Music

Setelah membahas Best New Artist, Album of the year dan Song of the Year, kini tiba saatnya kita membahas Record of the Year di Road to Grammy kali ini. 4 kategori yang telah kita sebutkan tadi merupakan 4 kategori yang paling prestisius di Grammy sejak diadakannya acara ini di tahun 1959 lalu. Sedikit beda dengan “Song of the Year”, di “Record of the Year”, ini memilih artis, produser, dan juga teknisi rekaman / mixer.

Yuk kita lihat lebih dalam para nominasinya berikut ini:

“HELLO” ADELE

Greg Kurstin, producer; Julian Burg, Tom Elmhirst, Emile Haynie, Greg Kurstin, Liam Nolan, Alex Pasco & Joe Visciano, engineers/mixers; Tom Coyne & Randy Merrill, mastering engineers

Emosional. It’s kinda typical Adele’s song. Mendengarkan versi instrumentalnya saja sudah bisa bikin kita ingin teriak, apalagi jika ada suara sang diva yang memandu kegiatan shower karaoke kita. “Hello” adalah barang premium, tak ternilai, dan tak tertandingi. Bagaimana sebuah lagu bisa membuat kita ikut merasakan penyesalan dan kepahitan padahal mengalaminya saja belum pernah. Itulah sihir “Hello” dari Adele.

“WORK” RIHANNA FEATURING DRAKE

Boi-1da, producer; Noel “Gadget” Campbell, Kuk Harrell, Manny Marroquin, Noah “40” Shebib & Marcos Tovar, engineers/mixers; Chris Gehringer, mastering engineer

“Work” is musically charming. Awalnya terdengar membosankan, tapi ada suatu hal yang justru menarik dari betapa membosankannya pengulangan kata “work” sebanyak 79 kali di lagu ini. Nada-nada elektronik yang tersusun seolah membentuk alunan music reggae yang asik banget. Dan kini Rihanna telah menambah trademark tunes ciri khasnya, sebelumnya ia telah memiliki “ooh na na” dan “ella ella eh”, kini “work work work” jadi tanda pengenal baru untuknya.

“STRESSED OUT” TWENTY ONE PILOTS

Mike Elizondo & Tyler Joseph, producers; Neal Avron & Adam Hawkins, engineers/mixers; Chris Gehringer, mastering engineer

Lagu “Stressed Out” dari Twenty One Pilots ini memang gold abis. Siapapun bisa langsung mengangguk-angguk menikmati lagu ini meski baru pertama kali mendengarnya. Lagu ini diproduksi oleh Mike Elizondo yang sudah sering mengerjakan project untuk Dr.Dre dan Eminem. Nggak salah kalau lagu ini selalu ada di radio dan hingga Desember 2016 kemarin berhasil terjual lebih dari 2,4 juta copy.

“7 YEARS” LUKAS GRAHAM

Future Animals & Pilo, producers; Delbert Bowers, Sebastian Fogh, Stefan Forrest & David LaBrel, engineers/mixers; Tom Coyne, mastering engineer

“Lukas Graham siapa sih?”
“Itu loh yang lagu: Once I was 7 years old”
Tak sedikit orang yang mengenal lagu “7 Years” tapi tidak tahu kalau Lukas Graham adalah empunya. Memang sebegitu hebat lagu 7 Years ini hingga melejitkan nama Lukas Graham yang baru saja menjejaki panggung music internasional. “7 Years” diproduksi oleh Lukas Graham bersama anak-anak muda yang bertalenta yaitu Stefan Forest dan Morten Ristorp. Keduanya baru saja menandatangi kontrak dengan Warner Chappell Music sebagai duo-produser dengan nama Future Animal. Tapi ketimbang memenangkan Record of The Year, tampaknya lagu ini lebih pantas memenangkan Song of The Year atas keunggulan lirik lagunya, toh “7 Years” juga masuk ke dalam nominasi kategori itu.

FORMATION – BEYONCE

Beyoncé Knowles, Mike Will Made-It & Pluss, producers; Jaycen Joshua & Stuart White, engineers/mixers; Dave Kutch, mastering engineer

Sebuah fakta menyedihkan, terlepas dari Beyonce yang mendapat 9 nominasi Grammy 2017, bahwa lagu “Formation” tidak masuk ke dalam list “Billboard’s year-end list of the top 100 singles of the year”. Sementara 4 pesaing lainnya, “Work”- Rihanna mendapat ranking tertinggi di #4, “Stressed Out” di urutan #5, “Hello” di urutan #7, dan “7 Years” di urutan #12. Agak sulit menjatuhkan pilihan pada “Formation” untuk memenangkan kategori Grammy ini, karena lagu “Work” yang paling setipe dengannya, tampak lebih unggul. Tapi jangan berkecil hati, banyak kok pemenang Grammy Record of The Year yang juga tidak masuk dalam list Billboard itu, seperti lagu “Stay With Me” dari Sam Smith yang pada akhirnya membawa pulang piala tersebut di tahun 2014.

Bagi saya, piala Grammy untuk kategori ecord of The Year pantaslah dibawa pulang oleh Twenty One Pilots untuk lagu “Stressed Out” yang entah kenapa bisa nempel di kepala dalam waktu lama meski hanya beberapa nadanya saja yang kita hafal. Mungkin kecil kemungkinan mengingat nama Twenty One Pilots belum sebesar 3 pesaingnya (kecuali Lukas Graham yang juga pendatang baru). Tapi apa salahnya menyimpan harapan pada duo yang sudah langsung menuai kesuksesan sejak debut awal mereka. (creativedisc.com)

Persiteruan antara Kesha dengan mantan mentornya, Dr Luke, ternyata belum usai juga. Kali ini bertambah lagi sumbu pertentangan di antara mereka karena Dr Luke menyebutkan jika Kesha memiliki hitang sebanyak $1.3 juta kepada dirinya dala bentuk royalti yang belum dibayar.

Meskipun sang penyanyi ‘Tik Tok’ telah menarik tuntutan hukum wilayah Californianya kepada sang produser yang bernama asli Lukasz Gottwald tersebut, namun untuk wilayah New York kasusnya masih terus berjalan.

Dr Luke mengungkap detil baru tentang kontrak Kesha dan struktur royalti di pengadilan dan membertahu hakim New York jika sebenarnya Kesha-lah yang berhutang pada dirinya.

Plaintiffs have paid Kesha her royalties for all relevant accounting periods, while Kesha baselessly refuses to pay Plaintiffs the much larger sums she owes them,” ungkap sebuah memorandum yang diajukan oleh pihak pengacara Dr Luke.

Berdasarkan laporan The Hollywood Reporter, Kesha mengklaim dalam sebuah counterclaims yang telah diajukan jika Dr Luke tidak mau mendukung album barunya dan berkeinginan untuk menghancurkan Kesha secara finansial sebagai balasan atas tuduhan pemerkosaan yang diajukan Kesha kepadanya.

Semoga saja urusan Kesha dan Dr Luke cepat selesai dan tidak berbelit-belit lagi. Bagaimanapun Kesha masih memiliki tempat di penikmat musik pop dan karya-karya barunya sudah dirindukan untuk didengarkan. (creativedisc.com)

Selain Record of the Year, kategori utama lain dari Grammy Awards yang juga mengundang rasa penasaran kira-kira siapa yang akan membawa pulang pialanya adalah Album of the Year. Begitu pula dengan The 59th Annual Grammy Awards 2017 yang akan berlangsung di Staples Center, Los Angeles pada 12 Februari mendatang.

Tahun ini dipastikan akan menjadi tahun yang akan sangat ketat sekaligus mendebarkan, karena barisan artis yang mendapat tempat di kategori ini sebagian besar adalah musisi-musisi handal dan populer, berbasis fans yang besar, yaitu Adele, Beyoncé, Justin BIeber, dan Drake. Menyisip satu nama lain yang mungkin tak sepopuler nominee lainnya, Sturgill Simpson.

Tapi tentunya nama besar bukan jaminan untuk bisa membawa pulang piala Album of the Year, karena bagaimanapun ada pertimbangan khusus dan tertentu dari The Recording Company dalam memilih juaranya.

Sembari menunggu pengumumannya, mengapa kita tidak melongok sekilas profil album-album ini.

01. “25” ADELE

Dalam “25” kita akan mendapatkan sebuah album pop yang kaya akan tekstur juga dimensi, meski memiliki materi relatif sederhana. Memang terdengar repetitif. Apalagi jika kita melongok ke belakang. Tapi percayalah, setelah mencerna albumnya, kita bisa merasakan jika antara “19” “21” dan “25” terdapat alur yang menjadi semacam benang merah sebagai perekat mereka. Pada akhirnya setiap materi dalam “25””terdengar sangat kuat, berkarakteristik, serta dapat berdiri sendiri. Saat bersama, mereka pun saling membelit dan menjadi pondasi kokoh agar “25” menjadi sebuah album bernas.

02. “LEMONADE” BEYONCÉ

Yang bisa dicermati dari “Lemonade” adalah bagaimana Beyoncé terdengar semakin aktif dalam melakukan lintas-genre, sesuatu yang sebelumnya sudah dieksplorasinya dalam “Beyoncé”. Hip-hop dan RnB tentunya masih tetap disajikan, namun “Lemonade” jelas tidak hanya sebatas itu. Electronica juga berperan penting dalam memberi variasi sound album. Terlepas dari aspek tematis album, bisa dikatakan “Lemonade” semakin mengasah karakter Beyoncé sebagai musisi dengan selera yang eklektis. Ia memilih bergerak dalam lagu-lagu yang mengasah cita rasa esotoriknya sebagai musisi. Mengedepankan estetika ketimbang memuaskan selera awam.

03. “PURPOSE” JUSTIN BIEBER

Dengan “Purpose”, Justin Bieber sudah sukses menunjukkan sisi dewasanya. Nyaris tak terjejak lagi cita rasa remaja labil di dalamnya. Ini merupakan catatan yang impresif, mengingat ia sebenarnya baru berusia 21 tahun, namun sudah terdengar matang dan mapan. Mengingat ia sudah kurang lebih 7 tahun hadir secara profesional di industri musik, maka sebenarnya ini bukan hal aneh. Adalah aneh jika ia mengulang pola atau formula yang sama. Melalui “Purpose” Bieber membuktikan bahwa album pop tidak melulu harus tampil jenerik. Ia membuktikan jika musikalitas yang kuat dan kaya dimensi tetap andalan utama.

04. “VIEWS” DRAKE

Melalui “Views” Drake membuktikan jika ia bukan sekedar bahan untuk barisan meme jenaka. Beramunisi dua single sukses, ‘Hotline Bling’ dan ‘One Dance’, album “Views” ini bahkan sudah membuktikan diri sebagai album dengan prestasi mencengangkan, menjadi juara Billboard 200 selama 9 minggu! “Views” merupakan album dengan durasi yang cukup panjang, yaitu sekitar 81 menit yang disebar dalam 20 track. Terpanjang tidak hanya untuk album kebanyakan, namun juga bagi Drake. Meski memiliki materi yang cukup berlimpah, tapi sebenarnya “Views” bisa disimak dalam ide yang cukup singular, sehingga tidak terkesan lari ke sana-ke mari.

05. “A SAILOR’S GUIDE TO EARTH” STURGILL SIMPSON

“A Sailor’s Guide to Earth” adalah album ketiga milik penyanyi country, Sturgill Simpson. Album ini menyertakan ‘In Bloom’ yang merupakan lagu milik band grunge, Nirvana. Adapan alasan Simpson adalah hendak memberi tribut yang indah kepada Kurt Cobain. Pernyataan ini mungkin juga bisa menjadi sarana untuk menggambarkan usungan Simpson di dalam albumnya, country yang cenderung bergerak di ranah alternatif dan rock, menegaskan keinginan Simpson untuk memelintir formula country klasik dan kemudian memasuki ranah baru yang segar secara cerdas dan memikat, tanpa harus benar-benar kehilangan karakteristik country tersebut.

Benar-benar sebuah pilihan yang sulit, bukan? Masing-masing musisi ini dengan sukses memamerkan kekuatan musikalitas mereka untuk tiap-tiap album tersebut. Album-album ini tidak hanya memiliki materi kuat, sehingga terasa mengesankan, namun juga menunjukkan mengapa Adele, Beyonce, Justin Bieber, Drake dan Sturgill Simpson menjadi musisi-musisi penting masa kini.

Hanya saja, jika ditanya, maka tim Creative Disc lebih memilih “25” milik Adele untuk membawa pulang Album of the Year. Kalau menurut kalian, kira-kira siapa yang menjadi juaranya?

(creativedisc.com)

Akhirnya dominasi The Weeknd selama beberapa pekan terakhir di Billboard 200 pun berakhir sudah. Siapa yang sukses menyingkirkan album “Starboy” miliknya? Ternyata adalah “Culture” dari grup pengusung hip-hop, Migos. Album tersebut terjual sebanyak 131.000 unit di pekan pertamanya, sebagaimana yang dilaporkan oleh Nielsen Music.

Penjualan “Culture” sebagian besar didapat dari layanan streaming yang ekuivalen dengan total sebanyak 77.000 unit. Album ini juga debut di Top R&B/Hip-Hop chart Billboard dan Top Rap Album Charts. Sebelum album dirilis, trio Migos memang sempat menyebutkan akan pentingnya memiliki album #1. “It would mean everything, but with everything in the world, hard work pays off,” ungkap salah satu anggotanya, Quavo. “We speaking for the young generation, we speaking for the young generation of music.

“Culture” dirilis tanggal 27 Januari melalui Quality Control/300 Entertainment dan merupakan album susulan dari debut Migos di tahun 2015, “Yung Rich Nation”, yang duduk di posisi #17 Billboard 200. Bagaimana dengan “Starboy”? Ternyata melorot ke posisi #4 dengan 51.000 unit.

Catatan lain, album debut Kehlani, “SweetSexySavage”, duduk di posisi #3, dan album soundtrack “La La Land” naik ke posisi #6 dengan 36.000 unit.

Berikut 10 besar Billboard 200 untuk pekan ini:

1. “Culture” – Migos (131,000)
2. “The Devil Don’t Sleep” – Brantley Gilbert (77,000)
3. “SweetSexySavage” – Kehlani (58,000)
4. “Starboy” – The Weeknd (51,000)
5. “Now 61” – Various Artists (37,000)
6. “La La Land” Soundtrack – Various Artists (36,000)
7. “24K Magic” – Bruno Mars (31,000)
8. “A Girl a Bottle a Boat” – Train (30,000)
9. “Stoney” – Post Malone (a little more than 27,000)
10. “Moana” Soundtrack – Various Artists (27,000)

(creativedisc.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net