Hawaii memeringatkan warga dan pesawat untuk menjauh setelah segumpal abu dari gunung berapi Kilauea naik hingga 12.000 kaki (3,6km) ke udara.

Dikutip dari CNN, Rabu (16/5), sejak gunung berapi Kilauea meletus 3 Mei, situasi di sekitarnya menjadi mimpi buruk bagi penduduk di bagian tenggara negara bagian Amerika Serikat tersebut.

US Geological Survey (USGS), badan survei geologi Amerika Serikat mengeluarkan peringatan 'merah' atau 'bahaya' pada Selasa (15/5), yang berarti letusan besar bisa saja terjadi, atau sedang berlangsung dan abu dapat mempengaruhi lalu lintas udara.

Michelle Coombs dari USGS menggambarkannya kondisi ini "sangat berbahaya bagi penerbangan," dan mengatakan timnya tidak begitu yakin apa yang menyebabkan emisi abu yang sedikit lebih intens pada hari Selasa.

Petugas USGS lainnya mengatakan letusan freatik bisa terjadi di kawah di puncak gunung berapi Kilauea. Letusan ini bisa mengirim gumpalan abu sejauh 12 mil (19km) dari kawah puncak, ungkap Hawaiian Volcano Observatory, atau badan Observatorium Gunung Api Hawaii.

Gas merembes keluar dari retakan

Selain abu, yang tak beracun, penduduk harus khawatir tersedak belerang dioksida. Coombs mengatakan gas tersebut keluar dari 21 celah, atau retakan di tanah, yang disebabkan oleh gunung berapi. Tingkat gas beracun berbahaya di beberapa tempat, kata petugas Hawaii County.

"Kondisi yang parah bisa saja terjadi seperti tersedak dan ketidakmampuan untuk bernafas," kata badan pertahanan sipil setempat menambahkan. "Ini adalah situasi serius yang memengaruhi seluruh populasi yang terpapar."

Pemerintah memeringatkan warga untuk meninggalkan daerah itu dan mendapatkan perawatan medis jika mereka terkena gas.

Lava menyembur seperti air mancur

Tak hanya gumpalan abu, tapi juga lava yang berbahaya. Dari 21 celah, 17 adalah yang terpanjang, dan telah menembak lava seperti air mancur dan "mengirimkan hujan rintik-rintik lebih dari 100 kaki atau 30 meter ke udara," kata Hawaiian Volcano Observatory.

Coombs mengatakan celah itu telah berkurang dalam intensitas, tetapi para petugas lainnya menegaskan aktivitas bisa naik secepat itu turun.

Tetap saja, banyak celah yang memancarkan "sedikit" sulfur dioksida. Dua celah baru yang berukuran kecil menyemburkan tak banyak lava.

Stephanie Elam dari CNN mengatakan jantungnya mulai berdebar ketika dia mendekati satu celah.

"Kedengarannya seperti palu di mesin pengering. Batuan yang meleleh itu sangat berwarna jingga yang tampak diubah secara teknis. Ketika belerang dioksida menghantam paru-paru, itu bakal membuatku kehabisan napas," ujarnya.

Departemen Kesehatan Negara Bagian Hawaii meminta masyarakat umum untuk menghindari area dengan celah karena gas yang dipancarkan memerlukan respirator penyaring khusus.

Kemungkinan lebih banyak letusan

Semburan lava telah menelan sejumlah rumah dan kendaraan. Sejauh ini, setidaknya 37 bangunan telah hancur, dan jumlahnya bisa terus bertambah.

Selain lava dan gas beracun, sekarang ada kekhawatiran tentang letusan freatik.

Menurut USGS, itu adalah ledakan yang didorong uap yang terjadi ketika air di bawah tanah atau di permukaan dipanaskan oleh magma, lava, batu panas, atau endapan gunung berapi baru. Panas yang berlebihan dapat menyebabkan air mendidih dan menghasilkan letusan.

Danau lava di kawah telah menurun sejak 2 Mei, yang meningkatkan kemungkinan ledakan freatik. Namun, akan sulit untuk memperingatkan warga yang mungkin berada di jalur letusan tersebut.

Janet Babb, seorang ahli geologi dari observatorium gunung berapi Hawaii, mengatakan letusan freatik "sangat sulit diprediksi, dan dapat terjadi dengan sedikit atau tanpa peringatan." (cnnindonesia.com)

Gunung Agung kembali mengeluarkan letusan, hanya beberapa hari setelah status kesiagaannya diturunkan dari level IV atau awas menjadi siaga level III, pengungsi yang belum sempat kembali memilih untuk tetap tinggal.

Gunung dengan tinggi 3142 meter di atas permukaan laut itu itu mengeluarkan abu vulkanik setinggi 1500 meter dari puncaknya pada pukul 11.53 Wita, Selasa (13/2), lapor Raiza Andini, seorang wartawan di Bali.

Kolom abu setinggi 1500 meter tersebut mengarah ke timur dan timur laut, kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM I Gede Suantika.

"Ini agak lebih kecil ya kekuatannya dibandingkan bulan lalu itu sampai 2500 meter," kata Suantika yang dihubungi lewat sambungan telefon.

Letusan sebelum ini yang dimaksud Suantika, terjadi pada tangal 19 Januari 2018 silam.

Masyakat diserukan untuk menjauhi radius zona merah yakni empat kilometer dari puncak Gunung Agung.

Sementara itu, para pengungsi yang belum dipulangkan menyusul diturunkannya status siaga akhir pekan lalu, sempat kaget melihat awan hitam dari Gunung Agung. Mereka untuk memutuskan iuntuk tetap tinggal, meski pemerintah sebelumnya merencanakan pemulangan mereka ke kampung masing-masing.

"Takut gunungnya belum stabil, saya enggak mau pulang dulu," ungkap Made Satria warga Desa Temukus Kec. Besakih.

 

Lepas dari itu, lalulintas penerbangan ke dan dari bandara Ngurah Rai, Denpasar, masih normal.

I Gede Suantika dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengatakan letusan itu dalam kategori peringatan penerbangan terkait gunung berapi (Volcano Observatory Notice for Airnav, VONA) masih berkode oranye, yakni belum membahayakan bagi aktivitas Bandara I Gusti Ngurah Rai.

"Arah angin ke timur jadi jauh dari bandara," kata Suantika pula.

Dalam data yang dihimpun petugas PVMBG dalam kurun waktu enam jam 06.00-12.00 wita menunjukkan bahwa adanya letusan sebanyak satu kali dengan amplitudo 21 milimeter dengan durasi 140 detik kemudian terdeteksi satu kali gempa vulanik dangkal beramplitudo 12 milimter berdurasi 20 detik, dan vulkanok dalam berjumlah satu kali dengan amplitudo 12 milimeter berdurasi 100 detik.

Sebelum ini, sudah 20 hari tidak terjadi erupsi Gunung Agung, setelah letusan terakhir tanggal 24 Januari 2018. (bbcindonesia.com)

Gunung Agung kembali erupsi, Senin (1/1) sekitar pukul 22.40 Wita dan mengakibatkan lima desa di Bali terpapar hujan abu.

"Gunung Agung erupsi keluarkan abu vulkanik pada 1/1/2018 pukul 22.40 Wita. Hujan abu vulkanik terjadi di Desa Badeg, Yeha, Temukus, Besakih dan Muncan. Erupsi hanya sesaat. Status Awas. Kondisi gelap malam dan berawan," tulis Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan di akun twitternya @Sutopo_BNPB.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM dalam situs resminya, menyatakan, berdasarkan pantauan dari pukul 18.00-24.00 Wita, tampak asap kawah bertekanan sedang, berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 700-1.500 meter di atas puncak kawah.

"Teramati letusan dengan tinggi 1.500 meter dan warna asap kelabu," demikian pernyataan PVMBG.

PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius delpana kilometer dari kawah Gunung Agung.

"Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling terbaru," tulis PVMBG. (cnnindonesia.com)

Otoritas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menyiapkan alternatif perjalanan bagi penumpang yang gagal berangkat karena bandara ditutup selama 24 jam ke depan akibat terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Agung.

Bagi calon penumpang yang ingin berangkat ke daerah lain melalui bandara terdekat, pihak bandara bekerja sama dengan instansi terkait mengevakuasi mereka ke terminal dan menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk.

Sebelumnya Kepala Balai Pengelola Tansportasi Darat Wilayah Bali dan NTB, Agung Hartono, mengatakan Kementerian Perhubungan menyiapkan sekitar 300 bus yang disiagakan untuk melayani penumpang.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi, Kota Denpasar dan Organda yang paling berperan serta Damri.

Apabila calon penumpang ingin meneruskan perjalanan dengan jalan darat, maka mereka dapat menggunakan bus yang diantarkan melalui tiga titik terminal, di antaranya Ubung Denpasar, Mengwi di Kabupaten Badung dan Pelabuhan Benoa Denpasar.

General Manajer PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi di Denpasar, Senin (27/11), menjelaskan, otoritas juga membuka pelayanan bagi calon penumpang yang akan mengurus pengembalian uang tiket dan menjadwal ulang. 

Pelayanan ini disediakan sesuai dengan maskapai penerbangan masing-masing, baik di terminal domestik dan internasional.

Pihak bandara juga menyiapkan pemberian kupon makan untuk penumpang, sekitar 2.000 kupon untuk domestik dan 4.000 kupon untuk internasional. (cnnindonesia.com)

Page 1 of 4

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM