Sebuah kejadian mencengangkan mewarnai laga kompetisi kasta ketujuh di Swedia yang mempertemukan tim B Jarna SK kontra Pershagen SK baru-baru ini.

Di menit akhir laga, pemain Pershagen, Adam Lindin Ljungkvist diusir wasit setelah mendapat kartu kuning kedua. Yang membuat aneh, kartu kuning kedua tersebut didapat karena Ljungkvist kentut di tengah lapangan!

"Perut saya mual dan di menit akhir laga saya kentut. Wasit lalu mendatangi saya dan memberi kartu kuning dan kemudian kartu merah," ujar Ljungkvist kepada Aftonbladet.

"Itu adalah peringatan kedua bagi saya, meski saya benar-bear lupa dengan peringatan yang pertama. Saya sedikit kesal kepada wasit, saya tak percaya dengan apa yang baru terjadi," lanjutnya.

"Saya mengira bahwa wasit menganggap saya kentut ke arah lawan. Tapi mencoba memprovokasi seseorang dengan kentut bukanlah sesuatu yang cerdas atau normal. Saya kentut dan saya dikartu merah. Wasit berkata bahwa itu adalah tindakan yang tidak sportif," tutupnya. (bola.net)

Sudah jamak diketahui bahwa ulang tahun Jakarta jatuh pada 22 Juni dan penetapannya dihitung sejak 1527. Itu artinya, hari ini Kota Jakarta akan merayakan ulang tahun yang ke-489. 

Meski demikian, penetapan oleh Prof Soekanto ini masih menimbulkan polemik. JJ Rizal, peneliti budaya dan sejarah Betawi, menyebutkan nama Jakarta bahkan sudah muncul 500 tahun sebelum Jepang datang ke Indonesia.

Soekanto dalam buku Dari Djakarta ke Djajakarta mengatakan, " pernah kita dengar sendiri, bahwa nama Djakarta dianggap seolah-olah sebagai suatu nama baru, jaitu nama jang diberikan dalam djaman pemerintahan Djepang untuk memasukkan daerah itu dalam lingkungan Asia Timur Raja atau Dai Nippon."

Soekanto menulis, memang nama Jakarta muncul dalam masa Jepang dan diberikan untuk menggantikan nama Batavia yang berbau penjajahan dan bersifat kolonial. Namun, Sukanto menegaskan bukan berarti nama Jakarta itu adalah suatu ciptaan Jepang dalam Perang Dunia ke II.

Setidaknya, kata Soekanto, nama Jakarta dengan berbagai variasinya (Djakerta, Djaketra, Jacatra, Djajakerta, Djajakarta) telah berusia lebih dari empat abad. Nama itu timbul, lenyap, dan timbul lagi dalam perjalanannya dari zaman ke zaman.

Jika ditelusuri berdasarkan catatan sejarah, nama tertua bagi tempat tinggal yang kini disebut Jakarta adalah Sunda Kalapa. Adolf Heuken SJ dalam Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta menyatakan kata Sunda baru muncul di Jawa Barat pada abad ke-10, yaitu pada Prasasti Kebon Kopi II dan Prasasti Cicatih di Cibadak, yang menyebutkan tentang seorang raja maupun Kerajaan Sunda.

Adapun prasasti tertua yang menjadi peninggalan sejarah Jakarta adalah Prasasti Tugu dari abad ke-5. Prasasti ini tertanam hampir 1.400 tahun lamanya di Desa Batu Tumbuh, di dekat Tugu, Jakarta Utara. Prasasti menjelaskan bahwa kehidupan awal di Jakarta sudah tumbuh. Pada saat itu Jakarta berada dalam penguasaan Kerajaan Sunda Pajajaran.

Dari sumber-sumber sejarah dan peta purba yang diteliti Heuken, tampak sudah ada permukiman di sepanjang daratan aluvial Jakarta sejak abad ke-5. Daratan aluvial itu ada di sebelah tenggara Tanjung Priok. 

Selain itu, berdasarkan teori J Noorduyn dan H Th Verstappen atas peta topografik, tampak Kali Cakung sengaja dibelokkan persis pada bekas lokasi Prasasti Tugu itu dari arahnya yang lama (ke utara, ke Lagoa), ke arah timur laut, yakni ke Marunda.

Sunda Kalapa sebagai sebuah kota pelabuhan tumbuh dan berkembang dengan pesat. Hal ini termuat dalam sebuah catatan Cina dari Chu Fan Chi pada abad ke-11 yang menguraikan soal kota pelabuhan dengan kedalaman 60 kaki dengan laki-laki maupun perempuan yang mengikatkan sepotong kain katun di pinggang.

Pada 1513, kapal Eropa pertama, yakni empat kapal Portugis di bawah pimpinan de Alvin, singgah di Sunda Kelapa. Mereka datang dari Malaka, yang dua tahun sebelumnya ditaklukkan oleh Alfonso d Albuqueque. Sunda Kelapa adalah pelabuhan yang ramai yang menjadi tempat singgahnya kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar, dan Madura, bahkan hingga pedagang-pedagang dari India, Tiongkok Selatan, dan Kepulauan Ryuku (Jepang).

Perkembangan Islam di Nusantara mau tidak mau membawa pengaruh bagi Sunda Kalapa. Terjadilah suatu upaya ekspansi dari kaum Muslim untuk menyebarluaskan pengaruh politik, ekonomi, dan keagamaan. Berita dari D Barros mengabarkan bahwa Faletehan datang dari Banten dan merebut Sunda Kelapa.

Siapakah Faletehan? Prof Husein Djajadiningrat dalam Sejarah Jakarta dari Zaman Prasejarah sampai Batavia mengidentifikasikan bahwa Faletehan adalah Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Berdasarkan Purwaka Caruban Negeri, babad Kerajaan Banten, penaklukan Kerajaan Banten terjadi pada 1526 dan penaklukan Sunda Kelapa terjadi pada 1527. Kala itu nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang berarti 'membuat kemenangan'.

Prof Husein Djajadiningrat berpendapat perubahan nama itu terjadi pada 17 Desember 1526—suatu pendapat yang berbeda dengan versi Soekanto pada 22 Juni 1527. Djajadiningrat juga menggarisbawahi bahwa pemberitan nama Jayakarta mungkin dihubungkan dengan kemenangan Nabi Muhammad merebut Kota Mekah dari tangan kaum Quraisy. 

Selain itu, juga teringat akan firman Allah dalam surat pertama Al-Fath, "Inna fatahna laka mubinan" yang berarti 'sesungguhnya kami telah memberi kemenangan kepadamu kemenangan yang nyata'.

Namun perkembangan Jayakarta di bawah penguasaan Kerajaan Banten justru makin memperlihatkan kemunduran. Berbagai perjanjian dengan Belanda dibuat, termasuk perjanjian antara Pieter Both dengan Pangeran Jakarta Wijayakrama tahun 1610.

Di kemudian hari, Pangeran Jayakarta murka lantaran Belanda berusaha memasuki bentengnya di kota pelabuhan tersebut. Peperangan antara Banten yang dibantu Inggris terhadap Belanda pun dilakukan terbuka sejak 23 Desember 1618. JP Coen berusaha menghimpun kekuatan dan meminta bantuan ke Maluku, sementara di Jayakarta Pieter van den Broecke ditangkap pasukan Pangeran Jayakarta.

JP Coen kemudian datang dengan bala bantuan dari Maluku pada 10 Mei 1619. Tak tanggung-tanggung, ia membawa 16 kapal untuk menyerbu benteng. Berkat persiapan yang matang ditambah sedang adanya kekosongan pimpinan di Jayakarta lantaran ditarik ke Banten, pada 30 Mei 1619 Kota Jayakarta berhasil dikuasai oleh Belanda. Sejak saat itulah lahir nama Batavia.

Soekanto menyebutkan Coen sebenarnya ingin agar Jayakarta dinamakan Nieuw Hoorn, yakni sebagai penghormatan terhadap kota kelahirannya, Hoorn. Namun pemerintah tertinggi VOC di Belanda memerintahkan supaya kota itu dinamai Batavia, sebagai peringatan atas orang yang mula-mula menduduki Belanda, yakni de Bataven.

Sejak saat itulah, melalui JP Coen, Belanda berhasil menguasai Jakarta dan menjadikannya sebagai rendezvous dalam arti ekonomi dan politik kekuasaannya di Indonesia.

Di satu sisi, penetapan ulang tahun Jakarta 22 Juni 1527 ditemukan di tengah semangat besar pembebasan sejarah Indonesia dari sudut pandang kolonial. "Jauhi penyakit Hollands denken," begitu pesan Wali Kota Sudiro pada awal 1956 ketika menugaskan guru besar sejarah di UI, Prof Dr Sukanto, mencari hari lahir Jakarta. (liputan6.com)

Gempa berkekuatan 5,1 skala Richter (SR) menggetarkan Nias, Sumatera Utara pagi ini. Lokasi gempa yang terjadi pada pukul 09.42 WIB itu berada di 0.91 Lintang Utara dan 97.29 Bujur Timur.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, .Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (22/6/2016), gempa yang berada pada 24 km Barat Daya Nias Barat, Sumatera Utara itu memiliki kedalaman 24 km.

BMKG menyatakan, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Sementara itu, gempa 5,3 skala Richter menggetarkan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat pada Selasa 21 Juni 2016 pukul 21.10 WIB. Gempa ini berada di 2.21 Lintang Selatan dan 99.33 Bujur Timur. Gempa berada di kedalaman 34 kilometer di bawah permukaan. (liputan6.com)

Los Angeles - Kabar bahagia sekaligus mengejutkan baru saja menghampiri penggemar groupband legendaris Rolling Stones. Gitaris band tersebut, Ronnie Wood baru saja menjadi ayah bagi bayi kembar yang terlahir 30 Mei 2016 lalu. Menjadi ayah di usia 68 tahun bukan perkara mudah, lantas bagaimana Ronnie menjalankan perannya tersebut?

Ronnie dan sang istri, Sally Humpherys telah memperkenalkan bayi kembar mereka, Gracie Jane dan Alice Rose pada sebuah pemotretan dan wawancara eksklusif dengan majalah HELLO! beberapa waktu lalu. Ronnie pun menceritakan pengalamannya kembali menjadi seorang ayah dari bayi kembar yang lucu.

Ronnie menyatakan, ia tetap menjalankan peran sebagai ayah pada umumnya, yaitu turut membantu sang istri merawat buah hatinya. "Aku yang membuat mereka sendawa, mengajak mereka jalan-jalan, mengganti popok mereka," ungkap Ronnie. Ia pun tetap menyempatkan bekerja di luar rumah ketika dirinya mempunyai waktu lebih untuk istirahat.

 

Sebagai gitaris terkenal dunia, Ronnie Wood pun mengaku kerap bermain gitar untuk anak-anaknya tersebut. Melihat begitu banyak kenikmatan dalam hidupnya, Ronnie kerap mengucap syukur. Ia merasa bahwa hidupnya seakan lengkap dan sempurna.

"Saat ini aku hanya bisa menikmati momen yang aku lewati. Aku punya Sally, aku punya keluarga yang indah dan aku punya dua gadis cantik mengagumkan yang seperti boneka. Hal yang dapat aku pikirkan adalah pasti ada seseorang di atas sama yang sangat menyukaiku," ungkap Ronnie Wood.

Ronnie dan Sally mengaku diliputi rasa haru ketika kedua anak kembarnya lahir ke dunia. Mereka merasa sangat senang dan emosional, bahkan tangis pun tak dapat mereka bendung lagi. "Ronnie sangat berkomitmen untuk menjadi seorang ayah, membantuku, menjaga kami," ungkap Sally dengan penuh kebahagiaan. (liputan6.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM