Pemerintah Indonesia mewajibkan PT Pertamina (Persero) menjamin ketersediaan bensin Premium di Jawa, Madura, dan Bali, terutama pada arus musim libur Lebaran.

Kebijakan itu berbalik 180 derajat dari ketentuan sebelumnya dan dianggap akan merugikan keuangan Pertamina.

Ketua Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, Fanshurullah Asa, menyebut pemerintah kembali menggenjot penjualan Premium agar masyarakat kelas ekonomi bawah tetap dapat mengakses bahan bakar minyak (BBM).

Fanshurullah merujuk Pasal 2 UU 22/2001 tentang Migas yang mengharuskan pemerintah mengelola energi secara berkeadilan.

"Pemerintah wajib menjamin ketersediaan dan distribusi BBM. BBM itu apa? Bukan hanya Pertalite dan Pertamax tapi termasuk Premium."

"Kami kasih pilihan. Kami tetap mengimbau masyarakat gunakan BBM yang lebih bagus. Tapi kalau tidak mampu, premium mesti ada, kalau tidak ada, pemerintah salah," ujarnya kepada wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama, Selasa (05/06).

Sejak 2014, pemerintah secara bertahap mengurangi penjualan Premium. Peraturan Presiden (Perpres) 191/2014 tidak mewajibkan Pertamina menjamin ketersediaan Premium di Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).

Namun, melalui Perpres 43/2018, Presiden Joko Widodo menganulir aturan tersebut. Konsekuensinya, Pertamina harus memasok Premium ke seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia.

Tujuh hari sebelum hari raya Lebaran, 517 SPBU di Jawa, Madura, dan Bali harus sudah menjual Premium. Sementara sekitar 900 SPBU lainnya di daerah itu ditargetkan menyediakan Premium sebelum akhir 2018.

"Pemerintah kasih ketersediaan Premium, khususnya bagi masyarakat yang daya belinya lemah atau miskin. Kalau orang mampu beli Premium, ya salah. Mereka tidak boleh pakai itu," kata Fanshurullah.

 

Pertamina menjual Premium seharaga Rp6.550. Adapun, mereka mematok harga Rp7.800 dan Rp8.900 untuk Pertalite dan Pertamax.

Bagaimanapun, Pertamina beberapa kali mengklaim harus menanggung selisih antara harga ideal dan harga jual Premium di masyarakat.

Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman, sebelumnya mengatakan, perusahaannya membayar Rp800 hingga Rp1.500 untuk setiap penjualan satu liter Premium.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, menyebut Pertamina berpotensi rugi jika terus menjual Premium, terutama setelah pemerintah menghentikan subsidi atas BBM jenis itu.

 

 

Pertamina menjual Premium seharaga Rp6.550. Adapun, mereka mematok harga Rp7.800 dan Rp8.900 untuk Pertalite dan Pertamax.

Bagaimanapun, Pertamina beberapa kali mengklaim harus menanggung selisih antara harga ideal dan harga jual Premium di masyarakat.

Direktur Keuangan Pertamina, Arief Budiman, sebelumnya mengatakan, perusahaannya membayar Rp800 hingga Rp1.500 untuk setiap penjualan satu liter Premium.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radhi, menyebut Pertamina berpotensi rugi jika terus menjual Premium, terutama setelah pemerintah menghentikan subsidi atas BBM jenis itu. (BBC Indonesia)

PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Sabtu (24/2/2018). Penetapan harga baru ini berlaku untuk jenis BBM non-subsidi dengan jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamax Racing, Dexlite, dan Pertamina Dex. "Perubahan harga kami terapkan pada pukul 00.00 Sabtu kemarin. Ini sepenuhnya dipengaruhi harga minyak mentah dunia," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Adiatma Sardjito saat dihubungi Kompas.com, Minggu (25/2/2018). Kenaikan harga berada di kisaran Rp 300 per liter. BBM jenis Pertalite dari sebelumnya Rp 7.600 per liter untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) kini menjadi Rp 7.900 per liter. Pertamax dari Rp 8.600 per liter kini menjadi Rp 8.900 per liter dan untuk Pertamax Turbo menjadi Rp 10.100. Kenaikan tertinggi terjadi pada jenis Dexlite, dari Rp 7.500 per liter kini menjadi Rp 8.100 per liter. "Perlu diketahui, kenaikan harga ini per wilayah berbeda, rata-rata kenaikan dari harga sebelumnya Rp 100 hingga Rp 300 per liter," kata Adiatma. Saat ditanya apakah ada kemungkinan harga kembali turun, Adiatma mengatakan, hal tersebut akan selalu dievaluasi secara berkala. Namun, yang pasti patokanya pada harga minyak mentah. "Kami akan selalu pantau. Kalau minyak stabil, tidak ada kenaikan lagi," kata Adiatma. (kompas.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM