Entertainment

Serial remaja yang ditayangkan oleh layanan streaming populer, Netflix, yang berjudul “13 Reason Why”, saat ini tengah menjadi bahan perincangan hangat. Serial yang diangkat dari novel karya Jay Asher tersebut memang agak beda dengan serial remaja kebanyakan, karena mengangkat tema dengan urgensi penting, bullying dan bunuh diri di kalangan remaja.

Banyak yang memuji “13 Reasons Why” karena dianggap membuka mata akan problematika yang dihadapi oleh kalangan remaja yang masih berada dalam fase pancaroba yang penuh kebimbangan. Meski begitu, tidak sedikit pula kritikan dan kecaman yang dialamatkan kepada serialnya, karena dianggap mengglorifikasi atau meromantisasi bunuh diri.

Berbagai tindakan pencegahan pun dilakukan agar remaja yang berada di bawah usia 18 tahun tidak menyaksikan serial tersebut sendiri saja namun di bawah pengawasan atau bimbingan orang tua atau orang dewasa lainnya. Bahkan ada sebuah sekolah di Minnesota yang mengirimkan pesan berisi peringatan kepada orang tua terhadap serialnya.

Menghadapi banjir kritikan tersebut, salah satu produser eksekutifnya, aktris dan penyanyi kenamaan Selena Gomez, kemudian turun suara untuk memberi tanggapannya. Pada Jumat, 28 April yang lalu Selena merilis pernyataannya yang menyebutkan jika tim kreatif serial mencoba untuk setia dengan bukunya. Selena menyebutkan novel tersebut tragis tapi indah, kompleks sekaligus mendebarkan, sehingga tentu saja ingin menerjemahkan perasaan yang sama untuk serialnya. Selena juga menyadari, mengingat aspek tematis serial yang sensitif, maka kecaman bagaimanapun pasti akan datang. Tapi ia merasa sangat beruntung dengan hasil akhir yang dicapai serial.

Dalam kesempatan lain, saat diwawancarai E! News, Selena menyebutkan jika kontroversi yang terjadi bisa membuka ajang dialog tentang bunuh diri di kalangan remaja. Selena ingin serialnya membuat para remaja merasa takut, tapi juga bingung, sehingga nantinya diharapkan bisa membuat para remaja ini mau terbuka untuk membicarakan masalah-masalah mereka, karena hal seperti ini (bunuh diri) senantiasa terjadi di sepanjang masa. (creativedisc.com)

Film The Fate of the Furious -yang juga sedang diputar di Indonesia- sudah memecahkan rekor dunia dari pemasukan global.

Seri kedelapan film laga ini meraih US$532,5 juta atau sekitar Rp7 triliun lebih di seluruh dunia pada pemutaran sepanjang akhir pekan selama masa Paskah.

Catatan itu menempatkannya di atas Star Wars: The Force Awakens yang pada pemutaran pertama sepanjang akhir pekan 'hanya' meraih US$529 juta.

Namun untuk pasar di Amerika Serikat, Furious 7 masih unggul pada pemutaran perdana dengan meraih US$147,2 juta tahun 2015 lalu, masih di atas yang terbaru -yang di beberapa tempat diberi nama Fast of the Furious 8- dengan US$100,2 juta.

Tapi apa yang membuat keberhasilan seri Fast and Furious ini, yang dibintangi Dwayne Johnson dan Vin Diesel?

____________________________________________________________________________________

Rangkaian Fast & Furious

  • The Fast and the Furious (2001)
  • 2 Fast 2 Furious (2003)
  • The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006)
  • Fast & Furious (2009)
  • Fast Five (2011)
  • Fast & Furious 6 (2013)
  • Furious 7 (2015)
  • The Fate of the Furious (2017)

____________________________________________________________________________________

Pengamat film di Radio BBC 4, Rhianna Dhillon, berpendapat rangkaian Fast and Furious menjadi film sukses karena 'daya tarik universal'.

 

"Film-film yang bisa dinikmati oleh semua usia, karena memiliki eskapisme murni yang tidak dewasa sehingga anak-anak dan orang dewasa senang menyaksikan hal-hal yang meledak dan hancur."

"Banyak membuat film menarik, seperti The Avengers, adalah jalan ceritanya dan Fast & Furious tidak berupaya untuk bersaing dengan jalan cerita yang berat dan berbelit. Ini tentang mobil yang saling bertabrakan satu sama lain dan ok saja untuk menikmatinya," tambah Dhillon.

"Rangkaian ini tidak berupaya untuk menjadi sesuatu. Pada akhirnya dari bawah hingga ke atas, tidak ingin menjadi serius."

Selain itu, menurut Dhillon lagi, rangkaian Fast & Furious selalu menarik bintang-bintang besar dengan tampilnya pula Charlize Theron dan Helen Mirren di film terbaru.

"Mereka bukan orang-orang yang tidak pernah Anda dengar, mereka adalah bintang-bintang yang menghasilkan paling banyak uang di dunia."

"Dan Dwayne Johnson memberi film ini kesempatan hidup baru, jika Anda membeli bintang maka Anda juga membeli para penggemarnya."

Lanjutan dari rangkaian Fast & Furious -yang diawali tahun 2001- rencananya akan beredar lagi tahun 2019 dan 2021. (bbcindonesia.com)

Penyanyi/penulis lagu/produser kenamaan, Pharrell Williams, akan bekerjasama dengan sutradara pemenang Tony Award, Michael Mayer, untuk mengerjakan sebuah film musikal yang kisahnya akan berangkat dari kisah hidup Pharrell sendiri.

Selain Pharrell, film juga akan diproduseri oleh rekannya, Mimi Valdes. Sementara Martin Hynes akan menulis naskahnya, sebagaimana yang dilaporkan oleh The Hollywood Reporter. Filmnya digambarkan sebagai sebuah musikal dengan cerita ala Romeo dan Juliet yang terinspirasi dari kehidupan masa kanak-kanak Pharrell di Virgina Beach.

Belum diketahui siapa yang akan memerankan Pharrell atau kapan akan mulai dikerjakan.

Pharrell sendiri memang cukup sering terlibat dalam pengerjaan film akhir-akhir ini. Ia sebelumnya turut memproduseri film peraih nominasi Oscar, Hidden Figures. Ia juga terlibat dalam film biografi Roxanne Shante, “Roxanne Roxanne”, yang berkisah tentang rapper perempuan yang populer di era 1980-an. Film dibintangi oleh Chante Adams, Mahershala Ali, dan Nia Long. Film melakukan screening pertamanya di Festival Film Sundance 2017 di bulan Januari lalu. (creativedisc.com)

Penyanyi dan pencipta lagu Melly Goeslaw (43) punya alasan tersendiri menggandeng Gita Gutawa (23) untuk menyanyikan soundtrack yang ditulisnya.

Soundtrack berjudul “Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?” ini dibuat Melly untuk film Kartini.

Dalam acara peluncuran trailer dan soundtrack film Kartini di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017), Melly mengungkap alasannya.

“Saya lihat (Gita) generasi yang beda sama saya. Kita beda dua tahun, ya?” ujar Melly sambil melirik ke arah Gita di sebelahnya, lalu tertawa.

“Gita 24 tahun, saya kebalikannya,” sambung Melly.

Menurut Melly, Gita mampu mewakili generasi millenials saat ini yang tidak hanya fokus pada karier, tetapi juga pendidikan.

“(Gita) sosok anak muda yang bukan cuma cinta seni. Dia semangat dan selektif bikin lagu. Kalau bikin album atau lagu, dia enggak mikirin komersial. Dia juga concern sama pendidikan,” ujar istri Anto Hoed tersebut.

Melly pun berharap lagu "Memang Kenapa Bila Aku Perempuan?" ini bisa menjadi inspirasi untuk para perempuan.

Sama seperti Gita yang berharap bahwa lagu kolaborasinya ini bisa menjadi salah satu lagu untuk memberdayakan perempuan di Indonesia.

"Indonesia sedikit banget soal empowering women. Kalau di luar ada Beyonce yang Run the World (Girls). Kalau di Indonesia sedikit ya, bahkan enggak ada," ujar Gita,

Maka dari itu, Gita ingin lagu ini bisa menjadi semangat untuk saling menguatkan perempuan dalam memperjuangkan cita-cita mereka. (kompas.com)

Page 1 of 5

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net