Music News



Roger Federer mencatat sejumlah rekor fantastis usai meraih juara Wimbledon 2017. Ia menjadi pengoleksi gelar terbanyak sekaligus yang tertua sebagai juara dalam sejarah Wimbledon.

Memainkan laga final di Centre Court, All England Club, Minggu (16/7) waktu setempat, petenis asal Swiss itu menang tiga set langsung atas Cilic dengan skor 6-3, 6-1, dan 6-4.

Kemenangan itu menjadikan Federer sebagai pengoleksi trofi terbanyak Wimbledon dengan delapan gelar. Jumlah tersebut melewati rekor William Renshaw dan Pete Sampras (7 gelar).

Selain itu, Federer juga tercatat sebagai petenis tertua yang menjuarai Wimbledon dalam sejarah tenis era profesional. Pada Agustus mendatang usianya akan menginjak 36 tahun.

"Mencatat sejarah di Wimbledon sangat berarti bagi saya, sesederhana itu," kata Federer seperti dilansir ESPN.

"(Tapi) Cukup lucu karena saya tidak banyak memikirkannya sepanjang hari ini atau sepanjang upacara penyerahan trofi. Saya amat lega bisa memenangkan Wimbledon lagi karena ini merupakan sebuah jalan yang panjang."

Tahun lalu Federer sempat absen bermain enam bulan karena cedera dan memilih tak mengikuti Perancis Terbuka demi menyimpan tenaga agar tampil prima di Wimbledon.

Keputusan Federer terbilang tepat dan ia berhasil menjuarai Wimbledon 2017. Kemenangan ini juga merupakan gelar Grand Slam keduanya di tahun ini setelah memenangi Australia Terbuka di awal tahun 2017.

Federer nyaris tak percaya bisa meraih gelar Wimbledon lagi setelah menelan kekalahan menyakitkan dari Novak Djokovic pada edisi 2014 dan 2015.

"Anda pasti akan tertawa jika saya katakan akan memenangkan dua slam tahun ini. Orang tidak akan percaya dengan hal itu karena saya sendiri juga tak percaya bahwa saya akan memenangkan dua gelar pada tahun ini."

Dengan kesuksesan di Wimbledon, Federer makin memperlebar rekor jumlah gelar grand slam-nya menjadi total 19 titel. (cnnindonesia.com)

Francesco Totti akhirnya menyudahi perjalanan karier sepak bola. Penyerang berusia 40 tahun itu memutuskan pensiun sebagai pemain setelah setia mengabdi bersama tim senior AS Roma selama 24 tahun dalam 25 musim.

Debut menghadapi Brescia pada 28 Maret 1993 menjadi awal parjalanan karier Totti bersama Giallorissi. Ia mengakhiri kebersamaannya dengan Roma saat memainkan pekan terakhir Serie A 2016-2017 kontra Genoa, Minggu (28/5/2017).

Dalam perjalanan panjang karier tersebut, ada banyak hal yang berhasil diraih Totti. Berikut rangkuman pencapaian Il Capitano Roma tersebut dalam angka dirangkum dari berbagai sumber:

47.098 - menit yang telah dimainkan Totti bersama Roma di Serie A atau setara dengan 32 hari dan 17 jam nonstop.

8.827 - hari yang diarungi Totti bersama tim senior Roma sejak laga debut kontra Brescia pada 28 Maret 1993 hingga menghadapi Genoa pada Minggu, 28 Maret 2017.

785 - penampilan untuk Roma di semua ajang.

619 - pertandingan yang dimainkan Totti di Serie A. Ia berada di urutan ketiga dalam daftar pemilik penampilan terbanyak kasta tertinggi Liga Italia itu sepanjang masa di belakang Paolo Maldini (647) dan Gianluigi Buffon.

307 - gol yang dicetak Totti di semua kompetisi.

250 - gol yang dicetak Totti di Serie A. Dia mencetak gol pertamanya pada September 1994 saat Roma ditahan imbang Foggia dengan skor 1-1 di Stadion Olimpico. Totti hanya berjarak 24 gol dengan pemain tersubur Serie A sepanjang masa, Silvio Piola (274 gol), tetapi sebagai yang terbaik sebagai pemain yang hanya membela satu klub di Italia.

180 - dari 551 pemain yang kini tampil di Serie A musim 2016-2017 belum lahir saat Totti melakukan debut di Roma pada 28 Maret 1993.

91 - gol penalti yang dicetak Totti dari 113 kesempatan. Jumlah tersebut adalah rekor tertinggi di Italia.

46 - Catatan Totti mencetak dua gol/brace di ajang Serie A yang menjadi rekor tertinggi. Totti juga mencetak enam brace dalam turnamen di Italia (Coppa Italia dan Super Coppa Italia).

38 - usia Totti saat membobol gawang CSKA Moscow pada November 2014 yang membuatnya menjadi pencetak gol tertua dalam sejarah Liga Champions.

28 - Totti bergabung dengan Akademi AS Roma pada 1989. Sebelumnya, dia memperkuat tim muda Fortitudo Luditor (1983–1984), Smit Trastevere (1984–1986), dan Lodigiani (1986–1989). 

25 - musim yang dimainkan Totti bersama Roma di Serie A. Jumlah tersebut setara dengan legenda AC Milan, Paolo Maldini (25).

23 - musim Serie A dengan Totti selalu berhasil telah mencetak gol.

17 - pelatih yang pernah menangani Roma sejak Totti berada di dalam skuad. Mereka adalah Vujadin Boskov, Carlo Mazzone, Carlos Bianchi, Nils Liedholm, Ezio Sella, Zdenek Zeman, Fabio Capello, Cesare Prandelli, Rudi Voeller, Luigi Delneri, Bruno Conti, Luciano Spalletti (dua kali) Claudio Ranieri, Vincenzo Montella, Luis Enrique, Aurelio Andreazzoli, dan Rudi Garcia.

11 - gol yang dicetak Totti ke gawang Gianluigi Buffon dalam 28 pertandingan.

9 - gol yang dicetak Totti untuk tim nasional Italia dalam 58 penampilan. Totti mengakhiri karier bersama Gli Azzurri pada usia yang relatif muda, 30 tahun, seusai menjuarai Piala Dunia 2006.

4 - jumlah hat-trick yang pernah dicetak Totti di sepanjang karier. (Verdi Hendrawan)

(kompas.com)

Untuk memecahkan rekor marathon dengan waktu di bawah 2 jam, seorang pelari harus mengalahkan kecepatan pemegang rekor saat ini – 2:02:57 – hingga sekitar 3 persen. Berarti ia harus berlari 4 detik lebih cepat setiap kilometernya dibanding pemegang rekor tersebut. Bagi banyak orang, ini tantangan yang nyaris mustahil. Tapi Nike menganggapnya sebagai sesuatu yang layak dikejar.

Pelari yang bersedia menerima tantangan ini adalah Eliud Kipchoge, Lelisa Desisa dan Zersenay Tadese. Mereka akan berusaha memecahkan rekor itu pada hari Sabtu 6 Mei 2017 pukul 5.45 pagi waktu setempat, di sirkuit balap Monza, Italia.

Analisa dan pengujian berbulan-bulan yang dilakukan terhadap para pelari jarak jauh terbaik di dunia itu menunjukkan bahwa ketiganya secara fisik cocok melakukannya. Namun yang lebih menentukan dalam pemilihan, adalah fakta bahwa mereka secara alami memang lebih baik dibanding orang lain dalam hal berlari cepat untuk waktu yang lama.

Kebiasaan berlari yang merupakan tradisi sejak kecil serta pengalaman berlomba memberikan mereka keunggulan unik, sehingga pelatih dan ilmuwan yang tergabung dalam tim Breaking2 memilih mengoptimalkan kebiasaan mereka daripada menggantinya dengan bentuk latihan lain. Dengan cara ini, diharapkan mereka mampu memecahkan rekor yang belum pernah dimiliki seorang pun di dunia: menempuh marathon di bawah 2 jam!

“Sebagai atlet papan atas, mereka memiliki program latihan yang baik,” ujar Dr. Brad Wilkins, direktur Nike Explore Team Generation Research yang mendampingi persiapan para pelari. “Tugas kami kemudian adalah memberikan analisa dan saran untuk mengoptimalkan latihan itu.”

Eliud Kipchoge berlatih dua kali sehari dengan menu lari jarak jauh, lari cepat di jalur, dan latihan Fartlek yang dalam bahasa Swedia artinya permainan cepat. Sedangkan Lelisa Desisa fokus pada latihan ketahanan di mana ia banyak latihan lari jarak jauh. Belakangan ia juga menambahkan latihan kecepatan. Sebaliknya, Zersenay Tadese justru lebih banyak latihan kecepatan di awal agar terbiasa dengan irama lari cepat, baru kemudian menambah jaraknya.

Sebagai pemanasan, semua pelari hanya melakukan jogging pelan, kadang-kadang sangat pelan sehingga mereka terlihat seolah menyeret kakinya. Sementara Desisa dan timnya melakukan gerakan rutin seperti ritual sebelum lari selama sekitar 30 menit. “Gerakan itu seperti menari,” ujar Dr. Brett Kirby, peneliti di Nike Sport Research Lab.

Biasanya para pelari ini lari bersama-sama guna membangkitkan motivasi. Desisa memiliki tim terdiri dari enam hingga delapan orang yang memberinya dukungan saat diperlukan. Saat berlari jauh, Kipchoge akan ditemani banyak orang, kadang sampai 60 orang teman-temannya. Namun ketika melakukan latihan yang lebih spesifik, mereka melakukannya dalam kelompok kecil. Sementara Zersenay lebih sering lari sendirian.

 

Lari dan tidur

Salah satu hal penting dalam proses latihan ini adalah pemulihan, mengingat mereka lari lebih dari 150 kilometer per minggu. “Zersenay adalah tukang tidur. Saat tidak berlari, ia biasanya tidur,” ujar Kirby.

Sedangkan Desisa biasanya bersantai saat tidak latihan. Kipchoge begitu juga. “Selain tidur dan minum teh bersama teman-temannya, dia juga mengambil air dari sumur,” kata Kirby. Mereka juga mendapatkan pijatan hingga tiga kali seminggu, biasanya setelah latihan berat.

Tidak seperti kebanyakan pelari, mereka tidak berlatih angkat beban atau yoga. Mereka hanya berlari. “Untuk bisa berlari cepat, kamu harus berlari,” kata Wilkins.

Pada tingkatan seperti mereka, para pelari sudah tahu makanan apa yang memberi mereka tenaga paling baik, meski Wilkins dan Kirby menyarankan agar mereka menyantap 50-75 persen karbohidrat dan 20-30 persen protein. Para ilmuwan juga memberi tuntunan soal nutrisi yang harus dikonsumsi setelah latihan. Mereka menekankan pentingnya menyantap protein dan karbohidrat segera setelah latihan berat.

Ketiga pelari melakukan latihan di kampungnya masing-masing yang berada di daerah tinggi. Kipchoge berlatih di Kenya, Desisa di Ethiopia dan Tadese di Eritrea (di mana dia tinggal) atau di Spanyol (tempat pelatihnya tinggal).

“Karena di ketinggian ini lapisan oksigen lebih tipis, maka jumlah sel darah merah akan naik untuk memungkinkan darah mengangkut lebih banyak oksigen ke otot,” kata Wilkins. “Makin banyak oksigen, makin kuat juga kerja otot.

Jumlah sel darah merah akan bertahan hingga dua minggu setelah mereka meninggalkan daerah tinggi. Diharapkan pada saat harus memecahkan rekor di Monza, banyaknya sel darah merah ini memberi pasokan ekstra ke otot pelari.

Untuk memantau kondisi dan latihan, Wilkins dan Kirby mengunjungi mereka beberapa kali. Pengukuran-pengukuran dilakukan, seperti V02 max, berapa banyak cairan yang hilang saat mereka berlari, bagaimana kemampuan otot mereka menyimpan tenaga dan lainnya. Selama berlatih, para pelari juga dilengkapi jam GPS dengan pencatat detak jantung. Data-data itu dikirimkan pada para ilmuwan untuk memperoleh gambaran perkembangan para pelari.

Dengan tradisi lari yang sudah mengakar ditambah latihan rutin dan pendekatan ilmiah, para pelari ini membutuhkan satu hal lagi untuk memecahkan rekor, yakni sepatu yang tepat. Nike telah mempersiapkan sepatu khusus yang dirancang dengan teknologi mutakhir bagi mereka, yakni Nike Zoom Vaporfly Elite.

“Dengan gabungan hal-hal di atas, tradisi dan teknologi, para pelari berkesempatan mencapai rekor yang belum pernah terjadi,” ujar Wilkins. “Yang harus mereka lakukan sekarang adalah berlari sejauh 42 kilometer dengan kecepatan 21,08 kilometer per jam.” (kompas.com)

Film The Fate of the Furious -yang juga sedang diputar di Indonesia- sudah memecahkan rekor dunia dari pemasukan global.

Seri kedelapan film laga ini meraih US$532,5 juta atau sekitar Rp7 triliun lebih di seluruh dunia pada pemutaran sepanjang akhir pekan selama masa Paskah.

Catatan itu menempatkannya di atas Star Wars: The Force Awakens yang pada pemutaran pertama sepanjang akhir pekan 'hanya' meraih US$529 juta.

Namun untuk pasar di Amerika Serikat, Furious 7 masih unggul pada pemutaran perdana dengan meraih US$147,2 juta tahun 2015 lalu, masih di atas yang terbaru -yang di beberapa tempat diberi nama Fast of the Furious 8- dengan US$100,2 juta.

Tapi apa yang membuat keberhasilan seri Fast and Furious ini, yang dibintangi Dwayne Johnson dan Vin Diesel?

____________________________________________________________________________________

Rangkaian Fast & Furious

  • The Fast and the Furious (2001)
  • 2 Fast 2 Furious (2003)
  • The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006)
  • Fast & Furious (2009)
  • Fast Five (2011)
  • Fast & Furious 6 (2013)
  • Furious 7 (2015)
  • The Fate of the Furious (2017)

____________________________________________________________________________________

Pengamat film di Radio BBC 4, Rhianna Dhillon, berpendapat rangkaian Fast and Furious menjadi film sukses karena 'daya tarik universal'.

 

"Film-film yang bisa dinikmati oleh semua usia, karena memiliki eskapisme murni yang tidak dewasa sehingga anak-anak dan orang dewasa senang menyaksikan hal-hal yang meledak dan hancur."

"Banyak membuat film menarik, seperti The Avengers, adalah jalan ceritanya dan Fast & Furious tidak berupaya untuk bersaing dengan jalan cerita yang berat dan berbelit. Ini tentang mobil yang saling bertabrakan satu sama lain dan ok saja untuk menikmatinya," tambah Dhillon.

"Rangkaian ini tidak berupaya untuk menjadi sesuatu. Pada akhirnya dari bawah hingga ke atas, tidak ingin menjadi serius."

Selain itu, menurut Dhillon lagi, rangkaian Fast & Furious selalu menarik bintang-bintang besar dengan tampilnya pula Charlize Theron dan Helen Mirren di film terbaru.

"Mereka bukan orang-orang yang tidak pernah Anda dengar, mereka adalah bintang-bintang yang menghasilkan paling banyak uang di dunia."

"Dan Dwayne Johnson memberi film ini kesempatan hidup baru, jika Anda membeli bintang maka Anda juga membeli para penggemarnya."

Lanjutan dari rangkaian Fast & Furious -yang diawali tahun 2001- rencananya akan beredar lagi tahun 2019 dan 2021. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 3

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net