Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan memiliki 'hubungan baik' dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte setelah keduanya bertemu di Manila, di sela-sela pertemuan puncak ASEAN, Senin (13/11).
"Kami memiliki hubungan baik. (Pertemuan ini) amat berhasil. Kami melakukan banyak pertemuan dengan para pemimpin lain," kata Trump.
Pertemuan keduanya dibayang-bayangi kebijakan keras Duterte untuk memberantas peredaran narkoba, yang sudah menewaskan sekitar 4.000 terduga pengedar narkoba dan dikritik para pegiat hak asasi.
Namun Presiden Trump tidak menjawab pertanyaan para wartawan yang menanyakan apakah keduanya membahas masalah hak asasi.

Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, belakangan mengatakan topik itu disebut singkat saat pertemuan pribadi keduanya dalam konteks perang melawan narkoba namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Namun juru bicara Presiden Duterte, Harry Roque, dalam peryataan kepada para wartawan menegaskan masalah hak asasi manusia tidak diangkat.

"Presiden menjelkaskan panjang lebar tentang perang melawan narkoba, Presiden Trump tampak menghargai upayanya. Tidak ada komentar tentang perang melawan narkoba, yang ada seperti kralifikasi tentang pengedar narkoba yang telah ditangkap," jelas Roque.
Dia menggambarkan hubungan Trump dan Duterte sebagai 'hangat, bersahabat, dan terus terang' dengan menambahkan keduanya memilliki perasaan yang sama atas mantan Presiden Barack Obama.

Presiden Duterte beberapa kali mengejek Presiden Obama, yang mengecam kebijakan yang memungkinkan aparat keamanan Filipina menembak mati para terduga pengedar narkoba.
Duterte antara lain pernah menjuluki Obama sebagai 'anak pelacur' pada September lalu dan sempat pula menyatakan berpisah' dari Washinton seteah dia bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping, di Beijing, pada bulan Oktober.

Sementara Presiden Trump dilaporkan pernah memuji perang yang dilancarkan Duterte untuk menghadapi para pengedar narkoba.
"Saya hanya ingin mengucapkan selama kepada Anda karena saya mendengar tentang pekerjaan Anda yang tidak bisa dibayangkan dalam masalah narkoba. Banyak negara yang menghadapi masalah itu, kami punya masalah tersebut, namun yang Anda lakukan hebat."
Transkrip pembicaraan telepon kedua pemimpin pada 29 April itu kemudian bocor ke media di Amerika Serikat.

Trump dan para pemimpin yang menghadiri pertemuan puncak ASEAN sudah bertemu dalam acara makan malam di Manila dan di sana Presiden Duterte tampil menyanyikan sebuah lagu cinta Filipina yang populer.
Setelah membawakan lagu tersebut, Duterte mengatakan 'atas perintah komandan puncak Amerika Serikat'.
Kunjungan Presiden Trump ke Manila diwarnai aksi unjuk rasa, Minggu maupun Senin, yang antara lain memajang spanduk bertuliskan 'Trump Pulanglah' dan 'Larang Trump #1 teroris'.
Polisi sampai menggunakan meriam air dan juga bel sonik untuk membubarkan para pengunjuk rasa. (bbcindonesia.com)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak terima diejek 'tua' oleh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dia lantas mencurahkan isi harinya di Twitter.

Presiden berusia 71 tahun itu mempertanyakan hinaan tersebut dan menyindir Jong-un sebagai lelaki pendek dan gendut.

Trump bahkan secara sarkastis mengaku telah berupaya berteman dengan Jong-un di tengah ketegangan antara kedua negara akibat ambisi nuklir Korea Utara yang semakin mengkhawatirkan.

"Kenapa Kim Jong-un menghina saya dengan memanggil saya 'tua' saat saya tidak pernah menyebut dia 'pendek dan gendut'?" Saya sudah mencoba segigih mungkin untuk menjadi temannya [Jong-un], dan mungkin suatu saat itu akan terjadi," tutur Trump melalui akun Twitternya pada Minggu (12/11).

Kicauan Trump itu muncul menanggapi pernyataan Korut sebelumnya yang menyebut dia sebagai "penghancur yang tengah mengemis agar perang nuklir terjadi". Pyongyang juga menyebut Trump sebagai "dotard", kata dalam bahasa Inggris yang berarti orang sangat tua dan rentan.

Selama kunjungan ke Asia, Trump dianggap kerap melontarkan pernyataan yang menyerang Korut. Dia bahkan meminta negara sekutu di kawasan untuk mengisolasi Korut agar dapat menyetop pengembangan senjata nuklir negara itu.

Kicauan Trump di Tiwtter muncul tak lama usai dirinya menghadiri konferensi tingkat tinggi Forum Kerja Sama Asia-Pasifik (APEC) di Da Nang, Vietnam.

Kepada wartawan di Vietnam, Trump juga sempat mengisyaratkan bahwa peluang dirinya bersahabat dengan Kim Jong-un tetap ada, meski keduanya telah lama bermusuhan hingga saling melontarkan ancaman perang.

"Hal-hal aneh bisa saja terjadi dalam heidupan, tentu saja itu [bersahabat dengan Jong-un] adalah sebuah kemungkinan," papar Trump sebagaimana dikutip CNN.

"Akan menjadi hal yang baik bagi Korut, dan juga bagi tempat lainnya, bahkan dunia, jika hal itu terjadi. Tentunya, ini [persahabatan] adalah sesuatu yang bisa terjadi. Saya tidak tahu akan apakah akan terjadi, tapi akan sangat baik jika menjadi kenyataan," tuturnya menambahkan.

Lawatan Trump di Vietnam menjadi bagian dari rangkaian tur 12 harinya di Asia. Isu Korut pun menjadi isu utama yang dibawa Trump saat berkunjung Jepang, Korea Selatan, dan China beberapa hari lalu.

Di Jepang, Trump bersama Perdana Menteri Shinzo Abe sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Korut. Sementara di hadapan parlemen Korsel, Trump memperingatkan Kim Jong-un untuk tidak meremehkan dan menantang negaranya dengan senjata nuklir.

"Senjata yang Anda dapatkan tidak membuat Anda lebih aman, senjata-senjata itu hanya menempatkan rezim Anda dalam bahaya. Setiap langkah yang Anda ambil di jalan yang gelap ini meningkatkan bahaya yang Anda hadapi," ucap Trump merujuk pada Korut dalam pidatonya. (cnnindonesia.com)

ONTARIO – Bernd Zabel (69), hakim di Ontario, Kanada, diskors selama 30 hari tanpa gaji setelah ia memaki topi “Make America Great Again” di dalam ruangan sidang.

Topi tersebut tidak lain bertuliskan slogan kampanye Donald Trump pada kampanye Pilpres Amerika Serikat tahun lalu dan kadang dipake Trump di kesempatan tertentu hingga kini.

The Washington Post melaporkan, Zabel diskors selama sebulan sejak Selasa (12/9/201). Ia telah "melanggar standar perilaku peradilan" menurut panel peninjauan perilaku peradilan.

Zabel yang telah menjadi hakim di Hamilton selama 27 tahun, melangkah ke ruang sidang pada 9 November 2016 dengan mengenakan jubah hakimnya pada sidang hari itu.

Orang-orang di ruang sidang tertawa dan mencibirnya karena pilihan headwear-nya itu: topi merah cerah, ikon Trump selama kampanye dan Pilres AS dengan slogan "Buat Amerika Besar Lagi."

Pada akhir pidato pelantikannya pada 20 Januari 2017, Trump kembali mengingatkan warga AS akan tagline kampanyenya yakni Make America Great Again.

"Bersama kita akan membuat Amerika kuat lagi. Bersama kita akan membuat Amerika besar lagi," tutupnya.

Panel Dewan Hakim Ontario bertemu pada Agustus lalu untuk membahas kemungkinan sanksi terhadap hakim itu, termasuk merekomendasikan kepada jaksa agung agar memberhentikan Zabel, seperti dilaporkan kantor berita Perancis, AFP.

Sekalipun mengecam perilaku Zabel "menyimpang dan tidak dapat dijelaskan", panel menyimpulkan catatannya sebagai hakim dan reputasinya di kalangan kolega peradilan dan rekan-rekannya "menunjukkan bahwa dia sepenuhnya hakim yang adil dan tidak memihak".

Zabel mengakui tindakannya, yang memicu 81 laporan keluhan dari asosiasi hukum, profesor hukum, pengacara dan publik, merupakan sebuah kesalahan dalam penilaian.

Bedasarkan berbagai keluhan yang masuk, Zabel meminta maaf atas apa yang dia sebut sebagai "upaya yang salah arah untuk menandai momen dalam sejarah dengan humor di ruang sidang setelah hasil Pilpres AS yang mengejutkan". (kompas.com)

Sebuah pernyataan dari Gedung Putih dikeluarkan dengan kesalahan yang mendasar karena mencampurkan Cina dan Taiwan.

Pernyataan pers setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di pertemuan puncak G20 di Hamburg, Jerman, menyebutnya sebagai presiden 'Republik Cina'.

Padahal nama tu adalah nama Taiwan, yang masih dianggap Cina sebagai provinsinya yang membangkang ,sedangkan Presiden Xi adalah pemimpin 'Republik Rakyat Cina'.

Sebelumnya terbit foto di Instagram yang memperlihatkan pertemuan Presiden Trump dengan PM Singapura, Lee Hsien Loong, namun keterangannya menulis Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Masih ada satu kesalahan lagi, yaitu Shinzo Abe disebut sebagai Presiden Jepang, padahal -Anda pun mungkin tahu- dia adalah Perdana Menteri Jepang.

Versi internet dari konferensi pers Trump dan Xi itu kini hanya merujuk sebagai 'Presiden Xi dari Cina' dan pernyataan Jepang juga sudah diperbaiki.

Kesalahan tentang pertemuan dengan PM Singapura juga sudah diganti walau beberapa komentar jelas menunjukkan sempat terjadi kesalahan dan beberapa pengguna Indonesia tampak 'kecewa' karena tidak bisa lagi melihat kesalahan tersebut.

Seseorang dengan identitas pratiwi6898 menulis: "Yah Om Trump, baru aku mau liat captionnya yg lagi rame itu, ternyata sudah diedit huft.." sementara mrafly13 berkomentar: "Diganti dahhh."

Sementara dalam kekeliruan terkait Cina, Chris Lu -seorang mantan pejabat Sekretaris Kabinet di masa pemerintahan Presiden Barack Obama- menulis pesan, "Ups. Gedung Putih merujuk Xi Jinping sebagai pemimpin Republik Cina, yang merupakan Taiwan' sambil menaruh tagar #AmateurHour.

Kesalahaan dalam menyebut nama resmi Cina dan Taiwan sebenarnya amat penting karena hubungan kedua negara yang sensitif. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 7

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM