Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berencana melakukan evakuasi secara paksa terhadap warga yang masih bertahan di zona bahaya erupsi Gunung Agung.

Zona berbahaya yang telah ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) adalah radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timur laut dan Tenggara-Selatan- Barat daya sejauh 7,5 km.

"Kalau itu memang membahayakan, letusannya semakin besar itu harus dilakukan (evakuasi paksa), contohnya erupsi Gunung Merapi tahun 2010," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Selasa (5/12).

Sutopo memaparkan saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, BNPB pernah melakukan evakuasi paksa setelah terjadi letusan besar.

Tak hanya melakukan evakuasi paksa, BNPB bersama pihak terkait, salah satunya TNI langsung menjaga daerah bahaya agar masyarakat tidak kembali lagi.

Hingga saat ini, kata Sutopo, BNPB belum melakukan upaya evakuasi paksa karena keputusan untuk melakukan evakuasi paksa akan dilihat berdasarkan ancaman yang ada, yang sampai saat ini masih terus dipantau oleh BNPB dan juga PVMBG.

"Kami juga mengacu pergerakan setiap detik apa yang terjadi dari gunungnya, kalau tiba-tiba akan terjadi letusan besar pasti gunung tadi sebelum meletus pasti akan menyampaikan kepada alam yang kemudian terekam di instrumen," tutur Sutopo.

Data yang terekam dalam sejumlah instrumen pemantauan itulah yang nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan upaya evakuasi paksa.

"Dari emisi gas SO2 akan ketahuan, dari seismograf akan ketahuan, dari satelit deformasi dia semakin mengembung akan ketahuan. Nah peralatan-peralatan itu perantara kita untuk ambil keputusan apakah harus dipaksa atau tidak," ujar Sutopo. (cnnindonesia.com)

Otoritas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, menyiapkan alternatif perjalanan bagi penumpang yang gagal berangkat karena bandara ditutup selama 24 jam ke depan akibat terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Agung.

Bagi calon penumpang yang ingin berangkat ke daerah lain melalui bandara terdekat, pihak bandara bekerja sama dengan instansi terkait mengevakuasi mereka ke terminal dan menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk.

Sebelumnya Kepala Balai Pengelola Tansportasi Darat Wilayah Bali dan NTB, Agung Hartono, mengatakan Kementerian Perhubungan menyiapkan sekitar 300 bus yang disiagakan untuk melayani penumpang.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi, Kota Denpasar dan Organda yang paling berperan serta Damri.

Apabila calon penumpang ingin meneruskan perjalanan dengan jalan darat, maka mereka dapat menggunakan bus yang diantarkan melalui tiga titik terminal, di antaranya Ubung Denpasar, Mengwi di Kabupaten Badung dan Pelabuhan Benoa Denpasar.

General Manajer PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Yanus Suprayogi di Denpasar, Senin (27/11), menjelaskan, otoritas juga membuka pelayanan bagi calon penumpang yang akan mengurus pengembalian uang tiket dan menjadwal ulang. 

Pelayanan ini disediakan sesuai dengan maskapai penerbangan masing-masing, baik di terminal domestik dan internasional.

Pihak bandara juga menyiapkan pemberian kupon makan untuk penumpang, sekitar 2.000 kupon untuk domestik dan 4.000 kupon untuk internasional. (cnnindonesia.com)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan rekahan Gunung Agung semakin meluas.

BNPB berhasil menangkap gambar kondisi kawah Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Kamis (19/10) setelah menerbangkan drone untuk memetakan puncak kawah Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali.

"Hasil pemotretan drone memperlihatkan rekahan di kawah Gunung Agung lebih luas dibandingkan sebelumnya," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/10).


Sutopo mengatakan, BNPB menggunakan drone tipe Bufallo FX79 buatan Universitas Gadjah Mada. "Empat kali penerbangan dilakukan untuk memetakan puncak kawah dan lereng Gunung Agung.

"Tim beranggotakan tiga orang dengan membawa dua unit drone Bufallo FX79 untuk ketinggian 4.000 meter dengan waktu terbang satu jam," kata Sutopo.

Tim drone melakukan orientasi terbang dengan meluncurkan drone dari atas sepeda motor. Pada percobaan penerbangan pertama dilakukan di Desa Kubu. Drone terbang hingga ketinggian 2.900 meter.

"Tidak mencapai puncak karena gagal mencapai target ketinggian yang ditentukan karena angin yang terlalu kencang atau turbolensi di lereng gunung," katanya.

Menurut Sutopo, pada percobaan kedua, tim berpindah lokasi take off di lapangan Amlapura. Drone berhasil terbang di ketinggian 700 meter.

Pemetaan lereng sisi tenggara Gunung Agung lebih kurang seluas 1.000 hektare.

Pada penerbangan ketiga, drone terbang di ketinggian terbang dan mencapai tinggi 3.995 meter.

Selanjutnya pada penerbangan keempat drone terbang hingga ketinggian 4.003 meter. Drone berhasil melewati puncak Gunung Agung di dua jalur penerbangan dengan lebar 600 meter.

"Sebanyak 400 buah foto udara didapatkan dari dua jalur ini dan selanjutnya akan dilakukan pembuatan model dimensi, kawah Gunung Agung sehingga analisis morfologi dan spasial bisa dilakukan dengan akurat," kata dia.

Kata Sutopo, sebelumnya dari citra satelit Planet Scope (11/10), rekahan kawah hanya terdapat di sisi timur di dalam kawah.

"Pada foto drone menunjukkan bahwa rekahan kawah sudah lebih luas di sisi timur dalam kawah. Juga ada rekahan kecil di sisi tenggara," katanya.

Selain itu, asap solfatara yang keluar dari rekahan tersebut juga lebih tebal daripada sebelumnya.

"Desakan magma ke permukaan masih berlangsung," kata Sutopo.

Pantauan Pos Pengamatan Gunung Agung PVMBG pada Kamis (19/10) pada pukul 12.00-18.00 Wita, menunjukkan asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 100-200 meter di atas kawah puncak.

"Kegempaan masih tinggi ditandai dengan tremor non-harmonik sebanyak tiga kali, gempa vulkanik dangkal 58 kali, gempa vulkanik dalam 104 kali dan gempa tektonik lokal 17 kali," katanya.

Namun, kata Sutopo, secara umum, jumlah kegempaan mengalami penurunan. "Status masih awas, level 4," ujar Sutopo. (cnnindonesia.com)

Kedatangan wisatawan mancanegara di Bali mencapai titik tertinggi untuk tahun 2017 pada Agustus lalu, sebelum Gunung Agung mulai menunjukkan tanda-tanda erupsi.
Di tengah kewaspadaan terhadap letusan gunung api itu, para pemangku kepentingan pariwisata bersiasat menghindari potensi kerugian.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia untuk kawasan Bali, Cok Atje, menyebut status awas Gunung Agung yang ditetapkan PVMBG awalnya tidak mempengaruhi tingkat kehadiran wisatawan mancanegara ke provinsi itu.
Namun, kata Atje, seiring pemberitaan media massa dan gelombang pengungsian ratusan ribu warga dari sekitar Gunung Agung, pariwisata Bali mulai terdampak.
"Oktober ini ada potensi pembatalan pesanan hotel sebesar 20%, terutama tamu-tamu datang ke Bali untuk mengikuti rapat atau konferensi," ujarnya kepada BBC Indonesia, Kamis (05/09).
"Kami berharap, dengan penjelasan gubernur dan kedatangan Menteri Pariwisata ke Pura Besakih, potensi pembatalan itu berkurang," tutur Atje.

Kamis (05/10) pagi, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, mengikuti sembahyang memeperingati bulan penuh (purnama kapat) di Pura Besakih, Karangasem bersama sejumlah pemuka agama dan puluhan pemeluk Hindu.
Pemerintah sebelumnya meminta pura itu ditutup sementara karena masuk kawasan rawan bencana atau berjarak sembilan kilometer dari Gunung Agung.
"Jumlah peserta sembahyang berkurang (daripada tahun 2016). Wisatawan sudah cancel datang ke sini (Besakih), mereka yang berencana mendaki gunung juga tidak bisa datang," kata Pastika.

Usai upacara keagamaan itu, giliran Menteri Pariwisata Arief Yahya yang datang ke Pura Besakih. "Kami ingin menenangkan masyarakat dan membuktikan bahwa Bali aman," ujar Arief.
Badan Pusat Statistik Bali mencatat, sebanyak 601.884 wisatawan luar negeri datang ke Bali selama Agustus lalu. Sebesar 99,6% dari mereka datang ke Bali melalui bandara.
Sejak status awas pada 22 September lalu, Bandara Ngurah Rai di Denpasar masih terus beroperasi. Menurut Cok Atje, jika aktivitas vulkanik Gunung Agung menganggu lalu lintas penerbangan, roda pariwisata Bali akan terdampak secara langsung.
Pemberian insentif
Arief Yahya mendorong para pemilik hotel di Bali memberikan penawaran khusus bagi para wisatawan mancanegara selama Gunung Agung bergejolak. Menurutnya, pelaku industri pariwisata perlu menyiapkan skenario khusus, terutama jika gunung api itu akhirnya benar-benar meletus.
"Secara psikologis setiap orang punya keinginan untuk lebih dulu pulang. Mengatasi ini, kalau bisa ada keringanan, misalnya diskon 100% pada pekan pertama, dan pekan berikutnya 80%," ujarnya.

Selama kondisi awas, Arief menyebut penanganan wisatawan mancanegara memang sepatutnya dibedakan dengan turis dalam negeri.
"Orang Indonesia, sekali sudah menyentuh Gilimanuk atau Ketapang, bisa self-manage. Kalau wisatawan mancanegara, meski menyeberang ke Gilimanuk, persoalan mereka belum selesai," tutur Arief.
Lebih dari itu, Arief mengatakan pemerintah akan menerapkan strategi untuk mencitrakan Bali aman dikunjungi meski potensi letusan Gunung Agung tetap ada.
Salah satunya, kata Arief, lembaganya menggunakan istilah Bali tourism hospitality untuk mengganti crisis center dan mensubstitusi evakuasi dengan mengantarkan.

Asosiasi hotel di Bali, menurut Cok Atje, sebenarnya berpengalaman menghadapi kondisi bencana gunung api. Dalam dua tahun terakhir, Gunung Raung di Banyuwangi dan Gunung Barujari di Lombok meletus. Erupsi itu sempat memicu penutupan Ngurah Rai.
Atje berkata, asosiasinya mendorong hotel-hotel di Bali membuat daya tarik tersendiri untuk menjaga kepercayaan wisawatan mancanegara.
"Jika wisatawan tidak dapat berangkat karena penutupan bandara, kami akan memberikan sejumlah kemudahan dan pelayanan," kata dia.

Kementerian Pariwisata sebelumnya menyebut 15.000 wisatawan luar negeri datang ke Bali setiap hari. Namun setelah Gunung Agung erupsi, setidaknya 60.000 turis asing diperkirakan telah membatalkan perjalanan ke provinsi itu.
Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperpanjang status siaga darurat bencana Gunung Agung hingga 16 Oktober. Lembaga itu menyebut aktivitas vulkanik gunung itu cenderung terus meningkat setiap hari.
Hingga pukul 18.00 WITA, Kamis kemarin, jumlah pengungsi Gunung Agung mencapai 146.797 orang dan tersebar di sembilan kabupaten atau kota.
Pengamat kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, mendorong pemerintah terus memperbarui peta bahaya Gunung Agung dan menyelaraskannya dengan peta tata ruang.
Menurut Dwikorita, penyelarasan itu penting dan perlu diterapkan agar seluruh aktivitas perekonomian dan kependudukan di sekitar Gunung Agung tidak berhenti ketika potensi letusan terjadi.
"Sebetulnya tata ruangnya sudah ada tapi tidak semua mempertimbangkan bahaya bencana. Kalaupun dimasukkan, skala atau tingkat detailnya masih kasar," kata Dwikorita. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM