Music



Johannes Marliem, yang dikabarkan tewas di Amerika Serikat, pernah mengaku memiliki rekaman yang dapat menjerat pelaku lain dalam kasus e-KTP.
"Saksi (Johannes Marliem) diduga mengetahui pengaturan korupsi di proyek ini (e-KTP)," kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/08).
Kepada Koran Tempo, awal Juli lalu, Johannes Marliem mengaku menyimpan rekaman seluruh isi pembicaraan dengan beberapa orang yang disebutnya "terlibat sejak pembahasan proyek e_KTP".

KPK telah meminta keterangan Johannes sebanyak dua kali di Singapura dan Amerika Serikat, sehingga kabar tewasnya yang bersangkutan tidak akan mempengaruhi penyidikan kasus tersebut.
"Proses penyidikan terus berjalan," kata Febri Diansyah. Lagipula, lanjutnya, KPK tidak akan mengandalkan kesaksian Marliem semata untuk menjerat sejumlah orang yang telah menjadi tersangka.
Sampai Sabtu (12/08) petang, belum ada konfirmasi dari aparat hukum di Amerika Serikat dan otoritas terkait di Indonesia.

Kepada sejumlah media secara terpisah, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Budi Bowoleksono, belum dapat memberikan konfirmasi tentang kabar kematian Johannes Marliem.
Pihaknya masih mendalami apakah Johannes bunuh diri atau dibunuh, antara lain tentang status kewarganegaraan yang bersangkutan, kata Budi Bowoleksono, Jumat (11/08).
Di tempat terpisah, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pihaknya akan mengecek kebenaran kabar tersebut.
"Soal Johannes, saya akan cek dulu ke Dubes (RI di AS)," kata Menlu Retno kepada wartawan di Jakarta, Jumat (11/08).

Namun demikian, menurut Direktur Jenderal Imigrasi Ronny F Sompie, kepada Detikcom, Johannes Marliem pernah menggunakan paspor Indonesia saat melakukan perjalanan ke Tokyo Jepang, Agustus tahun lalu.
KPK melalui juru bicaranya, Febri Diansyah juga mengaku belum mendapatkan informasi rinci tentang kabar kematian Marliem. "Kami belum dapat info rinci karena ini terjadi di Amerika," kata Febri.
Informasi kematian Johannes Marliem beredar sejak Jumat (11/08) siang, dengan dikaitkan dengan tewasnya seorang pria di sebuah rumah di Los Angeles, California, AS.
Sejumlah media di AS memberitakan peristiwa tersebut, tetapi tidak jelas apa penyebab kematian pria tersebut, apakah bunuh diri atau tertembak.
Apa peran Johannes Marliem?
Dalam kasus e-KTP, seperti dilaporkan Tempo, namanya disebut sebanyak 25 kali oleh jaksa penuntut KPK dalam sidang-sidang perkara tersebut.

Pada persidangan dua pejabat Kemendagri, Irwan dan Sugiharto, nama Marliem sering diungkap para saksi sebagai pengusaha. Bersama Andi Agustinus alias Andi Narogong (kini terpidana kasus e-KTP), Mariem turut mengatur proyek e-KTP.
Andi Narogong disebutkan bekerja sama dengan Ketua Fraksi Partai Golkar Setya Novanto (tersangka kasus e-KTP, dan kini Ketua DPR) pada 2011, untuk menggolkan proyek tersebut.
Baik Andi maupun Setya membantah terlibat perkara ini. Setya juga mengklaim tidak mengenal Narogong dan Marliem.
Seperti dilaporkan Tempo, seperti terungkap dalam persidangan, Johannes Marliem disebutkan aktif menghadiri pertemuan membahas proyek e-KTP sejak awal. Namun demikian, dia belum pernah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan.

Mariem membantah keterangan para saksi yang menyebut dirinya terlibat dalam kasus e-KTP. Dia juga membantah bahwa dirinya telah menyetor uang kepada para tersangka.
Dia juga membantah meninggalkan Indonesia saat proyek e-KTP berakhir. Dia mengaku telah lama menetap di AS sejak proyek ini belum dimulai.
Sejumlah laporan menyebutkan, Johannes Marliem adalah Direktur Biomorf Lone LLC Amerika Serikat. Perusahaan inilah -menurut KPK- mengelola automated finger print identification system (AFIS) merk L-1 pada proyek e-KTP.
Kasus dugaan korupsi e-KTP telah menyeret sejumlah politikus di DPR, termasuk Ketua DPR Setya Novanto. KPK telah mennyatakan Setya sebagai tersangka dalam kasus ini.
Setya Novanto menurut jaksa KPK telah menerima fee dalam proyek ini senilai Rp574,2 miliar. Setya sendiri telah membantah segala tuduhan terhadap dirinya. (bbcindonesia.com)

Sidang kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi pada Taylor Swift masih berlanjut. Dalam kesaksian di hari ke-tiga persidangan melawan tergugat David Mueller, Swift mengaku ketakutan saat kejadian pelecehan itu terjadi padanya di Denver pada 2013 lalu.

"Itu jelas sebuah rabaan, rabaan yang sangat lama," kata Swift dalam persidangan, seperti diberitakan Reuters. "Itu sangat disengaja. Tangan dia (David Mueller) memegang bokong bawah saya. Saya merasakan dia menggenggam bagian itu melalui bawah dress saya,"

Sidang kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan presenter radio David Mueller telah dimulai sejak Selasa (8/8) lalu.

Sidang ini merupakan kelanjutan dari gugatan yang dilayangkan Swift atas tindakan yang diklaim dilakukan oleh Mueller dalam acara jumpa fan sebelum konser pelantun Red itu di Denver, Juni 2013.

Dalam gugatannya, Swift mengaku mengalami pelecehan oleh Mueller yang saat itu ikut dalam acara foto bersama dengan Swift dan kekasihnya. Akibat tudingan Swift, Mueller dipecat dari pekerjaannya.

Mueller membantah tudingan melakukan pelecehan dalam sidang di hari pertama. Di hari ke-dua (9/8), ibunda Taylor Swift, Andrea Smith, menyebut sang putri menceritakan kejadian tersebut dan sakit hati karenanya.

Swift juga menyebut dalam kesaksiannya, sebelum berfoto, Mueller dan kekasihnya sempat minum cocktails.

Serta ketika ditanya pengacara Mueller, Gabriel McFarland, alasan pengawal Swift tidak menghentikan tindakan sang presenter radio, pelantun Out of The Woods itu mengatakan tidak ada yang menyangka insiden itu akan terjadi.

"Tidak ada yang dapat mengira kejadian itu terjadi. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Itu sangat menakutkan dan mengejutkan," kata Swift.

"Dia menaruh tangannya di bokong saya. Saya tahu itu tindakan Mueller," kata Swift dengan cepat ketika McFarland menyebut peluang pria lain yang melakukan tindakan tidak senonoh itu.

Tudingan Swift dikuatkan oleh kesaksian fotografernya, Stephanie Simbeck.

Simbeck menyebut ketika akan difoto, Mueller tampak menggerakkan tangannya ke bagian belakang pinggul Swift dan sesaat kemudian sang penyanyi menggeser pinggulnya menjauh dari Mueller.

"Dari lensa kamera, saya melihat Mueller menaruh tangannya ke bokong Swift. Swift sudah berusaha menjauh," kata Simbeck.

"Ketika Mueller dan kekasihnya pergi, Swift berkata kencang 'Bro! Pria itu meraba bokong saya!' dan saya meresponnya 'Saya tahu itu. Saya punya fotonya'. Lalu kami mengecek, dan Swift menemukan tangan Mueller tengah merabanya," lanjut Simbeck.

Saat ditanya alasan Swift tidak langsung melaporkan kepada manajernya begitu kejadian terjadi, mantan Harry Styles itu menyebut ketika itu masih banyak fan dan ia tidak ingin mengacaukan suasana tersebut.

"Saya hanya tidak ingin bertemu Mueller lagi. Dan kini ketika bertahun-tahun setelahnya, dan saya pun disalahkan atas ketidakberuntungan dalam hidupnya," kata Swift saat ditanya tudingan membuat tuduhan palsu oleh Mueller yang menyebabkan sang artis radio kehilangan pekerjaan.

Di sisi lain, manajer tempat Mueller bekerja di KYGO, Robert Call ikut memberikan pernyataan. Call menyebut Mueller dipecat dua hari setelah Swift memberikan aduan kejadian tersebut.

Call menyebut Swift mengadu kepada agensi yang jadi penghubung dia dan radio, Frank Bell. Call mengakui sudah lama mengenal Bell dan tidak meragukan rekannya itu.

Call mengakui ia menginterogasi Mueller soal kejadian tersebut. Mueller awalnya menolak mengakui, namun ketika ditunjukkan foto dia bersama Swift, Mueller tidak bisa berkutik.

"Mueller mengatakan, 'Yah kalau itu terjadi, itu tidak sengaja'. Saya memecatnya karena tangan dia tidak seharusnya berada di situ." kata Call.  (cnnindonesia.com)

Mantan bomber Barcelona Patrick Kluivert disebut ikut andil dalam kasus pencurian lukisan karya Vincent van Gogh pada tahun 2002 silam.

Menurut laporan dari nltimes, awal keterlibatan Kluivert ini berawal dari ditangkapnya salah seorang terdakwa pencurian lukisan tersebut, Octave Durham. Pada film dokumenter yang dibuat oleh Brandpunt, Octave pun menceritakan bagaimana ia kemudian dibantu oleh Kluivert bersembunyi dari kejaran polisi Belanda.

Octave melakukan pencurian tersebut di museum Van Gogh di Amsterdam. Namun saat melarikan diri dari museum, topinya terjatuh di tempat kejadian perkara (TKP). Polisi akhirnya memulai penyelidikan dengan petunjuk topi tersebut.

Akhirnya, polisi menemukan DNA Octave dari topi tersebut. Mereka kemudian melacaknya ke apartemennya. Namun Octave bisa melarikan diri dan terbang ke Spanyol, tepatnya ke Barcelona.

Di sana Octave mengaku Kluivert mengundangnya ke rumahnya. Saat itu Kluivert sendiri memang tengah bermain bagi klub Barcelona.

"Patrick Kluivert adalah salah satu teman saya. Ia tinggal di lingkungan saya di Amsterdam. Saya bertemu dengan Patrick di Barcelona dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya sedang dicari-cari polisi."

"Saya jelas tidak mengatakan bahwa saya dicari karena kasus pencurian lukisan Van Gogh. Dan ia kemudian berkata: 'kenapa selama ini menginap di hotel? Kenapa tidak menginap di rumahku saja?'" aku Octave.

Pengakuan Octave itu kemudian dibantah dengan keras oleh Kluivert. Eks bomber AC Milan itu menyebut tudingan Octave itu cuma omong kosong belaka.

"Cerita bahwa saya menawarinya tempat tinggal benar-benar omong kosong. Bahkan, jika saja saya tahu tentang masa lalunya, saya jelas akan menjauh darinya," seru Kluivert pada The Telegraaf.

Kluivert sendiri kemudian akan mengajukan gugatan pada Octave. Hal tersebut ditegaskan oleh pengacaranya, Gerard Spong.

"Kluivert mungkin memang pernah bertemu dengan orang ini sekali, tapi tak pernah memberikannya tempat tinggal. Ia tak pernah berada di rumahnya. Ini adalah pernyataan yang sangat mencemarkan nama baik yang tidak akan tetap tanpa konsekuensi," tegasnya.

Namun pembuat film dokumenter tersebut, Vincent Verweij, malah mengaku tak meragukan pengakuan Octave. "Saya punya dua narasumber yang bisa mengkonfirmasikan klaim itu, termasuk salah satunya dari seorang anggota keluarga yang saya miliki rekamannya." (bola.net)

Para petinggi Barcelona nampaknya kembali membuat para socios mereka kecewa. Sudah berkali-kali para petinggi klub membuat keputusan yang kemudian membuat klub berada dalam masalah.

Kasus baru yang saat ini dihadapi Barcelona adalah penipuan investasi pembuatan kolumbarium (tempat abu jenazah) di area Camp Nou. Pada era Presiden Sandro Rosell, Barca mengumumkan akan membuat kolumbarium di stadion Barca itu.

Barca pun berkonsultasi kepada GIEM Sports yang kemudian membentuk perusahaan baru bernama Espai Memorial Barcelonista. Selain menginvestasikan enam juta euro, kedua perusahaan juga mencari investor baru untuk mendulang dana sebesar dua juta euro tambahan.

Pada akhirnya, ada 23 investor yang berpartisipasi dan terkumpul dana sebesar 1,3 juta euro. Tapi proyek ini gagal karena pihak klub tidak bisa memenuhi target investasi sebesar dua juta euro pada batas waktu 31 Mei 2011.

Masalahnya, ternyata pihak klub tidak mengembalikan uang para investor itu meski proyek tidak dijalankan. Menurut jaksa penuntut, Barca mendapatkan keuntungan setidaknya satu juta euro dari pengumpulan dana tersebut.  (bola.net)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net