Rate this item
(0 votes)

Tantangan Tersulit Animator Indonesia Saat Garap Efek Visual Avengers: Infinity War

By Published May 02, 2018

Ronny Gani, salah satu animator asal Indonesia yang mengerjakan efek visual film Avengers: Infinity War, mengatakan, tantangan tersulit dari tugasnya adalah memenuhi harapan penonton.

"Untuk proyek ini tantangannya itu ekspektasi dari audience sangat tinggi terhadap proyek ini sebagai sebuah produk film," kata Ronny kepada Kompas.com dalam wawancara eksklusif di Marina Bay Sands, Singapura, baru-baru ini. Selain Ronny, ada pula Renald Taurusdi yang menjabat sebagai Creator Technical Director di Industrial Light & Magic, anak perusahaan Lucas Animation yang menggarap efek visual Avengers: Infinity War. Ronny dan Renald beserta tim harus memastikan efek visual dan animasi yang mereka kerjakan bisa tersampaikan dan sesuai harapan penonton. "Kami juga harus memastikan filmmaker puas atas apa yang kami produksi," ucap Ronny yang pernah menjadi tim animator untuk Avengers: Age of Ultron. Selain itu, lanjut Ronny, ada banyak dinamika selama mengerjakan film Infinity War arahan sutradara Joe dan Anthony Russo. Kerja kreatif yang mereka lakukan tak semulus kelihatannya. Terkadang hasil pekerjaan Ronny, Renald, dan tim diterima. Namun karya mereka tak jarang pula kurang memuaskan bagi sutradaranya. "Karena ini sangat kreatif, prosesnya enggak linear. Tapi prosesnya selalu akan organik, kadang udah diterima, dua hari kemudian di-recall lagi. Tapi itu semua punya goal satu yaitu to make the product the film to be as good as it get. Dan kami semua satu komando menuju goal itu," ucap Ronny. "Kami memberikan kontribusi terbaik untuk film ini karena memang proyek sangat besar ini mereka ingin memberikan storytelling yang terbaik. Bagaimana audience bisa enjoy, jadi prosesnya sangat dinamis," timpal Renald.

Paling menyenangkan

Kendati menggarap efek visual dan animasi itu sulit dan banyak tantangannya, Ronny dan Renald sepakat bahwa bagian paling menyenangkan adalah ketika menyaksikan film yang mereka kerjakan diterima dengan baik. "Yang paling menyenangkan saat saya melihat kerjaan saya di layar bioskop, itu rasanya puas. Saya tahu pas mengerjakan itu saya sudah memberikan yang terbaik. Jadi pada akhirnya melihat di layar bioskop itu sangat puas," ucap Renald. Apalagi ketika bisa melihat langsung reaksi penonton terhadap karya mereka. "Memang seperti imbalannya, rasa ketika melihat reaksi orang waduh rasanya seneng, puas. Berarti kerjanya bagus, berhasil kerjanya karena orang suka," ujar Renald. "Waktu pertama kali saya terlibat di proyek efek visual, saya melihat reaksi penonton di bioskop. Enggak sengaja sih, saya lagi nonton, terus saat bagian yang kerjaan saya muncul di layar, saya enggak lihat ke layar, tapi lihat ke audience," timpal Ronny. "Merhatiin ekspresi, gesture dan reaksi mereka seperti apa. Dan itu yang bikin saya sadar bahwa kerjaan saya ditonton oleh jutaan orang dan itu pengalaman yang saya rasain," sambungnya.

Ronny sebelumnya pernah mengerjakan animasi untuk film-film blockbuster Hollywood. Di antaranya, film Pacific Rim (2013), Transformers: Age Of Extinction (2014), Avengers: Age Of Ultron (2015), Warcraft (2016), The Great Wall (2017), dan Ready Player One (2018). Sama halnya dengan Ronny, Renald juga sudah berpengalaman mengerjakan film-film kenamaan. Sebut saja film Jurassic World (2015), Warcraft (2016), Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows (2016), Star Wars: The Last Jedi (2017), Kong: Skull Island (2017), sampai yang terbaru film Ready Player One (2018). (kompas.com)

Read 406 times

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM