Jelang final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Minggu (15/7), skuat Kroasia lebih berpengalaman menjadi juara dibandingkan dengan Prancis.

Total ada 131 gelar juara yang dikumpulkan 23 pemain Kroasia sepanjang karier mereka di level klub. Sementara Prancis yang memiliki banyak bintang hanya mempunyai 111 gelar juara. Gelar juara ini dihitung sejak para pemain meniti karier profesional di lever senior.

Striker Mario Mandzukic merupakan pemain Kroasia yang paling banyak mendapatkan gelar juara. Total striker 32 tahun itu memiliki 21 gelar juara. Selain di Juventus, Mandzukic meraih gelar-gelar itu saat bersama Atletico Madrid, Bayern Munchen, dan di Dinamo Zagreb.


Pemain kedua Kroasia yang sering mengangkat trofi adalah Luka Modric dengan 20 gelar juara. Kapten Kroasia tersebut banyak mendapatkan trofi saat bersama Real Madrid.

Skuat Kroasia lebih mendominasi perolehan gelar juara karena diisi banyak pemain senior. Di Piala Dunia 2018, Vatreni berada di urutan ke-18 sebagai tim dengan rataan usia tertua, 27,9 tahun, sementara rataan usia skuat Prancis hanya 26 tahun.

Di skuat Les Bleus, gelandang Blaise Matuidi berada di urutan teratas dengan perolehan 18 gelar juara, yang sebagian besarnya (14 trofi) didapat saat masih berseragam Paris Saint-Germain.

Di bawah Matuidi ada Raphael Varane yang mendapatkan 15 trofi bersama Real Madrid. Kendati demikian, dari 23 pemain Prancis hanya Nabil Fekir yang belum merasakan gelar juara bersama klub, sedangkan di timnas Kroasia ada tiga pemain: kiper Lovre Kalinic, Duje Caleta-Car, dan Josip Pivaric.

Pengalaman pemain-pemain Kroasia menjadi juara di level klub bisa menjadi modal bagi pelatih Zlatko Dalic menghadapi laga final nanti. Bagi Prancis, hal tersebut tentu patut diperhitungkan agar kesempatan menjadi juara Piala Dunia untuk kali kedua tidak hilang.

Setidaknya hal itu telah terbukti saat mengalahkan Inggris 2-1 di babak semifinal. Mental juara pemain-pemain Kroasia tetap konsisten hingga akhir laga dan lolos ke final Piala Dunia untuk kali pertama. (CNN Indonesia)

Kroasia memastikan tempat di babak final Piala Dunia melawan Prancis pada hari Minggu (15/07) setelah mengalahkan Inggris 2-1 di semifinal yang diadakan di Stadion Luzhniki, Moskow.

Prancis maju ke final dengan mengalahkan Belgia 1-0 di semifinal.

Inggris semula sempat unggul 1-0 atas Kroasia dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2018 pada hari Rabu malam (11/07) waktu Rusia.

Gol pembuka ini terjadi hanya lima menit setelah pertandingan dimulai lewat tendangan bebas Kieran Trippier yang masuk ke pojok atas gawang Kroasia, jauh dari jangkauan penjawa gawang. Tendangan ini disebut menakjubkan oleh para komentator sepak bola.

"Kedua tim belum benar-benar mendalami pertandingan tetapi Kieran Trippier memberikan dorongan dan memacu pertandingan. Sudut tendangannya menakjubkan dan penjaga gawangnya jauh dari bola. Permulaan yang baik bagi Inggris," kata mantan pemain Inggris, Chris Waddle.

Kegembiraan Inggris ditandingi oleh gol Ivan Perisic di menit ke-68. Umpan bagus dari Sime Vrsaljko dimanfaatkan oleh Perisic yang bermanuver di antara Kieran Trippier dan Kyle Walker. Ketika Walker berusaha menyundul bola, Perisic menyambarnya.

Pertandingan dilanjutkan ke perpanjangan waktu karena kedudukan tidak berubah 1-1.

Kroasia kembali mencetak gol di menit ke-109, sumbangan dari Mario Mandzukic, sekaligus mengantarkan tim ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah negara itu.

Di babak pertama, Inggris tampak mempunyai peluang untuk menambah gol tetapi para pemain Kroasia lebih berpengalaman dan bermain tangguh.

Terakhir kali Inggris lolos ke babak final adalah tahun 1966 ketika mengalahkan Jerman Barat.

Majunya Inggris dan Kroasia ke babak semifinal membuat ribuan pendukung kedua tim berbondong-bondong ke Moskow dengan harapan mereka mendapat tiket.

Meski kalah, tim Inggris tetap mendapat pujian dari para pendukung yang mengaku bangga atas kekuatan tim muda di bawah asuhan Gareth Southgate tersebut. (bbcindonesia.com)

Pelatih Belgia, Roberto Martinez menegaskan timnya sudah sangat siap menghadapi Prancis di semifinal Piala Dunia 2018 Rusia, Rabu (11/7) dini hari WIB lusa. Dia percaya satu hal fundamental yang harus dilakukan timnya adalah bermain tanpa rasa takut.

Belgia baru saja menampilkan salah satu permainan terbaik mereka selama turnamen ini saat menaklukkan tim kuat Brasil dengan skor 2-1. Kala itu permainan Belgia mendapat banyak pujian karena dianggap atraktif dan menghibur.

Salah satu kekuatan utama Belgia adalah fleksibilitas formasi yang bisa dimainkan oleh Roberto Martinez. Seperti yang terlihat saat menaklukkan Brasil lalu, Belgia memasang formasi 4-2-3-1 dengan mengandalkan Marouane Fellaini dan Alex Witsel sebagai double pivot untuk meredam ancaman Neymar.

Generasi emas Belgia ini dianggap sebagai salah satu susunan skuat terbaik yang berpeluang menjuarai Piala Dunia. Para pemain terbaik itu bermain tanpa rasa takut saat melawan tim kuat Brasil, dan Martinez percaya mereka akan menerapkan mentalitas yang sama saat menghadapi Prancis.

"Tak perlu diragukan lagi. Tim ini harus bermain tanpa rasa takut sama sekali. Jika kami mendekati pertandingan ini dengan rasa takut, kami akan mengecewakan diri kami sendiri," kata Martinez dikutip dari espn.

"Dan kami mungkin akan bermain jauh lebih buruk daripada apa yang seharusnya bisa kami perbuat."

"Bermain tanpa rasa takut mungkin salah satu hal yang paling banyak membantu kami," sambung dia.

Selain bermain bebas tanpa rasa takut, Martinez juga percaya Belgia memiliki kekuatan lebih dalam hal kolektivitas tim. Dia yakin skuat Belgia saat ini sangat dekat dan saling mendukung satu sama lain karena sudah bersama-sama untuk waktu lama.

"Ada dua fase yang sangat penting. Anda harus berusaha menjadi tim utuh sejak hari pertama. Saya percaya untuk memenangkan kompetisi, anda harus bermain kolektif, sebagai tim."

"Ketika kami berhasil mencapai itu maka timbul niat dari setiap pemain untuk menyingkirkan segala keinginan individu," tandas dia.

Karena itulah permainan Belgia saat ini bisa mengalir dengan baik, khususnya saat serangan balik. Setiap pemain bermain untuk tim dan tidak ada egoisme. (Bola.net)

Rafael Nadal menggambarkan "kegembiraannya" ketika memenangi gelar juara kesepuluh Turnamen tenis Prancis Terbuka setelah menundukkan unggulan ketiga asal Swiss, Stan Wawrinka di final.

Petenis Spanyol yang berusia 31 tahun itu unggul dengan angka 6-2, 6-3, 6-1 untuk meraih gelar kesepuluh atau La Decima di Ronald Garros, dari 15 total gelar juara yang diraihnya di berbagai turnamen Grand Slam lainnya.

Selain memenangi 10 kali juara Prancis Terbuka, Nadal meraih juara Australia Terbuka sebanyak satu kali, dan dua kali juara Wimbledon, serta dua kali memenangi Turnamen Amerika Serikat Terbuka.

Nadal mengatakan dirinya tidak bisa membayangkan kesuksesannya ini ketika kali pertama memenangi turnamen tanah lihat ini 12 tahun silam.

Dia mengatakan: "Pada 2005, saya berpikir bahwa pada 2017 saya akan memancing ikan di kapal saya di Mallorca."

Nadal menambahkan: "Saya sama sekali tidak pernah berpikir bahwa saya akan memiliki karir yang begitu lama dan memenangkan banyak turnamen."

Dalam final yang digelar di lapangan Philippe Chatrier, Roland Garros, Paris, Minggu (11/6/2017) malam WIB, Nadal mengalahkan lawannya dalam dua jam lima menit.

Nadal mengalahkan petenis Swiss, Stan Wawrinka dengan tiga set langsung.

"Turnamen ini sangat spesial buat saya, dan sejujurnya ini belum pernah terjadi sebelumnya," ungkapnya. "Dan, percayalah, saya sangat senang karena saya yang melakukannya."

Menurutnya, jika dia mampu melakukannya, orang lain pasti bisa melakukannya.

"Tapi," sambungnya, "Anda memerlukan situasi yang tepat, ramuan yang tepat untuk memenangi 10 gelar Prancis Terbuka."

"Saya tidak tahu apakah saya dapat bertemu dengan pemain yang akan melakukan yang lebih baik ketimbang saya."

Rafael Nadal pertama kali menjuarai Turnamen Prancis Terbuka saat dirinya berusia 19 tahun.

Dia tercatat mulai berlaga di turnaman tanah liat ini sejak berusia 15 tahun, dan hingga 16 tahun kemudian Nadal belum menunjukkan keinginannya untuk menggantungkan raketnya dalam turnamen bergengsi ini.

Nadal menjadi orang ketiga yang meraih juara Grand Slam pada di usia belasan, mengikuti jejak petenis Ken Rosewall dan Pete Sampras, dan tampaknya dia masih mampu menambahkan lebih banyak gelar. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM