Seorang diplomat senior Korea Selatan akan mengunjungi Indonesia pekan untuk untuk memperkuat kerja sama dan membahas isu Inter-Korea. Selain Indonesia, Wakil Menteri Luar Negeri Lim Sung-nam juga akan berkunjung ke Singapura.

"Lim akan membahas kebijakan Korea Selatan untuk mempererat kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara juga ASEAN," tulis kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Senin (30/4).

Wakil Menteri Luar Negeri Korsel itu juga akan memaparkan hasil-hasil pertemuan bersejarah Inter-Korea yang digelar pekan lalu dan meminta dukungan atas diplomasi Seoul terhadap Korea Utara.

Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, di mana Korea Utara dan Selatan berencana menggelar parade gabungan.

Presiden Joko Widodo menawarkan Indonesia sebagai tempat pertemuan tingkat tinggi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un akhir Mei mendatang.

Seusai pertemuan dengan Duta Besar Korea Seladan dan Duta Besar Korea Utara di Jakarta, Jokowi menyampaikan dukungan atas terciptanya perdamaian di Semenanjung Korea.

"Lawatan Wakil Menteri Luar Negeri ke Asia Tenggara telah dirancang sejak lama sebagai bagian dari kunjungan untuk memperkuat kebijakan baru yang memperkuat diplomasi dengan negara-negara di selatan," kata pejabat Kementrian Luar Negeri Korea Selatan seperti dilansir kantor berita Yonhap. (cnnindonesia.com)

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menjamu dua anggota delegasi Korea Selatan, yang merupakan pertemuan pertamanya dengan pejabat Korea Selatan sejak berkuasa tahun 2011 lalu.

Kantor presiden Korea Selatan mengukuhkan pertemuan itu, tak lama setelah delegasinya tiba di ibu kota Korut, Pyongyang, Senin (05/03).

Kepala Dinas Intelijen Nasional, Suh Hoon, dan Kepala Penasihat Keamanan Nasional, Chung Eui-yong, menyeberang ke Korea Utara untuk pembicaraan yang jarang terjadi, antara lain membahas upaya menghidupkan kembali dialog antara Korea Utara dan Amerika Serikat.

Hubungan antara kedua Korea membaik menjelang dan setelah Olimpiade Musim Dingin di PyeongChang -bulan lalu- yang diramaikan dengan partisipasi atlet serta tim pemandu sorak Korea Utara.

Kedatangan dua pejabat Selatan setingkat menteri ini ke Pyongyang tampaknya semakin memperlihatkan membaiknya hubungan kedua Korea.

Radio Korea Utara melaporkan delegasi diterima oleh Menteri Reunifikasi, Ri Son-gwon, yang memimpin perundingan dengan Korea Selatan sebelum Olimpiade PyeongChang.

Dalam kunjungan dua hari, delegasi Korea Selatan rencananya akan membahas kondisi perundingan yang bertujuan untuk menghentikan program nuklir Korea Utara dan juga dialog antara pemerintah Washington dan Pyongyang.

Sebelumnya, Chung Eui-yong menjelaskan kepada para wartawan bahwa dia akan menyampaikan resolusi Presiden Moon Jae-in untuk memelihara dialog, meningkatkan hubungan Selatan dan Utara, serta denuklirisasi Semenanjung Korea.

"Saya merencanakan menggelar diskusi mendalam tentang berbagai jalan untuk meneruskan perundingan, bukan hanya antara Selatan dan Utara, juga antara Utara dan Amerika Serikat."

Sabtu (03/03) pekan lalu, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat siap bertemu dengan Korea Utara namun menegaskan kembali bahwa negara itu harus lebih dulu menghentikan program senjata nuklirnya.

Namun Korea Utara -yang mengatakan ingin bertemu dengan Amerika Serikat- berpendapat adalah 'tidak masuk akal' jika Amerika Serikat mendesakkan prasyaratnya.

"Sikap Amerika Serikat yang diperlihatkan, setelah kami mengklarifikasi keingingan kami untuk berdialog, hanya membuat kami berpikir bahwa Amerika Serikat tidak tertarik untuk melakukan dialog," seperti tertulis dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Utara, yang dilaporkan media pemerintah.

Hubungan Amerika Serikat dan Korea Utara memanas sebelum Olimpiade PyeongChang, dengan masing-masing pihak berulang kali mengancam akan melakukan serangan yang memusnahkan satu sama lain.

Namun Olimpide Musim Dingin tampaknya meredakan ketegangan tersebut dan masih ditunggu apakah partisipasi Korea Utara di Paralimpiade Musim Dingin akan membawa terobosan lebih lanjut lagi. (bbcindonesia.com)

Korea Selatan mulai kembali latihan militer bersama Amerika pada Senin (21/8), di tengah ketegangan situasi kawasan karena ancaman rudal Korea Utara.

Sehari sebelumnya, Korut mengancam akan menyerang AS tanpa ampun karena menggelar latihan tersebut. Ancaman itu ditujukan kepada wilayah Amerika di Pasifik hingga daratan utama di seberang samudera.

Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyatakan latihan tersebut murni bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dan tidak bermaksud meningkatkan ketegangan.

"Tidak ada maksud untuk meningkatkan ketegangan militer di semenanjung Korea karena latihan ini digelar setiap tahun dan bersifat pertahanan," kata Moon di hadapan menteri-menteri kabinetnya, dikutip Reuters.

"Korea Utara tidak boleh melebih-lebihkan upaya kita untuk mempertahankan kedamaian atau terlibat dalam provokasi yang bakal memperkeruh suasana, menggunakan latihan ini sebagai alasan."

Latihan itu akan digelar hingga 31 Agustus nanti dan melibatkan simulasi komputer yang didesain untuk mempersiapkan perang dengan tetangga bersenjata nuklirnya, Korea Utara.

Amerika Serikat juga sama-sama menyebut latihan itu hanya untuk tujuan bertahan. Namun media pemerintah Korut menganggap istilah itu hanya "kedok tipuan."

"Latihan ini untuk mempersiapkan seandainya peristiwa besar terjadi dan kita harus melindungi Korea Selatan," kata Michelle Thomas, juru bicara militer AS.

Korea Utara memandang latihan tersebut sebagai persiapan invasi. Selama ini, negara tersebut berulang kali menembakkan rudal dan melakukan aksi-aksi lain bertepatan dengan kegiatan tersebut.

Korea Selatan dan Utara secara teknis masih dalam status berperang karena pertempuran antara kedua negara berakhir dengan gencatan senjata dan bukan perdamaian, 1953 silam.

Perkembangan cepat Korea Utara dalam mengembangkan rudal nuklir yang bisa mencapai daratan utama telah memicu ketegangan kawasan. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun berulang kali menjatuhkan sanksi terhadap negara terisolasi itu. (cnnindonesia.com)

SEOUL - Mantan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menduduki posisi kedua dalam polling tentang siapa presiden favorit untuk Korea Selatan.

 

 

Dalam hasil jajak pendapat yang rilis the Gallup Korea di Seoul, Jumat (13/1/2017) terungkap, capaian Ki-moon terpaut 11 persen dari Moon Jae-in di posisi puncak.

Moon Jae-in yang adalah mantan pemimpin oposisi Korsel yang mengumpulkan 31 persen pemilih dalam polling ini.

Korsel saat ini sedang dilanda krisis politik menyusul pemakzulan Presiden Park Geun-hye dalam sidang parlemen Desember lalu.

Ki-moon yang kini berusia 72 tahun, kembali ke kampung halamannya Kamis kemarin.

 

 

Meski belum mengungkapkan secara tegas intensinya untuk maju menjadi calon presiden Korsel, Ki-moon telah menjanjikan akan mengambil keputusan segera.

Keputusan itu menyangkut masa depan dalam karir politiknya di Korsel. 

Hari ini, Ki-moon mengunjungi taman makan nasional Seoul, dan pusat komunitas yang berada di dekat kediamannya. 

Dia kembali menginjakkan kaki di tempat tinggalnya itu setelah menghabiskan 10 tahun terakhir hidupnya di New York dan memimpin PBB.

Seperti diberitakan Reuters, jajak pendapat tersebut digulirkan mulai 10-12 Januari 2016.

 

 

Gallup Korea adalah lembaga yang berkedudukan di Seoul, dan tidak berafiliasi dengan organisasi Gallup, Inc, yang berkedudukan di Amerika Serikat. (kompas.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM