Music



Sesudah berkali-kali mangkir dan di tengah kontroversi perburuan polisi terhadap pembuat satire tentang Setya Novanto, Ketua DPR itu akhirnya hadir sebagai saksi kasus mega korupsi e-KTP.
Ia tiba di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (3/11), untuk persidangan kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) yang dinilai merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun.
Sepanjang persidangan, Setya Novanto menyampaikan bantahan keterlibatannya dalam proyek senilai Rp5,9 triliun itu, yang bertentangan dengan pernyataan para terdakwa dan saksi lain di persidangan-persidangan sebelumnya.

Sidang dimulai pulul 10.00, dan sebagian besar jawaban Setya Novanto terhadap pertanyaan majelis hakim yang dipimpin Benny Butar-Butar, berkisar pada kata tidak: tidak tahu, tidak kenal, tidak benar.
Mengutip berbagai kesaksian sebelumnya, hakim Benny Butar-Butar bertanya: "Informasinya Anda ikut dalam arus perputaran uang (dalam kasus e-KTP ini). bagaimana keterangan Anda?"
Setya Novanto menjawab, "Itu adalah fitnah yang sangat keji, yang selalu dilakukan oleh pihak-pihak yang berusaha untuk menyudutkan saya."
"Artinya tidak benar?" tanya hakim lagi.
"Tidak benar," kata Setya Novanbto.
Hakim lalu bergeser pada hubungannya dengan Andy Agustinus alias Andy Narogong, yang sudah divonis bersalah.

Sebelumnya, Setya Novanto mengaku hanya dua kali bertemu Andy Narogong, pada tahun 2009, saat Andy menawarkan pembuatan kaos pada Partai Golkar terkait pemilihan presiden.
Tapi harganya tidak cocok," kata Setya Novanto, sehingga tidak tercapai transaksi.
Betapa pun, kesaksian di persidangan sebelumnya mengungkapkan hal lain.
Andi Agustinus alias Andi Narogong, pengusaha rekanan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang mengurusi proyek e-KTP, disebutkan banyak bertemu Novanto, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR.
Pertemuan bertujuan agar Novanto memastikan Fraksi Partai Golkar mendukung anggaran proyek e-KTP itu. Jaksa menyebut Setya Novanto direncanakan menerima 11% dari anggaran atau Rp574 miliar.
"Jadi menurut informasi-informasi itu, hubungan Anda dengan Andy (Narogong) lebih dari itu. Disebutkan, Andy (Narogong) itu adalah orang Anda. Benar?" tanya hakim pula.
Dan Setya Novanto kembali melontarkan kalimat yang sama: "Tidak benar, yang mulia."
"Ya itu hak Anda untuk menjawab (seperti itu), karena Anda sudah disumpah," seorang hakim mengatakan.
Setya Novanto juga mengaku tidak tahu keterlibatan keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi, yang merupakan pemilik PT Murakabi Sejahtera, yang ikut dalam konsorsium proyek e-KTP.
"Tidak tahu dan tidak benar yang mulia," katanya.

Bantahan lain yang disampaikan Seya Novanto adalah terkait pesan kepada Diah Anggraini, seorang pejabat Kementerian Dalam Degeri.
Dalam sidang sebelumnya disebut bahwa Setya Novanto meminta Diah Anggraini untuk mengatakan kepada Dirjen Dukcapil, Irman, agar ketika ditanyai KPK, mengaku tidak kenal dengannya.
Juga tentang pertemuan di Hotel Gran Melia, Jakarta yang dihadiri Diah, Irman, Sugiharto dan Andi Narogong, yang menurut saksi lain dihadiri Setya Novanto.
"Tidak benar. Seperti dalam BAP dan dalam sidang yang lalu," kata Novanto.
Setya Novanto juga mengaku tidak kenal dengan sejumlah pengusaha yang terlibat dalam proyek ini: Paulus Tanos, Anang Sugiana Sudihardjo, dan Johannes Marliem, yang tewas beberapa waktu lalu.
Dalam beberapa sidang dan kesempatan lain, mereka mengaku kenal dan pernah bertemu dengan Setya Novanto.
Sebelumnya, melalui pra-peradilan, Setya Novanto berhasil menjegal langkah KPK yang menetapkannya sebagai tersangka kasus itu.
Dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, akhir September lalu hakim Cepi Iskandar memutus bahwa langkah KPK dalam menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka kasus dugaan korupsi E-KTP, adalah tidak sah.
Namun KPK mash berusaha untuk menjeratnya lagi. (bbcindonesia.com)

Menteri Pertahanan AS menyampaikan permohonan maaf kepada Menhan RI, Ryamizard Ryacudu, atas insiden ditolaknya Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat hendak terbang ke Amerika.

Permohonan maaf itu disampaikan Menhan AS, James Mattis, Senin (23/10) siang secara khusus di Clark, Filipina, sebelum ia bertemu para Menhan ASEAN yang sedang melakukan pertemuan tahunan.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan pemerintah Indonesia menganggap permintaan maaf Amerika Serikat tidak cukup untuk menyelesaikan insiden pencekalan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Retno berkata, AS harus menjelaskan duduk perkara tersebut secara rinci. "Yang kami tetap minta adalah penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi," kata Retno, Senin (23/10).

Retno menyatakan hal itu usai bertemu Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Erin Elizabeth McKee pagi tadi. Mckee datang untuk menjelaskan pencekalan terhadap Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
"Masalah ini sangat penting dan kami mencoba terus meminta dengan tegas agar AS segera memberi penjelasan," ujar Retno.
Sejak hari Minggu kemarin, Retno mengaku telah berkoordinasi dengan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Budi Bowoleksono.

Usai pertemuan singkat dengan Retno, Erin kembali mengungkapkan permintaan maaf pemerintah AS terhadap insiden yang menunda keberangkatan Gatot ke Washington DC, Sabtu lalu.
"Kami sangat menyesalkan ketidaknyamanan akibat insiden tersebut dan kami meminta maaf. Saya sampaikan maaf kepada Menlu Retno," ujar Mckee kepada pers.

Mckee menuturkan, Kedutaan Besar AS bertemu Retno untuk mengafirmasi hubungan bilateral AS dan Indonesia yang sangat strategis. Menurutnya, hubungan kedua negara sangat vital, dari sektor perekonomian hingga keamanan.
Adapun, Mckee menyatakan pihaknya telah menyelesaikan persoalan pencekalan terhadap Gatot. "Jenderal Gatot dapat berangkat, tidak ada hambatan lagi, dan AS akan menyambut keikutsertaannya di konferensi yang digagas Jenderal Joseph Dunford," ujarnya.
Setelah bertemu Retno, Mckee akan memastikan lembaganya memfasilitasi komunikasi antara Gatot dan Dunford. (bbcindonesia.com)

Johannes Marliem, yang dikabarkan tewas di Amerika Serikat, pernah mengaku memiliki rekaman yang dapat menjerat pelaku lain dalam kasus e-KTP.
"Saksi (Johannes Marliem) diduga mengetahui pengaturan korupsi di proyek ini (e-KTP)," kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/08).
Kepada Koran Tempo, awal Juli lalu, Johannes Marliem mengaku menyimpan rekaman seluruh isi pembicaraan dengan beberapa orang yang disebutnya "terlibat sejak pembahasan proyek e_KTP".

KPK telah meminta keterangan Johannes sebanyak dua kali di Singapura dan Amerika Serikat, sehingga kabar tewasnya yang bersangkutan tidak akan mempengaruhi penyidikan kasus tersebut.
"Proses penyidikan terus berjalan," kata Febri Diansyah. Lagipula, lanjutnya, KPK tidak akan mengandalkan kesaksian Marliem semata untuk menjerat sejumlah orang yang telah menjadi tersangka.
Sampai Sabtu (12/08) petang, belum ada konfirmasi dari aparat hukum di Amerika Serikat dan otoritas terkait di Indonesia.

Kepada sejumlah media secara terpisah, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Budi Bowoleksono, belum dapat memberikan konfirmasi tentang kabar kematian Johannes Marliem.
Pihaknya masih mendalami apakah Johannes bunuh diri atau dibunuh, antara lain tentang status kewarganegaraan yang bersangkutan, kata Budi Bowoleksono, Jumat (11/08).
Di tempat terpisah, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pihaknya akan mengecek kebenaran kabar tersebut.
"Soal Johannes, saya akan cek dulu ke Dubes (RI di AS)," kata Menlu Retno kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/08).

Namun demikian, menurut Direktur Jenderal Imigrasi Ronny F Sompie, kepada Detikcom, Johannes Marliem pernah menggunakan paspor Indonesia saat melakukan perjalanan ke Tokyo Jepang, Agustus tahun lalu.
KPK melalui juru bicaranya, Febri Diansyah juga mengaku belum mendapatkan informasi rinci tentang kabar kematian Marliem. "Kami belum dapat info rinci karena ini terjadi di Amerika," kata Febri.
Informasi kematian Johannes Marliem beredar sejak Jumat (11/08) siang, dengan dikaitkan dengan tewasnya seorang pria di sebuah rumah di Los Angeles, California, AS.
Sejumlah media di AS memberitakan peristiwa tersebut, tetapi tidak jelas apa penyebab kematian pria tersebut, apakah bunuh diri atau tertembak.
Apa peran Johannes Marliem?
Dalam kasus e-KTP, seperti dilaporkan Tempo, namanya disebut sebanyak 25 kali oleh jaksa penuntut KPK dalam sidang-sidang perkara tersebut.

Pada persidangan dua pejabat Kemendagri, Irwan dan Sugiharto, nama Marliem sering diungkap para saksi sebagai pengusaha. Bersama Andi Agustinus alias Andi Narogong (kini terpidana kasus e-KTP), Mariem turut mengatur proyek e-KTP.
Andi Narogong disebutkan bekerja sama dengan Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto (tersangka kasus e-KTP, dan kini Ketua DPR) pada 2011, untuk menggolkan proyek tersebut.
Baik Andi maupun Setya membantah terlibat perkara ini. Setya juga mengklaim tidak mengenal Narogong dan Marliem.
Seperti dilaporkan Tempo, seperti terungkap dalam persidangan, Johannes Marliem disebutkan aktif menghadiri pertemuan membahas proyek e-KTP sejak awal. Namun demikian, dia belum pernah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.

Mariem membantah keterangan para saksi yang menyebut dirinya terlibat dalam kasus e-KTP. Dia juga membantah bahwa dirinya telah menyetor uang kepada para tersangka.
Dia juga membantah meninggalkan Indonesia saat proyek e-KTP berakhir. Dia mengaku telah lama menetap di AS sejak proyek ini belum dimulai.
Sejumlah laporan menyebutkan, Johannes Marliem adalah Direktur Biomorf Lone LLC Amerika Serikat. Perusahaan inilah -menurut KPK- mengelola automated finger print identification system (AFIS) merk L-1 pada proyek e-KTP.
Kasus dugaan korupsi e-KTP telah menyeret sejumlah politikus di DPR, termasuk Ketua DPR Setya Novanto. KPK telah mennyatakan Setya sebagai tersangka dalam kasus ini.
Setya Novanto menurut jaksa KPK telah menerima fee dalam proyek ini senilai Rp574,2 miliar. Setya sendiri telah membantah segala tuduhan terhadap dirinya. (bbcindonesia.com)

Sidang kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi pada Taylor Swift masih berlanjut. Dalam kesaksian di hari ke-tiga persidangan melawan tergugat David Mueller, Swift mengaku ketakutan saat kejadian pelecehan itu terjadi padanya di Denver pada 2013 lalu.

"Itu jelas sebuah rabaan, rabaan yang sangat lama," kata Swift dalam persidangan, seperti diberitakan Reuters. "Itu sangat disengaja. Tangan dia (David Mueller) memegang bokong bawah saya. Saya merasakan dia menggenggam bagian itu melalui bawah dress saya,"

Sidang kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan presenter radio David Mueller telah dimulai sejak Selasa (8/8) lalu.

Sidang ini merupakan kelanjutan dari gugatan yang dilayangkan Swift atas tindakan yang diklaim dilakukan oleh Mueller dalam acara jumpa fan sebelum konser pelantun Red itu di Denver, Juni 2013.

Dalam gugatannya, Swift mengaku mengalami pelecehan oleh Mueller yang saat itu ikut dalam acara foto bersama dengan Swift dan kekasihnya. Akibat tudingan Swift, Mueller dipecat dari pekerjaannya.

Mueller membantah tudingan melakukan pelecehan dalam sidang di hari pertama. Di hari ke-dua (9/8), ibunda Taylor Swift, Andrea Smith, menyebut sang putri menceritakan kejadian tersebut dan sakit hati karenanya.

Swift juga menyebut dalam kesaksiannya, sebelum berfoto, Mueller dan kekasihnya sempat minum cocktails.

Serta ketika ditanya pengacara Mueller, Gabriel McFarland, alasan pengawal Swift tidak menghentikan tindakan sang presenter radio, pelantun Out of The Woods itu mengatakan tidak ada yang menyangka insiden itu akan terjadi.

"Tidak ada yang dapat mengira kejadian itu terjadi. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Itu sangat menakutkan dan mengejutkan," kata Swift.

"Dia menaruh tangannya di bokong saya. Saya tahu itu tindakan Mueller," kata Swift dengan cepat ketika McFarland menyebut peluang pria lain yang melakukan tindakan tidak senonoh itu.

Tudingan Swift dikuatkan oleh kesaksian fotografernya, Stephanie Simbeck.

Simbeck menyebut ketika akan difoto, Mueller tampak menggerakkan tangannya ke bagian belakang pinggul Swift dan sesaat kemudian sang penyanyi menggeser pinggulnya menjauh dari Mueller.

"Dari lensa kamera, saya melihat Mueller menaruh tangannya ke bokong Swift. Swift sudah berusaha menjauh," kata Simbeck.

"Ketika Mueller dan kekasihnya pergi, Swift berkata kencang 'Bro! Pria itu meraba bokong saya!' dan saya meresponnya 'Saya tahu itu. Saya punya fotonya'. Lalu kami mengecek, dan Swift menemukan tangan Mueller tengah merabanya," lanjut Simbeck.

Saat ditanya alasan Swift tidak langsung melaporkan kepada manajernya begitu kejadian terjadi, mantan Harry Styles itu menyebut ketika itu masih banyak fan dan ia tidak ingin mengacaukan suasana tersebut.

"Saya hanya tidak ingin bertemu Mueller lagi. Dan kini ketika bertahun-tahun setelahnya, dan saya pun disalahkan atas ketidakberuntungan dalam hidupnya," kata Swift saat ditanya tudingan membuat tuduhan palsu oleh Mueller yang menyebabkan sang artis radio kehilangan pekerjaan.

Di sisi lain, manajer tempat Mueller bekerja di KYGO, Robert Call ikut memberikan pernyataan. Call menyebut Mueller dipecat dua hari setelah Swift memberikan aduan kejadian tersebut.

Call menyebut Swift mengadu kepada agensi yang jadi penghubung dia dan radio, Frank Bell. Call mengakui sudah lama mengenal Bell dan tidak meragukan rekannya itu.

Call mengakui ia menginterogasi Mueller soal kejadian tersebut. Mueller awalnya menolak mengakui, namun ketika ditunjukkan foto dia bersama Swift, Mueller tidak bisa berkutik.

"Mueller mengatakan, 'Yah kalau itu terjadi, itu tidak sengaja'. Saya memecatnya karena tangan dia tidak seharusnya berada di situ." kata Call.  (cnnindonesia.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM