Ronny Gani, salah satu animator asal Indonesia yang mengerjakan efek visual film Avengers: Infinity War, mengatakan, tantangan tersulit dari tugasnya adalah memenuhi harapan penonton.

"Untuk proyek ini tantangannya itu ekspektasi dari audience sangat tinggi terhadap proyek ini sebagai sebuah produk film," kata Ronny kepada Kompas.com dalam wawancara eksklusif di Marina Bay Sands, Singapura, baru-baru ini. Selain Ronny, ada pula Renald Taurusdi yang menjabat sebagai Creator Technical Director di Industrial Light & Magic, anak perusahaan Lucas Animation yang menggarap efek visual Avengers: Infinity War. Ronny dan Renald beserta tim harus memastikan efek visual dan animasi yang mereka kerjakan bisa tersampaikan dan sesuai harapan penonton. "Kami juga harus memastikan filmmaker puas atas apa yang kami produksi," ucap Ronny yang pernah menjadi tim animator untuk Avengers: Age of Ultron. Selain itu, lanjut Ronny, ada banyak dinamika selama mengerjakan film Infinity War arahan sutradara Joe dan Anthony Russo. Kerja kreatif yang mereka lakukan tak semulus kelihatannya. Terkadang hasil pekerjaan Ronny, Renald, dan tim diterima. Namun karya mereka tak jarang pula kurang memuaskan bagi sutradaranya. "Karena ini sangat kreatif, prosesnya enggak linear. Tapi prosesnya selalu akan organik, kadang udah diterima, dua hari kemudian di-recall lagi. Tapi itu semua punya goal satu yaitu to make the product the film to be as good as it get. Dan kami semua satu komando menuju goal itu," ucap Ronny. "Kami memberikan kontribusi terbaik untuk film ini karena memang proyek sangat besar ini mereka ingin memberikan storytelling yang terbaik. Bagaimana audience bisa enjoy, jadi prosesnya sangat dinamis," timpal Renald.

Paling menyenangkan

Kendati menggarap efek visual dan animasi itu sulit dan banyak tantangannya, Ronny dan Renald sepakat bahwa bagian paling menyenangkan adalah ketika menyaksikan film yang mereka kerjakan diterima dengan baik. "Yang paling menyenangkan saat saya melihat kerjaan saya di layar bioskop, itu rasanya puas. Saya tahu pas mengerjakan itu saya sudah memberikan yang terbaik. Jadi pada akhirnya melihat di layar bioskop itu sangat puas," ucap Renald. Apalagi ketika bisa melihat langsung reaksi penonton terhadap karya mereka. "Memang seperti imbalannya, rasa ketika melihat reaksi orang waduh rasanya seneng, puas. Berarti kerjanya bagus, berhasil kerjanya karena orang suka," ujar Renald. "Waktu pertama kali saya terlibat di proyek efek visual, saya melihat reaksi penonton di bioskop. Enggak sengaja sih, saya lagi nonton, terus saat bagian yang kerjaan saya muncul di layar, saya enggak lihat ke layar, tapi lihat ke audience," timpal Ronny. "Merhatiin ekspresi, gesture dan reaksi mereka seperti apa. Dan itu yang bikin saya sadar bahwa kerjaan saya ditonton oleh jutaan orang dan itu pengalaman yang saya rasain," sambungnya.

Ronny sebelumnya pernah mengerjakan animasi untuk film-film blockbuster Hollywood. Di antaranya, film Pacific Rim (2013), Transformers: Age Of Extinction (2014), Avengers: Age Of Ultron (2015), Warcraft (2016), The Great Wall (2017), dan Ready Player One (2018). Sama halnya dengan Ronny, Renald juga sudah berpengalaman mengerjakan film-film kenamaan. Sebut saja film Jurassic World (2015), Warcraft (2016), Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows (2016), Star Wars: The Last Jedi (2017), Kong: Skull Island (2017), sampai yang terbaru film Ready Player One (2018). (kompas.com)

Asian Games 2018 tinggal delapan bulan lagi. Tantangan demi tantangan sudah dilalui INASGOC demi menggelar ajang tersebut dengan sukses.

Menuju Asian Games 2018 pada Agustus mendatang, Panitia Penyelenggara Asian Games (INASGOC) menggelar diskusi Laporan Akhir Tahun, bertajuk Expose Publik bersama media di Jakarta, Senin (11/12/2017).

Penyelenggaraan dihadiri sejumlah pejabat tinggi dari sejumlah media, pengurus cabang olahraga, dan INASGOC. Dalam acara tersebut, Ketua INASGOC Erick Thohir menceritakan sejumlah tantangan yang dihadapi sejak Indonesia diputuskan jadi tuan rumah Asian Games.

Indonesia sebenarnya sekadar jadi pengganti untuk Asian Games tahun ini. Vietnam yang sedianya jadi tuan rumah, mengundurkan diri karena persoalan ekonomi.

"Jadi sejak kita dapat pengalihan itu sebenarnya sudah hilang waktu persiapan satu tahun. Kemudian penyelenggaraan yang harusnya diselenggarakan 2019, tapi kita majukan karena ada pemilihan Presiden. Jadi bisa dibilang, kami bisa bekerja pada 2015 lalu," kata Erick, membuka sambutannya.

Tantangan lainnya adalah terkait anggaran. Erick menyebut dari total anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 5,6 triliun, pemerintah hanya menyetujui sekitar Rp 4,5 triliun.

Kondisi semakin sulit lantaran pemerintah menetapkan aturan soal pajak. Padahal di Host City Contract (HCC) tak ada kesepakatan seperti itu.

"Tetapi jika tidak membayar pajak enggak bisa tanda tangan kontrak. Jadi mau tidak mau sponsor pun semuanya kena. Makanya dari total RP 4,5 triliun yang diberikan pemerintah, sekitar Rp 300-Rp 400 miliar untuk bayar pajak," Erick membeberkan.

Maka tak heran kalau banyak anggaran yang dipoton. Sebagai contoh, Istora Senayan yang tadinya hanya untuk menggelar bulutangkis kini untuk penyelenggaran bola basket juga demi menghemat.

"Jadi Hall A Basket yang tadinya untuk menggelar basket kami coret dan dipindahkan ke Istora Senayan, pokoknya bagaimana setelah selesai basket itu bulu tangkis. Kemudian juga penyiaran bagaimana tadi yang semula rencana siaran langsung jadi ada yang tidak disiarkan langsung pertandingannya dan ada yang rekaman itu semua demi penghematan," lanjut bos Mahaka Group ini.

Sehubungan dengan itu pula, Erick juga harus berupaya mencari sponsor untuk menutupi kekurangan anggaran. Sejauh ini, total sponsor yang bersedia berpartisipasi mensukseskan Asian Games adalah Rp 1,1 triliun.

Rinciannya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersedia memberikan total Rp 350 miliar dalam bentuk tunai, sedangkan Rp 150 miliar berbentuk service dan barang. Sementara dari swasta, Erick mengatakan sejauh ini sudah ada total dana tunai sebesar 65 juta dollar AS dan 15,4 juta berbentuk service dan barang.

"Semoga semua bisa tercapai asalkan tidak membengkak terus. Misalnya, anggaran sewa venue bengkak, security dan lainnya," sebut Erick yang juag Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ini. (detik.com)

Sobat Delta! Mulai tanggal 29 September - 13 Oktober 2017 ini Delta FM akan mengadakan Delta Indonesia Batik Challenge dalam rangka Hari Batik Nasional dengan hadiah makan siang untuk kantor kamu GRATIS dengan hidangan spesial dari Dapur Solo. Caranya gampang banget,

  1. kamu tinggal foto keseruan kamu dan teman-teman kantor yang menggunakan batik disertai alasan kenapa kantor kamu harus didatengin sama Delta FM.
  2. Upload foto keseruan kamu di Instagram, Twitter atau Facebook mention dan tag Delta FM serta Dapur Solo dengan hashtag #DeltaIndonesiaBatikChallenge 

Nah itu dia caranya bikin kejutan untuk kantor kamu dengan makan siang yang gratiis dan enak banget! Jangan sampai ketinggalan yah, kirimin sekarang juga dan semoga berhasil!

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM