ngobrol dengan teman, sampai perjalanan ke kantor pun dilakukan dengan duduk. Bahkan, kalau perlu kita pun lebih memilih olahraga sambil duduk.

Kebanyakan duduk membuat sirkulasi darah tidak lancar, pemecahan lemak lebih lambat, dan juga otot terasa pegal, kaku dan kram. Efek buruk kebanyakan duduk pada kesehatan memang baru terlihat dalam jangka panjang.

Para peneliti memasang alat pelacak kebugaran pada 8.000 orang paruh baya dan memantau pergerakan mereka selama empat tahun—di mana setiap orang memakai sebuah pelacak setidaknya empat hari dalam sepekan. Setiap kematian terpantau dari tahun 2009-2015.

Rata-rata para peserta kurang aktif bergerak selama 12 jam dari 16 jam waktu yang mereka miliki setelah bangun tidur. Nah, mereka yang tidak aktif selama 13 jam dalam sehari lebih beresiko berumur lebih pendek gara-gara penyakit yang terkait dengan kebanyakan duduk. Misalnya saja diabetes, penyakit jantung, atau pun hipertensi.

Kabar baiknya, orang yang setiap setengah jam sekali bergerak memiliki resiko kematian lebih rendah.

Peneliti mengatakan, menggerakan tubuh setiap setengah jam dapat membantu mengurangi kerusakan yang diakibatkan kebiasaan banyak duduk yang dilakukan sepanjang hari. (kompas.com)

Batik sudah menjadi bagian kehidupan berbusana masyarakat Indonesia. Batik juga diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia yang harus di jaga kelestariannya. Berbagai motif batik pun bermunculan seiring perjalanan zaman.

Dari sekian banyak motif batik yang ada saat ini, batik khas Jogja (Yogyakarta) dan Solo masih menjadi incaran para pecinta batik. Lalu, dimanakah perbedaan motif batik dari dua kota yang merupakan pecahan kerajaan Mataram tersebut?

Menurut Alfa Fabela Priyatmono, Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, Solo, ada perbedaan signifikan antara motif batik dari kota Jogja dan Solo.

"Dalam motif batik tradisional, perbedaan signifikan dari batik Jogja dan Solo terletak pada latar belakang motif dan hiasan motif. Batik jogja cenderung menggunakan background motif warna putih sedangkan Solo cenderung ke warna coklat atau gelap."

Walau begitu, banyak juga batik Jogja yang memiliki warna dasar hitam atau gelap. Namun warna hitam Jogja cenderung kebiruan, sementara warna gelap batik Solo kebanyakan hitam kecoklatan.
Kemudian, perbedaan kedua adalah pada motif. Meskipun masih sama-sama mempertahankan desain-desain baku dari keraton, ada hal yang berbeda. "Misalnya pada motif parang, Jogja hanya parang saja dengan latar belakang putih, tetapi parang Solo di sisinya akan ada tambahan gambar," kata Alfa saat ditemui di kediamannya di Laweyan, Selasa (3/10/2017).

Selain itu, motif parang Solo arahnya dari kiri atas ke kanan bawah. Sedangkan motif parang Jogja menggunakan jalur sebaliknya yaitu dari kanan atas ke kiri bawah.

Menurut Alfa, perkembangan batik saat ini sangat dinamis namun masih juga mempertahankan motif-motif baku dari keraton, baik Keraton Jogja dan Solo, karena keduanya berasal dari satu kerajaan.
Sementara itu, menurut Tiwi Bina Affanti, Kepala Program Studi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret Surakarta, salah satu perbedaan motif batik dari Jogja dan Solo adalah dari tekstur garis.

"Corak garis di Jogja cenderung lebih besar dan tebal, di Solo lebih kecil dan tipis,"kata Tiwi, pada hari Selasa (3/10/2017).

Tiwi menjelaskan munculnya perbedaan tersebut tidak lepas dari sejarah kedua keraton, Solo dan Jogja, sejak Perjanjian Giyanti pada masa Kerjaaan Mataram Islam.

"Perkembangan motif batik sejak masa tersebut sangat terlihat untuk memunculkan perbedaan dari kedua kota tersebut. Batik Solo muncul istilah Latar Cemeng (pelataran hitam) dan di jogja Latar Pethak (pelataran putih)," katanya.
Sedangkan menurut beberapa pengamat batik, bila dicermati, kebanyakan batik Jogja memiliki kesan gagah dan bernilai tinggi (adiluhung) karena motif yang tegas, sedangkan batik-batik Solo menonjolkan keindahan (edi peni) dengan motif yang lebih halus. (kompas.com)

"Dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, insiden stroke meningkat sighnifikan pada orang dewasa muda," kata ahli saraf neurologis Diana Greene-Chandos, M.D., direktur perawatan neurokologis di The Ohio State University Wexner Medical Center.

"Angka rawat inap stroke iskemik (berhentinya aliran darah pada otak akibat gumpalan darah) meningkat baik untuk pria dan wanita di bawah usia 45 tahun. Di rentang usia 18 sampai 34, tingkat rawat inap untuk stroke iskemik akut meningkat 31,8 persen, sementara di rentang usia 35 sampai 44 jumlahnya meningkat 30 persen."

Dr. Greene-Chandos menilai, kebanyakan orang dewasa muda tidak menganggap skrining kesehatan seperti tes kolesterol, tekanan darah, dan gula darah adalah hal yang perlu dilakukan sampai mereka beranjak lebih tua. Padahal, skrining rutin tersebut dapat memberi gambaran tentang risiko stroke.

Selain itu, adanya peningkatan besar pada faktor risiko stroke umum seperti hipertensi, kelainan lipid, diabetes, penggunaan tembakau, dan obesitas, juga menjadi penyebab meningkatnya kasus stroke di usia muda. Studi di JAMA Neurology menemukan bahwa gangguan lipid-juga dikenal sebagai kolesterol tinggi-meningkat paling banyak, dari sekitar 12 persen menjadi 21 persen.

Ironisnya, risiko stroke justru menurun untuk orang dewasa yang lebih tua, menurut Koto Ishida, M.D., direktur Pusat Stroke Komprehensif NYU Langone. Menurut studi JAMA Neurology, tingkat rawat inap stroke pada orang berusia 55 sampai 64 benar-benar menurun 2,2 persen. Itu karena faktor risiko seperti kolesterol dan tekanan darah biasanya dikelola lebih baik pada usia di atas 50 tahun.

"Orang dewasa yang lebih tua lebih peduli tentang masalah semacam ini, jadi mereka akan melakukan skrining," katanya. "Tapi seseorang di usia dua puluhan biasanya tidak memikirkan sesuatu seperti tekanan darah kecuali sampai benar-benar ada masalah."

Sakit kepala hebat bisa menjadi gejala stroke ringan

FAST (Face, Arm, Speech, Time) biasanya menjadi tanda awal adanya serangan storke. Satu sisi tubuh akan mengalami efek saat stroke saat terjadi di otak, membuat wajah seseorang menjadi tidak simetris, tak mampu mengangkat lengan di satu sisi, ucapan samar atau bingung, dan mungkin mempengaruhi kemampuan ingatan dan verbal.

Namun, kini tidak semua stroke terlihat seperti insiden FAST yang klasik, kata Dr. Greene-Chandos. Orang dewasa yang lebih tua cenderung terpengaruh pada pembuluh darah yang lebih besar, membuat mereka cenderung memiliki "gejala stroke besar" seperti wajah yang terkulai.

Sedangkan orang yang lebih muda cenderung mengalami penggumpalan darah dari area tubuh yang lain dan gumpalan darah itu dapat bergerak melalui pembuluh darah yang lebih kecil. Dr Greene-Chandos mengatakan, perbedaan inilah yang sering menyebabkan gejala stroke pada dewasa muda kerap berbeda, lebih sering berupa mati rasa, kesemutan, atau sakit kepala.

Dr Greene-Chandos menambahkan bahwa orang yang memiliki stroke cenderung mengalami sakit kepala hebat yang melemahkan, dan bahwa orang-orang yang menderita migrain biasa sebenarnya berisiko lebih besar terkena stroke. Bahkan cegukan yang tidak bisa diatasi juga bisa menjadi gejala stroke, catatnya.

"Anda bisa saja mengalami stroke ringan dan tidak menyadarinya," kata Dr. Greene-Chandos. "Anda bahkan bisa mengalami banyak stroke dan tidak memiliki gejala fisik. Tapi seiring berjalannya waktu, perubahan otak bisa mempengaruhi ingatan dan ucapan Anda secara signifikan. Jadi, lakukan cek kesehatan rutin, walaupun Anda berpikir masih terlalu muda dan Anda sehat.”

Dr. Greene-Chandos mencatat, jangan berpikir bahwa stroke hanya untuk orang tua. Hal itu kini tidak berlaku lagi. Menerapkan gaya hidup sehat, seperti konsumsi makanan dengan gizi seimbang serta olahraga rutin, adalah langkah sederhana dan terbaik dalam pencegahan stroke. (kompas.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM