Uruguay memastikan diri maju ke babak 16 besar Piala Dunia 2018 setelah dalam pertandingan Grup A hari Rabu (20/06) mengalahkan Arab Saudi 1-0.

Gol kemenangan tim dari Amerika Selatan ini dicetak oleh bintang mereka, Luis Suarez.

Bagi Suarez, yang sudah 100 kali bermain untuk tim nasional Uruguay, ini adalah golnya yang ke-52 di pertandingan internasional.

Pelatih Uruguay, Oscar Tabarez, mengatakan tak diragukan lagi kontribusi Suarez bagi tim Uruguay.

"Ia bisa memikul tanggung jawab yang sangat besar ... ia bisa menyiasati tekanan yang ia hadapi. Itulah kelebihan Suarez," puji Tabarez.

"Ia adalah pemain yang sangat penting ... ia selalu menjadi pemain yang berpotensi mencetak gol," tambahnya.

Meski sudah memastikan diri lolos ke babak 16 besar, Tabarez mengatakan timnya harus meningkatkan permainan agar bisa maju ke babak selanjutnya.

"Masih banyak hal yang perlu diperbaiki," kata pelatih berusia 71 tahun ini.

Dari Grup A ini, yang juga memastikan lolos ke babak 16 besar adalah tuan rumah Rusia.

Di laga pertama Rusia mencukur Saudi 5-0, sementara di laga kedua mereka menang 3-1 atas Mesir.

 

 

Dengan hasil-hasil ini, Uruguay dan Rusia bertahan, sementara Saudi dan Mesir tersingkir.

Di Grup B, Spanyol mengalahkan Iran 1-0, melalui gol Diego Costa.

Iran sempat mencetak gol melalui tendangan Mehdi Taremi, namun gol ini dianulir karena offside.

Keputusan offside oleh hakim garis diperkuat oleh tayangan ulang video.

Sebelumnya, Portugal juga menang 1-0 atas Maroko berkat sundulan kepala bintang mereka Cristiano Ronaldo di awal babak pertama.

Kekalahan ini membuat Maroko tersingkir.

Portugal dan Spanyol sama-sama mengoleksi nilai empat dari dua kali bertanding, sedangkan Iran berada di posisi tiga klasemen grup dengan nilai tiga. (BBC Indonesia)

Aparat Mesir masih menahan seorang mahasiswa Indonesia dan mendeportasi dua lainnya dengan alasan 'keamanan nasional'. Dua mahasiswa lain juga ditangkap, tapi kemudian dilepaskan lagi.
Duta Besar Indonesia di Kairo, Helmy Fauzi mengatakan dalam siaran persnya bahwa KBRI terus mengusahakan pembebasan Muhammad Fitrah Nur Akbar, namun ia tidak menjelaskan apa penyebab penangkapan-penangkapan itu.
"Hingga 4 Desember 2017, KBRI Kairo belum menerima notifikasi maupun keputusan dari Pemerintah Mesir terkait satu orang WNI Mahasiswa yang masih ditahan oleh Aparat Keamanan di Kantor Polisi Nasr City II atas nama Sdr. Muhammad Fitrah Nur Akbar," kata Helmy.
Karenanya, lanjut Helmy, mereka "menyampaikan nota diplomatik kepada Kemlu Mesir, Grand Shekh Al Azhar dan National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir," untuk segera membebaskan membebaskan Muhammad Fitrah Nur Akbar, yang berstatus mahasiswa Al Azhar dan memiliki izin tinggal hingga tahun 2018.

Penangkapan-penangkapan terhadap lima mahasiswa itu terjadi pada 22 November, dan KBRI Kairo memperoleh informasinya pada hari yang sama dari Dodi Firmansyah Damhuri, salah satu mahasiswa yang ditangkap namun dilepaskan lagi bersama seorang lainnya, Muhammad Jafar.
Kelimanya terjaring dalam razia keamanan oleh aparat keamanan Mesir di kawasan Tabbah, kota Nasr, kata Helmy.
Dalam sebuah pertemuan pada 27 November, KBRI Kairo mendapat penjelasan dari Dinas Keamanan Nasional Mesir, "bahwa sesuai dengan hasil investigasi yang dilakukan oleh National Security, dua mahasiswa, Ardinal Khairi dan Hartopo Abdul Jabbar diputuskan untuk dideportasi dengan alasan "Keamanan Nasional" oleh Kementerian Dalam Negeri Mesir," tulis Helmy.
Tidak jelas, apa 'alasan keamanan' terkait pengusiran dua mahasiswa Indonesia itu. KBRI memfasilitasi pemulangan keduanya, pada 30 November.

Menurut siaran pers Dubes RI di Mesir, mereka masih terus mengusahakan pembebasan Muhammad Fitrah Nur Akbar, yang hingga Senin, 4 Desember, masih ditahan di kantor polisi Kota Nasr II.
Disebutkan, hingga 4 Desember 2017 itu pula KBRI sudah memfasilitasi pemulangan 18 pelajar/mahasiswa Indonesia yang dideportasi.
Sampai saat ini, belum jelas, apa alasannya: pertimbangan keamanan nasional aparat Mesir atau sekadar pelanggaran keimigrasian.
Juga belum ada keterangan, bagaimana kelanjutan dua mahasiswa yang dideportasi terkait 'alasan keamanan nasional' itu, dan kemungkinan mahasiswa lain sebelum mereka: apakah ada koordinasi dengan aparat keamanan Indonesia untuk pengawasan selanjutnya?
BBC masih berusaha menghubungi Duta Besar Helmy Fauzy terkait soal ini. (bbcindonesia.com)

Kementerian Dalam Negeri menyatakan kerusuhan antara warga dan polisi yang hendak meruntuhkan bangunan ilegal di Nil, Mesir, menewaskan setidaknya satu orang dan melukai puluhan lainnya. Kerusuhan pecah ketika polisi tiba di Pulau al-Warraq, Minggu pagi (16/7), untuk menertibkan gangguan di tanah pemerintah tersebut.

"Pasukan dikejutkan oleh demonstrasi beberapa pelanggar batas yang menembakkan senapan burung dan melempar batu ... yang memaksa petugas untuk menembakkan gas air mata untuk memencarkan para pemrotes dan mengendalikan situasi," bunyi pernyataan yang dikutip Reuters, Senin (17/7).

Menurut pernyataan itu, setidaknya 37 polisi dan 19 warga terluka dalam bentrokan tersebut. Sementara seorang anggota polisi yang enggan disebutkan namanya karena tidak berwenang bicara kepada media mengatakan aparat keamanan menarik diri dari tempat kejadian perkara untuk meminimalisir korban.

"Misi itu gagal dari A-Z ... koordinasi tidak berjalan dengan baik," ujarnya.

Penghuni pulau tersebut menyatakan sudah membangun rumah di sana lebih dari 30 tahun lalu.

"Kami lahir di pulau ini ... kami punya bukti kepemilikan, orang tua kami lahir di sini ... mereka ingin memberikan tanah ini kepada Emirates untuk membangun hotel," kata Marzouk Hany, tukang potong daging berusia 20 tahun yang ikut dalam upacara pemakaman korban bentrokan.

Pada Mei lalu, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi memulai kampanye untuk meruntuhkan ribuan bangunan yang diduga dibangun di tanah milik negara.

"Ada pulau-pulau di Nil ... menurut hukum tidak ada seorang pun yang boleh ada di sana," kata Sisi dalam pidato Juni lalu. Dalam kesempatan yang sama, dia juga memerintahkan otoritas untuk memprioritaskan pengambilalihan pulau tersebut dalam.

Sekitar 90 ribu orang tinggal di pulau seluas 5 kilometer persegi itu, kata Mahmoud Jaffar Salman, mantan anggota parlemen dari Giza, salah satu daerah di pulau tersebut. (cnnindonesia.com)

Sedikitnya 31 orang tewas dan puluhan luka dalam serangan bom di dua di gereja koptik Mesir.

Enam orang tewas ketika ledakan menghantam bagian kuar Gereja Koptik St. Markus di Iskandariyah, ata sumber-sumber pemerintah.

Paus Tawadros II, kepala Gereja Koptik, sedang menghadadiri misa di dalam gereja saat terjadi serangan itu.

Dalam ledakan sebelumnya di Gereja Mar Gigris atau St. George di kota Tanta, yang terpisah sejauh 120 km, 25 orang tewas.

Menurut laporan media, Paus Tawadros tidak terluka. Menurut sekretarisnya, serangan di Iskandariyah dilakukan olehs eorang pembom bunuh diri.

Ledakan itu terjadi saat kaum Kristen Koptik merayakan Minggu Palma, salah satu hari paling suci dalam kalender Kristen, menandai masuknya Yesus Kristus ke Yerusalem.

Setelah ledakan di Tanta, gubernur provinsi, Ahmad Deif mengatakan kepada saluran telebisi Nil: "Bisa jadi bom itu sudah dipasang di dalam gereja, atau pembom bunuh diri yang meledakkan diri,"

Dikutip AFP, Jenderal Tarek Atiya, juru bicara kementerian dalam negeri Mesir, mengatakan bahwa ledakan di Tanta terjadi dekat altar.

Aparat melakukan penyisiran terhadap kemungkinan adanya bom atau bahan peledak lain.

"Sejauh ini diperoleh informasi tak ada WNI yang jadi korban pada peristiwa tersebut," kata Duta Besar Indonesia di Mesir, Helmy Fauzi.

Kekerasan terhadap kaum Kristen Koptik telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di Mesir, terutama sejak 2013, ketika militer menggulingkan presiden terpilih, Mohammad Morsi dan melancarkan tindakan keras terhadap kalangan Islam radikal.

Sejumlah kalangan pendukung Presiden terguling Mohammed Morsi, yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, menuding kaum Kristen mendukung penggulingan tersebut.

Pada bulan Desember tahun lalu, 25 orang tewas akibat serangan bom yang meledak di sebuah katedral Koptik di Kairo saat misa kebaktian.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS, bulan Februari lalu, mengancam akan melancarakan lagi serangan terhadap orang-orang Koptik, yang mencakup sekitar 10% dari penduduk Mesir.

Pada tanggal 1 April, sebuah ledakan di luar sebuah pusat pelatihan polisi di kota Tanta melukai 16 orang. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM