Sport

Patung bintang Barcelona dan Argentina, Lionel Messi di Buenos Aires baru-baru ini menjadi korban tindakan vandalisme oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

Oknum vandalisme memenggal patung ini di bagian tengah. Pelaku mengambil bagian kepala, tangan hingga badan. Sementara yang tersisa hanyalah kaki serta bola.

Tak ada kejelasan mengenai motif pelaku melakukan hal ini. Dilansir The Sun, pihak pemerintah kota Buenos Aires pun mengambil sisa patung ini untuk diperbaiki.

Patung ini mulai diresmikan sejak Juni 2016 lalu, tepatnya pada masa kepemimpinan Wali Kota Horacio Rodriguez Larreta hanya beberapa hari usai Messi mengumumkan pensiun dari sepakbola internasional.

Patung ini sengaja dibuat sebagai bagian dari kampanye menginginkan Messi kembali dari masa pensiun, dan akhirnya La Pulga melakukannya. (bola.net)

SEMARANG - Atlet renang difabel Indonesia Syuci Indriani meraih pengharagaan sebagai perenang muda terbaik pada ajang Asian Paralympic Committee (APC) 2016 karena prestasi yang diraih pada saat tampil di ajang INAS Asian Championship beberapa waktu lalu.

Ketua Umum Pengurus Pusat National Paralympic Committee (NPC) Indonesia Senny Marbun, Selasa , (28/11/2016) mengatakan, pemberian penghargaan sebagai perenang muda terbaik ini dilaksanakan di Bangkok, Thailand, Senin (28/11) malam.

Menurut dia, pemberian penghargaan ini tak lepas dari kesuksesan perenenang berusia 15 tahun tersebut saat tamnpil pada INAS Championship 2016 pada Januari. "Saat itu Syuci berhasil meraih tujuh medali emas dari kategori difabel kelas 14," katanya.

Ia menambahkan, penghargaan ini merupakan yang pertama bagi atlet difabel Indonesia. "Tentunya kami sangat senang dan bangga dengan pemberian penghargaan ini karena merupakan pertama bagi atlet NPC Indonesia dan mudah-mudah bisa berlanjut di kemudian hari," katanya.

Di samping itu, kata dia, penghargaan yang diraih Syuci ini bisa menular ke atlet difabel lainnya dari cabang olahraga yang lain juga. "Tentunya ini diharapkan bisa memotivasi bagi atlet lain untuk bisa meraih prestasi yang baik di ajang internasional," katanya.

Kemudian, lanjut dia, untuk Syuci sendiri diharapkan penghargaan ini bisa memotivasi yang bersangkutan untuk mencatat prestasi lebih dari yang dicapai sekarang ini. Masih banyak even-even internasional yang akan dihadapi Syuci.

"Saya kira Syuci harus mempersiapkan diri lebih baik untuk meraih prestasi pada event internasional lainnya karena setelah ini ada ajang bergengsi yang akan diikuti atlet yang bersangkutan," katanya menegaskan.

Ia menyebutkan, ada tiga event internasional yang akan dihadapi atlet difabel Indonesia termasuk Syuci Indriani yaitu ASEAN Paragmaes 2017 di Malaysia, Asian Paragames 2018 di Indonesia, dan Paralympic Games di Jepang 2020.

"Syuci diharapklan bisa mengukir prestasi pada tiga event tersebut apalagi sekarang ini usia yang bersangkutan masih sangat muda," katanya menegaskan. (kompas.com)

Guna menghindari persoalan transfer atlet dan pembatasan umur yang menjadi momok dalam persiapan PON, Kemenpora pun berencana memperketat peraturannya. Dari sebelumnya hanya tertuang di Surat Keputusan KONI akan meningkat ke level Peraturan Menteri. 

KONI sebelumnya telah mengeluarkan Surat Keputusan KONI Pusat nomor 56 tahun 2010 yang mensyaratkan permohonan perpindahan atlet ke daerah lain setidaknya dilakukan dua tahun sebelum PON diselenggarakan. Bila tidak memenuhi aturan dalam SK, atlet akan dilarang untuk tampil PON XIX/2016 Jabar. Sayangnya, memasuki masa penyelenggaraan PON XIX Jawa Barat, baik daerah maupun KONI seolah menutup mata. 

Tak heran ketika PON hendak digelar, masih ada beberapa atlet yang bermasalah karena beberapa daerah ada yang tidak terima atletnya dicatut daerah lain. Namun, tak hanya soal transfer atlet, masalah pembatasan usia pun menjadi momok lain dalam penyelenggaraan PON.

Pasalnya, pembatasan usia itu baru muncul menjelang PON digelar dan akhirnya merugikan sejumlah kontingen provinsi. Imbasnya, muncul kericuhan pada saat pertandingan. 

Berkaca dari persoalan-persoalan yang terjadi di lapangan, Kemenpora mencari cara untuk mempertegas peraturan yang sudah dibuat oleh KONI. 

"Kemarin itu peraturannya memang sudah diatur di dalam KONI, tapi buktinya masalah pengaturan kelompok usia, transfer atlet ternyata tidak efektif makanya kami angkat saja ke level yang lebih tinggi," kata Deputi IV bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Gatot S. Dewa Broto, di Kantor Kemenpora, Senayan, Rabu (5/10/2016).

Menurut Gatot, dalam penerapan peraturan tersebut akan ada beberapa aspek yang akan membatasi seorang atlet bisa turun di PON atau tidak. "Jadi tidak hanya dilihat dari usia saja tapi akan dilihat dari aspek lain juga. Karena bisa saja atlet yang usianya masih muda tetapi secara prestasi dia levelnya sudah setaraf Asia atau dunia, ya, tentu akan kami batasi," katanya. 

Gatot juga mengatakan, peraturan itu akan diterapkan tidak akan lama lagi atau menunggu hingga PON 2020 digelar. "Mungkin di event-event tertentu (sudah bisa). Kita 'kan tidak hanya berbicara di multievent seperti Kejurnas. Tapi, intinya saya menjamin kepada pihak Prima, KONI, KOI, PB cabor bahwa kami tidak akan sendirian untuk membahas ini, melainkan bersama-sama," pungkasnya. (detiksport.com)

Seorang pelatih atletik Kenya dikirim pulang dari Olympiade Rio 2016 setelah menyamar sebagai seorang atlet dan memberikan sampel urin untuk tes doping.

Menurut delegasi Kenya, pelatih sprint, John Anzrah 'menampilkan dirinya' sebagai pelari 800m Ferguson Rotich dan 'bahkan menandatangani dokumen' untuk tes doping.

"Kami tidak bisa mentoleransi perilaku tersebut," kata Kip Keino, ketua Komite Olimpiade Nasional Kenya.

Rotich, yang menempati posisi keempat di Kejuaraan Dunia tahun lalu di Beijing, akan tampil dalam penyisihan Jumat (12/8) ini.

Agen sang atlet, Marc Corstjens, mengatakan bahwa Rotich meminjamkan tanda pengenalnya kepada Anzrah agar pelatih itu bisa mendapatkan sarapan gratis di Olympic Village, Rabu (10/8) lalu.

Anzrah yang berusia 61 tahun, bahkan sempat didatangi oleh seorang petugas uji doping yang sedang mencari Rotich dan diminta untuk memberikan sampel urin, dan Anzrah memberikannya.

"Ferguson Rotich benar-benar bingung mengapa ia (Anzrah) melakukan hal ini (memberikan sampel urin), tetapi untunglah dia cepat mengetahuinya dan langsung pergi ke penguji doping dan memberi mereka sampel darah dan urin," kata Corstjens.

Komite Olimpiade Internasional telah mulai melancarkan proses pemeriksaan masalah ini, tapi memuji badan olympiade Kenya karena 'bertindak cepat.'

Komite Olimpiade Nasional Keny, Kip Keino mengatakan Anzrah sebetulnya tidak masuk delegasi mereka di Brasil.

"Kami bahkan tidak tahu bagaimana dia datang ke sini," katanya.

Anzrah adalah orang Kenya kedua yang diusir terkait isu doping setelah manajer lintasan dan lapangan, Michael Rotich.

Dia diusir menyusul tudingan bahwa ia bersedia untuk memperingatkan para pelatih tentang uji doping, dengan imbalan £10.000 atau sekitar Rp175 juta. (bbc.com)

Page 1 of 2

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net