Bitcoin dinilai gagal sebagai mata uang yang diukur berdasarkan acuan atau tolak ukur standar. Gubernur Bank Sentral Inggris (BoE) Mark Carney mengungkapkan bitcoin pun bukan menjadi sebuah penyimpanan nilai atau cara yang berguna untuk membeli sesuatu.

"Sejauh ini (Bitcoin) lebih banyak gagal, pada aspek-aspek tradisional uang. Ini bukan penyimpan nilai karena sangat tidak fokus dan tidak konsisten. Tidak ada yang menggunakannya sebagai alat tukar," kata Carney kepada mahasiswa di Universitas Regent London seperti yang dilansir dari Antara, Selasa (20/2).

Namun, teknologi yang mendasari kripto-mata uang tersebut mungkin masih berguna sebagai cara untuk memverifikasi transaksi keuangan.

Gubernur Bank Sentral juga mengatakan bahwa, untuk membuat kepergian Inggris dari Uni Eropa pada Maret 2019 semulus mungkin, regulator Inggris bermaksud memberi institusi-instutusi keuangan "keuntungan dari keraguan, melebihi risalah terakhir".

Pergerakan Sterling sebagian besar didorong oleh spekulasi finansial mengenai Brexit, dan dia mengatakan bahwa pejabat-pejabat Inggris dan Eropa telah bekerja keras untuk mendapatkan kesepakatan transisi sebelum akhir Maret.

Carney membuat komentar dalam sesi tanya jawab setelah memberikan ceramah tentang kepemimpinan, di mana dia menekankan pentingnya kerendahan hati dan empati serta mengatakan pemodal seharusnya tidak dimotivasi semata-mata karena keuntungan. (cnnindonesia.com)

Salah satu pertanyaan yang banyak diajukan ke warga Inggris adalah mengapa setir mobil di negara ini berada di sisi kanan, sementara setir mobil-mobil di Eropa daratan berada di sisi kiri?

Ternyata, asal-usul setir kanan terkait dengan kebiasaan ketika Inggris berada di bawah kekuasaan Romawi.

"Hampir semua orang melakukan aktivitas dengan tanan kanan. Mereka biasanya mengendalikan kuda dengan tangan kiri dan membawa senjata dengan tangan kanan. Posisi ideal untuk bertempur," jelas Stephen Laing, kurator di Museum Transportasi Inggris di Warwickshire.

"Tentara Romawi berbaris di sisi kiri jalan dan konvensi ini berlaku (di Inggris) hingga sekarang," tambahnya.

Kebiasaan kendaraan melaju di sisi kiri jalan dimasukkan dalam undang-undang jalan raya yang disahkan pada 1835 dan aturan ini diterapkan ke wilayah-wilayah yang menjadi koloni Inggris, kata penulis transportasi, Giles Chapman.

"Aturan ini antara lain diekspor ke Jepang di mana para insinyur Inggris merancang kereta yang didesain untuk dikemudikan di sisi kiri. Akibatnya, muncul aturan yang mewajibkan berkendara di sisi kiri," urai Chapman.

Dengan berada di sisi kiri jalan, maka dengan sendirinya posisi setir akan di sebelah kanan.

Selain Inggris dan Jepang, yang juga mengadopsi setir kanan adalah Indonesia, Australia, dan Malaysia.

Warga Australia dan Malaysia mengemudi di sisi kanan jelas karena pengaruh Inggris. Tapi bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan situs World Standards, penjajah Belanda pertama kali mengenalkan kemudi di sisi kanan kepada warga Hindia Belanda--kini Indonesia. Ketika Napoleon dari Prancis menjajah Belanda, kerajaan itu kemudian mengubah haluan kemudi ke sisi kiri.

Akan tetapi, perubahan haluan itu tidak diikuti wilayah jajahannya, termasuk Hindia Belanda dan Suriname. Situasi itu bertahan pada Perang Dunia II lantaran Jepang--yang menjajah Indonesia--juga mengemudi di sisi kanan.

Karena itulah warga Indonesia hingga kini tetap mengemudi di sisi kanan.

Mengubah dari kanan ke kiri
Tapi mengapa negara-negara lain, seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa daratan, memilih sistem setir kiri?

Alasan yang biasanya disampaikan adalah, kebiasaan ini berasal dari zaman ketika sapi-sapi dimanfaatkan untuk menarik pedati di Amerika.

Penjelasan ini ada benarnya, kata penulis Fraser McAlpine.

Ia mengatakan pada akhir 1700-an, pedati yang ditarik oleh dua kuda sangat populer dan biasanya kusir atau sais duduk di sisi kiri karena ia perlu tangan kanan untuk memegang cemeti dan mencambuk kuda.

Cara terbaik bagi pedati untuk melewati pedati-pedati lain adalah dengan berada di sisi kanan jalan dan kebiasaan tak berubah ketika moda transportasi beralih ke mobil.

Tapi kebiasaan melaju di sisi kiri atau kanan jalan tak selamanya bersifat permanen. Swedia mengganti sistem setir kanan ke setir kiri pada 1967 yang mendorong pemerintah Inggris melakukan kajian tentang kemungkinan beralih ke setir kiri pada 1969.

Tapi diputuskan bahwa mengubah sistem terlalu mahal dan wacana setir kiri di Inggris tak pernah diterapkan. Ketika itu, diperkirakan ongkos untuk mengubah sistem sekitar £264 juta yang setara dengan £4 miliar dengan nilai uang pada 2018.

Menurut kurator museum transportasi, Stephen Laing, nyaris tidak ada kemungkinan bagi Inggris untuk beralih ke sistem setir kiri.

"Semua infrastruktur yang ada didesain untuk menyesuaikan dengan sistem setir kiri. Saya tak melihat Inggris akan mengubah semuanya di masa depan," kata Laing.

Kementerian Transportasi mengatakan mengubah sistem menjadi setir kiri bukan menjadi prioritas pemerintah saat ini. (bbcindonesia.com)

Hari ini, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Moazzam Malik, menyambut baik 67 orang Indonesia dan 1 ilmuwan Timor Leste dari setahunnya mereka belajar di Inggris di bawah Program Beasiswa Chevening yang didanai oleh Pemerintah Inggris.

Duta Besar Inggris, Moazzam Malik mengatakan:

“Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk mendukung pendidikan para pemuda yang luar biasa ini di Inggris. Pada waktunya, mereka akan menjadi bagian dari pemimpin masa depan Indonesia dan Timor Leste. Para siswa yang saya temui hari ini telah mempelajari berbagai mata pelajaran. Dari perubahan iklim, hukum dan hak asasi manusia, ekonomi, jasa keuangan hingga media dan komunikasi di beberapa universitas terbaik di dunia.

“Hari ini alumni ini disambut menjadi klub eksklusif dari 1.500 alumni Chevening Indonesia di seluruh negeri yang termasuk tokoh utama dalam bisnis, politik, kepolisian, dan media. Jaringan ini, berdiri di belakang kumpulan siswa baru ini, karena mereka melihat kontribusi mereka terhadap masa depan Indonesia.".

Beasiswa Chevening adalah program beasiswa global pemerintah Inggris yang telah berjalan selama lebih dari 30 tahun. Pada tahun 2017, program ini memberikan hampir 70 beasiswa bagi orang Indonesia untuk belajar program pascasarjana di Inggris. Lihat www.chevening.org/apply untuk rincian lebih lanjut tentang bagaimana mengajukan permohonan untuk putaran aplikasi 2018.

Dengan 46.000 alumni di seluruh dunia dan lebih dari 1.400 alumni di Indonesia, alumni Chevening adalah jaringan pemimpin global yang dihormati dan berpengaruh.

Tahun lalu, 70 beasiswa Chevening diberikan ke Indonesia dan 1 ke Timor Leste. Lebih dari 1.400 orang Indonesia telah menerima Beasiswa Chevening selama 32 tahun terakhir yang telah memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar untuk mendapatkan gelar Master di Inggris. Target skema mereka yang berpotensi menjadi pemimpin, pengambil keputusan dan opinionformer di Indonesia yang akan memberikan kontribusi positif bagi masa depan Indonesia.

Inggris memiliki salah satu sistem pendidikan tinggi terbaik di dunia. Memiliki sepuluh dari dua puluh universitas terbaik di dunia. Untuk rincian bagaimana belajar di Inggris, kunjungi https://www.britishcouncil.id/en/study-uk

Ada banyak hal unik dan menarik dalam kehidupan keluarga bangsawan Inggris. Setiap hal unik tersebut juga seringkali mengandung makna tersembunyi.

Salah satunya adalah topi yang selalu dikenakan oleh kaum perempuan di lingkaran keluarga bangsawan tersebut.

Nyaris, kita tak pernah melihat Ratu Elizabeth tanpa topi di kepalanya. Yah, menurut protokol kerajaan, wanita harus mengenakan topi, untuk semua acara resmi.

Topi bukan sekadar aksesoris, tetapi bagian dari "keragaman demografi" -yang terpengaruh komposisi etnik, kekayaan, tingkat pendidikan, tingkat lapangan kerja, dan nilai-nilai regional.

Hingga tahun 1950an, jarang sekali ada wanita Inggris yang menunjukkan rambut mereka di depan umum.

Sementara itu, keluarga kerajaan selalu berusaha mempertahankan tradisi lama. Bagi wanita dalam anggota keluarga Kerajaan Inggris, penampilan formal harus selalu dilengkapi dengan topi.

Ini adalah ketentuan yang juga dimulai sejak tahun 1950-an.

Aturan ini telah berubah seiring berjalannya waktu. Setidaknya, hal itu terlihat bagaimana Kate Middleton sering tampil dengan menunjukkan rambutnya yang begitu indah.

Namun, keluarga kerajaan Inggris memiliki tanggung jawab untuk melestarikan tradisi lama yang telah pudar.

Sebagai gantinya, dalam setiap acara formal tradisi mengenakan topi tersebut masih dilaksanakan. Tentunya, hal ini juga digunakan untuk membedakan anggota keluarga kerajaan dengan masyarakat biasa.

"Harus ada sedikit perbedaan antara keluarga kerajaan dan rakyat biasa. Tidak dengan cara sombong, tapi apa gunanya keluarga kerajaan jika mereka sama seperti kita?" ucap ahli kerajaan Victoria Arbiter.

Sementara itu, mengenakan topi saat acara nonformal bukanlah suatu kewajiban bagi perempuan bangsawan Inggris.

Menurut Hilary Alexander, Direktur fashion the Daily Telegraph, topi juga merupakan bagian budaya yang lahir sebagai bagian dari kekayaan demografi dalam masyarakat Inggris.

"Ketika menghadiri acara khusus di masyarakat Inggris, acara khusus tidak lengkap tanpa topi," kata Alexander.

Nah, salah satu acara khusus bagi masyarakat Inggris ini juga akan terjadi pada tanggal 19 Mei. Tanggal tersebut adalah hari pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle. (kompas.com)

Page 1 of 7

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM