Final ideal terjadi di cabang olahraga sepak bola Asian Games 2018. Dua tim langganan tampil di Piala Dunia, Korea Selatan dan Jepang, akan saling berhadapan di laga puncak.

Korsel dan Jepang memang kerap jadi tim favorit juara di kejuaraan Asia, termasuk di Asian Games. Kedua negara ini pun berjaya di dua edisi multicabang empat tahunan terbesar di Asia.

Jepang merupakan juara Asian Games 2010 di Guanzhou, China. Sementara Korsel adalah jawara Asian Games 2014 saat berstatus sebagai tuan rumah di Incheon.


Meski digadang-gadang sebagai tim favorit, namun perjuangan Korsel dan Jepang tidak semulus yang dibayangkan. Bahkan kedua tim sama-sama menempati posisi runner up di fase grup.

Korsel yang diperkuat bintang Tottenham Hotspur, Son Heung Min, bahkan harus menjalani laga dramatis lawan Uzbekistan di perempat final. Sempat tertinggal, namun Tim Negeri Ginseng keluar sebagai pemenang lewat gol telat di menit-menit akhir babak tambahan waktu.

Di semifinal, Son Heung Min dan kawan-kawan tampil trengginas dan berhasil menghentikan langkah Vietnam dengan skor 3-1.

Perjalanan Jepang ke final juga tidak terlalu spesial. Tim Samurai Biru selalu menang tipis di fase gugur, termasuk saat mengalahkan Malaysia (1-0), Arab Saudi (2-1), dan Uni Emirat Arab (1-0).

Meski demikian, Jepang dan Korea Selatan punya peluang yang sama untuk menjuarai Asian Games 2018. Tim terbaiklah yang berhak jadi pemenang laga final yang akan digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Sabtu (1/9). (CNN Indonesia)

Gelombang panas di Jepang mencapai rekor pada Senin (23/7), tatkala suhu mencapai 41,1 derajat celsius di Kumagaya, sekitar 86 kilometer dari Tokyo.

Temperatur tersebut memecahkan rekor lima tahun sebelumnya, yaitu 41,0 derajat Celsius pada Agustus 2013 di Shimanto, Prefektur Kochi.

Khusus di Tokyo, suhu 40,8 derajat Celsius juga memecahkan rekor lokal.

Akibat gelombang panas ini, sebanyak 77 orang telah meninggal dunia dan 30.000 orang harus dirawat di rumah sakit, berdasarkan perhitungan Badan Penanggulangan Bencana Jepang dan kantor berita Kyodo sejak 9 Juli hingga Minggu (22/7).

Pada Senin (23/7) saja, sedikitnya sembilan orang meninggal dunia. Beberapa orang di antara mereka adalah warga lanjut usia yang berusia antara 72 hingga 95 tahun.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan, mengimbau masyarakat dan pelajar untuk bersikap waspada dan menghindari kegiatan di luar ruangan.

Imbauan ini dikemukakan setelah seorang pelajar berusia enam tahun di Prefektur Aichi meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan belajar di luar kelas, pada Selasa (17/7).

Kemudian, sejumlah siswa SMA di Shimonoseki, Prefektur Yamaguchi, mengalami gejala kejang akibat terpapar sengatan matahari sehingga harus dibawa ke rumah sakit.

Gelombang panas juga memecahkan rekor lainnya.

Pada Minggu (22/7), Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo telah mengerahkan ambulans sebanyak 3.125 kali—jumlah terbanyak dalam sehari sejak dinas tersebut memulai layanan darurat pada 1936 lampau. Sebagian besar warga yang memerlukan ambulans terdampak gelombang panas.

Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengatakan gelombang panas yang melanda Jepang akhir-akhir ini menyebabkan masyarakat "persis seperti hidup di sauna".

Agar korban tidak semakin banyak berjatuhan, Badan Meteorologi Jepang mengimbau masyarakat untuk minum air lebih sering dan waspada terhadap gelombang panas.

Badan tersebut memperkirakan situasi ini masih akan berlanjut sampai awal Agustus di bagian barat dan timur Jepang.

"Orang-orang di kawasan yang suhunya mencapai 35 derajat atau lebih harus sangat berhati-hati. Walau suhunya rendah, cuaca panas bisa berbaya bagi anak-anak dan orang lanjut usia serta tergantung pada lingkungan dan aktivitas yang Anda lakukan," sebut Badan Meteorologi sebagaimana dikutip AFP.


Upaya meredam gelombang panas juga dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Kota Yokohama.

Di kota sejauh 44 kilometer sebelah selatan Tokyo itu, khalayak berpartisipasi dalam acara yang disebut uchimizu atau 'upacara air', yaitu mengguyur atau memercik air dingin ke jalanan guna mendinginkan.

Fenomena gelombang panas ini menambah rumit upaya penyelamatan korban banjir di bagian barat Jepang mengingat banyak relawan beraktivitas di tengah terik matahari.

Lebih dari 200 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor yang dipicu hujan deras awal bulan ini. (BBC Indonesia)

Hujan deras yang melanda beberapa daerah di bagian barat Jepang sejak Kamis (5/7) hingga Minggu (8/7) menimbulkan banjir dan longsor yang mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia.

Jumlah korban sampai Senin (9/7) pagi sebagaimana disebutkan keterangan resmi pemerintah Jepang yang dikutip kantor berita AFP, telah mencapai 75 orang.

Adapun sejumlah media setempat, seperti NHK, melaporkan bahwa total korban meninggal dunia sudah mencapai 88 orang dan 58 lainnya belum diketahui keberadaannya.


Dalam keterangan kepada wartawan, Minggu (8/7), Perdana Menteri Shinzo Abe menyatakan regu penyelamat kini "berpacu dengan waktu".

"Masih banyak orang hilang dan lainnya yang memerlukan pertolongan," ujarnya.

Sebanyak 50.000 orang yang terdiri dari petugas tanggap darurat, polisi, dan personel militer telah dikerahkan ke daerah-daerah yang diterjang banjir serta longsor, terutama di Prefektur Hiroshima dan Okayama.

Selain mencari para korban yang terperangkap, mereka turut membantu evakuasi nyaris sebanyak dua juta orang dari rumah masing-masing.

 

Salah satu kota yang paling parah dilanda banjir adalah Kurashiki di Prefektur Okayama.

Di Rumah Sakit Mabi Memorial yang dikelilingi banjir, misalnya, para staf dan pasien dikeluarkan dari tempat itu oleh para tentara dengan menggunakan perahu-perahu.

"Saya sangat berterima kasih kepada regu penyelamat. Saya merasa lega telah dibebaskan dari tempat yang gelap dan aroma busuk," kata Shigeyuki Asano, pasien berusia 79 tahun yang menghabiskan semalaman di rumah sakit tanpa listrik dan air.



Tapi tak semua kisah berakhir bahagia. Seorang bocah perempuan berusia tiga tahun ditemukan tewas oleh regu pencari setelah rumah keluarganya ditimpa longsor di Prefektur Hiroshima.

"Rasanya menyakitkan. Saya punya cucu perempuan yang usianya sama. Jika yang meninggal cucu saya, saya tidak akan bisa berhenti menangis," ujar seorang pria lanjut usia yang menyaksikan upaya pencarian di dekat lokasi kejadian.

Korban meninggal dunia maupun cedera diperkirakan akan bertambah selagi hujan deras bakal terus mengguyur sebagian daerah Jepang.

Seorang pejabat Badan Meteorologi Jepang mengatakan, "Situasinya masuk pada tahap bahaya ekstrem." (BBC Indonesia)

Tiga kapal selam Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, termasuk kapal selam yang diberikan oleh Nazi Jerman, ditemukan dengan kondisi utuh di dasar laut Jepang, dekat dengan Kyoto, kata para peneliti Selasa (3/7).

Para peneliti telah mengidentifikasi nama-nama kapal selam yang ditenggelamkan oleh pasukan yang dipimpin AS selama Perang Dunia II pada 1946.

"Kapal selam RO-68 buatan 1924, I-121 buatan 1927, dan U-boat yang diberikan Jerman kepada Jepang pada 1943 terbaring di dasar laut sedalam 90 meter Teluk Wakasa," kata Tamaki Ura, professor Institut Teknologi Kyushu anggota dari tim peneliti seperti dilansir kantor berita Kyodo.

Tim mulai mencari di daerah sejak Juni dengan menggunakan sonar dari kapal selam tak berawak untuk mencari bangkai kapal selam tersebut.

Ketiga bangkai kapal selam tersebut sebagian besar masih utuh sehingga mempermudah para peneliti untuk mengidentifikasi. (CNN Indonesia)

Page 1 of 8

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM