News

You are here:Home News DELTA FM - Relax dengan 100% Lagu Enak - Displaying items by tag: Indonesia

Keharusan memberitahu pimpinan KPK, Kepolisian atau Kejaksaan sebelum penyidik masing-masing melakukan penggeledahan, penyitaan atau memasuki kantor terkait dugaan kasus korupsi, harus dihapuskan dalam Nota Kesepahaman pimpinan tiga lembaga penegak hukum itu, kata pegiat antikorupsi.

Alasannya, kewajiban pemberitahuan itu dikhawatirkan akan mengurangi prinsip-prinsip dan karakter independensi KPK, karena selama ini ada resistensi terhadap KPK dalam memberantas praktik korupsi.

"Perlu ditinjau kembali teks terkait dengan pemberitahuan itu. Itu sangat menganggu independensi KPK. Dikembalikan saja ke aturan perundang-undangannya seperti apa," kata Sekjen Transparency International Indonesia (TII), Dadang Trisasongko kepada BBC Indonesia, Rabu (29/03).

Pimpinan KPK, Kepolisian dan Kejaksaan telah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) tentang pemberantasan korupsi di Jakarta, Rabu (29/03). Kerja sama ini disepakati untuk meningkatkan koordinasi setelah ketiganya pernah dilanda konflik terkait penanganan kasus korupsi.

Namun demikian, KPK menyatakan keharusan pemberitahuan itu tidak akan menganggu kinerja pihaknya, karena itu semata koordinasi dan bukan meminta izin kepada pimpinan kepolisian atau kejaksaan.

"Yang dilakukan adalah koordinasi atau pemberitahuan, bukan (meminta) izin. Ini dua hal berbeda," kata Juru bicara KPK, Febri Diansyah, Rabu, kepada BBC Indonesia.

Dalam lima tahun terakhir, hubungan KPK dan Kepolisian beberapa diwarnai ketegangan saat lembaga itu menyelidiki dugaan praktik korupsi yang melibatkan pimpinan Kepolisian.

Kemunculan istilah kriminalisasi terhadap pimpinan KPK kemudian lahir yang menurut pegiat antikorupsi dilatari penolakan lembaga kepolisian saat pimpinannya diperiksa KPK karena diduga terlibat korupsi.

Konflik terbuka dua lembaga penegak hukum ini kemudian memaksa Presiden Joko Widodo turun tangan, sehingga muncullah tuntutan agar pimpinan KPK dan Kepolisian menjalin koordinasi.

Surat Mabes Polri

Setidaknya ada 15 pasal yang diatur dalam MOU pimpinan KPK, Kepolisian dan KPK, tetapi ada salah-satu pasal yang dipermasalahkan oleh pegiat antikorupsi, yaitu soal pemberitahuan kepada pimpinan masing-masing lembaga itu sebelum ada penggeledahan dan lain-lain.

Dalam pasal 7 ayat 3 disebutkan "Dalam hal salah satu pihak melakukan tindakan penggeledahan penyitaan atau memasuki kantor pihak lainnya maka pihak yang melakukannya memberitahukan kepada pimpinan pihak yang menjadi objek dilakukannya tindakan tersebut kecuali tangkap tangan."

Tidak lama setelah MOU ditandatangani, Rabu (29/03), sejumlah media kemudian melaporkan bahwa keberadaan pasal 7 itu dilatari apa yang disebut sebagai surat yang dikeluarkan Mabes Polri pada Desember 2016 lalu.

Sampai Rabu (29/03) malam, BBC Indonesia belum mendapatkan tanggapan dari Mabes Polri.

Dalam surat itu disebutkan bahwa tindakan penggeledahan, penyitaan dan pemeriksaan di ruangan Kepolisian harus mendapatkan izin dari Kapolri.

Ketika isi surat itu terungkap di masyarakat pada pertengahan Desember tahun lalu, para pegiat anti korupsi memprotesnya. Kepada pers, Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat itu mengatakan surat edaran itu bersifat internal.

Usai penandatangan MOU, Rabu pagi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kerja sama KPK, Kepolisian dan Kejaksaan itu agar tidak ada lagi konflik di antara mereka sendiri.

"Kita tidak ingin ada konflik," kata Tito. "Prinsip utamanya kami dari Polri tentu sangat ingin menjaga hubungan baik dengan KPK yang sudah bagus saat ini."

KPK: Bukan meminta izin

Sementara, Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan penerapan kerja sama itu harus tetap mengikuti ketentuan hukum acara yang berlaku (yaitu KUHAP), yaitu KPK memiliki kewenangan untuk menggeledah, menyita dan memasuki objek yang diselidiki tanpa meminta izin pimpinannya.

"Kita harap saat implementasi tidak merugikan pihak yang melakukan penegakan hukum. Karena, pemberitahuan itu bukan soal boleh atau tidak boleh, tapi hanya fungsi koordinasi," kata Febri.

Dengan adanya kerja sama itu, demikian dia mengharapkan, tidak ada lagi kesulitan aparat hukum saat melakukan penggeledehan, penyitaan dan memasuki kantor objek yang diselidiki.

"Tidak dibutuhkan lagi izin untuk kegiatan penggeledehan, penyitaan atau memasuki kantor suatu pihak. Karena, yang dibutuhkan hanya pemberitahuan yang konteksnya itu koordinasi," tegasnya.

Tetapi, Sekjen Transparency International Indonesia, Dadang Trisasongko mencemaskan penerapan pasal 7 itu akan menganggu independensi dan profesionalisme KPK.

Dadang kemudian mengatakan, kewajiban memberitahukan pimpinan lembaga yang diselidiki itu bisa didesakkan oleh lembaga pemerintahan lainnya.

"Nanti kementerian yang lain meminta juga, lalu bikin MOU. Kalau nanti (KPK) mau menggeledah, harus memberitahukan dulu," kata Dadang.

Ditinjau ulang

Dia juga khawatir isi pasal itu akan menimbulkan tafsir yang bermacam-macam sesuai kepentingan lembaga masing-masing.

"Dan sesuai dengan konteks relasi kekuatan, siapa yang paling berhak menafsirkan itu yang punya power," ujarnya, menganalisa.

Karenanya, Dadang mengusulkan agar pimpinan KPK meninjau kembali pasal 7 tersebut dan wewenang KPK dikembalikan sesuai wewenangnya sesuai perundang-undangannya yang mengaturnya.

Hal ini dia tekankan karena sejauh ini terbukti adanya resistensi terhadap prinsip dan karakter KPK dalam memberantas praktik korupsi.

"Kalau kapolrinya baik, ya, tetapi kalau kapolrinya nanti tidak memiliki komitmen pemberantasan korupsi, itu pasti bisa disalahgunakan," jelas Dadang.

Dia juga mempertanyakan klaim yang menyebut kerja sama KPK, Kepolisian dan Kejaksaan itu akan makin memperkuat upaya semua lembaga penegak hukum itu untuk memberantas korupsi.

"Itu agak naif, karena ini bagian dari pengurangan prinsip dan karakter independensi KPK," tandasnya.

Apa komentar KPK?

"Kekhawatiran itu saya kira relevan dan kita nanti bisa lihat bersama-sama setelah kerja sama ini ditandatangan. Kita juga mengharapkan dapat masukan dalam tataran implementasi kalau ada kendala lebih lanjut," kata Jubir KPK Febri Diansyah. (bbcindonesia.com)

GRESIK - Melihat jantung pisang yang banyak dibuang sia-sia, tiga siswi SMA Nahdlatul Ulama (SMA NU) 2 Gresik yang beralamat di Jalan Akim Kayat Gang VII No 49, Gresik, Jawa Timur, justru berhasil mengubahnya menjadi hal yang bermanfaat.

 

 

Melalui metode penelitian yang dilakukan selama lima bulan, Reza Silvia (18), Andhini Nindya Putri (18), dan Juliana Rosiida (18), berhasil menemukan bahwa bunga yang ada di dalam jantung pisang ternyata bisa digunakan sebagai ekstrak teh dengan cita rasa dan aroma yang nikmat.

“Tidak sekadar cita rasa dan aroma teh yang dapat dirasakan oleh penikmatnya, tapi teh yang berasal dari bunga jantung pisang ini juga berkhasiat untuk mengobati diabetes, kencing manis, Kolesterol tinggi, dan kanker,” tutur Reza, Rabu (29/3/2017).

Namun sebelum bisa mendapatkan bunga dalam jantung pisang yang dapat dikonsumsi menjadi ekstrak teh, memang dibutuhkan sebuah proses yang tepat. Karena ketidaktepatan proses bisa membuat bunga jantung pisang tersebut malah terasa sedikit pahit seperti kopi.

 

 

“Bunga yang ada di jantung pisang itu sebenarnya ada di setiap lapisan kulit jantung pisang, sehingga harus sabar mengulitinya lapisan demi lapisan. Baru setelah bunga didapat, direndam dulu selama satu jam dengan air yang sudah dicampur kapur. Kemudian setelah itu dicuci hingga bersih dan dijemur kurang lebih satu hari,” jelasnya.

Setelah mendapatkan bunga jantung pisang dalam keadaan kering, maka langkah selanjutnya adalah disangrai atau digoreng tanpa menggunakan minyak selama 40 hingga 45 menit. Setelah itu bunga yang sudah kering itu diblender sampai berbentuk bubuk.

“Kami sempat coba bukan dengan disangrai, tapi dimasukkan ke oven. Hasilnya, justru bunga jantung pisang yang kami dapatkan gosong dan rasanya jadi mirip-mirip kopi. Tapi kalau dengan disangrai, rasanya seperti teh meski tidak beraroma melati,” jelas Andhini.

Andhini menjelaskan, ketika diteliti lebih lanjut, bunga jantung pisang yang telah disangrai itu juga diketahui mengandung glikemik, saponin, dan juga flavonoid yang dapat meningkatkan insulin di dalam tubuh manusia dan berkhasiat mengobati beberapa macam penyakit diabetes.

“Karena kandungan glikemik, saponin, dan lebih-lebih flavonoid, akan mengubah zat gula dalam darah menjadi energi, sehingga kadar gula dalam darah jadi turun dan stabil. Tapi dengan catatan, para penderita diabetes saat mengonsumsinya tidak boleh dengan gula. Kalaupun boleh, itu pun sedikit. Namun lebih baik jika ingin pakai gula, ya pakai aja gula yang rendah kalorinya,” terang Juliana.

Dukungan dari sekolah

Penelitian ketiga siswi SMA NU itu pernah diikutsertakan dalam kejuaraan penelitian tingkat SMA nasional bertajuk ‘Creative Bussiness Competition Business Model Canvas (CBC-BMC), yang digelar di Universitas Negeri Surabaya pada November 2016 lalu. Namun dalam agenda ini, hasil penelitian mereka bertiga hanya mampu mendapatkan penghargaan sebagai juara harapan.

“Sebab dalam lomba tersebut, aspek utama penilaian dewan juri memang lebih condong ke sisi bisnisnya. Dan, kemasan hasil penemuan anak-anak waktu itu kami akui memang kalah dengan peraih juara pertama hingga ketiga,” ucap Muchyiddin, Wakil Kepala Humas SMA NU 2 Gresik.

Meski demikian, besar harapan pihak sekolah untuk terus mendorong kemajuan bagi hasil penelitian anak didiknya tersebut, dengan harapan dapat diteliti lebih lanjut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.

 

 

“Karena kami meyakini, selain diabetes, kencing manis, Kolesterol, dan kanker, masih ada beberapa penyakit lain yang bisa disembuhkan dengan ekstrak teh dari bunga jantung pisang ini. Sebab, dari penuturan mereka sewaktu kembali melakukan penelitian terakhir, ekstrak teh dari bunga jantung pisang juga mengandung vitamin A, C, B1, serta protein,” tutup Muchyiddin, yang juga menjadi guru pembimbing bagi penelitian tiga siswi tersebut.

Kalau memang dinilai layak untuk dikonsumsi umum oleh BPOM, rencananya bakal diperbanyak guna membantu sesama. Terlebih bagi mereka yang mengidap penyakit diabetes, kencing manis, Kolesterol tinggi, dan kanker. (kompas.com)

Bali baru saja dianugerahi sebagai The Worlds Best Destination pilihan traveler dari seluruh dunia. Pulau Dewata yang punya sederet pantai menawan ini berhasil mengalahkan kota-kota destinasi wisata dunia, seperti London, Prancis, Roma, bahkan Crete dan New York. 

Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, penghargaan yang diperoleh dari proses kompetisi yang panjang, serius, dan dilakukan oleh lembaga kredibel, akan menaikkan country image.

“Setiap country image naik 10 persen, mendorong kenaikan toursim 11 persen, dan investmen 1 persen. Brand Wonderful Indonesia itu punya valuasi dan bisa dihitung. Semakin tinggi value-nya, semakin dikenal kuat memiliki reputasi, semakin mahal harga barang dan jasa yang menempel pada brand tersebut,” kata Arief Yahya.

Dalam banyak kesempatan, Arief Yahya juga kerap menyebut formula 3C dalam tiap kompetisi level dunia. Penghargaan bagi Arief Yahya akan menaikkan confidence level” atau kepercayaan internal, mendongkrak credibility atau kepercayaan publik, dan dapat menciptakan calibration, yaitu kriteria ideal sesuai standar global.

Penghargaan yang diterima pariwisata Bali bukan perkara instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang. Keberhasilan Bali adalah buah dari keberhasilan kecil yang terus dipertahankan dan dikembangkan. 

“Lembaga-lembaga ternama dunia juga sudah menempatkan Bali sebagai the best-nya. Travel+Leisure, World Travel Award, Conde Nast Traveller, UNWTO Awards, Asia Trip, DestiAsian, sampai yang terakhir TripAdvisor,” kata Arief Yahya. (liputan6.com)

Teknologi pemberi pakan ikan otomatis buatan Indonesia, eFishery, akan diterapkan melalui proyek percontohan di Thailand dan Bangladesh tahun ini.

Proyek kerja sama antara perusahaan perintis akuakultur Cybreed, selaku pengembang eFishery, dengan Winrock International, USAID, dan Universitas Kasetsart Thailand itu bertujuan mencoba penerapan teknologi eFishery di kedua negara tersebut.

EFishery menggabungkan pemberian pakan otomatis dengan algoritma dan sensor untuk meningkatkan efisiensi pakan dalam bisnis perikanan air tawar.

Meskipun proyeknya masih bersifat prakomersial, ini langkah awal untuk ekspansi ke negara lain, kata salah satu pendiri perusahaan yang berbasis di Bandung itu, Gibran Huzaefah.

"(Proyek percontohan) itu supaya kita bisa punya bukti yang kuat untuk bisa membangun model kerja sama dengan mitra lokal, dan sekaligus mencari mitra lokal untuk ekspansi bisnis kita ke negara lain dalam beberapa tahun ke depan," ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Untuk saat ini, Gibran dan kawan-kawan di Cybreed tengah memusatkan perhatian pada pengembangan dan perkenalan produknya di Indonesia.

Terjadwal dan sesuai takaran

Ide di balik eFishery ialah pemberian pakan secara terjadwal dan sesuai takaran, kata Gibran. Dalam usaha budidaya ikan, biaya yang dikeluarkan pemilik kolam untuk pakan dapat mencakup 60-70% total biaya produksi. Meski demikian, pemberian pakan dengan cara tradisional, yakni menggunakan tangan atau hand-feeding, dinilainya tidak efisien.

"Saat hand-feeding pemberian pakannya itu langsung dilempar dalam jumlah yang banyak. Misalnya satu ember langsung dilempar ke kolam. Saat pakan ini terendam dalam air, beberapa nutrisi bisa hilang hingga 98 persen dalam waktu satu jam. Jadi pakan yang dikasih dimakan oleh ikannya, tapi nutrisinya sudah enggak ada," jelasnya.

Dengan pemberian pakan yang terjadwal dan dengan 'dosis,' Gibran mengatakan eFishery telah terbukti dapat menurunkan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram daging -disebut Food Convertion Ratio (FCR)-hingga 24%. Dengan kata lain, penggunaan pakan menjadi lebih efisien.

Terhubung dengan internet

Alat pemberi pakan otomatis, atau feeder, lumrah digunakan dalam budi daya ikan dan akuakultur pada umumnya. Namun inovasi eFishery terletak pada keterhubungannya dengan jaringan internet.

Lewat aplikasi di ponsel Android, pengguna dapat mengatur frekuensi dan jadwal pemberian pakan serta takarannya. Pemilik kolam juga dapat mengunggah jumlah pakan yang digunakan ke server internet untuk referensi di masa depan.

Dalam aplikasi terdapat pilihan pola pemberian pakan berbasis algoritma untuk empat komoditas budidaya: ikan nila, mas, lele, serta udang. Ini disebut feeding program.

Gibran menjelaskan, "Dari masing-masing spesies ini kita punya feeding rate, yaitu berapa persen pakan yang dibutuhkan dibanding total biomassa mereka. Dan persentase ini akan berubah dari tahap awal saat mereka masih kecil sampai saat mereka mau panen.

"Jadi misalnya, saat masih kecil empat persen dari total biomassa, dan saat panen itu dua persen dari total biomassa, dan perubahannya seperti apa. Kita juga memprediksi tingkat kematian mereka bagaimana... dari sini kita bangun algoritmanya."

Satu fitur lagi, yang sedang dalam tahap pengembangan, yaitu sensor "pendeteksi kekenyangan ikan" berdasarkan riak air dalam kolam. Teknologi ini pada dasarnya ialah akselerometer. Asumsinya, lapar atau kenyangnya bisa dideteksi melalui perilaku, kata Gibran.

"Kita melihatnya saat ikan bergerak agresif berarti mereka masih lapar, dan saat ikan kurang agresif berarti dia sudah kenyang. Dari situ kita bisa menentukan kapan harus menyetop pemberian pakan."

Data bagi petani

Dengan fitur pengunggahan data pakan ke server internet, Gibran berharap dapat menyediakan informasi berharga bagi para petani ikan. Ia mengungkapkan bahwa perusahaannya ingin menangkap data dari petani yang tadinya tidak tersedia kemudian menghubungkannya dengan variabel lain seperti data cuaca dan kualitas air.

"Sehingga kita bisa memprediksi apakah (praktik yang dilakukan petani) optimal atau tidak," tuturnya.

Ia menambahkan, "Dan kami ingin memberikan informasi berbasis data itu ke petani dan stakeholders lain, seperti produsen pakan dan pembeli ikan. Tujuannya transparansi, traceability... Jadi saat mereka beli ikan, mereka bisa tahu apakah ikan ini diberi makan limbah atau pakan yang bagus, ikan ini produktivitasnya bagus atau tidak."

Namun tampaknya semua itu masih jauh di masa depan. Saat ini, Gibran dan kawan-kawan di Cybreed masih berupaya mengajak sebanyak mungkin petani menggunakan eFishery.

Gibran mengatakan, hingga saat ini eFishery telah digunakan lebih dari 300 pembudidaya di area Minapolitan utama di Indonesia, seperti Jawa Barat dan Lampung. Pemilik kolam perlu merogoh kocek cukup dalam untuk memiliki alat ini, karena satu unitnya dijual seharga Rp7,8 juta.

Demi mengurangi hambatan para pemilik kolam untuk mengadopsi teknologi ini, Cybreed memperkenalkan skema sewa alat seharga Rp300.000 per bulan. Dan memang mayoritas petani memilih skema ini, kata Gibran.

Menggantikan manusia

Prakarsa teknologi ini disambut baik Ketua Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (GAPPINDO), Herwindo Suwondo.

Menurut Herwindo, urusan pakan kerap memberatkan para pembudidaya dengan harganya yang mahal. Itu karena sekitar 80% bahan baku pakan seperti tepung jagung, bungkil kedelai, tepung daging dan tulang, artemia, dan minyak ikan diperoleh melalui impor.

Karena itu menurut Herwindo jika pakan yang mencakup sebagian biaya produksi itu diberikan secara efisien, para pembudidaya dapat berhemat. "Dan harga (produk) dia akan lebih bisa bersaing di luar negeri," ia menambahkan.

Herwindo juga menilai harga sewa Rp300.000 per bulan tidak akan memberatkan pemilik kolam. Namun ia mengatakan tidak tahu apakah para penjaga tambak rela pekerjaannya digantikan eFishery.

"Saya kira itu bagus... cuma masalahnya, tiap-tiap tambak itu kan biasanya ada yang jaga. Dan kasih makan itu kan pekerjaan yang jaga. Apakah mereka mau digantikan alat itu... karena meskipun beda angkanya 300-400 ribu, itu kan uang juga," katanya.

Gibran selaku penggagas eFishery tidak memungkiri bahwa alatnya dapat mengeliminasi lowongan kerja bagi manusia.

Namun ia berdalih, "Kondisi saat ini adalah mencari orang yang mau bekerja di tambak, apalagi yang bagus dan jujur itu susah. Jadi memang suplai pekerja tambak ini rendah sekali, terutama yang berkualitas ya... dan demand-nya tinggi, dan akan terus meningkat. Kita melihatnya justru kita mau menyelesaikan masalah ini.

"Satu lagi, manusia ini terbatas, enggak bisa disuruh ngasih makan 12 kali atau 20 kali sehari. Atau manusia susah untuk disuruh kasih makan jam 2 malam, jam 3 malam... sementara beberapa komoditas ikan itu nokturnal. Nah dengan alat kita ini bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa manusia lakukan," tandasnya. (bbcindonesia.com)

Page 1 of 63

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net