Saat ini kita menemukan banyak sekali jenis produk perawatan kulit, baik yang bisa dibeli di toko atau secara online. Banyaknya pilihan dan kemudahan berbelanja tersebut membuat banyak orang menggunakan terlalu banyak produk namun mereka tidak menyadarinya. Di samping itu, banyak pula yang tidak tahu bahwa terlalu banyak produk tidaklah baik untuk kulit. Padahal perawatan kulit secara berlebihan bisa menimbulkan efek yang merugikan bagi tampilan dan kesehatan kulit. Ada beberapa tanda yang bisa kita lihat, di antaranya:

1. Ruam dan gatal Kulit yang memerah, meradang, tidak rata, atau gatal adalah tanda bahwa produk perawatan kulit yang digunakan membawa dampak negatif. Dermatolog di Beverly Hills, California, Tsippora Shainhouse, MD menjelaskan kepada New Beauty bahwa ruam pada kulit bisa disebabkan oleh bahan pengawet, pewangi atau acrylate yang ditemukan dalam produk kosmetik. Cobalah untuk menghentikan pemakaian beberapa produk, terutama produk yang mengandung wewangian dan bahan kimia, dan lihat apakah ruam tersebut menghilang.

2. Kulit terasa kencang Jika kulit terasa mengencang, bisa jadi hal itu adalah tanda produk yang digunakan mengurangi kelembaban kulit dan kamu mungkin perlu mengurangi pemakaian beberapa produk. "Jangan abaikan rasa kulit yang mengencang karena bisa merusak kesehatan kulit dan menyebabkan peningkatan produksi minyak, membesarnya pori-pori dan kerutan wajah," kata ahli kecantikan dan direktur pengembangan produk di InstaNatural, Heather Wilson kepada NewBeauty. Menurutnya, jika kulit terasa mengencang setelah mencuci wajah, pilihlah produk dengan pH seimbang yang mengandung bahan-bahan lembut dan alami.

3. Iritasi karena eksfoliasi Ada banyak cara untuk mengeksfoliasi kulit. Misalnya, menggunakan asam, scrub, brush, mikrodermabrasi, krim retinol, dan lainnya. Namun, direktur New York Laser & Skin Care, Arielle Kauvar, M.D. menjelaskan kepada Shape magazine bahwa menggunakan lebih dari satu metode eksfoliasi bisa menyebabkan kulit gatal, memerah, mengelupas, atau sensitif.

4. Memakai terlalu banyak produk ketika kulit bruntusan Ketika kulit kita bruntusan, mungkin kita tergoda untuk mencoba banyak produk. Hal ini sebetulnya membuat masalah kulit semakin parah dan membuatnya kontraproduktif. "Ketika produk-produk tersebut terlalu banyak digunakan, kulit bisa menjadi terlalu kering dan iritasi sehingga memicu lebih banyak munculnya bruntusan," ujar Dermatolog kosmetik di New York sekaligus founder SmarterSkin Dermatology, Sejal Syah kepada Teen Vogue. 5. Kulit terlalu mengkilap tapi tidak berminyak Kondisi kulit yang mengkilap namun tidak berminyak bisa jadi tanda overeksfoliasi. Hal ini dikarenakan kulit yang overeksfokiasi kehilangan sel kulit mati di permukaan lebih banyak dari yang seharusnya. "Yang kita butuhkan adalah kulit wajah yang sedikit kasar, sehingga sinar akan tersebar dan kulit berkilap terhindari," kata Founder startup perawatan kulit, Curology, David Lortscher, M.D kepada Shape.

6. Kulit terlalu berminyak Tingkat kelembapan kulit menunjukkan keseimbangannya. Terkadang, jika kulit tiba-tiba menjadi berminyak, kamu mungkin tergoda untuk menggunakan produk yang bisa mengurangi produksi minyak dan menambahkannya ke dalam daftar rutinitas. Hal itu adalah langkah yang salah karena minyak adalah efek samping dari kondisi kulit yang terlalu kering. Heather Wilson menjelaskan, jika minyak wajah yang kita alami lebih banyak dari biasanya, cobalah untuk menghindari produk perawatan kulit yang mengandung pembasmi minyak dari daftar rutinitas perawatan wajah. "Carilah serum dan pelembap berbentuk gel yang mengandung hyaluronic acid yang bisa menghidrasi kulit tanpa menambahkan minyak," kata dia. Cobalah menghentikan pemakaian produk yang bisa membuat kulitmu kering sebelum menambah produk yang baru. (KOMPAS.com)

Menurut hasil penelitian Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) dari Kementerian Kesehatan Indonesia pada tahun 2013, sekitar 12 juta penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun mengalami diabetes tipe 2. Tapi hanya 26 persen saja yang sudah terdiagnosis, sedangkan sisanya tidak menyadari dirinya mengidap diabetes tipe 2. Menurut Federasi Diabetes Internasional pada 2015, jumlah diabetesi di Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun. Namun, hanya separuh dari mereka yang menyadari kondisinya. Angka ini bukanlah angka yang sedikit. Lantas, kenapa banyak orang Indonesia yang mengalami diabetes? Beberapa hal ini mungkin bisa menjadi jawaban penyebab diabetes pada orang Indonesia.


1. Nasi sebagai makanan pokok

Nasi putih adalah makanan pokok orang Indonesia. Namun sayangnya, menurut riset terbaru nasi ternyata berisiko tinggi meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Sebuah penelitian menemukan bahwa kelompok yang mengonsumsi nasi putih lebih dari lima kali dalam sepekan berisiko 17 persen lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan kelompok yang hanya mengonsumsinya sekali sebulan.

Penelitian tersebut turut melaporkan bahwa risiko ini akan meningkat 10 persen pada orang yang setiap hari makan nasi putih dalam porsi besar. Keterkaitan ini ditemukan terutama pada orang-orang di Asia yang mengonsumsi nasi hingga 3-4 porsi sehari. Penelitian ini sebenarnya belum dapat membuktikan hubungan sebab dan akibat, melainkan hanya menunjukkan keterkaitan antara konsumsi nasi putih dengan diabetes. Namun setidaknya, penelitian ini dapat menjadi awalan untuk mulai hidup sehat dengan mengonsumsi bahan makanan yang mengandung biji-bijian utuh atau karbohidrat kompleks dibandingkan karbohidrat simpel.

2. Hobi ngeteh dan ngopi

Bukan teh atau kopi yang menjadi penyebab diabetes, namun gula yang kita masukkan ke dalam teh atau kopi yang meningkatkan risiko diabetes. Apalagi jika kita hobi ngeteh dan ngopi di sepanjang hari. Bukan hanya minuman, pemakaian gula juga sangat biasa pada makanan kita. Lihat saja aneka makanan ringan dan minuman tradisional yang dijajakan di jalanan atau di objek-objek wisata. Banyak sekali yang memakai gula untuk membuat rasanya menjadi nikmat. Perhitungan banyaknya asupan karbohidrat harian menjadi penting karena karbohidrat berlebih mempengaruhi gula darah lebih dari nutrisi lainnya. Sebenarnya, banyak tipe karbohidrat yang terkandung dalam makanan dan minuman. Gula adalah salah satunya. Gula itu sendiri banyak sekali jenisnya. Contoh yang paling sering dikonsumsi adalah gula pasir. Namun sejatinya, faktor penting dari keamanan konsumsi gula adalah seberapa banyak ia diasup. Baik gula pasir, gula batu ataupun jenis gula lainnya, jika dikonsumsi secara berlebihan maka tetap saja berisiko menuntun seseorang menuju kelebihan berat badan atau obesitas.

Pada akhirnya, kondisi tersebut berujung pada meningkatnya peluang terkena diabetes tipe 2. Tidak mengherankan jika konsumsi gula berlebihan bisa menjadi penyebab diabetes.

3. Malas bergerak

Orang Indonesia paling malas berjalan kaki. Setidaknya itulah temuan sejumlah ilmuwan Amerika Serikat yang mengkaji data ponsel dari ratusan ribu orang di seluruh dunia. Para peneliti Universitas Stanford menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang yang menggunakan Argus, aplikasi pemantau aktivitas, pada telepon seluler mereka. Hasilnya, warga Hong Kong menempati urutan teratas dalam daftar penduduk paling rajin berjalan kaki. Rata-rata publik Hong Kong berjalan kaki sebanyak 6.880 langkah setiap hari. Adapun penduduk paling malas berjalan kaki di dunia adalah orang Indonesia yang berada pada posisi terbawah dengan mencatat 3.513 langkah per hari.

Kamu pernah mendengar gaya hidup sedentari? Sedentari merupakan istilah medis yang digunakan untuk menyebut gaya hidup kurang gerak. Walau merasa nyaman melakukan aktivitas sambil duduk, tetapi sebenarnya ada ancaman tersembunyi bagi kesehatan. Bila kamu kebanyakan duduk, maka penggunaan otot-otot besar di tubuh akan menurun. Akibatnya kebutuhan tubuh akan gula dan lemak menurun. Tubuh mengira kamu tidak perlu energi. Hal ini bisa berakibat pada penumpukan lemak, peningkatan kadar gula darah dan kolesterol. Lama kelamaan akan terjadi gangguan toleransi gula darah sehingga memicu penyakit diabetes. Sementara kadar kolesterol tinggi berisiko memicu penyakit jantung dan stroke. Jadi tidak mengherankan jika gaya hidup ini bisa menjadi penyebab diabetes. (KOMPAS.com)

Peraturan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan SMA/SMK Negeri menerima setidaknya 20% siswa dari keluarga tak mampu yang membuat lonjakan jumlah siswa yang mengaku miskin.

Namun peraturan yang niatnya baik itu ternodai dengan banyaknya orang yang menjadi berpura-pura miskin demi mendapatkan slot di SMA/SMK negeri tujuan.

Seorang warga Semarang, Jawa Tengah, Nining Wijayanti pun mengeluhkan bagaimana anaknya menjadi tersingkir akibat tindakan orang tua lain.

"Anak kami, sebenarnya kalau dilihat dari nilainya sih lumayan baiklah untuk bisa masuk negeri. Rata-ratanya di atas delapan. Untuk negeri di atas rata-rata, saya kira juga bisa masuk," papar Nining.

"Setelah kami pantau ternyata banyak sekali mereka menggunakan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) untuk anaknya sedangkan dia mungkin bukan dari keluarga yang tidak mampu tapi dia pakai SKTM bisa masuk sedangkan nilainya sendiri rendah. Jadi persaingannya tak bagus."

Mengapa peraturan itu lahir?
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pasal 19 mewajibkan SMA/SMK Negeri untuk menerima setidaknya 20% peserta didik tak mampu dari jumlah keseluruhan peserta didik yang diterima dalam zonasi yang sama.

Para pengamat pendidikan sebenarnya melihat kewajiban itu baik karena mendorong adanya kesetaraan pendidikan bagi semua siswa.

Selain itu, praktisi pendidikan Itje Chodidjah juga mengapresiasi kebijakan itu dengan alasan akan membantu siswa menjadi lebih heterogen.

"Kalau siswa itu hanya dikelompokkan dengan anak-anak yang sama-sama mampunya, mereka tidak belajar, di luar sana mereka akan bergaul dengan macam-macam orang. Dengan heterogenitas, sebenarnya secara tidak langsung, anak membiasakan diri," papar Itje.

Mengapa banyak yang tetiba menjadi "miskin"?
Peraturan itu akhirnya membuat banyak orang yang tiba-tiba mengaku menjadi "miskin", agar dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) mereka dapat masuk ke kuota 20% tersebut.

Hal ini terbukti dengan adanya lonjakan jumlah pelamar sekolah yang menggunakan SKTM.

Sebuah media nasional misalnya melaporkan lonjakan di SMAN 2 Ungaran, dari 13 orang yang menggunakan SKTM tahun lalu menjadi 80 orang tahun ini.

Dan buktinya, hingga Rabu (11/07) Dinas Pendidikan Jawa Tengah menemukan dari hampir 150.000 dokumen SKTM yang dilampirkan, hampir 80.000 tak valid.

Bagaimana langkah pemerintah?
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah dan dinas pendidikan setempat untuk "lebih cermat, melakukan verifikasi semua SKTM yang masuk di sekolah dan supaya diambil tindakan-tindakan tegas jika ada pelanggaran di lapangan."

Meski begitu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA 9 Semarang Rumisih mengatakan tak bisa jika hanya pihak sekolah yang bekerja sendiri memverifikasi SKTM yang sebenarnya dikeluarkan oleh RT/RW.

"Saran dari kami untuk pemerintah ada batasan untuk nilai-nilai minimal untuk SKTM, yang pertama. Yang kedua, RT/RW ini hendaknya lebih bijaksana, tahu betul warganya siapa yang mau diberi SKTM. Jadi tidak semua orang diberi SKTM. Saya mikir kok SKTM seperti ini, diobral cuma-cuma," tutur Rumisih.

Betatapun, praktisi pendidikan Itje Chodidjah menilai ada masalah yang lebih besar dari sekedar nihilnya verifikasi SKTM. Menurutnya, alasan mengapa siswa dan orang tua bisa sampai mengelabui sistem penerimaan adalah karena mereka ingin masuk ke sekolah favorit.

"Tetapi tidak begitu halnya ketika sekolah itu sekolah biasa-biasa saja. Tidak ada yang akan membuat keterangan palsu untuk sekolah yang tidak dianggap favorit," ujar Itje.

Untuk itu, Itje meminta agar pemerintah memastikan semua sekolah memiliki standar yang sama, dan tidak akan ada "pengkastaan" sekolah yang favorit dan biasa dan jelek.

"Pemerintah harus memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas guru, melengkapi seluruh sekolah di Nusantara ini dengan standar minimum yang diharapkan melalui delapan standar yang sudah ditetapkan." (bbcindonesia.com)

Keberadaan partikel plastik dalam air mineral kemasan, seperti tertuang dalam hasil investigasi ogranisasi jurnalis Orb Media belum banyak diketahui publik.

Dan pedagang minuman kemasan mengaku tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Namun ada konsumen yang mengaku khawatir partikel plastik dalam kemasan dapat mempengaruhi kesehatan mereka dan meminta otoritas terkait melakukan penelitian lebih lanjut.

"Selama ini saya dan mayoritas masyarakat yakin minuman mineral itu sehat," kata Wening, salah satu konsumen rutin air minuman dalam kemasan, kepada BBC Indonesia, Minggu (18/03).

Wening mengatakan pemerintah terutama Badan Pengawas Obat dan Makanan, BPOM, seharusnya menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat luas: "Perlu penelitian terkait kabar air mineral mengandung plastik itu."

Bagaimanapun Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, mengatakan agar masyarakat tidak perlu khawatir karena air mineral yang beredar sudah sesuai dengan standar yang berlaku.

Dia menambahkan keberadaan mikroplastik belum ada dalam aturan soal kelayakan pangan: "Perlu ditetapkan oleh lembaga berwenang seperti WHO, FAO, atau Kementerian Kesehatan."

Sementara itu Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia menyatakan komitmennya untuk memberikan produk air yang berkualitas.

"Kami selalu mengikuti apa yang diisyaratkan pihak berwenang," kata Ketua ASPADIN, Rachmat Hidayat, kepada BBC Indonesia.

Banyak yang belum mengetahui adanya partikel plastik dalam air mineral
Wening sebagai konsumen air mineral juga mengaku belum mengetahui tetang penelitian terbaru soal partikel plastik dalam air kemasan itu.

"Baru tahu," kata pria 40 tahun tersebut ketika ditanyai BBC

Ketidaktahuan tentang penelitian yang diberitakan sejumlah media dunia itu juga diakui Iwan, seorang pedagang dan agen pengedar minuman mineral dalam kemasan di Jakarta.

Iwan menjelaskan bahwa sejauh ini jumlah pelanggannya tidak menurun dan tidak tahu harus berbuat apa terkait hasil penelitian itu: "Saya kurang paham soal itu."

Pedagang air dalam kemasan lainnya, Didin, juga mengaku tidak tahu menahu soal kandungan mikroplastik di air kemasan.

"Baru kali ini ada yang nanya," kata Didin yang menambahkan penjualan air mineral dalam kemasannya juga tak terpengaruh oleh pemberitaan soal kandungan partikel plastik.

Partikel plastik dalam air kemasan adalah hal wajar
Menurut Penny Lukito, keberadaan mikroplastik dalam air mineral kemasan adalah hal yang wajar dengan kemungkinan bersumber dari pencemaran, air baku, hingga plastik kemasannya.

Untuk melarang keberadaan mikroplastik dalam air mineral dibutuhkan kajian lebih lanjut soal kadar plastik, seperti perngaruhnya pada kesehatan manusia.

"Dari situ akan menjadi tolak ukur kami menentukan standar kualitas air dalam kemasan yang harus ditegakkan pelaku usaha, dan jadi pegangan BPOM melakukan pengawasan," kata Penny kepada BBC Indonesia.

Selama ini, lanjut Penny, belum ada aturan, termasuk di dunia internasional, menyangkut kadar mikroplastik yang diperbolehkan dalam makanan dan minuman.

"Codex sebagai badan standar pangan dunia di bawah FAO dan WHO belum mengatur ketentuan tentang mikroplastik pangan," kata Penny. "Yang beredar sekarang sudah sesuai standar yang ada."

Untuk menentukan standar aman tersebut, lanjut Penny, dibutuhkan penelitian dan kajian oleh lembaga berwenang: "Termasuk efek mikroplastik terhadap tubuh."

Asosiasi Air Minum dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN) menegaskan kesehatan dan keselamatan konsumen merupakan prioritas utama.

Ketua ASPADIN, Rachmat Hidayat, mengatakan pihaknya sudah memenuhi semua persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah: "Antara lain memenuhi standar Nasional Indonesia (SNI) dan ketentuan BPOM."

Air minum dalam kemasan, kata Rachmat, adalah salah satu dari sedikit bahan pangan olahan yang membutuhkan SNI yang tergolog amat ketat untuk produksi air minum dalam kemasan.

Soal hasil penelitian yang menyebut adanya mikroplastik dalam air mineral kemasan, lanjut Rachmat, belum ada dalam aturan soal air mineral kemasan.

"Belum ada konsesus ilmiah dan negara di dunia yang mengatur mikroplastik dalam pangan," kata Rachmat. Hal itu dikonfirmasi setelah berkoodinasi dengan jaringan internasional yang dimiliki ASPADIN.

"Ini dikonfirmasi oleh BPOM dan Kementerian Perindustrian juga," tambahnya.

Sebagai produsen air minum dalam kemasan, ASPADIN tetap mengamati perkembangan isu mikroplastik dan akan tetap mengikuti setiap aturan yang ditetapkan oleh pihak berwenang.

Untuk itu, ASPADIN mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap tenang karena produk mereka sudah sesuai dengan standar yang ada: "Semua yang beredar sudah memenuhi SNI dan ijin edar dari BPOM."

Hasil penelitian Orb Media
Sebelumnya diberitakan, investigasi terhadap berbagai merk minuman kemasan mengungkap bahwa air di dalam botol Aqua Danone dan Nestle Pure Life mengandung partikel plastik, termasuk 11 merek minuman kemasan dunia.

"Kami menemukan (plastik) di dalam botol demi botol dan merk demi merk," kata Sherri Mason, profesor kimia dari State University of New York yang dilibatkan dalam investigasi.

Nestle menyatakan telah memulai uji mikroplastik secara internal sejak dua tahun lalu dan hasilnya adalah plastik tidak dideteksi "di atas level pendeteksian".

Seorang juru bicara Nestle menambahkan bahwa kajian Profesor Mason meluputkan beberapa langkah kunci untuk menghindari "hasil positif yang salah". Dia juga mengatakan pihaknya mengundang Orb Media untuk membandingkan metodenya.

Secara terpisah, Danone mengatakan tidak bisa mengomentari kajian tersebut karena "metodologi yang digunakan tidak jelas" dan menegaskan botol yang mereka gunakan untuk menampung air masuk kategori "kemasan yang sesuai untuk makanan".

Perusahaan itu menambahkan bahwa tidak ada aturan pasti mengenai mikroplastik atau konsensus dalam sains untuk mengujinya. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 3

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM