Review Lagu Enak

Bali baru saja dianugerahi sebagai The Worlds Best Destination pilihan traveler dari seluruh dunia. Pulau Dewata yang punya sederet pantai menawan ini berhasil mengalahkan kota-kota destinasi wisata dunia, seperti London, Prancis, Roma, bahkan Crete dan New York. 

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, penghargaan yang diperoleh dari proses kompetisi yang panjang, serius, dan dilakukan oleh lembaga kredibel, akan menaikkan country image.

“Setiap country image naik 10 persen, mendorong kenaikan toursim 11 persen, dan investmen 1 persen. Brand Wonderful Indonesia itu punya valuasi dan bisa dihitung. Semakin tinggi value-nya, semakin dikenal kuat memiliki reputasi, semakin mahal harga barang dan jasa yang menempel pada brand tersebut,” kata Arief Yahya.

Dalam banyak kesempatan, Arief Yahya juga kerap menyebut formula 3C dalam tiap kompetisi level dunia. Penghargaan bagi Arief Yahya akan menaikkan confidence level” atau kepercayaan internal, mendongkrak credibility atau kepercayaan publik, dan dapat menciptakan calibration, yaitu kriteria ideal sesuai standar global.

Penghargaan yang diterima pariwisata Bali bukan perkara instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang. Keberhasilan Bali adalah buah dari keberhasilan kecil yang terus dipertahankan dan dikembangkan. 

“Lembaga-lembaga ternama dunia juga sudah menempatkan Bali sebagai the best-nya. Travel+Leisure, World Travel Award, Conde Nast Traveller, UNWTO Awards, Asia Trip, DestiAsian, sampai yang terakhir TripAdvisor,” kata Arief Yahya. (liputan6.com)

Teknologi pemberi pakan ikan otomatis buatan Indonesia, eFishery, akan diterapkan melalui proyek percontohan di Thailand dan Bangladesh tahun ini.

Proyek kerja sama antara perusahaan perintis akuakultur Cybreed, selaku pengembang eFishery, dengan Winrock International, USAID, dan Universitas Kasetsart Thailand itu bertujuan mencoba penerapan teknologi eFishery di kedua negara tersebut.

EFishery menggabungkan pemberian pakan otomatis dengan algoritma dan sensor untuk meningkatkan efisiensi pakan dalam bisnis perikanan air tawar.

Meskipun proyeknya masih bersifat prakomersial, ini langkah awal untuk ekspansi ke negara lain, kata salah satu pendiri perusahaan yang berbasis di Bandung itu, Gibran Huzaefah.

"(Proyek percontohan) itu supaya kita bisa punya bukti yang kuat untuk bisa membangun model kerja sama dengan mitra lokal, dan sekaligus mencari mitra lokal untuk ekspansi bisnis kita ke negara lain dalam beberapa tahun ke depan," ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Untuk saat ini, Gibran dan kawan-kawan di Cybreed tengah memusatkan perhatian pada pengembangan dan perkenalan produknya di Indonesia.

Terjadwal dan sesuai takaran

Ide di balik eFishery ialah pemberian pakan secara terjadwal dan sesuai takaran, kata Gibran. Dalam usaha budidaya ikan, biaya yang dikeluarkan pemilik kolam untuk pakan dapat mencakup 60-70% total biaya produksi. Meski demikian, pemberian pakan dengan cara tradisional, yakni menggunakan tangan atau hand-feeding, dinilainya tidak efisien.

"Saat hand-feeding pemberian pakannya itu langsung dilempar dalam jumlah yang banyak. Misalnya satu ember langsung dilempar ke kolam. Saat pakan ini terendam dalam air, beberapa nutrisi bisa hilang hingga 98 persen dalam waktu satu jam. Jadi pakan yang dikasih dimakan oleh ikannya, tapi nutrisinya sudah enggak ada," jelasnya.

Dengan pemberian pakan yang terjadwal dan dengan 'dosis,' Gibran mengatakan eFishery telah terbukti dapat menurunkan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram daging -disebut Food Convertion Ratio (FCR)-hingga 24%. Dengan kata lain, penggunaan pakan menjadi lebih efisien.

Terhubung dengan internet

Alat pemberi pakan otomatis, atau feeder, lumrah digunakan dalam budi daya ikan dan akuakultur pada umumnya. Namun inovasi eFishery terletak pada keterhubungannya dengan jaringan internet.

Lewat aplikasi di ponsel Android, pengguna dapat mengatur frekuensi dan jadwal pemberian pakan serta takarannya. Pemilik kolam juga dapat mengunggah jumlah pakan yang digunakan ke server internet untuk referensi di masa depan.

Dalam aplikasi terdapat pilihan pola pemberian pakan berbasis algoritma untuk empat komoditas budidaya: ikan nila, mas, lele, serta udang. Ini disebut feeding program.

Gibran menjelaskan, "Dari masing-masing spesies ini kita punya feeding rate, yaitu berapa persen pakan yang dibutuhkan dibanding total biomassa mereka. Dan persentase ini akan berubah dari tahap awal saat mereka masih kecil sampai saat mereka mau panen.

"Jadi misalnya, saat masih kecil empat persen dari total biomassa, dan saat panen itu dua persen dari total biomassa, dan perubahannya seperti apa. Kita juga memprediksi tingkat kematian mereka bagaimana... dari sini kita bangun algoritmanya."

Satu fitur lagi, yang sedang dalam tahap pengembangan, yaitu sensor "pendeteksi kekenyangan ikan" berdasarkan riak air dalam kolam. Teknologi ini pada dasarnya ialah akselerometer. Asumsinya, lapar atau kenyangnya bisa dideteksi melalui perilaku, kata Gibran.

"Kita melihatnya saat ikan bergerak agresif berarti mereka masih lapar, dan saat ikan kurang agresif berarti dia sudah kenyang. Dari situ kita bisa menentukan kapan harus menyetop pemberian pakan."

Data bagi petani

Dengan fitur pengunggahan data pakan ke server internet, Gibran berharap dapat menyediakan informasi berharga bagi para petani ikan. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya ingin menangkap data dari petani yang tadinya tidak tersedia kemudian menghubungkannya dengan variabel lain seperti data cuaca dan kualitas air.

"Sehingga kita bisa memprediksi apakah (praktik yang dilakukan petani) optimal atau tidak," tuturnya.

Ia menambahkan, "Dan kami ingin memberikan informasi berbasis data itu ke petani dan stakeholders lain, seperti produsen pakan dan pembeli ikan. Tujuannya transparansi, traceability... Jadi saat mereka beli ikan, mereka bisa tahu apakah ikan ini diberi makan limbah atau pakan yang bagus, ikan ini produktivitasnya bagus atau tidak."

Namun tampaknya semua itu masih jauh di masa depan. Saat ini, Gibran dan kawan-kawan di Cybreed masih berupaya mengajak sebanyak mungkin petani menggunakan eFishery.

Gibran mengatakan, hingga saat ini eFishery telah digunakan lebih dari 300 pembudidaya di area Minapolitan utama di Indonesia, seperti Jawa Barat dan Lampung. Pemilik kolam perlu merogoh kocek cukup dalam untuk memiliki alat ini, karena satu unitnya dijual seharga Rp7,8 juta.

Demi mengurangi hambatan para pemilik kolam untuk mengadopsi teknologi ini, Cybreed memperkenalkan skema sewa alat seharga Rp300.000 per bulan. Dan memang mayoritas petani memilih skema ini, kata Gibran.

Menggantikan manusia

Prakarsa teknologi ini disambut baik Ketua Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (GAPPINDO), Herwindo Suwondo.

Menurut Herwindo, urusan pakan kerap memberatkan para pembudidaya dengan harganya yang mahal. Itu karena sekitar 80% bahan baku pakan seperti tepung jagung, bungkil kedelai, tepung daging dan tulang, artemia, dan minyak ikan diperoleh melalui impor.

Karena itu menurut Herwindo jika pakan yang mencakup sebagian biaya produksi itu diberikan secara efisien, para pembudidaya dapat berhemat. "Dan harga (produk) dia akan lebih bisa bersaing di luar negeri," ia menambahkan.

Herwindo juga menilai harga sewa Rp300.000 per bulan tidak akan memberatkan pemilik kolam. Namun ia mengatakan tidak tahu apakah para penjaga tambak rela pekerjaannya digantikan eFishery.

"Saya kira itu bagus... cuma masalahnya, tiap-tiap tambak itu kan biasanya ada yang jaga. Dan kasih makan itu kan pekerjaan yang jaga. Apakah mereka mau digantikan alat itu... karena meskipun beda angkanya 300-400 ribu, itu kan uang juga," katanya.

Gibran selaku penggagas eFishery tidak memungkiri bahwa alatnya dapat mengeliminasi lowongan kerja bagi manusia.

Namun ia berdalih, "Kondisi saat ini adalah mencari orang yang mau bekerja di tambak, apalagi yang bagus dan jujur itu susah. Jadi memang suplai pekerja tambak ini rendah sekali, terutama yang berkualitas ya... dan demand-nya tinggi, dan akan terus meningkat. Kita melihatnya justru kita mau menyelesaikan masalah ini.

"Satu lagi, manusia ini terbatas, enggak bisa disuruh ngasih makan 12 kali atau 20 kali sehari. Atau manusia susah untuk disuruh kasih makan jam 2 malam, jam 3 malam... sementara beberapa komoditas ikan itu nokturnal. Nah dengan alat kita ini bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa manusia lakukan," tandasnya. (bbcindonesia.com)

Penyanyi dan pencipta lagu Melly Goeslaw (43) punya alasan tersendiri menggandeng Gita Gutawa (23) untuk menyanyikan soundtrack yang ditulisnya.

Soundtrack berjudul “Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?” ini dibuat Melly untuk film Kartini.

Dalam acara peluncuran trailer dan soundtrack film Kartini di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017), Melly mengungkap alasannya.

“Saya lihat (Gita) generasi yang beda sama saya. Kita beda dua tahun, ya?” ujar Melly sambil melirik ke arah Gita di sebelahnya, lalu tertawa.

“Gita 24 tahun, saya kebalikannya,” sambung Melly.

Menurut Melly, Gita mampu mewakili generasi millenials saat ini yang tidak hanya fokus pada karier, tetapi juga pendidikan.

“(Gita) sosok anak muda yang bukan cuma cinta seni. Dia semangat dan selektif bikin lagu. Kalau bikin album atau lagu, dia enggak mikirin komersial. Dia juga concern sama pendidikan,” ujar istri Anto Hoed tersebut.

Melly pun berharap lagu "Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?" ini bisa menjadi inspirasi untuk para perempuan.

Sama seperti Gita yang berharap bahwa lagu kolaborasinya ini bisa menjadi salah satu lagu untuk memberdayakan perempuan di Indonesia.

"Indonesia sedikit banget soal empowering women. Kalau di luar ada Beyonce yang Run the World (Girls). Kalau di Indonesia sedikit ya, bahkan enggak ada," ujar Gita,

Maka dari itu, Gita ingin lagu ini bisa menjadi semangat untuk saling menguatkan perempuan dalam memperjuangkan cita-cita mereka. (kompas.com)

Berdasarkan evaluasi lanjutan yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa yang mengguncang Bali pada Rabu (22/3/2017) pagi berkekuatan 5,6 Skala Richter.

 

 

Sebelumnya, BMKG merilis gempa tersebut berkekuatan 6,4 SR.

“Tidak ada yang salah dengan publikasi awal, tapi setelah semua data dikumpulkan BMKG melakukan analisa kembali sehingga diketahui kekuatan gempa hari ini di Bali 5,6 Skala Richter,” kata Kepala BMKG Bali M Taufik saat dikonfirmasi Kompas.com Rabu siang.

Menurut dia, pengumuman pertama merupakan komitmen BMKG untuk sesegera mungkin menganalisa dam menyampaikan peringatan awal kepada masyarakat.

“Sesuai komitmen bersama, paling lama 5 menit harus ada hasil analisis data awal yang muncul untuk kepentingan peringatan dini kepada masyarakat,” kata Taufik.

Setelah peringatan awal, BMKG akan terus mengumulkan data dan informasi. Catatan-catatan gempa berbasis seismograf dikumpulkan lalu dianalisa kembali.

Senada, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali MD Indra mengatakan, setelah dievaluasi gempa yang mengguncang pada pagi tadi kekuatannya 5,6 SR dan berpusat di darat sekitar wilayah Nusa Dua dengan kedalaman 126 Km.

 

 

“Begitu ada gempa peralatan di seluruh indonensia mencatat dan menganalisis. Karena harus mengeluarkan data tidak boleh lebih dari lima menit maka muncul angka 6,4 tersebut. Tetapi setelah dicocokan semua data kekuatannya hanya 5,6,” kata Indra.

Sebelumnya diberitakan, Bali diguncang gempa berkekuatan 6,4 skala Richter pada Rabu (22/3/2017) pukul 07.10 Wita. Gempa berpusat di 8.88 LS,115.24 BT, 23 Km Tenggara Denpasar pada kedalaman 117 km. Gempa tidak berpotensi tsunami. (kompas.com)

Page 1 of 63

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net