Sport



Pertandingan di babak Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa telah rampung digelar. Sebanyak sembilan tim yang menjadi pemuncak klasemen di Grup A hingga Grup I telah mendapatkan satu tiket ke Rusia pada tahun depan.

Terakhir, Timnas Prancis dan Portugal menyusul tujuh tim lainnya yang sudah lebih dulu mengamankan satu tempat untuk berlaga di kompetisi elite dunia itu.

Prancis mampu menang dengan skor 2-1 atas Belarusia. Antoine Griezmann dan Olivier Giroud mampu mencatat namanya di papan skor pada menit ke-27 dan 33. Sementara gol hiburan dari Belarusia disumbangkan oleh Anton Saroka di menit ke-44.

Sementara Timnas Portugal mampu menggilas Swiss dengan skor 2-0. Angka pertama dicetak lewat gol bunuh diri pemain Swiss, Johan Djourou di menit ke-41 dan gol milik Andre Silva pada menit 57. Raihan tiga poin membuat anak asuh Fernando Santos mengemas 27 poin, menyamai milik Swiss namun unggul selisih gol.

Beralih ke Zona CONMEBOL, sebanyak 10 tim telah menyelesaikan laga akhir di babak Kualifikasi Piala Dunia 2018 yang berlangsung pada Rabu (11/10/17) pagi hari WIB. Timnas Argentina mampu memastikan satu tempat pasca menang 3-1 atas Ekuador.

Raihan positif itu juga diikuti oleh Uruguay dan Kolombia yang mendapatkan satu tiket ke Rusia pada tahun depan. Uruguay menjadi runner up klasemen akhir setelah mengandaskan Bolivia dengan skor 4-2.

Sementara Kolombia mengamankan peringkat keempat dengan raihan 27 poin. Pada laga akhir, David Ospina dkk hanya mampu menahan imbang Peru dengan skor 1-1. Namun, torehan satu poin itu mampu membawa mereka berlaga di Piala Dunia 2018.

Sayangnya, hasil positif tidak mampu dirasakan oleh Chile yang harus kandas di tangan Brasil dengan skor 0-3. Alexis Sanchez dkk harus puas berada di peringkat keenam dengan raihan 26 poin.

Berikut daftar 23 negara yang lolos untuk berlaga di Piala Dunia 2018:

1. Rusia (tuan rumah).

2. Brasil (pemuncak klasemen Zona CONMEBOL).

3. Iran (pemuncak klasemen Grup A Zona Asia).

4. Jepang (pemuncak klasemen Grup B Zona Asia).

5. Meksiko (pemuncak klasemen Zona CONCACAF).

6. Belgia (pemuncak klasemen Grup H Zona Eropa).

7. Korea Selatan (runner up klasemen Grup A Zona Asia).

8. Arab Saudi (runner up klasemen Grup B Zona Asia).

9. Jerman (pemuncak klasemen Grup C Zona Eropa).

10. Inggris (pemuncak klasemen Grup F Zona Eropa).

11. Spanyol (pemuncak klasemen Grup G Zona Eropa).

12. Nigeria (pemuncak klasemen Grup B Zona Afrika).

13. Kosta Rika (runner up klasemen Zona CONCACAF).

14. Polandia (pemuncak klasemen Grup E Zona Eropa).

15. Mesir (pemuncak klasemen Grup E Zona Afrika).

16. Serbia (pemuncak klasemen Grup D Zona Eropa).

17. Islandia (pemuncak klasemen Grup I Zona Eropa).

18. Prancis (pemuncak klasemen Grup A Zona Eropa).

19. Portugal (pemuncak klasemen Grup B Zona Eropa).

20. Uruguay (runner up klasemen Zona CONMEBOL).

21. Kolombia (peringkat empat klasemen Zona CONMEBOL).

22. Argentina (peringkat ketiga klasemen Zona CONMEBOL).

23. Panama (peringkat ketiga klasemen Zona CONCACAF).

(indosport.com)

Rahma, seorang ibu rumah tangga di kawasan Pasar Rumput, Jakarta Selatan, mengaku harus mengeluarkan Rp3.000 untuk sebungkus garam. Padahal, sebelum perayaan Idul Fitri, harga garam merek yang sama hanya mencapai Rp1.000.
Dia tidak habis pikir mengapa garam begitu mahal dan langka. "Indonesia kan negara maritim, negara kepulauan. Kok bisa garam mahal?"

"Garam aja mahal, pak. Bingung saya," timpal Sunarto, tetangganya.

Kenaikan harga garam dirasakan hingga ke Pontianak, Kalimantan Barat.
"Di Pontianak itu garam Rp1.000 per kilogram, sekarang Rp4.500 sampai Rp5.000 per kilogram. Kalau kita jual dengan harga Rp4.500 ke pengasinan ikan, harganya nggak masuk. Mau jual berapa ikan asin ke konsumen?" kata Haji Sulaiman, pengusaha garam.
Apa solusi pemerintah?
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan pemerintah memutuskan untuk mengimpor garam sebanyak 75.000 ton dari Australia demi mengatasi kelangkaan garam di sejumlah daerah.
Keputusan itu ditempuh secara hati-hati mengingat pada Juni lalu kepolisian menangkap direktur utama PT Garam dalam kasus dugaan penyalahgunaan izin impor dan distribusi garam industri sebanyak 75.000 ton.
"Supaya tidak ada sesuatu, maka direksi PT Garam kita undang, 'Anda impor 75.000 ton'. Agar hati-hati, ada aturannya. Jelaskan ke KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), jelaskan ke Daglu (Direktorat Perdagangan Luar Negeri), dan ada Bareskrimnya supaya jangan ada kekhawatiran impor ada sesuatu lagi," kata Enggartiasto kepada wartawan.
Proses impor garam, menurutnya, sedang berjalan.
"Dalam minggu ini, Insya Allah, diharapkan sudah mulai masuk dan terisi."

Mengapa harus impor garam?
Keputusan pemerintah untuk mengimpor garam dari Australia dipandang kalangan industri sebagai sesuatu yang wajar lantaran adanya ketimpangan antara produksi dan konsumsi garam nasional.
Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, Cucu Sutara, mengatakan produksi garam nasional pada 2016 hanya mencapai 144.000 ton dari kebutuhan sebanyak 4,1 juta ton. Adapun dari kebutuhan 4,1 juta ton, 780.000 ton untuk konsumsi publik, sedangkan sisanya untuk keperluan industri.
Jika cuaca mendukung, produksi garam Indonesia bisa mencapai 1,9 juta ton per tahun.
Apa penyebab produksi garam nasional minim?
Faktor cuaca adalah penyebab utama produksi garam nasional begitu minim selama setahun terakhir, menurut Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, Cucu Sutara.
"Hujan terus-menerus karena La Nina menghambat produksi," ujar Cucu.
Selain cuaca, hal lainnya yang membuat jumlah produksi garam di Indonesia relatif sedikit ialah proses pembuatan garam secara tradisional.
"Kita masih mengandalkan matahari dan masih memakai alat sederhana, yaitu pengeruk kayu dan kincir angin. Jangankan bicara kualitas, bicara peningkatan kapasitas juga sulit," tambahnya.
Dia mencontohkan bahwa satu hektare tambak hanya bisa menghasilkan 70 ton garam. "Itu pun dengan cuaca bagus, apalagi sekarang cuacanya tidak bagus."

Bukankah Indonesia negara maritim sehingga garam berlimpah?
Indonesia memang merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 kilometer. Faktanya, hanya segelintir di antara puluhan ribu kilometer pantai itu yang bisa dijadikan lokasi tambak garam.
"Lahan yang cocok dijadikan lokasi tambak garam hanya 26.024 hektare. Bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia sehingga produksi garamnya berlimpah, itu mitos," kata Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, Cucu Sutara.
Dia menambahkan, lokasi tambak garam sangat dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain air laut dan tanah lokasi.
Bagaimana solusi ideal?
Pengamat dari lembaga Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudistira, mendorong pemerintah untuk berpihak kepada petambak garam. Menurutnya, impor tidak bisa terus dijadikan jalan pintas tanpa solusi jangka panjang.
"Keberpihakan pemerintah kepada petani garam kelihatannya belum menjadi prioritas utama," ujar Bhima.
Dia mengakui pemerintah memiliki Pugar, program untuk garam rakyat.
"Sangat disayangkan bahwa, dari jumlah peningkatan produksi, Pugar ini hanya mencapai target sebesar 50%. Realisasi bantuan kepada petambak garam juga tidak pernah mencapai 100%. Lalu tidak ada bantuan teknologi," katanya.

Bhima menyoroti rantai penyediaan garam begitu panjang sehingga petambak garam tidak pernah merasakan keuntungan besar ketika harga garam naik.
Dia lalu merujuk data KIARA (koalisi rakyat untuk keadilan perikanan) dalam lima tahun terakhir.
Data itu menyebutkan jumlah petani tambak garam di Indonesia menurun drastis, yakni dari 30.668 jiwa pada tahun 2012 menjadi 21.050 jiwa di 2016. Artinya, ada sekitar 8.400 petani garam yang alih profesi.
Sebagian besar menjadi buruh kasar atau pekerjaan informal lainnya dan berkontribusi terhadap fenomena migrasi kemiskinan dari desa ke kota.
"Dari perspektif industri, lebih baik impor garam karena rantai pasokannya ringkas. Kalau membeli produk garam lokal, ada tujuh mata rantai dan tiap mata rantai ada biayanya sehingga ketika sampai ke level konsumen jadi lebih mahal," katanya.
Karena itu, menurut Bhima, pemerintah harus punya skema yang jelas agar swasembada garam dapat terwujud.
"Anomali cuaca itu bukan tahun ini saja kok, sudah lima tahun cuaca tidak begitu bagus. Jadi ada banyak hal yang harus direncanakan jauh hari, harus ada roadmap yang jelas soal garam. Bagaimanapun juga garam tetap penting," tutup Bhima. (bbcindonesia.com)

Ciputra World Junior Golf Championship akan digelar di Jakarta pada bulan ini. Sebanyak 18 negara telah memastikan ambil bagian dalam turnamen bertaraf internasional tersebut.

Ciputra World Junior Golf Championship akan dilangsungkan di Damai Indah Golf – PIK Course, Jakarta, 6-9 Juni 2017. Turnamen ini akan diikuti oleh 150 pegolf dari 18 negara.

Sebagai tuan rumah, Indonesia akan menerjunkan 36 pegolf, termasuk dua juara PON asal Jawa Timur, Jonathan Wiyono dan Inez Beatrice Wanamarta.

Thailand yang selama ini selalu menjadi pesaing terberat mengirimkan 34 pegolf. Selain itu, negara peserta lainnya adalah Australia, Bangladesh, China, Taiwan, India, Irlandia, Jepang, Republik Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Afrika Selatan, Swedia, Inggris, dan Vietnam.

"Selain meramaikan dunia golf di Indonesia, turnamen ini mempunyai misi utama, yaitu melahirkan bibit-bibit pegolf Indonesia yang siap berkompetisi dengan pegolf yunior lainnya di dunia internasional serta memupuk prestasi. Saya berharap kaum muda bisa memahami bahwa golf bukan sekadar olahraga, tapi juga bisa menjadi profesi yang menjanjikan," kata Pak Sutopo, Ketua Panitia Pelaksana Ciputra World Junior Golf Championship, dalam rilis yang diterima detikSport.

Indonesia telah tiga kali menjadi juara World Junior Golf Championship, yaitu melalui Joshua Andrew Wirawan pada 2012, Jordan Surya Irawan 2011, dan Jovie Ocvandio Panggabean pada 2010.

Turnamen ini akan mempertandingkan empat kategori Boy and Girl, yaitu kategori A, B, C, dan D. Beberapa negara, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, dan Indonesia memanfaatkannya sebagai ajang ujicoba untuk SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. (detik.com)

Presiden Joko Widodo 'gregetan' terhadap hal-hal yang tidak produktif.

Ia menyerukan peningkatan disiplin dan etos kerja, baik di birokrasi pemerintahan atau masyarakat.

Dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Internal Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Kamis (18/5/017) siang, Jokowi mengatakan, dunia berubah sedemikian cepatnya akibat teknologi.

"Baru kita belajar internet, sudah ganti ke mobile internet. Mobile internet kita baru 'apa sih ini?' ganti lagi artificial intelegence," ujar Jokowi.

"Kita belum rampung belajar satu, sudah berubah ke yang lain. Inilah yang sering saya katakan, perubahan sangat cepat sekali karena teknologi," lanjut dia.

Jokowi kemudian mencontohkan lagi tokoh Elon Musk yang sudah mengembangkan mobil masa depan, teknologi hyperloop serta pemanfaatan ruang angkasa bagi manusia.

"Bagaimana dia sudah mengelola ruang angkasa agar berguna bagi manusia. Kita masih berkutat pada hal-hal yang tidak produktif. Urusan demo, urusan fitnah, urusan hujat menghujat yang tidak produktif," ujar Jokowi.

"Kita selalu mengembangkan negative thinking kita kepada yang lain, selalu su'udzon kepada yang lain. Fitnah, kabar bohong. Apakah ini mau diterus-teruskan?" lanjut dia.

Presiden juga menyinggung mengenai kinerja kementeriannya yang mengurus nelayan dan petani.

"Nelayan, misalnya, bagaimana kita membawa mereka ke off shore. Aqua culture, misalnya. Petani juga kita bawa ke modern. Kita hanya terus menerus, masalah irigasi masih enggak rampung-rampung. Masalah benih enggak rampung-rampung. Nelayan masalah cantrang enggak rampung-rampung. Kita mau ke mana?" ujar Jokowi.

Jokowi menyerukan kebangkitan disiplin nasional serta etos kerja, baik di birokrasi pemerintah atau masyarakat.

"Inilah yang harus kita bangkitkan. Disiplin nasional. Etos kerja. Harus kita ubah. Mindset kita juga harus kita ubah. Enggak bisa kita seperti yang kemarin-kemarin. Saya sudah gregeten betul dengan masalah-masalah yang tidak produktif itu," ujar Jokowi. (kompas.com)

Page 1 of 4

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM