Aparat Mesir masih menahan seorang mahasiswa Indonesia dan mendeportasi dua lainnya dengan alasan 'keamanan nasional'. Dua mahasiswa lain juga ditangkap, tapi kemudian dilepaskan lagi.
Duta Besar Indonesia di Kairo, Helmy Fauzi mengatakan dalam siaran persnya bahwa KBRI terus mengusahakan pembebasan Muhammad Fitrah Nur Akbar, namun ia tidak menjelaskan apa penyebab penangkapan-penangkapan itu.
"Hingga 4 Desember 2017, KBRI Kairo belum menerima notifikasi maupun keputusan dari Pemerintah Mesir terkait satu orang WNI Mahasiswa yang masih ditahan oleh Aparat Keamanan di Kantor Polisi Nasr City II atas nama Sdr. Muhammad Fitrah Nur Akbar," kata Helmy.
Karenanya, lanjut Helmy, mereka "menyampaikan nota diplomatik kepada Kemlu Mesir, Grand Shekh Al Azhar dan National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir," untuk segera membebaskan membebaskan Muhammad Fitrah Nur Akbar, yang berstatus mahasiswa Al Azhar dan memiliki izin tinggal hingga tahun 2018.

Penangkapan-penangkapan terhadap lima mahasiswa itu terjadi pada 22 November, dan KBRI Kairo memperoleh informasinya pada hari yang sama dari Dodi Firmansyah Damhuri, salah satu mahasiswa yang ditangkap namun dilepaskan lagi bersama seorang lainnya, Muhammad Jafar.
Kelimanya terjaring dalam razia keamanan oleh aparat keamanan Mesir di kawasan Tabbah, kota Nasr, kata Helmy.
Dalam sebuah pertemuan pada 27 November, KBRI Kairo mendapat penjelasan dari Dinas Keamanan Nasional Mesir, "bahwa sesuai dengan hasil investigasi yang dilakukan oleh National Security, dua mahasiswa, Ardinal Khairi dan Hartopo Abdul Jabbar diputuskan untuk dideportasi dengan alasan "Keamanan Nasional" oleh Kementerian Dalam Negeri Mesir," tulis Helmy.
Tidak jelas, apa 'alasan keamanan' terkait pengusiran dua mahasiswa Indonesia itu. KBRI memfasilitasi pemulangan keduanya, pada 30 November.

Menurut siaran pers Dubes RI di Mesir, mereka masih terus mengusahakan pembebasan Muhammad Fitrah Nur Akbar, yang hingga Senin, 4 Desember, masih ditahan di kantor polisi Kota Nasr II.
Disebutkan, hingga 4 Desember 2017 itu pula KBRI sudah memfasilitasi pemulangan 18 pelajar/mahasiswa Indonesia yang dideportasi.
Sampai saat ini, belum jelas, apa alasannya: pertimbangan keamanan nasional aparat Mesir atau sekadar pelanggaran keimigrasian.
Juga belum ada keterangan, bagaimana kelanjutan dua mahasiswa yang dideportasi terkait 'alasan keamanan nasional' itu, dan kemungkinan mahasiswa lain sebelum mereka: apakah ada koordinasi dengan aparat keamanan Indonesia untuk pengawasan selanjutnya?
BBC masih berusaha menghubungi Duta Besar Helmy Fauzy terkait soal ini. (bbcindonesia.com)

ROMA - Mobil bertenaga baterai listrik karya sekelompok mahasiswa Indonesia menjadi kendaraan pertama di luar Ferrari dan Fiat yang melaju di sirkuit Fiorano di Maranello, Italia, untuk uji coba mobil hemat energi.

 

 

Mobil produksi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung yang dinamakan Turangga Cheta Evolution 4 itu mendapatkan kesempatan menguji kehematan bahan bakar dalam tujuh putaran.

Tim mahasiswa yang menamakan diri Bumi Siliwangi itu mendapat hadiah pergi ke Maranello pada pekan pertama November untuk melihat pengembangan teknologi dan produksi tim Formula 1, Ferrari, serta menguji lintasannya.

Hadiah itu diperoleh setelah kelompok Bumi Siliwangi menjadi juara dunia dalam lomba mobil buatan mahasiswa yang paling cepat dan paling irit bahan bakar.

Ajang Shell Eco Marathon Drivers' World Championship di London pada Juli lalu itu diikuti puluhan tim pelajar dan mahasiswa dari seluruh dunia.

Empat tim mahasiswa dari Italia, Perancis, Jerman, dan Swiss yang menjadi finalis dalam kejuaraan mobil hemat energi Eropa juga berkesempatan menguji lintasan sirkuit yang selama ini hanya digunakan untuk menguji mobil produksi Ferrari dan Fiat.

Test driver Ferrari, Marc Gene, yang mendampingi para mahasiswa dalam demo lintasan memuji Ramdani, pengemudi mobil Turangga Cheta yang dia sebut memiliki banyak pengetahuan dalam usia yang sangat muda.

"Dia senang sekali dan saya bisa melihat dari matanya yang bersinar. Dia menikmati setiap momen (di sirkuit Fiorano). Saya beri masukan terkait efisiensi, termasuk cara melewati tikungan, mengerem," kata Marc usai uji lintasan Rabu sore (7/12/2016).

"Mereka berusaha keras mendorong (perkembangan teknologi). Mungkin satu saat teknologi seperti ini akan digunakan, Mereka memiliki banyak pengetahuan pada usia yang sangat muda. Mereka tentu bisa menjadi insinyur di Ferrari satu waktu nanti."

Ramdani, pengemudi Bumi Siliwangi mengatakan, ia masih tak percaya akan menjadi pengemudi di sirkuit milik Ferrari itu dan duduk di samping Gene.

"Bahagia dan kaget juga saya, karena, kerennya, dia yang menjadi penumpangnya," kata Ramdani.

Sirkuit Fiorano digunakan untuk pengembangan dan uji lintasan sejumlah pembalap besar  Formula 1, termasuk Nikki Lauda, Michael Schumacher sampai pembalap saat ini Kimi Raikonen dan Sebastian Vettel.

Tim Bumi Siliwangi, juara bertahan untuk lomba mobil buatan mahasiswa urban concept atau konsep perkotaan, tampil dengan 48 kilometer per kwh (kilowatt hour) lebih rendah dari capaian di London sejauh 68 km/kwh.

Mahasiswa Perancis, dari Lycee Saint Joseph La Joliverie, dengan mobil prototipe berbahan bakar bensin menjadi yang paling efisien, dengan hanya menggunakan satu liter BBM untuk 1.400 kilometer perjalanan. (kompas.com)

LONDON - Anggun Puspitarini Siswanto, mahasiswa asal Indonesia, tampil di Parlemen Inggris di The Attlee Suite, House of Commons, London. Kesempatan itu menjadi momen yang sangat spesial.

 

 

Gadis itu mempresentasikan hasil risetnya tentang pengembangan teknologi terbaru untuk mengolah sampah atau limbah biologi yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri energi terbarukan. Ia berbicara di depan sekitar 100 anggota parlemen yang menghadiri acara.

"Menjadi kehormatan bagi saya untuk dapat menyajikan penelitian saya di Parlemen Inggris. Tidak hanya mewakili Universitas, tetapi juga Indonesia " ujar Anggun yang baru saja menyelesaikan sekolahnya di University of Sheffield kepada Antara di London, Jumat (23/9/2016).

Kesempatan itu menjadi momen yang sangat spesial dalam rangkaian dari Pekan Ilmiah British 2016 yang ditujukan dalam menyajikan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknik, kedokteran dan teknologi untuk anggota parlemen.

Gadis itu kelahiran Makassar, 15 Maret 1988, dari seorang ayah Jawa dan ibu Gorontalo. Ia menyajikan poster berdasarkan penelitian PhD-nya yang berfokus pada pengembangan teknologi untuk pengolahan bahan lignoselulosa melalui mikroreaktor plasma dan teknologi microbubble.

Secara umum ia mengatakan, penelitian difokuskan pada mengobati bahan limbah biologis untuk selanjutnya digunakan dalam industri terbarukan.

Penelitian dilakukan Anggun di Micro-Laboratorium Kimia, Departemen Teknik Kimia dan Biologi, University of Sheffield.

Departemen yang diakui sebagai salah satu Departemen Teknik Kimia terkemuka antara Russell Group untuk Universitas British.

Menurut putri tertua dalam keluarga dengan tiga bersaudara itu, sebagai bagian dari seleksi tahap awal, Anggun harus mengajukan formulir aplikasi online, abstrak penelitian dan surat referensi.

Pada akhir Januari 2016, ia pun mendapat e-mail konfirmasi mengenai kandidat terpilih yang akan diundang ke acara di House of Commons.

Dikatakan sekitar 35 persen dari 500 abstrak yang terpilih untuk menyajikan poster di Parlemen. Poster dipilih berdasarkan prestasi ilmiah yang dapat dipahami oleh khalayak awam.

"Saya sajikan poster berdasarkan penelitian PhD yang berfokus pada pengembangan teknologi untuk pengolahan bahan lignoselulosa melalui mikroreaktor plasma dan teknologi microbubble," ujarnya.

Menurut Anggun, University of Sheffield merupakan salah satu universitas terbaik dari 40 universitas di Eropa versi Times Higher Education Peringkat Universitas Dunia 2015-2016. Ada juga lima pemenang Hadiah Nobel terkait dengan University of Sheffield, ujarnya.

Bercerita tentang kesan-kesannya studi di luar negeri, Anggun mengakui adalah salah satu anugerah yang diberikan untuk dapat mengenal diri sendiri secara lebih dalam. Terutama juga tentang cara pandang terhadap Tanah Air Indonesia.

"Dengan jauh dari rumah, saya dapat melihat segala sesuatunya dengan lebih objektif," ujar Anggun yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Masyarakat Indonesia di Sheffield.

Dia berharap akan semakin banyak remaja Indonesia bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi, dan mendapat kesempatan belajar ke luar negeri.

Anggun mendapat beasiswa dari Pendidikan Tinggi dan hal itu membawanya mendapatkan pengalaman unik dalam kamus hidupnya.

Pada tahun 2009, ia berhasil menyelesaikan program diploma di Departemen Teknik Kimia, Universitas Diponegoro. Kemudian melanjutkan ke program sarjana di universitas yang sama dan bekerja paruh waktu sebagai asisten dosen yang berbentuk etos kerja di lingkungan laboratorium.

Beasiswa awal dari DIKTI hanya akan menutupi biaya untuk 2012-2014. Namun, yang terdaftar di tingkat PhD perlu dana hingga 2015.

Masalah itu akhirnya diselesaikan dengan Kedutaan Republik Indonesia di London melalui Atase Pendidikan Profesor TA Fauzi Soelaiman, yang saat ini menjabat sebagai Alternatif Delegasi Duta Besar UNESCO di Paris serta Dr Ananto Kusuma Seta, yang merupakan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Internasional.

Dana tersebut diberikan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta dengan Kedutaan Republik Indonesia di London.

Anggun yang menyelesaikan sarjana pada April 2011 dan pada Agustus 2011 terpilih sebagai penerima Beasiswa Unggulan Skema didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Indonesia.

Anggun menerima beasiswa pada Maret 2012 untuk studi pascasarjana di Departemen Teknik Kimia dan Biologi University of Sheffield, Inggris Raya dan berhasil menyelesaikan studinya dan ia pun kembali ke Tanah Air.

Paul Bloomfield, MP yang berasal dari Sheffield sempat menyayangkan kepulangan Anggun ke Indonesia, sebab, Inggris akan kehilangan salah satu peneliti muda dalam bidang keilmuwan.

Namun, Anggun yang juga belajar bahasa Perancis dan Rusia pun menyampaikan justru kepulangannya adalah awal dari rencana kerja sama Indonesia-Inggris ke depannya. (kompas.com)

Bandarlampung - Kulit pisang biasanya terbuang dan akhirnya menjadi sampah. Namun, oleh 10 mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya Lampung, "sampah" ini justru diolah menjadi penganan ringan dan lezat berupa kerupuk kulit pisang atau "Kusang".

 

Mereka adalah Ganda Syahertian R, M Indrawan Zikrillah, Mutia, Imelda Intan P,  I Komang Reka S, Rosma Wati, Eka Prabawanti, Desi Septiani, Muhammad Mahbub, dan Vincencia YH,

Ganda di Bandarlampung, Senin (12/9/2016) mengatakan, ide kreatif tersebut muncul ketika mereka menjalankan Program Kerja Pengabdian Masyarakat (PKPM) di Pekon Tambahrejo Barat, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu pada 5 Agustus hingga 5 September lalu.

Menurut dia, Pekon Tambahrejo Barat memiliki potensi hasil perkebunan buah pisang yang cukup melimpah. Masyarakat sekitar memanfaatkan buah tersebut dengan dijual secara langsung maupun diolah menjadi keripik dan penganan lainnya, sedangkan kulitnya terbuang dan menjadi sampah.

"Padahal, kulit pisang ternyata memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh di antaranya protein, kalsium, zat besi, fosfor, vitamin B, dan C. Karena itu, kami berinisiatif mengolah kulit pisang menjadi kerupuk," ujarnya.

Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika IBI Darmajaya itu menjelaskan cara pembuatan kerupuk kulit pisang itu.

Pertama, pengupasan kulit pisang dan pencucian. Lalu, kulit pisang direndam air kapur selama 20 menit untuk menghilangkan getahnya.

Kemudian kulit pisang dikukus, dilanjutkan dengan penghalusan, pencampuran tepung, dan bumbu lalu dicetak.

Hasil cetakan kerupuk kulit pisang dijemur atau dioven untuk menghilangkan kadar airnya agar renyah saat digoreng. Setelah digoreng, kerupuk dikemas dan dilengkapi label yang didesain menarik. Produk ini dijual seharga Rp 10.000 per 250 gram.

"Kami telah melatih ibu-ibu anggota PKK cara pembuatan produk ini. Tak hanya itu, kami juga membekali masyarakat Pekon Tambahrejo Barat dengan pelatihan kewirausahaan, manajemen keuangan, dan pengenalan e-Commerce," kata dia.

Ia berharap masyarakat bisa termotivasi untuk berwirausaha dengan produk kerupuk kulit pisang yang bisa menjadi oleh-oleh khas Pekan Tambahrejo Barat dan dapat dipromosikan secara online untuk memperluas pangsa pasar.

Dosen Pembimbing Lapangan PKPM IBI Darmajaya Linda Septarina MM mengapresiasi ide kreatif mahasiswanya tersebut.

Ia menerangkan, IBI Darmajaya secara rutin menyelenggarakan PKPM setiap semester dengan tujuan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh proses belajar, dan pengalaman berinteraksi, bersosialisasi di tengah masyarakat serta berbagi ilmu yang dimiliki dari perkuliahan kepada masyarakat.

"Produk Kusang yakni kerupuk kulit pisang itu menjadi salah satu inovasi produk ekonomi kreatif yang dapat memajukan usaha kecil menengah di Pekon Tambahrejo Barat. Semoga ide usaha ini bisa terus dilanjutkan desa itu untuk membentuk masyarakat yang mandiri, kreatif, paham IT, dan sejahtera," katanya. (kompas.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM