Delta Music Incubator



Jakarta, Indonesia – Selama 100 tahun, Chevrolet merupakan bagian penting dari industri otomotif. Tak hanya dikenal sebagai pencipta truk-truk andal, Chevrolet terus berkembang dengan mempertahankan ciri khas dan ketangguhannya. Dengan teknologi baru dan pemahaman kuat akan keinginan pelanggan, truk pick up Chevrolet terus berevolusi untuk mendukung perkembangan bisnis serta gaya hidup para penggunanya.

Hari ini, Chevrolet kembali berpartisipasi pada ajang motor show terbesar, Indonesia International Motor Show (IIMS) di Hall A3, JIEXPO Kemayoran. Pembukaan IIMS 2018, sekaligus menjadi momentum bagi Chevrolet untuk merayakan 100 tahun kendaraan truk dengan mempersembahkan Colorado Centennial Edition 2018.

Sumito Ishii, Vice President of Vehicle Sales, Service and Marketing, GM Southeast Asia, yang turut hadir membuka rangkaian acara Chevrolet di IIMS 2018 mengungkapkan, “Indonesia merupakan salah satu pasar strategis bagi GM Asia Tenggara. Peningkatan penjualan retail sebesar 35% di Indonesia, menggambarkan bahwa produk-produk kami diterima dengan antusias oleh pelanggan Indonesia. Kali ini, sebagai bagian dari perayaan 100 tahun pick up trucks Chevrolet di Asia Tenggara, kami mempersembahkan Colorado Centennial Edition 2018 bagi pecinta Chevrolet di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia dalam jumlah sangat terbatas.”

Sebagai bagian perayaan 100 Tahun Chevrolet Trucks dan bertepatan dengan pembukaan IIMS 2018, Chevrolet Indonesia mengajak rekan-rekan media dan pengunjung untuk menyaksikan perkembangan sejarah Chevrolet sejak tahun 1918 melalui rangkaian peristiwa documenter yang eksklusif dan parade model yang mewakili era kehadiran pick-up truck Chevrolet dari berbagai era.

Chevrolet Colorado Centennial 2018
Colorado Centennial Edition 2018 hadir dengan elemen desain yang terinspirasi oleh pickup truck Chevrolet dari tahun ke tahun. Edisi ini menampilkan heritage bowtie emblem eksklusif dan 100 year badge terinspirasi dari warna dan garis desain yang diusung oleh truk Chevrolet generasi awal. Setiap model Colorado Centennial edisi terbatas ini akan dilengkapi dengan nomor registrasi unik yang terdapat pada pintu kendaraan.

Chevrolet Colorado Centennial Edition 2018 memadukan desain kokoh dengan performa tangguh. Dilengkapi dengan fitur teknologi dan konektivitas terdepan, termasuk generasi terbaru Chevrolet MyLink dan sistem pengenalan suara Siri Eyes Free.

Chevrolet Colorado Centennial Edition 2018 dilengkapi dengan mesin 2.8L Duramax empat silinder VGT yang mengsilkan torsi sebesar 500 Nm. Selain badge heritage yang menjadi ciri khas Chevrolet yang terdapat di handle pintu bagian dalam, tampilan eksterior Colorado Centennial Edition 2018 juga diperkuat dengan stiker unik pada kap mesin, roda 18-inci dan fender flare.

Chevrolet Colorado Centennial 2018 akan tersedia hanya 25 unit, ekslusif untuk pelanggan Indonesia, dengan harga Rp 555.000.000,- (OTR di Jadetabek).

“Kami merayakan pencapaian ini dengan mempersembahkan pick-up truck ikonik terbaru, Chevrolet Colorado Centennial 2018, yang juga merupakan wujud persembahan kami pada merek dan pelanggan setia Chevrolet, yang telah mempercayakan dan memilih Chevrolet sebagai kendaraan mereka”, tambah Sumito Ishii.

Selain itu, Chevrolet Indonesia juga mengajak masyarakat untuk datang ke IIMS 2018 dan berkunjung booth Chevrolet di Hall A3 JIEXPO, Kemayoran untuk dapat langsung menyaksikan dan produk-produk Chevrolet. Para pelanggan juga dapat menikmati program Easy Ownership untuk kendaraan Chevrolet, dengan pilihan Easy Finacing atau Easy Maintenance. Selama IIMS 2018, pelanggan yang membeli kendaraan Chevrolet juga berkesempatan mendapatkan kaca film ekslusif dari VKool.

# # #

Program percepatan penerbitan sertifikat tanah oleh Presiden Jokowi dengan tambahan sembilan juta sertifikat di masa akhir jabatannya, menurut seorang pegiat pertanahan seharusnya dilanjutkan pula dengan program pendistribusian tanah kepada petani atau dulu disebut land reform.

Apabila program reforma agraria ini segera dilakukan pemerintahan Joko Widodo, menurut Sekjen Konsorsium Pembaharuan Agraria, Dewi Kartika, hal itu akan mampu mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi dan konflik pertanahan di Indonesia.

"Tidak cuma mendaftarkan tanah-tanah yang sudah bersertifikat, tetapi termasuk tanah-tanah yang belum bersertifikat yang selama ini pengakuan masyarakat, petani, masyarakat adat, belum diafirmasi oleh pemerintah," kata Dewi Sartika kepada BBC Indonesia, Senin (26/03).

Karena itulah, lanjutnya, setelah pendaftaran tanah selesai, pemerintah semestinya melakukan pemeriksaan kemungkinan adanya ketimpangan, tumpang tindih klaim dan konflik atas tanah, ditata ulang, baru kemudian dilegalkan dan diakui haknya serta diterbitkan sertifikatnya.

"Jadi PTSL (percepatan proses sertifikasi tanah) akan menjadi instrumen pelengkap atau tahap akhir dari reforma agraria," tandas Dewi.

Apabila sudah memenuhi kriteria reforma agraria, lanjutnya, pemerintah harus menyiapkan program lanjutan. "Yaitu program pendukung setelah tanah itu didistribusikan dan pasca sertifikat tanah itu diberikan kepada penerima manfaat reforma agraria," paparnya.

Dia kemudian mencontohkan, bisa berupa modal, pendidikan, bibit, pembangunan infrastruktur dan fasilitas sosial yang memudahkan petani. "Jadi, kalau hanya bagi-bagi sertifikat, itulah tidak bisa disebut otomatis reforma agraria."

Dihubungi secara terpisah, Kepala bagian humas Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Horison Mocodompis, mengatakan pihaknya sudah melaksanakan reforma agraria secara berbarengan dengan PTSL.

"PTSL itu merupakan bagian reformas agraria. Lihat saja di RPJM, di mana semuanya prioritas, dan kami melaksanakannya secara simultan," kata Horison saat dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (26/03).

Dengan melakukan reforma agraria, lanjutnya, pihaknya otomatis melakukan PTSL sekaligus melakukan land reform atau redistribusi tanah.

"Jadi, program redistribusi tanah tetap jalan dan ada targetnya," tandasnya.

Dikutip dari artikel yang ditulis Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KPA), Eko Sulistyo, di situs resmi KPA, realisasi fisik pensertifikatan redistribusi tanah tahun anggaran 2015 sampai dengan Agustus 2017 sejumlah 245.097 bidang.

Mengutip Buku Realisasi Kegiatan Legalisasi Aset dan Redristribusi Tanah Tahun 2015-2017 dari BPN, sampai Agustus 2017, pemerintah sudah menyerahkan 2.889.993 sertifikat tanah.

Tetapi sebetulnya mengapa pemerintah menempuh percepatan proses sertifikasi tanah atau resminya disebut pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL)? Dan mengapa menimbulkan pro-kontra sehingga dikritik politikus Amien Rais? Berikut penjelasannya:

Amien rais sebut 'bagi-bagi sertifikat sebagai kebohongan'
Ambisi Presiden Joko Widodo agar seluruh bidang tanah di Indonesia sudah terdaftar atau bersertifikat pada 2025, sempat menuai kontroversi, utamanya saat politikus Amien Rais menyebutnya sebagai "kebohongan".

"Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74% negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?" kata Amien Rais di sebuah acara diskusi di Bandung, Minggu (18/03).

Tudingan ini telah dibantah langsung oleh Presiden Joko Widodo, tetapi sempat menimbulkan tanggapan keras dari Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan.

"Dari dulu juga sertifikat itu dilakuin, tetapi prosesnya panjang, lama, dan sedikit. Sekarang prosesnya cepat dan banyak. Salahnya di mana? Jadi asbun (asal bunyi) aja," kata Luhut.

Dia meminta agar Amien Rais "jangan banyak bicara". "Saya pikir, kita enggak boleh asal ngomong, apalagi udah senior-senior. Dia kan 70 tahun, saya juga 71 tahun," kata Luhut.

Kubu Amien Rais kemudian balik mengkritik langkah Luhut. Wakil Ketua Umum PAN Taufik Kurniawan mengatakan sebaiknya Luhut tidak tersinggung dengan kritik Amien Rais tersebut.

"Menurut saya enggak usah terlalu baper ya, enggak usah terlalu kemudian saling mengancam," tegasnya.

Perbedaan PTSL dan sertifikasi tanah per orangan

Target Presiden Jokowi untuk operasi nasional agraria, atau Prona, bagi kalangan tidak mampu dan menengah, yang sebagian dibiayai dari APBN, diharapkan agar seluruh bidang tanah di Indonesia sudah terdaftar atau bersertifikat pada 2025.

Melalui program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL), Kementerian Agaria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN) ditugasi mempercepat proses sertifikasi tanah secara nasional.

"Kita punya kurang-lebih 126 juta bidang tanah yang harus didaftarkan. Sampai posisi 2017, kita baru mendaftarkan 51 juta. Kalau posisi 2016, 46 juta," ungkap Kepala bagian humas Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Horison Mocodompis.

"Nah sisanya sekitar 76 juta, itu yang harus dilakukan percepatan," kata Horison.

Berbeda dengan sistem PTSL, proses sertifikasi yang dilakukan orang per orang atau pribadi akan memakan waktu yang lebih lama. "Itu dia melakukan upaya sendiri untuk melakukan konfirmasi, validasi, itu 'kan membutuhkan waktu," ujarnya.

"Dengan PTSL, itu berjalan sistematis. Karena dia disisir (oleh aparatur desa) di satu desa itu secara lengkap. Kalau semua pihak mengetahui, terkoordinasi (dengan pemda), maka proses yang membutuhkan waktu itu bisa dipangkas," papar Horison

Apakah PTSL gratis?
Program PTSL dilakukan secara serentak di Indonesia dan diberikan kepada masyarakat dengan golongan ekonomi lemah hingga menengah, utamanya mereka yang memiliki penghasilan tidak tetap.

"Gratis itu istilah lain subsidi pemerintah," ungkap Horison, kepala bagian humas Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Menurutnya, biayanya ada, tetapi disubsidi pemerintah antara lain melalui APBN.

"Biaya pengukuran, pendaftaran, biaya pemeriksaan tanah itu disubsidi oleh negara. Makanya masyarakat mengistilahkan dengan gratis," jelasnya.

Adapun biaya yang berkaitan dengan, misalnya, alat bukti perolehan, patok batas, meterai dan BPHTB/PPh menjadi tanggung jawab peserta.

Sejumlah laporan menyebutkan, salah-satu kendala di balik program PTSL ini adalah biaya, karena tidak semua dibiayai dari APBN, tetapi juga dari APBD, investor melalui program tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) dan lain-lain

Apa syarat yuridis agar sertifikat bisa diterbitkan?
Dalam PTSL, sebelum diterbitkan sertifikat, status yuridis sebuah bidang tanah dapat dikelompokkan menjadi K1, K2, K3 dan K4, kata Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan A. Djalil, Jum'at (23/03).

Menurutnya, K1 artinya tanah tersebut statusnya clean dan clear sehingga dapat diterbitkan sertifkat. Adapun K2 artinya status tanah tersebut sengketa sehingga hanya dicatat dalam buku tanah.

Sementara K3 artinya status subyek tanahnya belum memenuhi syarat sehingga hanya dicatat dalam daftar tanah, dan K4 artinya tanah tersebut sudah memiliki sertifikat namun perlu perbaikan informasi pada peta.

"Hanya untuk kriteria K1 saja yang bisa diterbitkan sertifikatnya. Apabila nanti status tanah yang masih K2, K3, K4 sudah dapat terpenuhi syaratnya, sertifikatnya bisa kita berikan," papar Sofyan. (bbcindonesia.com)

Dalam rangka ulang tahun Delta FM ke-31, kita mau ajak Sobat Delta untuk ikut sebuah campaign mengenai healthy life dengan cara yang super fun. So kalo kamu ngaku sebagai young adult yang super kece, ikutan yuk DELTA DANCE WALK bareng geng, temen-temen kantor, keluarga atau komunitas kamu.

Hari Minggu, 22 April 2018, mulai jam 06:00 WIB pagi di Car Free Day  Sudirman -Jakarta, Lapangan Merdeka - Medan dan Car Free Day Sudirman - Makassar. Dafatrin diri kamu sekarang karena acara ini 100% gratis!

LET'S BE A PART OF THE BIGGEST MOVEMENT FOR YOUNG ADULTS IN INDONESIA

Kabar stasiun luar angkasa China, Tiangong-1 yang akan jatuh cukup meresahkan masyarakat Indonesia. Pasalnya, benda yang berukuran setara dengan bus tingkat tersebut berpeluang jatuh di wilayah Indonesia.

Meski begitu, prediksi jatuhnya stasiun luar angkasa tersebut baru akan terjadi pada bulan April. Hal ini disampaikan oleh Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN "Masih ada waktu cukup lama untuk memprediksi kapan jatuhnya (serpihan Tiangong 1).

Perkiraan kami antara awal April sampai pertengahan April," kata Thomas saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/03/2018). Perkiraan waktu yang masih lama ini bagi Marufin Sudibyo, seorang astronom amatir, cukup menarik. Itu karena sebelum waktu tersebut benda tersebut akan terlihat di langit Indonesia, bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang.

"Pada rentang waktu 18 hingga 24 Maret 2018 TU, Tiangong-1 diprakirakan akan melintas di atas Indonesia terutama pada saat fajar dan senja," ungkap Marufin saat dihubungi Kompas.com, Senin (19/03/2018).

"Sehingga memungkinkan melihat saat-saat terakhir Tiangong-1 di langit. Tentu saja sepanjang cuaca cerah," sambungnya. Marufin juga menjelaskan setidaknya ada 3 kota di Indonesia yang menjadi tempat kita bisa menyaksikan Tiangong-1. Ketiga kota tersebut adalah Jakarta, Makassar, dan Sorong.

Di Jakarta sendiri, Tiangong-1 terlihat pada 19, 20, 22, dan 23 Maret 2018. Durasi terlihatnya cukup singkat hanya sekitar 1 hingga 4 menit saja. Sedangkan di Makassar, Tiangong-1 kan terlihat pada 20 dan 22 Maret 2018. Di Sorong, stasiun luar angkasa tersebut terlihat pada 19 hingga 24 Maret 2018. (kompas.com)

Page 1 of 115

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM