Rate this item
(0 votes)
in News

Apa yang memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor di Pacitan?

By Published November 30, 2017

Curah hujan sangat ekstrem 383 mm/hari sejak hari Senin (27/11) sebagai dampak dari siklon tropis Cempaka menyebabkan banjir sedalam 2,6 meter dan tanah longsor.
Siklon ini untuk pertama kalinya berada sangat dekat dengan pesisir selatan Jawa dan telah menewaskan setidaknya 19 orang di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, menurut data yang dikeluarkan juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Rabu (29/11).
Salah seorang penyelamat Badan SAR Nasional (BASARNAS) yang telah bertugas sejak hari Selasa (28/11) di Pacitan, Jawa Timur, adalah Yoni Fariza yang harus melewati berbagai rintangan seperti pohon rubuh dan banjir untuk menyelamatkan para korban.
Yoni mengatakan, pada sekitar pukul 17.00, ia dan timnya menemukan seorang nenek berumur 70-an tahun berdiri di atas lemari di balkon lantai dua rumah mereka, berpegangan ke dinding. Kedua orang ini telah terjebak di banjir selama sekitar empat jam.

Tim menemukannya karena kedua penduduk Pacitan ini menggunakan sinar senter sebagai isyarat meminta pertologan. Mereka diselamatkan bersama-sama dengan warga, dibawa dengan perahu karet ke pos pengungsian.

Gas rumah kaca
Siklon ini terjadi karena terjadinya pemanasan global akibat kegiatan manusia mengeluarkan karbondioksida dan penggundulan hutan, kata Ramlan, kepala bidang prediksi dan peringatan dini cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Pemanasan itu tentunya dari segala sesuatu yang kita di darat, misalnya kita menggunakan alat-alat transportasi, banyak gas-gas rumah kaca. Artinya masih banyak karbondioksida yang masih terkungkung atau masih bertebaran di wilayah atmosfir ini, sehingga udara atau pun tekanan yang ada di wilayah atmosfir ini termampatkan, dan sehingga tidak bisa menguapkan atau memantulkan massa udara kembali ke atas, sehingga pemanasan ini sangat cepat sekali," jelas Ramlan.
Dia menambahkan siklon Cempaka sudah mulai melemah, menjauhi daratan Jawa. Berdasarkan pantauan BMKG terdapat bibit siklon lain yang kemungkinan akan terjadi di Indonesia pada 500 km arah barat daya Bengkulu.

Emas dan tembaga?
Dalam enam tahun terakhir, wilayah selatan Jawa Timur dipandang telah mengalami beban kerusakan paling tinggi, tetapi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral tetap mengeluarkan wilayah usaha pertambangan mineral.
Kegiatan pertambangan yang dilakukan di Pacitan, seperti tembaga dan emas, memang masih belum bisa dipastikan secara langsung menjadi penyebab kerusakan lingkungan.
Tetapi secara umum aktivitas ini mungkin saja menjadi pemicunya, kata Rere Kustanto, direktur WALHI Jawa Timur.
"Di wilayah selatan yang secara karakteristik sudah tinggi ancaman bencananya, kemudian didorong menjadi wilayah pertambangan, salah satunya, tentu saja akan makin memperburuk kerusakan lingkungan yang ada di situ, sehingga kualitas lingkungannya menjadi lebih rendah, yang mengakibatkan juga ancaman, tingkat risiko bencananya lebih tinggi ketimbang wilayah-wilayah lain," kata Rere.

Pohon, air dan kebersihan
Jadi apa yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi bencana alam akibat pengrusakan lingkungan hasil kegiatan manusia?
1. Menggunakan air dengan hemat.
2. Menanam pohon untuk menghirup atau menghisap karbondioksida.
3. Memelihara lingkungan bantaran kali.
4. Tidak membuang sampah sembarangan.
5. Menjaga kewaspadaan terhadap ancaman bencana.
6. Mengkaji daya tampung alam.
7. Kawasan konservasi benar-benar diterapkan.
8. Pengurangan pertambangan di lahan kritis.

(bbcindonesia.com)

Read 534 times

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM