Rate this item
(0 votes)
in News

Planetarium tertua dunia yang masih berfungsi dengan baik

By Published April 17, 2018

Astronom amatir Belanda Eise Eisinga berhenti sekolah pada usia 12 tahun, tapi dia membangun model sistem tata surya yang sempurna di ruang tamunya.

Ada sedetik kesunyian yang muncul saat atmosfer ruangan berubah dari perenungan menjadi rasa tidak percaya.

"Bagaimana bisa?" kata seorang pengunjung, sambil menunjuk ke langit-langit ruang tamu.

"Apakah ini masih akurat?" kata pengunjung lain.

"Kenapa saya tidak pernah mendengar ini sebelumnya?" kata rekannya.

Sambil mendongak ke atas, saya juga tak bisa mempercayainya.

Di atap kayu di atas kepala kami, ada model skala semesta kita, dicat dengan emas yang berkilau dan biru tuan yang mengilap.

Ada Bumi, sebuah bola emas yang bergantung dari kawat yang nyaris tak terlihat.

Di sebelahnya, matahari, berbentuk bintang yang terbakar, berkilau seperti hiasan Natal. Lalu Merkurius, Venus, Mars, dan bulan-bulannya secara berturutan, tergantung dalam jalur eliptis yang menempel di langit-langit.

Semuanya berkilau di satu sisi, menggambarkan terangnya matahari, sementara di jarak yang lebih jauh, di lingkar luar, adalah planet-planet terluar, Jupiter dan Saturnus. Sementara posisi bulan, yang digunakan untuk menentukan posisi zodiak, melengkapi sistem model tersebut.

Ilmu sains abad pertengahan di balik Planetarium Royal Eise Eisinga cukup mencengangkan siapapun yang melihatnya.

Tersembunyi di salah satu rumah di pinggir kanal di kota kecil Franeker, di provinsi barat laut Friesland, ini adalah planetarium tertua dunia yang masih berjalan.

Astronomi Barat berasal dari Mesopotamia Kuno, di sepanjang lembah sungai Tigris dan Eufrat. Tapi seorang astronom amatir — Eise Eisinga — menjebak tata surya di ruang tamunya. Dan perhitungan yang digunakannya sampai hari ini masih akurat.

Seakurat apa? Lihat ke atas, dan semua planet, bintang, matahari dan bulan berada di tempat yang tepat seperti seharusnya, meski jaraknya dikurangi dalam skala satu triliun, artinya 1mm dari langit-langit itu mewakili jarak satu juta km.

Jupiter butuh 12 tahun untuk mengelilingi matahari. Saturnus, 29 tahun. Uranus, Neptunus dan Plato tidak ada di sini karena planet-planet itu belum ditemukan saat Eisinga menyelesaikan model skala sistem tata surya yang dibangunnya pada 1781.

Meski begitu, ini menakjubkan: sebuah teater Barok bagi para pengamat bintang, menjadi perhiasan di ruang tamu dari rumah sederhana seorang penyisir wol yang hidup tak lama setelah Zaman Keemasan Belanda.

Dan semuanya merupakan pencapaian yang tak terbayangkan mengingat Eisinga berhenti sekolah pada usia 12.

Planetarium Royal Eise Eisinga kini menjadi museum astronomi serta pusat eksplorasi luar angkasa.

Sejak dibuka pada 1781, tempat ini sudah menarik banyak pengunjung dari seluruh dunia.

Tempat ini terdaftar sebagai Rijksmonument, atau situs warisan nasional di Belanda, dan pengamat bintang, astronom amatir sampai astronot yang menjalani misinya sudah mengunjungi tempat ini dan berharap, seperti halnya Eisinga, bisa mendapat inspirasi.

Salah satu orang itu adalah Adrie Warmenhoven, direktur museum yang tak pernah tak kagum akan akurasi yang dibuat oleh Eisinga.

Beberapa kali dalam setahun, kata Warmenhoven, dia bisa melihat matahari terbit di atas teluk IJsselmeer saat menyeberangi jalan di Afsluitdijk dalam perjalanan ke tempat kerja.

"Saat kemudian saya masuk ke planetarium, saya bisa melihat waktu yang sama di pagi hari pada jam planetarium," katanya dengan bersemangat saat saya berkunjung pada sebuah siang yang cerah di bulan Februari.

"Beberapa tahun lalu, Venus transit di matahari, sebuah fenomena astronomi yang jarang, dan itu tetap terlihat di dalam planetarium. Menakjubkan, bukan?"

Meski kisah Eisinga sudah banyak diketahui di provinsi rumahnya di Friesland, namun kisah ini mungkin tak akan kita ketahui tanpa keberadaan planetarium — dan buku yang jelas-jelas sering dibukanya.

Buku yang penuh dengan sketsa dan gambar ini menjelaskan dengan detail bagaimana cara mempertahankan dan mengelola planetarium meski penciptanya sudah tiada.

"Planetarium ini akurat, tapi tidak sempurna," kata Warmenhoven, dia menjelaskan mekanisme kerjanya.

"Contohnya pendulum ini terbuat dari satu jenis besi sehingga terpengaruh oleh perubahan cuaca. Lalu ada planet-planetnya yang menjadi masalah karena ukurannya. Sehingga menurut manual Eisinga, kita harus menyesuaikannya setiap 10 atau 12 tahun."

Pada 8 Mei 1744, Eisinga pertama kali menggunakan pengetahuannya ini.

Ada kepanikan di kalangan penduduk desa Franeker saat sebuah skenario kiamat dimunculkan oleh Eelco Alta, seorang teologi dan pendeta Frisian. Menurutnya, susunan planet bisa membuat Bumi terbakar oleh matahari.

Eisinga, yang tak lebih dari seorang astronom amatir, menunjukkan kebenarannya. Dia tidak bertujuan untuk mengejek gereja, tapi untuk memprediksi pergerakan planet di masa depan dan memperlihatkan pada penduduk desa bahwa mereka salah.

"Eisinga tahu bahwa setiap planet punya orbitnya sendiri mengelilingi Matahari," kata pemandu tur Mascha Noordermeer sambil mengikuti jejak lingkaran di langit-langit seperti yang dilakukan Eisinga. "Bahwa proyek ini, yang butuh waktu tujuh tahun sampai selesai dan hampir membuatnya bangkrut, adalah sekadar hobi."

Selama satu dekade, Eisinga mengerjakan proyek ini di waktu luangnya, dan planetarium ini terus bertambah di atas dapur dan lemari yang sekaligus menjadi tempat tidur baginya, istrinya, dan anak laki-lakinya.

Pada sebuah pagi di 1781, semuanya terlihat benar. Dia sudah mencapai ruang liminal, di mana dia bisa menyentuh bintang dari ruang tamunya. Untuk sementara, waktu mungkin terasa berhenti.

Saran jika Anda ingin mengunjungi tempat ini: jangan terburu-buru.

Anda butuh waktu untuk melihat teleskop era Georgia, octant dari abad 18 dan sebuah tellurium (model Bumi, bulan dan bintang, yang diwakili oleh lilin yang menyala), selain juga ketepatan matematis yang dibutuhkan untuk merancang planetarium ini butuh waktu lama untuk dipahami.

Di loteng, ada temuan lain. Sistem tata surya buatan Eisinga, yang terjalin dari sistem yang rumit dari lingkaran kayu yang bekerja secara mekanis dan kabel-kabel penuh debu, juga dikuatkan oleh lebih dari 10.000 paku buatan sendiri, yang berfungsi sebagai gigi.

Saking terkesannya, William I, Pangeran Oranye dan raja Belanda pertama, yang juga naik ke langit-langit ini 200 tahun lalu, memutuskan untuk membelinya.

Untuk 10.000 gulden — jumlah yang fantastis pada awal abad 19 — rumah Eisinga menjadi planetarium kerajaan dan negara. Satu-satunya syarat, penciptanya harus tinggal di situ untuk memberi penjelasan.

Saya keluar ke jalanan di Franeker.

Rumah-rumah yang berbalut tanaman ivy mendapat cahaya matahari terakhir hari itu, dan bintang-bintang bermunculan.

Pesepeda berjalan di sepanjang jalanan kanal yang berbatu dan di depan Gereja Martinus dari abad pertengahan, kolam air mancur yang baru dipasang diam dalam kegelapan.

Kolam air mancur itu dibangun untuk menghormati astronom hebat Belanda lainnya, Jan Hendrik Oort, yang lahir di Franeker pada 1900.

Asumsinya, bahwa galaksi Bima Sakti bergerak di sekitar sistem tata surya kita — dan bukan di sekitar matahari — terbukti benar. Barulah saat itu saya menyadari betapa Franeker, kota kecil ini membuat dunia menjadi lebih besar dan lebih terang bagi semua orang.

Eisinga meninggal pada usia 84, dan dikuburkan di dekat Dronrijp, 7km dari tempatnya tumbuh besar.

Kini, sebuah patung perunggu, yang didekasikan untuk penyisir wol luar biasa itu, terus melihat ke arah langit, dalam bayangan rumah tempatnya dilahirkan.

Sebagai suatu penghormatan, patung ini pasti akan membuatnya bangga. (bbcindonesia.com)

Read 323 times

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM