Striker Karim Benzema menyamai rekor gol Lionel Messi di semifinal Liga Champions setelah membawa Real Madrid lolos ke final usai menyingkirkan Bayern Munchen dengan skor agregat 4-3.

Dalam leg kedua semifinal di Stadion Santiago Bernabeu, Selasa (1/5) waktu setempat, Madrid ditahan imbang Munchen 2-2. Namun, di leg pertama El Real menang 2-1 di kandang Muenchen, Allianz Arena.

Dua gol Madrid di leg kedua semifinal dicetak Karim Benzema pada menit ke-11 dan 46'. Sementara gol Munchen dicetak Joshua Kimmich (3') dan James Rodriguez (63').

Gol-gol Benzema tersebut bisa menjadi pembuktian penyerang 30 tahun itu kepada para pengkritiknya. Di musim ini Benzema kesulitan mencetrak gol. Total hanya 11 gol dibuatnya di sepanjang musim ini. Meski begitu, dua golnya di semifinal sukses membuat Benzema menjadi pahlawan Si Putih karena mengantarkan klub tersebut ke final Liga Champions.

Dengan tambahan dua gol tersebut Benzema total sudah mencetak empat gol di semifinal. Dikutip dari Marca, pencapaian Benzema tersebut menyamai catatan gol Lionel Messi di Liga Champions.

Gol pertama Benzema di semifinal Liga Champions terjadi pada musim 2012/2013 ketika membobol gawang Borussia Dortmund.

Penyerang asal Perancis itu melanjutkan catatannya di empat besar Liga Champions dengan mencetak gol ke gawang Munchen di semifinal 2013/2014. Setelah itu Madrid dua kali mencapai semifinal (2015/2016 dan 2016/2017), tapi Benzema gagal menyarangkan bola ke gawang lawan.

Sementara, Lionel Messi mencetak empat gol tersebut di dua laga semifinal. Pertama saat membobol dua gol ke gawang Real Madrid pada 2010/2010, dan dua gol lainnya dibukukan Messi ke gawang Munchen pada musim 2014/2015.

Kendati demikian, rasio gol Benzema masih lebih baik dibanding milik Messi. Pasalnya, Benzema mencetak empat gol dalam total 12 laga semifinal. Itu berarti Benzema memiliki rata-rata 0,33 gol per pertandingan semifinal.

Sedangkan Messi mencetak empat gol itu dalam 13 laga semifinal, yang berarti rasio gol penyerang Barca itu di setiap laga semifinal hanya 0,3 gol. (cnnindonesia.com)

Manchester United lolos ke partai final Liga Europa 2016-2017 berkat keunggulan 2-1 secara agregat atas Celta Vigo. Pada leg 2 semifinal, Setan Merah dipaksa bermain imbang 1-1 oleh wakil Spanyol itu di Stadion Old Trafford, Kamis (11/5/2017).

Pada partai final yang berlangsung pada 24 Mei di Friends Arena, Solna, Man United akan bertemu Ajax Amsterdam. Wakil Belanda ini lolos dengan agregat 5-4 meskipun kalah 1-3 pada leg kedua di markas Lyon.

Bermain di hadapan pendukung sendiri, Man United justru lebih banyak berada di bawah tekanan sejak awal pertandingan. Celta Vigo mampu menguasai 67 persen penguasaan bola.

Kondisi tersebut juga membuat tim tamu mampu melepaskan peluang lebih banyak ketimbang Man United. Celta mampu memiliki 16 tembahan yang enam di antaranya tepat sasaran. Sedangkan Setan Merah hanya memiliki 11 dengan empat shots on target.

Meski demikian, Man United mampu mengatasi tekanan lawan dan mencuri satu gol pada menit ke-17. Umpan silang Marcus Rashford sukses disambut tandukan akurat oleh Marouane Fellaini yang tak mampu diantisipasi kiper Celta, Sergio Alvarez.

Tertinggal 0-1 atau 0-2 secara agregat membuat Celta Vigo semakin meningkatkan intensitas serangan. Beberapa kali Os Celestes membahayakan gawang Man United melalui aksi Pione Sisto, Iago Aspas, dan John Guidetti.

Setelah beberapa kali ditekan, gawang Man United akhirnya jebol juga jelang laga berakhir. Umpan Theo Bongonda dari sisi kiri pertahanan Seran Merah berhasil disambut bek Facundo Roncaglia untuk menaklukkan kiper Sergio Romero.

Jelang akhir pertandingan, Celta hampir saja mencetak gol tambahan yang bisa mengantarkan mereka lolos ke final melalui Guidetti. Namun, eks striker Manchester City itu gagal menerima bola dengan sempurna di depan gawang dan berhasil diamankan pertahanan Man United.

Skor imbang 1-1 pun bertahan hingga akhir laga yang membuat Man United berhak melaju ke partai final Liga Europa dengan keunggulan skor agregat 2-1.

Keberhasilan ini merupakan kali pertama Man United tampil di final Liga Europa atau yang dulu dikenal sebagai Piala UEFA. Setan Merah menjadi tim asal Inggris kesembilan yang sukses tampil di partai puncak turnamen kasta kedua antar klub Eropa itu.

Dari pertandingan lain, Ajax menyerah 1-3 di kandang Lyon. Kasper Dolberg sempat membuat Ajax memimpin pada menit ke-27 tetapi tuan rumah membalasnya dengan dua gol cepat pada menit ke-45 melalui Alexandre Lacazette.

Pada menit ke-81, Rachid Ghezzal membuat Lyon unggul 3-1 sekaligus menghidupkan harapan untuk lolos ke final. Sayang, satu gol tambahan tak kunjung diraih meskipun Ajax bermain dengan 10 orang sejak menit ke-84 setelah Nick Viergever diusir keluar.

Manchester United 1 - 1 Celta Vigo (Marouane Fellaini 17'; Facundo Roncaglia 85')

Susunan pemain:

Manchester United: 20-Sergio Romero, 36-Matteo Darmian, 3-Eric Bailly, 25-Antonio Valencia, 27-Marouane Fellaini, 22-Henrikh Mkhitaryan (16-Michael Carrick 77'), 17-Daley Blind, 21-Ander Herrera, 6-Paul Pogba, 14-Jesse Lingard (10-Wayne Rooney 86'), 19-Marcus Rashford (12-Chris Smalling 89')

Pelatih: Jose Mourinho

Celta Vigo: 1-Sergio Alvarez, 24-Facundo Roncaglia, 22-Gustavo Cabral, 2-Hugo Mallo, 19-Jonny Castro, 18-Daniel Wass (16-Jozabed 46'), 8-Pablo Hernandez, 6-Nemanja Radoja (7-Theo Bongonda 68'), 11-Pione Sisto (12-Claudio Beauvue 80'), 10-Iago Aspas, 9-John Guidetti

Pelatih: Eduardo Berizzo

Wasit: Ovidiu Hategan

(kompas.com)

Seperti tahun lalu, venue final Copa del Rey kembali menjadi bahan kontroversi. Keinginan Barcelona untuk merayakan gelar juara di estadio bernabeu, markas rival abadi mereka, Real Madrid memulai rentetan kontroversi ini.

Begitu mendengar Barcelona ingin menggunakan stadion mereka untuk final Copa, Madrid langsung membuat pengumuman bahwa stadion mereka tak bisa dipakai. Madrid mengatakan bahwa Bernabeu akan diperbaiki saat final itu dilangsungkan. Rencana renovasi Madrid ini memang sudah diumumkan sejak November silam.

Selain Bernabeu, Barcelona juga mengusulkan stadion di kota Madrid lainnya; Vicente Calderon milik Atletico Madrid. Stadion ini memiliki kapasitas yang cukup besar dan memadai untuk menggelar laga final. Lawan Barca di final, Deportivo Alaves juga cukup menyukai ide bermain di Calderon.

Namun nampaknya laga nanti tidak akan bisa digelar di Calderon. Pasalnya, fans Atletico menolak stadion mereka itu dipakai terakhir kali oleh tim lain. Seperti diketahui, musim depan Atletico akan pindah ke stadion baru mereka, Wanda Metropolitano. Sementara itu, Vicente Calderon akan dirobohkan saat stadion baru bisa dipakai,

Jika mengizinkan Calderon dipakai untuk final Copa, itu artinya pertandingan terakhir di sana tidak melibatkan Atleti. Banyak fans yang tidak rela dengan hal itu karena ingin Atleti menjadi klub yang tampil terakhir kali di stadion itu.

Fans Atletico menggalang dukungan lewat twitter dengan hashtag #Noalafinaldecopaenelcalderon atau kalau diterjemahkan berarti 'katakan tidak pada final di calderon'. Hashtag ini sempat menjadi trending topic di Spanyol.

Pilihan pertama Alaves sebenarnya adalah Estadio San Mames, markas Athletic Bilbao. Opsi ini dinilai paling bagus karena fans Alaves tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menyaksikan timnya berlaga. Alaves memang juga berasal dari Basque. Selain itu, pilihan ini mendapat dukungan dari dua pemilik San Mames Barria.

Stadion San Mames dibangun dengan kerjasama beberapa pihak: Atheltic Bilbao, Diputacion Foral de Bizkaia, Dewan Kota Bilbao, Pemerintah Basque dan Kutxabank. Bilbao sendiri tak keberatan jika stadion mereka dipakai karena mereka tak punya rivalitas dengan Alaves. Selain itu, Pemerintah Basque dan Kutxabank juga merupakan sponsor Alaves dan ingin laga digelar di San Mames.

Namun ada sedikit masalah. San Mames sudah dipesan untuk konser band rock Guns N 'Roses pada 30 Mei, tiga hari setelah laga final. Waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan panggung konser ini minimal adalah lima hari.

Jika nantinya memang bermain di San Mames, maka jadwal laga ini harus dipercepat dua atau tiga hari. Artinya, laga final itu akan digelar pada tengah pekan, sebuah anomali di sepakbola Spanyol. (bola.net)

Kamerun akan menghadapi Mesir di final Piala Afrika 2017 setelah mengalahkan Ghana dengan skor 2-0 di babak semi final perhelatan sepak bola antar negara-negara di benua Afrika.

Laga nyaris berakhir seri, sebelum pemain Kamerun Ngadeu-Ngadjui membobol gawang Ghana di menit 72 akibat kesalahan koordinasi para pemain belakangnya.

Di ujung pertandingan, persisnya di menit kedua injury time, Kamerun menggenapkan kemenangan menjadi 2-0 setelah Christian Bassogog melesakkan bola di gawang lawan dalam sebuah serangan balik.

Pelatih Kamerun asal Belgia, Hugo Broos tak kuasa menahan gembira dengan mengatakan: "Melaju ke final merupakan impian kami."

"Saya sangat senang, terutama melihat penampilan tim Kamerun. Mereka adalah tim hebat di dalam dan luar lapangan. Tim ini memang layak ke partai puncak," ungkapnya.

Sementara, pelatih Ghana Avram Grant, yang pernah melatih klub Liga primer Inggris, Chelsea, mengakui kesalahan terbesarnya adalah membiarkan pertahanannya agak lowong di menit-menit terakhir, walaupun timnya lebih menguasai pertandingan.

"Kami seharusnya yang berada di partai final," kata Grant.

Mesir lebih dulu memastikan ke puncak final Piala Afrika 2017 setelah menundukkan Burkina Faso dalam drama adu pinalti (4-3). Dalam waktu normal dan perpanjangan waktu, kedua tim berbagi angka 1-1.

Langkah Kamerun ke final merupakan yang pertama sejak menjuarai turnamen ini pada 2002, sementara Mesir - yang telah mengoleksi tujuh tropi juara - terakhir menjuarainya tujuh tahun silam.

Digelar di Gabon, pertandingan final antara Mesir melawa Kamerun akan digelar di stadion de I'Amitie, Liberville, Minggu, 5 Februari 2017.

Sehari sebelumnya, Ghana akan menghadapi Burkina Faso untuk memperebutkan status juara tiga di Stadion de Port-Gentil, Port-Gentil.

Susunan Pemain

Kamerun (4-2-3-1): 1-Fabrice Ondoa; 4-Adolf Teikeu, 6-Ambroise Oyongo, 5-Michael Ngadeu-Ngadjui, 19-Collins Fai; 17-Arnaud Sutchuin Djoum (14-Georges Mandjeck 77'), 15-Sebastien Siani, 8-Benjamin Moukandjo, 9-Jacques Zoua, 13-Christian Bassogog; 18-Robert Tambe (10-Vincent Aboubakar 73')

Pelatih: Hugo Broos

Ghana (4-2-3-1): 1-Razak Brimah; 23-Harrison Afful, 21-John Boye, 18-Daniel Amartey, 22-Frank Acheampong; 11-Mubarak Wakaso, 6-Afriyie Acquah (3-Asamoah Gyan 75'), 5-Thomas Teye Partey (8-Emmanuel Agyemang-Badu 86'), 10-Andre Ayew, 7-Christian Atsu; 9-Jordan Ayew

Pelatih: Avram Grant

(bbcindonesia.com)

 

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM