Jakarta International Velodrome (JIV) yang terletak di Rawamangun, Jakarta, diklaim jadi yang terbaik di Asia Tenggara dan siap digunakan pada Asian Games 2018.

Project Director JIV, Iwan Takwin, mengatakan pembangunan JIV memakan waktu dua tahun mulai dari persiapan, konstruksi, sampai selesai. Proyek arena balap sepeda berkapasitas hingga 5.000 penonton tersebut dimulai pada 2015.

Bila VNM dibuat untuk SEA Games Kuala Lumpur 2017, JIV dibuat untuk Asian Games 2018.

"Dibanding dengan Malaysia, [velodrome] kapasitas kita lebih besar dan bisa mencapai 3.500 penonton. Di sana [VNM], kapasitas penonton hanya 1.000 sampai 1.500. Bangunannya [JIV] juga lebih luas. Di Malaysia, velodromenya tertutup jadi selalu harus menggunakan lampu," kata Iwan kepada CNNIndonesia.com di JIV, belum lama ini.

 

"[Velodrome] kami lebih ramah lingkungan, dari sisi desain juga kami lebih futuristik. Bisa dibilang di Asia Tenggara juga [JIV] yang terbaik, karena yang baru punya velodrome itu Malaysia dan Indonesia. Di Asia, kami bisa bersaing seperti dengan Hong Kong," katanya menambahkan.

Iwan mengatakan salah satu kelebihan velodrome di JIV adalah atap bangunan yang menggunakan membran tembus cahaya. Selama dua bulan, lanjut dia, pesepeda Indonesia menjalani pemusatan latihan nasional tanpa menggunakan lampu.

"Kalau tidak salah di Seoul juga pakai atap membran, ini [velodrome Seoul pakai atap membran] diketahui berdasarkan penuturan delegasi Korea Selatan yang datang ke sini beberapa waktu lalu," ucap Iwan.

 

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, arena JIV dan sekitarnya tampak sudah siap untuk menyelenggarakan Asian Games pada Agustus mendatang. Kendati begitu, pihak JIV menyoroti lahan parkir yang terletak di ruang terbuka.

Selain kapasitas tempat duduk penonton yang dinilai masih kurang karena kendala lahan, Iwan mengakui kapasitas kendaraan di lahan parkir menjadi salah satu kekurangan JIV.

"Sebetulnya [area parkir] sudah mencukupi untuk 275 mobil, 100 motor, dan 10 bus. Akan tetapi, kami perlu antisipasi kalau kegiatan rutin [olahraga/non-olahraga] sudah berjalan di sini. Apalagi sekarang animo masyarakat untuk bersepeda sudah meningkat," ucap Iwan.

"Kami mengharapkan tiap pekan ada kegiatan di sini [JIV]. Kami juga ada fasilitas komersial di lantai dasar seperti kafe atau tempat jual merchandise," ujarnya sambil menyebut biaya pembangunan yang mencapai Rp650 miliar.

Biaya Perawatan Ratusan Juta

 

Bermacam kegiatan olahraga ataupun non-olahraga di JIV sangat diperlukan untuk membantu biaya perawatan yang mencapai ratusan juta rupiah.

Iwan menyampaikan tingginya biaya perawatan terutama berasal dari lintasan balap sepeda yang materialnya menggunakan kayu Siberia. Hal ini menyebabkan kelembaban kayu tersebut harus dijaga dengan ketat di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

"[Biaya perawatan] tentu tinggi terutama di trek ini, karena kami harus jaga kelembabannya. Itu yang utama. Jenis kayu bukan karakteristik tropis, jadi AC harus nyala terus. Maksimal kelembaban itu 70 persen," ujar Iwan.

"Kalau listrik sendiri itu sebulan mencapai 250 sampai 300 juta rupiah, itu tentunya harus didukung dengan kegiatan yang diselenggarakan di sini. Kami tidak bisa terpaku dengan satu kegiatan trek balapan sepeda saja," ujarnya kembali.

Senada dengan Iwan, Arlan Lukman selaku direktur venue dan lingkungan INASGOC membenarkan mahalnya biaya perawatan Velodrome. Kendati begitu, ia merasa bangga dengan aset olahraga Indonesia tersebut.

"Mesin pendingin ruangan harus nyala di velodorme setiap hari agar kelembaban lintasannya terjaga. Dan biaya listriknya itu bisa mencapai 400 juta rupiah per bulan," tutur Arlan.

"Namun, velodrome ini [JIV] itu setara dengan di London. Memang bangsa kita untuk hal bangun fasilitas tidak kalah dengan negara lain, tinggal perawatannya saja untuk masa mendatang," tuturnya kembali. (CNN Indonesia)

Sejumlah pekerja terlihat sedang membangun tenda putih berukuran besar di luar bangunan Wisma Atlet yang letaknya persis bersebelahan dengan Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat. Selama dua pekan sejak 18 Agustus mendatang para atlet Asian Games bakal bersantap pagi, siang, dan malam di tenda ini.

Dengan waktu yang tersisa, pendirian tenda diperkirakan bakal rampung sebelum hari-H. Namun, biang masalah yang belum terpecahkan adalah bau tak sedap yang tercium dari sungai yang sedemikian tercemarnya kemudian dijuluki Kali Item oleh penduduk sekitar.

Sekalipun pemerintah DKI sudah menutup kali itu dengan jaring hitam atau waring, bau busuk masih tercium. Hal ini diungkapkan salah satu warga, Joni Sinulingga ketika ditemui BBC News Indonesia di bantaran Kali Item, Selasa (24/07).

"Ya jelaslah. Cuma karena sudah terbiasa ya baunya kaya duren aja. Namanya sudah terbiasa kan," ujar Joni sambil terkekeh.

Namun, Biru Suryanto yang tinggal sejauh lima meter dari sungai itu berujar bahwa bau menyengat sudah lebih berkurang dari sebelumnya. Ditambah lagi, jaring yang membentang sepanjang sekitar 600 meter itu justru 'mempercantik' kali berwarna hitam itu.

"Berkurang sih, menambah keindahan pemandangan juga," cetusnya.

"Memang sebetulnya harusnya sampai keliling sono noh, jadi masyarakat mau buang sampah atau apa, mungkin takut lah," imbuhnya.

Selama bertahun-tahun, sungai itu sangat tercemar dengan limbah domestik yang dibuang masyarakat.

Sekitar dua minggu lalu, pemerintah provinsi DKI Jakarta memutuskan menutupi sungai dengan waring—jaring hitam berbahan nilon yang biasa digunakan untuk tambak ikan—di tengah kekhawatiran pemandangan Kali Item akan merusak pemandangan dan terlalu bau bagi atlet asing selama Asian Games.

"Salah satu caranya adalah dengan mengurangi proses penguapan dari sungai itu adalah dengan diberi kain penutup sehingga tidak terjadi proses evaporasi (penguapan)," ujar Gubernur DKI Anies Baswedan di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (20/07).

Pemasangan waring, tutur Anies Baswedan, penting dilakukan untuk mencegah penyebaran bau tak sedap yang dapat mengganggu atlet lantaran area makan di Wisma Atlet berhadapan langsung dengan kali.

"Dengan penguapan dikurangi maka harapannya nanti dari hilir sudah dikurangi potensi polutannya, dicegah, di lokasi yang ada kita kurangi pencahayan panas matahari sehingga mengurangi evaporasi."

"Harapannya tidak tercium. Jadi ini bukan saja soal menutup warna sungai yang hitam, tapi juga lebih banyak pada soal aroma," jelasnya kemudian.

Tiga orang petugas Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sedang menyaring sampah di kali item, tepat di bawah waring dibentangkan. Ketika berada di dalam jaring, udara terasa panas dan bau tak sedap menyengat hidung.

Meski sungai sudah ditutupi waring, petugas kebersihan yang dijuluki pasukan oranye ini tetap bahu membahu membersihkan kali berwarna hitam pekat itu.

Salah satu petugas, Josef Frans, mengatakan bau tak sedap paling parah tercium pada pagi hari.

"Mulai jam-jam 7 tuh sudah mulai sampai jam 12 siang. Apalagi angin besar berhembus aja gitu lah," ungkapnya.

Namun, setelah dipasangi waring, bau tak sedap dari sungai sudah tak menguar dengan bebas ke udara.

"Hawa bau kan naik ke atas kalau kena angin. Kalau ditutup begini kan rada mendingan, nggak begitu bau di atasnya," ujar pria berusia 55 tahun ini.

Namun, ahli pengelolaan udara dan limbah yang juga guru besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Enri Damanhuri, menilai pemasangan waring tak akan efektif mengurangi bau tak sedap di Kali Item.

"Oh saya kira nggak, nggak bisa. Apalagi jaringnya dalam bentuk jaring yang agak terbuka ya. Mungkin kalau terpal bisa, tapi bermasalah kan," ungkapnya.

"Jaring aja sih ya tetap keluar baunya. Tapi paling tidak secara estetika tertutupi," ujarnya kemudian.

Kendati begitu, Pemprov DKI memasang alat bernama nano bubble di Kali Item untuk mengurangi bau tak sedap. Enri memandang langkah ini cukup efektif menghalau aroma menyengat di sungai itu.

"Intinya adalah memasukkan udara ke dalam itu. Itu salah satu cara memang untuk menaikkan karena (warna) hitam dan bau muncul karena kekurangan oksigen itu," jelas Enri.

Adapun saat ini, perangkat bernamaaerator sudah dipasang di Waduk Sunter. Dua buah aerator yang dipasang di Waduk Sunter bekerja selama 24 jam untuk mensterilkan air dan bau tak sedap.

Nano bubble yang dipasang di Kali Item memiliki fungsi serupa dengan aerator. Akibat putaran yang diciptakan kedua alat itu, buih-buih kecil berwarna putih muncul di perairan Kali Item.

Lantas, apa yang menjadi biang kerok bau tak sedap dari Kali Item?

Enri menuturkan bau itu bersumber dari limbah domestik atau limbah rumah tangga dari pembuangan air kotor.

"Bau nggak bisa hilang karena bau sumbernya di airnya itu, ada organiknya banyak. Kemudian panas toh, keluarlah bau itu. Itu ciri-ciri kekurangan oksigen kan," jelas Enri.

Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai. Joni Sinulingga yang tinggal di wilayah itu sejak 2004 mengaku pada sore hari, khususnya pada malam Minggu, banyak anak muda yang bercengkerama di pinggir sungai.

"Orang pacaran dari ujung ke ujung. Yang namanya pacaran, buang aja. 'Emanggue pikirin', katanya. 'Kan ada yang digaji', katanya begitu," ungkap Joni.

Hal ini diakui oleh Josef yang sudah sejak dua bulan lalu bertugas membersihkan Kali Item. Meski sudah ditutup waring, tiap harinya masih saja dia menemukan sampah-sampah domestik di kali itu.

"Banyak di sini. Kadang setelah ngopi main buang. Itu lah yang bikin sampahnya kotor. Kurang kesadaran," ujar dia.

Pembersihan sampah dan pengurangan bau kali yang tercemar tak dibarengi perubahan perilaku masyarakat, upaya untuk mempercantik Kali Item pun menjadi sia-sia. (BBC Indonesia)

Presiden Joko Widodo akan berkunjung ke pusat pelatihan nasional (pelatnas) beberapa cabang olahraga dalam waktu dekat. Hal tersebut dilakukan demi memantau kesiapan atlet-atlet Indonesia sebelum berlaga di Asian Games yang dihelat 18 Agustus hingga 3 September mendatang.

Jokowi berencana tidak hanya menyambangi pelatnas di Jawa, tetapi juga di luar pulau Jawa. Ia merasa perlu memastikan bahwa target raihan medali Indonesia di Asian Games ini bisa sesuai dengan target.

"Berkaitan dengan prestasi, saya akan datang ke pelatnas yang ada di Jakarta dan sekitar Jakarta, serta di luar pulau Jawa demi memastikan atlet siap dan target medali yang diberikan betul-betul tercapai dan syukur-syukur bisa mencapai target," jelas Jokowi di Gelora Bung Karno, Senin (25/6).

Ia berharap, kesiapan atlet sudah mencapai 100 persen dalam 53 hari mendatang, berbarengan dengan kesiapan venue-venue Asian Games.

"Saya melihat semuanya berjalan dengan baik dan kami harapkan pada 18 Agustus yang akan datang kami benar-benar siap 100 persen semuanya baik dari sisi venue dari sisi penyelenggaraan pembukaan dan prestasinya," papar dia.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebelumnya mengatakan telah mengantongi 80 persen prediksi target medali Asian Games 2018 jelang batas akhir pendaftaran atlet tanggal 30 Juni mendatang. Sejauh ini, Imam menargetkan posisi 10 besar bagi Indonesia. Namun, hal itu harus dikalkulasi secara detail dengan mempertimbangkan jumlah negara yang ikut dalam satu cabang olahraga dan sosok atlet yang mereka turunkan di setiap laga.

"(Untuk target) kami akan konfirmasi langsung kepada setiap cabang olahraga setelah 30 Juni. Termasuk, memastikan uji coba dan program pelatnas seperti apa, serta evaluasi pelatnas yang dipimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)," ujar imam dikutip dari Antara. (CNN Indonesia)

Peraih emas Olimpiade 2000 Candra Wijaya meminta legenda bulutangkis Indonesia lebih aktif memberikan semangat kepada atlet pelatnas Cipayung yang akan tampil di Asian Games 2018.

Candra menilai dukungan legenda menjadi hal penting yang akan mempengharuhi mental bertanding. Candra menilai pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia masih memiliki masalah mental ketika tampil di Piala Thomas-Uber 2018.

"Mungkin satu dari legenda dan olimpian tunggal putra untuk lebih aktif memberikan dukungan kepada atlet-atlet kita," kata Candra saat ditemui di Candra Wijaya Internasional Badminton Centre, Senin (4/6).


Candra mengatakan atlet bulutangkis, khususnya yang bermain di nomor tunggal, bisa meniru pemain muda China yang begitu antusias mengalahkan pemain senior Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan di babak semifinal Piala Thomas 2018.

 

"Memang sedikit penekananya pada intelektual ataupun mental dan karakter mental juara. Ini perlu ditekankan ke junior kita ke depan. Ini bukan mengkritik tapi kita lihat anak-anak sekarang perlu punya mental yang lebih kuat," ujar Candra.

"Mudah-mudahan ini tugas utama kita untuk militan kepada anak-anak. Meski tidak mudah, tapi mereka harus punya mental juara dan bisa keras terhadap diri sendiri supaya punya mental kuat," imbuhnya.

Di sisi lain, Candra optimistis target dua medali emas yang dibebankan pemerintah untuk bulutangkis di Asian Games 2018 bisa tercapai. Raihan itu juga disebut realistis dengan kondisi dan prestasi bulutangkis Indonesia saat ini.

Keberadaan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo diharapkan dapat menjadi keuntungan bagi tim bulutangkis Indonesia.

Selain menumpukan harapan pada sektor ganda, Candra juga menantang pemain tunggal Indonesia baik putra maupun putri untuk menjadi juara Asian Games 2018.

"Harusnya ini (Asian Games 2018) kita challange pemain tunggal kita untuk tunjukan kamu juga bisa juara. Kita akan desak mereka terus supaya mereka berani bilang mereka bisa juara," harapnya. (CNN Indonesia)

Page 1 of 4

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM