News

You are here:Home News

Jakarta, 15  Maret 2017

BLAUPUNKT sebagai brand legendaris dari Jerman yang terkenal dengan kualitas audionya yang baik telah berhasil memasarkan 2 produk smartphone Android bernama SONIDO mulai dari tahun 2015 lalu. Pada awal tahun ini, tepatnya di Telkomsel Smart Office, Jakarta, tanggal 15 Maret 2017, Blaupunkt secara resmi meluncurkan 3 produk terbaru sekaligus kepasaran, yaitu: Soundphone S1, Soundphone S2, dan Soundphone J2.

"Pada kali ini Blaupunkt Soundphone hadir dengan strategi yang baru. Blaupunkt menawarkan produk-produk dengan spesifikasi yang sangat mumpuni dan bonus headphone premium dengan range harga Rp.1 juta - Rp.3 juta-an rupiah, kami yakin produk Soundphone terbaru ini akan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia dan dapat bersaing di pasaran", ujar Ferdinand Kosen selaku Direktur Blaupunkt Communication Indonesia.

"Seluruh produk terbaru dari Blaupukt Soudphone ini disematkan prosesor Snapdragon dari Qualcomm. Kelebihan utama dari prosesor Snapdragon adalah prosesor ini dapat mewujudkan pengalaman pengguna dalam menggunakan perangkat seluler dengan sistem all in one yang komprehensif dan efisien. Prosesor Snapdragon juga memungkinkan konektivitas yang canggih, grafis yang memukau, pengolahan data dan multitasking yang dahsyat serta efisien dibandingkan jenis prosesor yang lain", kata Shannedy Ong, Country Manager Qualcomm Indonesia.

SOUNDPHONE J2 - SMARTPHONE PERFORMA TINGGI DENGAN HARGA RP. 3 JUTA-AN

Soundphone J2 hadir dengan dukungan prosesor Qualcomm Snapdragon Octacore 617, membuat produk ini tampil dengan performa yang semakin maksimal juga dengan kapasitas RAM sebesar 3 GB serta seri Android 6.0 Marshmallow yang selalu dapat diperbaharui (upgradable)

Spesialnya lagi, Soundphone J2 juga dibekali dengan kamera utama sebesar 16 MP dan kamera depan sebesar 8 MP. Kapasitas baterai yang disematkan pun cukup besar yaitu 4000 mAh dan dibekali dengan bonus OTG converter sehingga ponsel ini bisa difungsikan sebagai powerbank dan dapat disambungkan ke eksternal drive untuk membaca dan menyimpan data. Ditambah lagi, Blaupunkt memberikan bonus langsung berupa Headphone Premium BPA-102 senilai Rp.1,000,000 disetiap pembeliannya. Dengan keseluruhan spesifikasi "kelas atas" tersebut, produk ini hanya dibanderol dengan harga Rp. 3 juta-an. 

BLAUPUNKT SOUNDPHONE S SERIES

Selain Soundphone J2, Blaupunkt juga menghadirkan 2 tipe produk seri S. Blaupunkt seri S merupakan seri produk Soundphone di jajaran entry level / kelas pemula. Pada kali ini, Blaupunkt menghadirkan Soundphone S1 dan S2 yang keduanya hadir dengan mengusung teknologi 4G voLTE dan seri Android yang selalu dapat diperbaharui (upgradable). VoLTE atau Voice Over LTE adalah teknologi yang memungkinkan jalur internet 4G LTE untuk dimanfaatkan saat menelepon, sehingga kualitas suara dalam berkomunikasi dengan teknologi 4G akan terdukung secara lebih maksimal serta tidak dikenakan biaya pulsa telepon.

Soundphone S1 dan S2 hadir dengan design yang sangat menarik dengan spesifikasi yang "mumpuni". Dibesut dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 212, performa Soundphone S1 dan S2 bisa diacungi jempol dengan dukungan RAM sebesar 2 GB.

SOUNDPHONE S1 – ANDROID NOUGAT DENGAN FINGER PRINT

Soudphone tipe ini cocok untuk para pengguna yang ingin tampil 'eksis' dengan budget yang tidak memberatkan kantong, karena Soundphone dengan spesifikasi mumpuni ini hanya dibanderol dengan harga Rp.1 juta-an saja. Spesialnya lagi dari produk ini adalah ponsel ini disematkan oleh teknologi Finger Print yang membuat para pengguna dapat lebih secure dengan adanya fitur pengamanan ini.

SOUNDPHONE S2 – EXIST IS ALWAYS ON!

Begitu juga dengan Soundphone S2. Tipe produk yang satu ini juga dapat digemari oleh para pengguna yang menginginkan perangkat ponsel yang memungkinya bisa eksis hingga 48 jam lebih. Dengan sematan baterai sebesar 4000 mAh, sangat memungkinkan jika ponsel ini cukup di-charge selama 2 sampai 3 hari sekali.

Setiap pembelian Soundphone S2 juga akan langsung diberikan bonus berupa OTG converter, sehingga ponsel ini dapat difungsikan sebagai powerbank dan dapat terhubung ke eksternal drive untuk membaca dan menyimpan data. Blaupunkt juga akan memberikan secara gratis 1 unit Headphone premium BPA-102 senilai Rp.1,000,000 didalam paket pembeliannya. Ponsel yang bisa membuat penggunanya selalu eksis ini juga dibanderol dengan harga spesial, yakni Rp.2,399,000.

BEKERJA SAMA DENGAN TELKOMSEL

Untuk semakin meningkatkan pengalaman digital pelanggan dalam menggunakan Soundphone S1, S2, dan J2, Blaupunkt menggandeng Telkomsel sebagai mitra resminya di Indonesia dan menghadirkan produk bundling Blaupunkt Soundphone dengan paket data TAU 4G.

Vice President Prepaid Marketing Telkomsel Onang Prihadi mengatakan, Melalui bundling Blaupunkt Soundphone dengan paket TAU 4G, kami menyediakan ragam pilihan bundling smartphone 4G berkualitas dengan kuota data super besar dan harga terjangkau. Pembeli paket bundling ini tentunya semakin nyaman dalam menikmati digital lifestyle terbaik berkat dukungan lebih dari 129.000 BTS di seluruh Tanah Air.

Melalui bundling Telkomsel dengan Blaupunkt Soundphone ini, pelanggan bisa sepuasnya internetan dengan harga ekonomis melalui skema Telkomsel TAU 4G. Pelanggan dapat menikmati kuota data sebesar 14 GB perbulan dengan harga mulai dari Rp 49.000, dengan opsi hingga 12 kali aktivasi.

Untuk aktivasi paket data ini, pelanggan cukup menghubungi *363*13# atau mengakses www.telkomsel.com/tau. Dengan mengaktifkan paket data TAU 4G, pelanggan dapat menikmati layanan data super cepat untuk chatting, akses ke media sosial, video atau music streaming, browsing, dan sebagainya.

"SOUNDS PERFECT"

Produk Soundphone terbaru ini juga bisa masyarakat Indonesia dapatkan melalui penjualan online dibeberapa merchant dan melalui penjualan offline di dealer-dealer handphone terdekat yang tersebar di wilayah Indonesia.

Untuk setiap produk Soundphone terbaru ini, Blaupunkt bekerjasama dengan KLiKCare memberikan garansi resmi selama 1 tahun dengan service center yang terpercaya dan tersebar diseluruh pelosok Indonesia. Blaupunkt juga akan terus berupaya menghadirkan kembali produk-produk muktahir dengan kualitas suara yang baik sebagai karakteristik utamanya, karena Soundphone beyond Smartphone.

www.soundphone.com

Salah satu pertandingan paling diminati saat ini mungkin adalah El Clasico. Laga yang mempertemukan Barcelona melawan Real Madrid itu selalu menarik perhatian pecinta sepakbola, termasuk mereka yang bukan fans dari kedua klub itu.

Persaingan Barca dan Madrid memang sangat sengit. Mereka bukan cuma bersaing di level lokal Spanyol saja, tapi juga mencapai ke ranah Eropa di ajang Liga Champions.

Situasi itu coba dimanfaatkan oleh penyelenggara International Champions Cup untuk menarik perhatian pecinta sepakbola di Amerika Seirkat. ICC dikenal sebagai penyelenggara turnamen pramusim kelas dunia yang mempertemukan banyak klub kelas atas dunia.

Menurut berbagai kabar yang beredar, Barca dan Madrid sudah sepakat untuk bertanding di ajang pramusim pada 29 Juli mendatang. Rencananya, pertandingan itu akan dilangsungkan di hard Rock Stadium.

Pertandingan itu nanti rencananya akan dikemas ala Amerika Serikat, dengan berbagai hiburan pendamping selain sepakbola. Bukan cuma mempertontonkan sepakbola saja, nantinya juga akan ada pertunjukan musik dan berbagai hiburan lainnya.

Tiket untuk pertandingan ini akan sangat mahal. Untuk saat ini, tiket paling murah dijual sekitar 640 dollar atau sekitar 8,5 juta rupiah. Tiket termahal dijual dengan harga 20 ribu dollar atau sekitar 265 juta rupiah. (bola.net)

Perekrutan anak-anak ke dalam jaringan terorisme, menurut pengamat, belum meluas karena masih di lingkup keluarga terduga ataupun terpidana kasus terorisme. Meski begitu, pencegahan harus dilakukan melalui fatwa ulama.

Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan keterlibatan anak-anak dalam kasus terorisme terjadi karena kelompok tersebut sulit untuk menarik anggota baru, sehingga merekrut anggota keluarga mereka sendiri yang masih dibawa umur.

"Karena memang orang tuanya sudah kehilangan sumber daya untuk menarik dari jemaah yang lain, jadi mereka sudah mempergunakan sumber daya rumah sendiri, dan seharusnya itu tak perlu dilakukan," jelas Al Chaidar.

Tetapi di sisi lain, menurut dia, pelibatan anak-anak itu juga karena mereka ingin mengajak anak-anaknya mengikuti jihad.

"Mereka ingin mengajak anak-anak itu karena kepercayaan mereka, ikut di dalam usaha membantu orang tuanya dalam upaya membawa keluarganya ke dalam surga. Ada kepercayaan psikologis yang sangat kuat, kalau ada keterlibatan anak-anak itu akan lebih bagus lagi," jelas Al Chaidar.

Dugaan keterlibatan anak-anak dalam jaringan teror, disampaikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli pada Senin (13/03) lalu. Dia mengatakan dua dari sembilan terduga teroris yang ditangkap di dua lokasi di Kabupaten Toli-Toli dan Kabupaten Parigi, Sulawesi Tengah, merupakan anak-anak.

Boy menduga sembilan orang yang ditangkap ini terkait dengan kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS, dan masih diperiksa oleh kepolisian. Sesuai dengan aturan, kepolisian memiliki waktu kurang dari tujuh hari, untuk memeriksa terduga pelaku terorisme sebelum memutuskan untuk ditetapkan sebagai tersangka atau melepasnya.

Pelibatan anak-anak dalam aksi teror ini juga pernah dilakukan sebelumnya. Pimpinan kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Samarinda yaitu JS mengajak anaknya, GA, ketika melempar bom molotov ke halaman Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda, Kalimantan Timur. Dalam kasus ini, kepolisian menetapkan serorang orang anak lainnya sebagai tersangka.

Menurut kepolisian, kasus pelibatan anak-anak dalam aksi teror ini baru yang pertama sampai ke pengadilan.

Pencegahan lewat fatwa

Meski pelibatan anak-anak ini masih 'terbatas' di kalangan keluarga terduga pelaku teror, menurut Al Chaidar, kini harus dilakukan pencegahan agar tidak meluas.

Upaya pencegahan, menurut dia, dapat dilakukan dengan melibatkan ulama atau fatwa untuk mengharamkan pelibatan anak-anak dalam jaringan terorisme oleh Majelis Ulama Indonesia.

"Artinya MUI harus terlibat dalam pelibatan anak-anak itu, karena jelas ayat-ayatnya melarang kan. Memang tidak ada jaminan 100% efektif, kita harus mengajak pemimpinnya yaitu Ustad Aman Abdurahman untuk bersama-sama mengeluarkan keputusan atau fatwa yang menyatakan jihad tak boleh melibatkan anak-anak tapi itu akan sulit, " jelas Al Chaidar.

Pelibatan keluarga terdekat termasuk anak-anak menunjukkan pengaruh kelompok teror melemah. Al Chaidar menilai jaringan terorisme di Indonesia tak lagi memiliki kekuatan teknologi, modal, dan keterampilan.

"Dan expertise tidak ada kemampuan itu jadi mereka memanfaatkan sumber daya yang ada di sekililing mereka termasuk anak-anaknya itu yang disayangkan," kata dia. (bbcindonesia.com)

Para psikolog menemukan pengaruh yang mengejutkan dari dari geografi terhadap cara kita berpikir, berperilaku dan melihat diri kita.

Saat Horace Capron pertama kali menjelajahi Hokkaido pada 1871, dia mencari tanda kehidupan manusia di padang rumput yang luas, hutan terbuka dan gunung hitam yang mengancam. "Keheningan maut berkuasa di tempat yang luar biasa ini", tulisnya kemudian. "Tidak ada gemerisik daun, tidak ada kicauan burung atau suara benda hidup." Itu menurutnya adalah tempat yang abadi, muncul langsung dari jaman prasejarah.

"Betapa luar biasa mengetahui bahwa negara yang sangat kaya dan indah ini, milik salah satu bangsa tertua dan paling padat di dunia… tetap memiliki tempat yang tidak dihuni dan tidak diketahui seperti gurun Afrika", tambahnya.

Itu adalah perbatasan Jepang -versi mereka atas 'Wild West' di Amerika. Pulau paling utara dari di Jepang, Hokkaido adalah tempat terpencil yang dipisahkan dengan Honshu oleh laut penuh ombak. Para pengembara yang berani menyebrang harus melewati musim dingin yang brutal, lanskap gunung berapi yang berat dan alam liar yang buas. Sehingga pemerintah Jepang menyerahkan sebagian besar pulau tersebut kepada masyarakat adat Ainu, yang hidup dengan berburu dan memancing.

Semua itu berubah di pertengahan abad ke-19. Khawatir akan invasi oleh Rusia, pemerintah Jepang memutuskan untuk mengklaim kembali bagian utara negara tersebut, merekrut mantan anggota Samurai untuk menetap di Hokkaido. Tak lama yang lainpun mengikuti, dengan lahan pertanian, pelabuhan, jalanan dan jalur kereta bermunculan di sepanjang pulau. Ahli olah tanah (agrikulturis) seperti Capron dipekerjakan untuk memberi saran bagaimana cara terbaik mengolah lahan pertanian, dan dalam 70 tahun populasi berkembang dari beberapa ribu hingga lebih dari dua juta. Di awal millennium, jumlahnya mencapai hampir enam juta jiwa.

Hanya sedikit orang yang tinggal di Hokkaido saat ini yang pernah menaklukkan alam liar. Namun para psikolog menemukan bahwa jiwa petualang masih mempengaruhi cara mereka berpikir, merasa dan berakal, dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di Honshu yang hanya berjarak 54km. Mereka lebih individualis, bangga akan kesuksesan, lebih ambisius akan pengembangan pribadi, dan kurang terhubung dengan orang-orang di sekeliling mereka. Bahkan, saat membandingkan negara-negara, 'profil kognitif' ini lebih dekat ke orang Amerika dibandingkan penduduk Jepang lainnya.

Kisah Hokkaido hanyalah satu dari sejumlah studi kasus yang semakin berkembang yang menyelidiki bagaimana lingkungan sosial kita membentuk pikiran kita. Dari perbedaan yang besar antara Timur dan Barat, ke perbedaan yang tidak begitu menyolok antara negara bagian di AS, semakin jelas bahwa sejarah, geografi dan budaya dapat mengubah bagaimana kita semua berpikir dengan cara yang halus dan mengejutkan -hingga ke persepsi vidual kita. Cara berpikir kita dapat dibentuk oleh jenis tanaman yang biasa ditanam para nenek moyang kita, dan sebuah sungai dapat menandai batasan antara dua gaya kognitif yang berbeda.

Di manapun kita tinggal, kesadaran yang lebih besar atas pengaruh-pengaruh ini dapat membantu kita mengerti pikiran kita sedikit lebih baik.

Pikiran 'Weird'

Hingga baru-baru ini, para peneliti tak menghiraukan keberagaman global cara berpikir. Pada 2010, sebuah artikel yang sangat berpengaruh di jurnal Ilmu Perilaku dan Otak melaporkan bahwa mayoritas subjek psikologi selama ini adalah "orang barat, berpendidikan, berorientasi industri, kaya dan demokratis" (western, educated, industrialised, rich and democratic) atau disingkat 'Weird.' Hampir 70% adalah orang Amerika, dan kebanyakan adalah mahasiswa yang berharap bisa mendapatkan uang saku tambahan atau kredit kuliah dengan memberikan waktu mereka mengambil bagian di eksperimen-eksperimen psikologi tersebut.

Asumsi yang mendasari selama ini adalah kumpulan orang-orang ini dapat mewakili kebenaran universal akan sifat alami manusia - bahwa semua orang pada dasarnya sama. Jika hal itu benar, bias orang Barat mungkin tidak penting. Namun sejumlah kecil studi yang dilakukan yang menguji orang-orang dari budaya berbeda menyiratkan hal sebaliknya. "Orang Barat - dan secara spesifik orang Amerika - muncul di ujung distribusi statistik," kata Joseph Henrich dari Universitas British Columbia, yang menjadi salah satu penulis studi tersebut.

Sebagian dari perbedaan yang paling menyolok berkisar antara konsep 'individualisme' dan 'kolektivisme'; apakah Anda menganggap diri Anda independen dan serba cukup, atau terkait dan saling terhubung dengan orang lain di sekitar Anda, lebih menghargai kelompok dibanding pribadi. Secara umum - ada banyak pengecualian - orang-orang di Barat cenderung lebih individualis dan orang-orang dari negara Asia seperti India, Jepang atau Cina cenderung lebih kolektif.

Dalam banyak kasus, konsekuensinya sejauh yang dapat Anda perkirakan. Saat ditanyakan mengenai perilaku dan sikap mereka, orang-orang di lingkungan Barat, yang lebih individualis, cenderung menghargai sukses pribadi dibandingkan pencapaian kelompok, yang akhirnya juga diasosiasikan dengan kebutuhan harga diri yang lebih besar dan usaha mencapai kebahagiaan pribadi. Namun kebutuhan validasi diri ini juga menciptakan kepercayaan diri berlebih, dengan banyak eksperimen menunjukkan bahwa para partisipan yang 'Weird' cenderung menilai lebih kemampuan mereka. Saat ditanyakan akan kompetensi mereka misalnya, 94% profesor Amerika mengklaim mereka 'lebih baik dari rata-rata'.

Kecenderungan inflasi diri ini hampir tidak muncul sama sekali di rangkaian studi di seluruh Asia Timur; bahkan, di beberapa kasus para partisipan cenderung meremehkan kemampuan mereka dibandingkan inflasi nilai diri mereka. Orang-orang yang tinggal di lingkungan individualis juga dapat lebih menekankan pilihan pribadi dan kebebasan.

Secara krusial, 'orientasi sosial' kita tampaknya lebih merujuk ke aspek berpikir yang fundamental. Orang-orang di lingkungan yang lebih kolektif cenderung lebih 'holistik' di cara mereka berpikir akan masalah, lebih terfokus pada hubungan dan konteks situasi saat ini, sementara orang-orang di lingkungan yang lebih individualis cenderung untuk fokus pada elemen-elemen yang terpisah, dan mempertimbangkan situasi-situasi sebagai hal yang tetap dan tidak berubah.

Sebagai contoh sederhana, bayangkan jika anda melihat sebuah foto seorang yang tinggi mengintimidasi seseorang yang lebih pendek. Tanpa informasi tambahan, orang Barat akan cenderung lebih berpikir bahwa perilaku ini merefleksikan sesuatu yang lebih penting dan tetap akan orang yang besar: dia mungkin orang yang buruk. "Sedangkan jika anda berpikir secara holistik, anda akan berpikir ada hal lain yang terjadi antara keduanya: mungkin orang yang lebih besar adalah pimpinan atau ayah dari yang satunya", jelas Henrich.

Dan cara berpikir ini juga berkembang ke cara kita mengelompokkan benda mati. Misalkan Anda diminta untuk menyebut dua benda yang berkaitan dalam sebuah daftar kata-kata seperti "kereta, bis, jalur". Apa yang Anda sebutkan? Hal ini dikenal sebagai "tes tiga serangkai", dan orang-orang di Barat dapat memilih 'bis' dan 'kereta' karena keduanya adalah jenis kendaraan. Seorang yang berpikir holistik, sebaliknya, dapat memilih 'kereta' dan 'jalur' karena mereka lebih terfokus pada hubungan fungsional antara keduanya - yang satu penting untuk fungsi pekerjaan yang lainnya.

Itu bahkan dapat mengubah bagaimana Anda memandang sesuatu. Sebuah studi yang melacak pergerakan mata oleh Richard Nisbett di Universitas Michigan menemukan bahwa para partisipan dari Asia Timur cenderung menghabiskan lebih banyak waktu mencari latar belakang sebuah gambar - mencari tahu konteks - sedangkan orang-orang di Amerika cenderung menghabiskan lebih banyak waktu konsentrasi pada fokus utama gambar tersebut. Menariknya, perbedaan ini juga dapat dilihat di gambar anak-anak dari Jepang dan Kanada, menyiratkan bahwa cara memandang yang berbeda muncul di usia sangat muda. Dan dengan mengarahkan perhatian kita, fokus sempit atau tersebar secara langsung menentukan apa yang kita ingat dari suatu suasana di suatu waktu.

"Jika kita adalah apa yang kita lihat, dan kita terfokus pada hal yang berbeda, maka kita hidup di dunia berbeda", kata Henrich. Meski sebagian orang mengklaim bahwa orientasi sosial kita mungkin dapat memiliki elemen genetik, bukti hingga saat ini menyiratkan bahwa hal itu dipelajari dari orang lain.

Alex Mesoudi dari Universitas Exeter baru-baru ini membuat profil cara berpikir keluarga Bangladesh-Inggris di London Timur. Dia menemukan bahwa dalam satu generasi, anak-anak para imigran mulai mengadopsi sebagian elemen yang lebih individualis dan kurang holistik. Penggunaan media, secara khusus, cenderung menjadi penanda terbesar atas perubahan tersebut. "Cenderung lebih penting daripada berkelompok dalam menjelaskan pergeseran tersebut."

Namun mengapa perbedaan dalam cara berpikir muncul? Penjelasan yang kentara adalah mereka merefleksikan filosofi yang ada yang menonjol di setiap daerah seiring berjalannya waktu. Nisbett mengemukakan bahwa para filsuf Barat menegaskan kebebasan dan kemerdekaan, sedang tradisi Timur seperti Taoisme cenderung focus pada konsep kesatuan. Konfusius, misalnya, menegaskan "kewajiban-kewajiban antara kaisar dan warga, orang tua dan anak, suami dan istri, kakak dan adik, dan antara teman."

Cara berbeda melihat dunia ini tertanam di literatur, pendidikan dan institusi politik, sehingga mungkin tidak mengejutkan jika ide tersebut telah terinternalisasi, mempengaruhi sebagian proses psikologis yang paling mendasar.

Meski demikian, perbedaan yang tidak kentara antara negara-negara yang individual menyiratkan ada banyak faktor mengejutkan lainnya yang berpengaruh.

Di lini depan

Katakanlah AS, negara paling individualis di antara negara Barat lainnya. Sejarawan seperti Frederick Jackson Turner telah lama berpendapat bahwa ekspansi dan eksplorasi ke Barat telah menyebabkan jiwa yang lebih independen, karena setiap pelopor melawan alam liar dan satu sama lain untuk bertahan hidup. Sejalan dengan teori ini, studi psikologis terkini telah menunjukkan bahwa negara-negara bagian di ujung perbatasan (seperti Montana) cenderung memiliki skor lebih tinggi di ukuran individualisme. Untuk mengkonfirmasi 'teori pemukiman sukarela', bagaimanapun, para psikolog ingin menguji studi kasus kedua yang independen sebagai argumen pembalik.

Untuk alasan inilah Hokkaido terbukti sangat menarik. Seperti kebanyakan negara Asia Timur, Jepang secara keseluruhan cenderung memiliki pola pikir yang lebih kolektif dan holistik. Namun migrasi yang pesat ke teritori utara menyerupai serbuan untuk bermukim seperti di 'Wild West' Amerika; pemerintahan Kaisar Meiji bahkan mempekerjakan agrikulturis dari AS, seperti Horace Capron, untuk membantu mengolah tanah. Jika teori pemukiman sukarela benar, para pelopor tersebut seharusnya memiliki pandangan yang lebih independen di Hokkaido dibandingkan di tempat lain di negara tersebut.

Tentu saja, Shinobu Kitayama dari Universitas Michigan telah menemukan bahwa orang-orang di Hokkaido cenderung menilai lebih independensi dan pencapaian personal - dan emosi seperti kebanggaan - dibandingkan orang Jepan dari pulau lain, dan mereka tidak begitu peduli terhadap pandangan orang lain. Para partisipan juga diminta untuk melakukan tes penalaran sosial, yang meminta mereka untuk mendiskusikan seorang pemain baseball yang menggunakan obat yang meningkatkan kinerja tubuh.

Di saat orang Jepang dari pulau lain cenderung untuk mengeksplorasi konteks - seperti tekanan untuk sukses - orang Jepang yang dari Hokkaido cenderung menyalahkan kepribadian pemain baseball atau kelemahan di karakter moralnya. Lagi, kecenderungan menyalahkan atribut pribadi adalah karakteristik masyarakat individualis, dan lebih dekat ke respon orang Amerika kebanyakan.

Teori kuman

Ide (pembalik) lain adalah bahwa pola pikir yang saling kontras merupakan respon yang berkembang atas kuman. Pada 2008, Corey Fincher (sekarang di Universitas Warwick) dan para rekannya menganalisa data epidemiologi global untuk menunjukkan skor individualisme dan kolektivisme sebuah daerah berhubungan dengan prevalensi penyakit: semakin besar kemungkinan anda terinfeksi, anda semakin kolektif, dan tidak begitu individualis.

Ide kasarnya adalah kolektivisme, dicirikan dengan konformitas yang lebih besar dan rasa hormat terhadap orang lain, dapat membuat orang lebih hati-hati untuk menghindari perilaku yang menyebar penyakit. Sulit untuk membuktikan bahwa korelasi yang nyata di dunia nyata tidak disebabkan oleh faktor lain, seperti kekayaan sebuah negara, namun eksperimen laboratorium menawarkan dukungan atas ide tersebut - saat psikolog mengumpan orang-orang untuk merasa takut akan penyakit, mereka tampat mengadopsi cara berpikir yang lebih kolektif, seperti konformitas yang lebih besar atas perilaku kelompok.

Namun mungkin teori yang paling mengejutkan datang dari ladang. Thomas Talhelm dari Universitas Chicago baru-baru ini menguji 28 provinsi berbeda di Cina, dan menemukan bahwa orientasi berpikir merefleksikan agrikultur lokal daerah tersebut.

Talhelm mengatakan bahwa dia pertama kali terinspirasi oleh pengalamannya di negara tersebut. Saat mengunjungi Beijing di utara, dia menemukan bahwa orang asing akan jauh lebih berani - "Jika saya makan sendiri orang akan datang dan berbicara ke saya" - sedang yang tinggal di selatan di kota Guangzhou cenderung lebih segan dan takut mengganggu.

Rasa hormat ke orang lain ini seakan pertanda yang halus akan pola pikir kolektif, dan Talhelm pun mulai mencari tahu apa yang menjadi latar belakang kedua pandangan tersebut. Perbedaannya sepertinya tidak berkorelasi dengan ukuran kekayaan atau modernisasi, namun dia melihat satu perbedaan dapat berupa jenis tanaman pokok yang ditanam di wilayah tersebut: nasi di sebagian besar area selatan, dan gandum di utara.

"Itu terbagi hanpir sangat rapi di sepanjang sungai Yangtze", kata Talhelm.

Menanam nasi membutuhkan lebih banyak kerjasama: lebih padat karya dan membutuhkan sistem irigasi yang kompleks yang mencakup banyak ladang. Ladang gandum, sebaliknya, membutuhkan setengah pekerjaan dan tergantung pada curah hujan dibanding irigasi, yang berarti para petani tidak perlu bekerjasama dengan tetangga mereka dan dapat fokus mengelola tanaman mereka sendiri.

Dapatkah perbedaan ini diartikan sebagai pola pikir yang lebih kolektif atau individualis? Bekerja dengan para peneliti di Cina, Talhelm menguji lebih dari 1.000 murid di berbagai daerah yang menanam padi dan gandum, menggunakan ukuran seperti tes tiga serangkai dari pandangan holistik. Mereka juga meminta orang-orang untuk menggambar sebuah bagan yang menggambarkan hubungan mereka dengan teman-teman dan rekan mereka: orang-orang di lingkungan individualis cenderung untuk menggambar diri mereka lebih besar dibanding teman-teman mereka, sedang orang yang kolektif cenderung membuat semua orang dengan ukuran yang sama. "Orang Amerika cenderung menggambar diri mereka sangat besar", kata Talhelm.

Tentu saja, orang-orang di area yang menanam gandum cenderung untuk mendapatkan skor lebih tinggi di ukuran individualisme, sedang orang-orang di area yang menanam padi cenderung menunjukkan pandangan yang lebih kolektif dan holistik. Ini juga berlaku di perbatasan antar wilayah. "Disini orang-orang tinggal berdekatan, namun yang satu menanam nasi yang satu menanam gandum - dan kami masih menemukan perbedaan budaya".

Dia telah menguji hipotesanya di India, yang juga menunjukkan perbedaan yang jelas di wilayah yang menanam gandum dan nasi, dengan hasil yang sama. Hampir semua orang yang diwawancarainya tidak secara langsung terkait dengan pertanian, tentu saja - namun tradisi turun-temurun di wilayah mereka masih membentuk pandangan mereka. "Ada kesemuan di dalam budaya".

Kaleidoskop kognitif

Penting untuk menegaskan bahwa ini semua adalah tren yang luas di banyak orang; aka nada spektrum dalam setiap populasi yang diuji. "Ide bahwa ini adalah hitam dan putih - dari sudut pandang antropologi, tidak bisa", kata Delwar Hussain, seorang antropolog di Universitas Edinburgh, yang bekerja dengan Mesoudi dalam studi komunitas Bangladesh-Inggris di London. Seperti yang diutarakan Hussain, banyak koneksi sejarah antara negara-negara Timur dan Barat yang artinya sebagian orang memiliki kedua acara berpikir, dan faktor-faktor seperti usia dan kelas sosial juga memiliki pengaruh.

Sudah tujuh tahun sejak Henrich mempublikasikan studinya yang menjelaskan bias 'Weird', dan respon yang telah diterimanya cukup positif. Dia sangat senang mengetahui bahwa peneliti seperti Talhelm mulai membuat proyek besar untuk mencoba mengetahui kaleidoskop akan berbagai cara berpikir. "Anda ingin sebuah teori yang menjelaskan mengapa populasi yang berbeda memiliki psikologi yang berbeda".

Namun kendati niat yang baik, perkembangan lebih jauh sangat lambat. Uang dan waktu memampukan percobaan pandangan ini di seluruh dunia, kebanyakan penelitian masih menguji partisipan 'Weird' dengan mengorbankan keberagaman yang lebih besar. "Kami setuju akan penyakitnya. Pertanyaanya adalah bagaimana seharusnya solusinya." (bbcindonesia.com)

About

  • Delta FM adalah sebuah stasiun radio yang merupakan bagian dari Group Masima Radio Network (MRN) perusahaan pengelola radio dari berbagai segmen pendengar beberapa diantaranya Radio Prambors dan Radio Bahana

Station

Jakarta 99.1 FM
Bandung 94.4 FM
Surabaya 100.5 FM
Makassar 99.2 FM
Manado 99.3 FM
Medan 105.8 FM
Semarang 96.1 FM
Yogyakarta 103.7 FM

Contact us

Jl. Adityawarman No. 71 Jakarta 12160
Jakarta, DKI Jakarta Indonesia
+62 21-7202443
Fax: +62 21-7202058
deltafm.net