Music



Electronic Dance Music atau EDM kini tengah menjadi genre musik yang digandrungi masyarakat luas. Para musisi pun seakan berbondong-bondong dan tak mau kalah membuat suguhan EDM dalam karya musiknya.

Hal itu pula yang dilakukan D' Masiv dalam album terbarunya. Tak ingin ketinggalan zaman, band yang berdiri sejak tahun 2003 itu turut menggandeng DJ untuk menyuguhkan sentuhan EDM dalam musiknya.

"Dan ada Jevin Julian dari Soundwave. Ada dua lagu, karena kan sekarang musik elektronik lagi happening, jadi kami enggak mau ketinggalan zaman," ujar vokalis D' Masiv, Rian, saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (22/8/2016).

Selain musik modern yang disuguhkan, D' Masiv juga membawa unsur etnik dalam album terbaru yang bertajuk "D' MASIV" tersebut. Terinspirasi dari kesatuan bangsa Indonesia, D' Masiv menambah sentuhan musik tradisional dari lima pulau nusantara.

"Nah kita masukin lagu 'Bersama Dalam Cinta' itu. Ada unsur alat petik dari Kalimantan, ada seruling, ada suara cewek dari Jawa, ada jimbe. Pokoknya dari lima pulau," ujar Rian. Ia pun ingin mengajak pendengar menghargai keberagaman di Indonesia.

"Inspirasi dari banyaknya pertikaian dan perbedaan. Beda pilihan pemimpin, beda agama, beda suku, awalnya dari itu. Lalu kami pikir kalau dikasih unsur Indonesia bagus deh, musik Indonesia kan sangat kaya. Jadi, perbedaan itu yang bikin kita jadi indah. Kami pengin kasih spirit itu," tutur Rian. (liputan6.com)

Setelah delapan tahun tak kunjung merilis album baru, Metallica akhirnya memberi kejutan kepada fansnya. Metallica merilis single perdana berjudul "Hardwired" pada 18 Agustus lalu.

Single tersebut menjadi bocoran untuk album baru Metallica bertajuk "Hardwired...To Self-Destruct" yang akan dilepas pada 18 November 2016.

Lantas baru-baru ini, Metallica memainkan single barunya tersebut dalam konsernya di U.S. Bank Stadium, Minneapolis, Amerika Serikat. Sebelum konser berjalan, drummer Lars Ulrich bercerita bahwa minggu ini telah menjadi minggu yang intens bagi mereka.

"Kami bersemangat untuk mengenalkan babak selanjutnya dari karier Metallica di Minneapolis ini," ujar Ulrich, seperti dikutip Fox 9.

"Hardwired" merupakan nomor thrash metal beringas tanpa basa-basi ala Metallica di era awal karier mereka. Single ini membuktikan bahwa usia hanya sekadar angka bagi Metallica.

Album ke-10 James Hetfield dkk tersebut akan berisi 12 lagu dan dirilis lewat label rekaman independen Blackened Recordings milik Metallica sendiri. (Godham Perdana/fei)

Saksikan Metallica membawakan "Hardwired" untuk pertama kalinya secara live di bawah ini: (liputan6.com)

Nama penyanyi Rick Price mungkin hanya dikenal oleh generasi era tahun 1990-an. Namun meski begitu, saat tampil di Indihome Prambanan Jazz Festival 2016, Rick Price mengaku senang karena sambutan penonton Indonesia yang begitu antusias.

Tepuk tangan meriah pun menggema saat Rick Price tampil di atas panggung sambil membawa gitar. "Selamat malam, senang bisa bertemu dengan kalian semua malam ini," kata Rick Price sambil melambaikan tangan di Komplek Candi Prambanan, Yogyakarta, Sabtu (20/8/2016) malam.

Rick Price tampil berlatar belakang Candi Prambanan dengan menyanyikan lagu yang pernah menjadi hitsnya seperti Walk Away Renee, River of Love, Where in The World, dan Good as Gone. Semuanya itu dibawakan Rick Price dengan sangat apik. Bahkan, tak sedikit penonton yang ikut bernyanyi.

"Senang bisa kembali ke Indonesia bertemu penggemar. Saya tak merasa ditinggal penggemar walaupun musiknya di tahun 90an. Buktinya kemarin ketika di preskon banyak yang masih mengenali saya dan meminta foto," ujar Rick Price.

Sekitar 45 menit, Rick Price pun mampu membius ribuan penonton di panggung Special Show. Di akhir penampilannya, sebuah lagu fenomenal dari album pertama Rick Price yang dirilis pada tahun 1992, Heaven Knows pun dimainkan.

"Ini pertama kali tampil di Prambanan. Walaupun ini festival jazz saya akan tetap menyanyikan lagu pop saya. Setelah dari Indonesia saya akan langsung kembali ke Amerika dan mengerjakan 2 project," ujarnya.

Selain Rick Price, grup asal Amerika, Boyz II Men dan Dr and Professor feat Sruti Respati pun bergantian menghibur penonton. Sementara itu, pada sore harinya di panggung Festival Show, Marcell Siahaan, Rio Febrian, Shaggydog, dan Trio Lestari sudah lebih dulu menghibur sekitar 8.000 pengunjung Indihome Prambanan Jazz Festival 2016. (liputan6.com)

Hari kedua Prambanan Jazz 2016, Minggu (21/8/2016), rupanya menjadi sebuah acara spesial bagi Tulus.

Vokalis bernama lengkap Muhammad Tulus tersebut mendapat kesempatan merayakan ulang tahunnya yang jatuh pada 20 Agustus atau sehari sebelum ia tampil di Prambanan Jazz 2016.

"Saya kemarin ulang tahun dan sekarang saya senang karena punya kesempatan untuk merayakannya bersama kalian dengan nyanyi bareng," kata Tulus, setelah ia membuka penampilannya dengan "Gajah" dan "Baru", Minggu malam.

Sambutan meriah penonton langsung dijawab Tulus dengan lagu "Jangan Cintai Aku Apa Adanya".

Prambanan Jazz 2016 semakin terasa spesial bagi Tulus karena ia juga berkesempatan untuk membawakan lagu-lagu dari album terbarunya, Monokrom.

Lagu pertama yang ia mainkan dari album itu adalah "Monokrom". Bagi Tulus, lagu itu juga merupakan bentuk rasa terima kasihnya bagi orang-orang yang telah berjasa bagi hidup dan kariernya.

"Lagu ini sebagai bentuk ucapan terima kasih saya bagi orang-orang yang sudah baik kepada saya. Saya harap teman-teman juga merasakan rasa terima kasih yang ingin saya sampaikan ini," ujar Tulus.

Selesai "Monokrom" dibawakan, Tulus kembali menyajikan lagu baru berjudul "Tukar Jiwa". Ini kali pertama ia membawakan lagu itu secara langsung.

"Kadang-kadang kita merasakan sesuatu ke orang lain tapi orang itu enggak ngerti-ngerti. Biar ngerti ya caranya dia menjadi kita dan kita menjadi dia. Ini salah satu favorit saya judulnya 'Tukar Jiwa'," tuturnya.

Tulus tak hanya ingin menyajikan dua lagu baru, ia beranjak ke lagu baru ketiganya yang juga baru saja ia rilis sebagai single pertama dari albumnya sekitar tiga minggu yang lalu. Lagu tersebut adalah "Ruang Sendiri". 

"Ruang sendiri bagi kita ya emang kalau kita lagi merenung," ucapnya singkat.

Berikutnya, Tulus menyajikan sebuah medley lagu-lagu hitsnya antara lain "Teman Hidup", "Sewindu" dan tentu saja "Sepatu". (kompas.com)

Musik, dari mana pun dan oleh siapa pun dimainkan, tetaplah menjadi media paling gampang dicerna oleh manusia. Musik menghidupi kata-kata, musik juga yang menghidupi ruang dan peristiwa. Itulah sebabnya, dengan latar belakang budaya macam apapun, musik bisa dikunyah dengan asyik bahkan oleh masyarakat yang memiliki budaya yang berbeda.

 

 

Maka tak heran kiranya masyarakat Jawa bisa juga menikmati musik perkusif dari Papua, Aceh, atau sebaliknya. Begitulah, musik menjadi bahasa ungkap paling akrab pada kehidupan manusia. Lantaran sedemikian dekatnya dengan manusia itulah, musik kerap dipakai sebagai media penyampai pesan, baik pesan cinta, pesan damai, bahkan pesan perang.

Pada Kamis malam, 18 Agustus 2016 Bentara Budaya Jakarta menampilkan kelompok musik yang memiliki perhatian pada tradisi Nusantara bernama Rudy Octave & Etno Psycho, yang mengusung judul pementasan "Archipelago Trip".

Semangat pementasan ini, menurut Rudy Octave, berangkat dari keprihatinan atas bahasa daerah yang mulai terpinggirkan. Diperkirakan, dari 726 daerah di Indonesia, hanya 10 persen yang bisa mempertahankan bahasa daerahnya. Selebihnya akan punah dilindas zaman.

Sejak masa kanak-kanak, di sekolah kita diajari Bahasa Indonesia serta bahasa asing, namun lalai mengajari kita bahasa daerah dengan baik, sehingga kita asing dengan bahasa ibu (daerah). Melalui seni musik itulah, Rudy Octave Etno Psycho melantunkan bahasa ibu dalam bahasa musik keinian.

Sesuai dengan tema perjalanan, konser ini memang membawakan lagu-lagu dari berbagai daerah di Nusantara Raya ini. Dibuka dengan lagu Sunda berjudul Bangbung Hideung dengan intro gendang jaipong yang rancak. Musik dengan rasa Sunda itu pun langsung mengantarkan penonton untuk berlayar mengarungi rasa musik dari sudut-sudut negeri, mulai dari Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Flores, Sulawesi Tengah, hingga Amerika Latin.

Male'en, lagu daerah Kalimantan Barat dibuka dengan petikan Sape dan bonang, mengingatkan kita pada hutan perawan di Borneo. Apalagi dibawakan oleh kelompok Laskar Dayak yang juga berkostum suku Dayak, lengkap dengan hiasan bulu-bulu rajawali di kepala mereka.

Zarro, musisi yang biasanya membawakan lagu-lagu jazz, kian menghidupkan suasana dengan lagu Tope Gugu dari Sulawesi Tengah. Zarro yang tampil ekspresif mampu membuat lagu daerah itu jadi penuh daya.

Demikian juga dengan penampilan Ivan Nestorman yang mendendangkan lagu Mogie yang kemudian didueti oleh Wilson Novoa, penyanyi dari Amerika Serikat, yang bernyanyi dalam bahasa Spanyol di tengah lagu. Usai membawakan lagu yang mendapat sambutan hangat dari penonton, Nestor melanjutkan dengan lagu Tonga (Flores).

Tampil kedua, Laskar Dayak mampu mengendalikan penonton untuk menirukan gerak dan lagu berjudul Ledang (Kalbar). Demikian juga Zarro yg tampil membawakan Jujuru Peti (Sulawesi Tengah).

Konser ditutup dengan nomor berbahasa Spanyol. Wilson membawakan lagu dari Amerika Latin berjudul Guajira. Lagu ini menyempurnakan konser dengan hadrinya semua pengisi acara di atas panggung. (kompas.com)

Seni, menurut penyanyi Kikan Namar (39), merupakan salah satu cara paling efektif untuk menyampaikan semangat kemerdekaan pada masyarakat. Jenisnya tidak tertutup pada seni musik saja, tetapi juga seni tari, seni peran, hingga lewat lukisan.

"Zaman dulu aja kalau mau menyebarkan agama dengan lebih lancar itu lewat bantuan seni tradisional. Seni itu bisa menggugah orang untuk lebih mencintai bangsanya dan punya etos kerja lebih baik," ujarnya yang ditemui Kompas.com dalam acara "Potret Perjuangan - Sinergi Membangun Negeri" di gedung The Energy, Sudirman, Jakarta, pada (18/8/2016).

Pelantun lagu "Bendera" itu melanjutkan, kemerdekaan seharusnya tak hanya diingat atau sekadar seremonial saja. Di luar 17 Agustus, masyarakat sebaiknya tetap merayakan dengan terus bekerja keras sekaligus terus semangat melakukan tindakan yang berguna bagi orang lain.

"Kalau memang berani buat statement 'saya cinta bangsa ini', mulailah melakukan sesuatu. Bisa dari hal simpel, misalnya tidak buang sampah sembarangan. Sepele tapi efeknya besar banget," ujar Kikan berpesan. 

Menurut dia, arti kemerdekaan hari ini sudah tidak bisa disamakan dengan 71 tahun yang lalu. Sekarang, Indonesia justru masih terjajah dengan berbagai stigma dan kondisi tertentu.

"Pertanyaannya sekarang, memang benar kita sudah betul-betul merdeka?" katanya.

Kikan berpendapat bahwa ada dua hal penting yang selalu menjadi perhatiannya sekarang. Bidang itu adalah hukum dan pendidikan.

"Banyak hal yang dapat diperbaiki bila penegakkan hukum di Indonesia dijalani dengan baik dan benar. Kalau semuanya masih bisa dibeli, sampai kapan pun enggak akan ada ujungnya," kata Kikan.

Soal pendidikan, ia melanjutkan, perlu pengajaran yang lebih dari sekadar pendidikan formal di Indonesia. Terlebih lagi, lingkungan keluarga adalah pagar nomor satu pembentuk pribadi seorang anak dan seharusnya lebih diperhatikan.

Album baru

Sejak lepas dari band Cokelat, Kikan tak melepaskan diri dari dunia musik Indonesia. Ia sempat membantu band Kotak dalam proyek Kikan X Kotak karena Tantri, sang vokalis, sedang hamil tua.

"Sekarang baru selesai karena Tantri sudah nyanyi lagi. Aku sih masih jadi penyanyi solo dan punya band pengiring sendiri," kata Kikan.

Dalam waktu dekat ini, ia berencana meluncurkan album perdana bertema cinta. Kikan berniat untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.

"Enggak tahu ya, orang memang berharapnya aku masih yang seperti Cokelat atau justru keluar dari zona itu. Yang jelas aku sih akan coba untuk berbeda, tapi karakter aku masih ada di situ," ujarnya. (kompas.com)

Paduan suara mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Ultima Sonora, berhasil membawa pulang tiga medali penghargaan dari Singapore International Choral Festival (SICF) 2016, Sabtu (13/8/2016).

Ultima Sonora yang dikenal dengan sebutan Ulson ini meraih satu Gold Diploma untuk kategori Folklore serta dua Bronze Diploma untuk kategori Mixed Voice dan Musica Sacra. Ini menjadi prestasi internasional perdana bagi paduan suara tersebut.

Ketua Ultima Sonora, Raymond Zamrudi, mengatakan bahwa timnya mempersiapkan lagu-lagu yang mereka nyanyikan dengan sebaik-baiknya.

"Kami bisa bertemu sekaligus bertukar pikiran dengan anggota choir lain dari berbagai negara, dan tentunya bisa merasakan suasana yang berbeda saat menaiki panggung internasional di luar Indonesia," kata Raymond, seperti yang dikutip dari laman umn.ac.id, Kamis (18/8/2016).

Dalam SICF 201f yang berlangsung dari 10 Agustus hingga 13 Agustus 2016 itu, Ulson menyanyikan tiga lagu untuk tiga kategori. Untuk kategori Mixed Voice, mereka membawakan "Salmo 150", "O magnum Mysterium", dan "Wash Me Thorughly".

Sedangkan, untuk kategori Musica Sacra, mereka menampilkan lagu "Alleluia", "Gloria 3", serta "Ave Maria". Lalu, lagu daerah berjudul "Benggong", "Luk Luk Lumbu", dan "Ahtoi Porosh" dinyanyikan pada kategori folklore.

"Pematangan dan penguasaan lagu serta koreografi berjalan dengan baik. Kami melatih sembilan lagu sekaligus dengan intensitas latihan antara empat hingga lima hari dalam seminggu," ucap Raymond.

Tim Ultima Sonora terdiri dari 34 penyanyi, seorang pianis, dan seorang konduktor. Sebelum tampil di SICF 2016, mereka terlebih dulu mengikuti pre-competition di Fuction Hall kampung UMN, beberapa gereja di wilayah Tangerang, dan sekolah Santa Ursula BSD. (kompas.com)

Penyanyi rap Indonesia, Denada, tampil unik dalam Pesta Rakyat: Konser Kemerdekaan di Eks Driving Range GBK Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016) malam.

Keunikan itu bukan dari gaya berbusananya, melainkan dari musik yang ia suguhkan.

Ibu satu anak ini berduet dengan Wildones memadukan gamelan Bali dengan musik elektronik lewat lagu terbarunya "Sing Ken Ken".

Tak hanya itu, Denada juga menyuguhkan tarian Bali bernuansa hiphop, lengkap dengan penari latar berpakaian tradisional Bali.

Ia bergerak gemulai sekaligus enerjik mengikuti irama mengentak sambil bernyanyi rap. Sementara ribuan penonton yang datang seakan terhanyut.

"'Sing Ken Ken' itu bahasa Bali artinya enggak apa-apa. Di dalamnya kami menggabungkan musik EDM dan tradisional yaitu gamelan Bali," ucap Denada yang ditemui sebelum tampil.

"Di situ kami juga kolaborasi dengan penari Bali. Makanya aku ajak Shakira lihat karena penari Bali-nya pakai kostum," tambahnya. (kompas.com)

Setelah memutuskan vakum bermusik, gitaris Abdee Negara akan kembali tampil bersama grup band Slank dalam pertunjukan "Pesta Rakyat: Konser Kemerdekaan" di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, pada 17 Agustus 2016.

Meski tak akan tampil sepanjang pertunjukan, Abdee menjanjikan aksi panggung yang menghibur saat berkolaborasi dengan vokalis Dira Sugandi dan penyanyi rap Jflow.

"Mungkin main satu lagu. Nanti akan ada kolaborasi Dira Sugandi sama JFlow dengan Slank mungkin saya ikut main juga," ujar Abdee saat ditemui di Resto Laguna, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/8/2016).

Abdee yang didiagnosa gagal ginjal berharap kondisi fisiknya nanti cukup mendukung sehingga ia tak hanya memainkan satu lagu saja.

"Insya Allah saya main sama Slank. Kalau bisa semua lagu. Doakan saja fisik saya kuat," ungkapnya.

Bersama Slank, Abdee yang juga berperan sebagai penggagas konser ini berencana akan membawakan lagu bertema nasionalisme.

"Ada beberapa lagu yang kami artis semua sepakat membawakan lagu yang temanya lebih ke perjuangan, nasionalisme, dan optimisme. Kayak Giring mereka bawa lagu 'Bangkit'," ujar Abdee. (kompas.com)

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Jazz Gunung Bromo 2016 siap diselenggarakan pada 19 dan 20 Agustus mendatang di panggung terbuka Jiwa Jawa Resort Bromo, Desa Wontoro, Kabupaten Probolinggo. Sempat tersebar isu bahwa Jazz Gunung Bromo 2016 bakal dibatalkan karena gunung Bromo dalam status waspada, penggagas acara yaitu Sigit Pramono membantahnya.

"Belakangan ini ada isu yang salah ditafsirkan mengenai status gunung Bromo," terang Sigit saat menjalani jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta pada pekan lalu. "Dari episode pertama sampai sekarang edisi kedelapan Jazz Gunung, gunung Bromo itu memang dalam status waspada," terangnya.

Namun semua itu Sigit pastikan bahwa Jazz Gunung Bromo 2016 aman untuk tetap dijalankan. Meski dalam status waspada, festival jazz yang diadakan di ketinggian 2300 meter di atas permukaan laut tersebut akan tetap aman dengan catatan menjaga jarak minimal satu kilometer dari kawah Bromo; Jazz Gunung Bromo 2016 sendiri berjarak enam kilometer dari kawah tersebut.

Jazz Gunung Bromo 2016 menghadirkan sederet musisi untuk tampil seperti Scionti Trio (Spanyol), Dwiki Dharmawan Jazz connection, Ermy Kullit, Shaggy Dog, The Groove, Ring of Fire feat. Bonita & Ricad Hutapea, Penny Candarini, SambaSunda, dan Nial Djuliarso feat. Arief Setiadi. Jazz Gunung Bromo edisi kali ini bertemakan "Pesta Merdeka di Puncak Jazz Raya" sebagai perayaan hari jadi Indonesia yang ke-71 tepat dua hari sebelum festival tersebut diselenggarakan.

Ada pun empat kategori tiket yang dapat dibeli untuk menghadiri Jazz Gunung Bromo 2016. Kategori pertama adalah Festival seharga Rp 350 ribu per hari dan Rp 600 ribu untuk dua hari. Ada pun kategori VIP-A dijual dengan harga Rp 500 ribu per hari dan Rp 800 ribu untuk dua hari. Sedangkan kategori VIP-B mematok harga Rp 600 ribu per hari dan Rp 1 juta untuk dua hari. Kategori terakhir yaitu VVIP, dijual seharga Rp 1 juta per hari dan Rp 1,5 juta untuk dua hari. Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi situs resmi Jazz Gunung Bromo 2016. (rollingstone.co.id)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM