Gunung Agung kembali mengeluarkan letusan, hanya beberapa hari setelah status kesiagaannya diturunkan dari level IV atau awas menjadi siaga level III, pengungsi yang belum sempat kembali memilih untuk tetap tinggal.

Gunung dengan tinggi 3142 meter di atas permukaan laut itu itu mengeluarkan abu vulkanik setinggi 1500 meter dari puncaknya pada pukul 11.53 Wita, Selasa (13/2), lapor Raiza Andini, seorang wartawan di Bali.

Kolom abu setinggi 1500 meter tersebut mengarah ke timur dan timur laut, kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM I Gede Suantika.

"Ini agak lebih kecil ya kekuatannya dibandingkan bulan lalu itu sampai 2500 meter," kata Suantika yang dihubungi lewat sambungan telefon.

Letusan sebelum ini yang dimaksud Suantika, terjadi pada tangal 19 Januari 2018 silam.

Masyakat diserukan untuk menjauhi radius zona merah yakni empat kilometer dari puncak Gunung Agung.

Sementara itu, para pengungsi yang belum dipulangkan menyusul diturunkannya status siaga akhir pekan lalu, sempat kaget melihat awan hitam dari Gunung Agung. Mereka untuk memutuskan iuntuk tetap tinggal, meski pemerintah sebelumnya merencanakan pemulangan mereka ke kampung masing-masing.

"Takut gunungnya belum stabil, saya enggak mau pulang dulu," ungkap Made Satria warga Desa Temukus Kec. Besakih.

 

Lepas dari itu, lalulintas penerbangan ke dan dari bandara Ngurah Rai, Denpasar, masih normal.

I Gede Suantika dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengatakan letusan itu dalam kategori peringatan penerbangan terkait gunung berapi (Volcano Observatory Notice for Airnav, VONA) masih berkode oranye, yakni belum membahayakan bagi aktivitas Bandara I Gusti Ngurah Rai.

"Arah angin ke timur jadi jauh dari bandara," kata Suantika pula.

Dalam data yang dihimpun petugas PVMBG dalam kurun waktu enam jam 06.00-12.00 wita menunjukkan bahwa adanya letusan sebanyak satu kali dengan amplitudo 21 milimeter dengan durasi 140 detik kemudian terdeteksi satu kali gempa vulanik dangkal beramplitudo 12 milimter berdurasi 20 detik, dan vulkanok dalam berjumlah satu kali dengan amplitudo 12 milimeter berdurasi 100 detik.

Sebelum ini, sudah 20 hari tidak terjadi erupsi Gunung Agung, setelah letusan terakhir tanggal 24 Januari 2018. (bbcindonesia.com)

Sebanyak 1.500 orang dievakuasi dari pulau yang berada di utara Papua Nugini setelah gunung api di sana meletus. Ungkapan itu disampaikan Palang Merah setempat pada Minggu (14/1), seperti dilansir dari Reuters.

Gunung api di pulau Kadovar, yang berlokasi di 24 km utara dari pulau utama Papua Nugini, mengalami erupsi pada 5 Januari. Saat itu, pemerintah setempat telah melakukan evakuasi 590 orang Kadovar ke pulau terdekat Blup Blup.

Setelah memuntahkan abu beberapa hari, gunung api meletus pada Jumat lalu, mengeluarkan bebatuan merah dan sulfur dioksida, ungkap Rabaul Volcanological Observatory. Pemerintah PNG pun kemudian memutuskan evakuasi masyarakat di Blup Blup, mengingat bahaya erupsi.

Evakuasi ribuan orang dilakukan ke pulau utama. Sekjen Palang Merah PNG, Uvenama Rova melalui sambungan telpon dari Port Moresby mengungkapkan, Palang Merah International menyediakan bantuan dana sekitar US$26,274 atau sekitar Rp349 juta.

"Orang-orang di sana, begitu erupsi terjadi, mereka buru buru menyelamatkan diri, sehingga mereka butuh bahan pangan, air, tempat tidur, dan pakaian," ujarnya.

Dalam perkembangan kabar terbarunya pada Minggu, Observatory mengatakan muntahan lava pada Kadover tampak kasat mata, berdasar gumpalan awan putih yang naik setinggi 600 meter di atas permukaan laut.

Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop via Twitter mengungkapkan pemerintah Australia memberikan sumbangan dana sebesar US$19,775 (Rp263 juta) untuk yang terkena dampak erupsi.

Chris Firth, vulkanologis di Macquarie University, mengungkapkan belum ada konfirmasi pasti akan erupsi Kadovar sebelumnya. Namun, para ilmuwan berspekulasi bisa jadi mengacu pada sebutan 'pulau terbakar' yang pernah disebutkan dalam jurnal abad ke 17 yang ditulis William Dampier. (cnnindonesia.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM